Senin, 10 Agustus 2020

Karbala Lebih Afdhal dari Ka’bah ??!!


seri Menjawab Serangan Kitab Syi’ah, oleh Sinar Agama http://www.facebook.com/groups/210570692321068/doc/254522704592533/ by Sinar Agama (Notes) on Monday, September 26, 2011 at 4:29am


Kitab Syiah: FITNAH SYIAH YANG SANGAT BESAR KEPADA ALLAH SWT BAHWA KARBALA LEBIH SUCI DARI MEKKAH (NAUDZUBILLAH).

Kitab Wasa-el-ush-Shi’ah hal 403 PENGARANG Shaykh Muhammad al-Hassan al-Hurul Amaly. Itu diceritakan pada Muhammad bin Jaffar Al-Razaz, atas nama Muhammad Bin Hassan ... .. (rantai perawi yang sangat panjang) ...

Sinar Agama: Bismillaah:

(1). Saya sangat kasihan sekali kepada orang-orang yang tidak rajin menelaah kitab-kitab dengan sungguh-sungguh, hingga banyak sekali yang tidak diketahuinya walau banyak berserakan di dalamnya.

(2). Tentang perbandingan kemuliaan Makkah (Haram dan Ka’bah) dengan tempat-tempat lainnya ini berserakan di kitab-kitab Sunni.

(3). Semua muslimin sepakat bahwa kubur Rasul saww lebih afdhal dari Haram dan Ka’bah sekalipun. Kesepakatan ini juga bahkan datang dari sumber cikal bakalnya wahabi yang bernama Ibnu Taimiyyah dalam bukunya yang berjudul “Iqtidaau al-Shiraati al-Mustaqiimi Li Mukhaalafati Ashhaabi al-Jahiim” dengan berkata: “Sudah jelas bahwa Nabi saww lebih afdhal dari Ka’bah”, atau di tempat lain sebagaimana dinukil oleh seorang wahabi yang bernama Waliid bin Raasyid al-Sa’iidaan, dalam bukunya “Nashru al-Syarii’ati Bi Qam’i al-Bid’ati”, yang mengatakan seperti yang dikatakan Qaadhi ‘Iyaadh: “Sesungguhnya debu kubur Nabi saww lebih afdhal dari Ka’bah.”

(4). Sampai seorang Doktor Sunni yang bernama al-‘Abdii al-Maalikii dalam kitabnya “Syarhu al-Risaalati” mengatakan: “Sesungguhnya bejalan kaki ke Madinah untuk menziarahi Nabi saww adalah lebih afdhal dari mendatangi Ka’bah dan Baitu al-Muqaddas.” Sampai-sampai dengan perkataan Doktor Sunni ini para wahabi jadi ribut.

(5). Orang mukmin lebih afdhal dari Ka’bah. Lihat riwayat Ibnu Maajah mengatakan:

Abdullah ibnu Umar berkata: Aku melihat Rasulullah saww melakukan tawaf mengeililingi Ka’bah dan bersabda –kepada Ka’bah: “Betapa bagusnya kamu dan betapa harumnya kamu. Betapa agungnya kamu dan betapa agungnya keharamanmu (haram adalah yang harus dihormati, seperti masjidulharam). Akan tetapi aku bersumpah, demi nyawa Muhammad yang ada ditanganNya, sungguh keharaman seorang mukmin di sisi Allah lebih agung dari keharamanmu, begitu pula hartanya, darahnya serta ketidakbolehan memprasangkainya dengan prasangka buruk.”

Jadi mestinya, tidak heran bagi seorang mukmin dan muslim, kalau mendengar ada yang lebih haram/afdhal dari masjidulharam, atau ada yang lebih agung dan mulia dai Ka’bah. Jangankan darah atau kepribadian seorang mukmin, hartanya saja sudah lebih haram dan mulia dari Ka’bah.

(6). Muhammad bin Abdulwahhab sendiri dalam kitabnya yang berdujul: Syarhu Kitaabi Tsalaatsati al-Ushuul, ketika menjelaskan sabda Nabi saww yang berbunyi:

“Siapa saja yang menuntut darah muslim tapi tidak pada orangnya, maka ia harus dibunuh.” Ia berkata:“...... dan darah seorang muslim itu lebih agung keharamannya di sisi Allah walaupun dari Ka’bah.”

(7). Dengan penjelasan di atas itu, dapat disimpulkan bahwa:

  • (a). Ka’bah itu adalah harmullah dan agung. Tapi muslim dan bahkan hartanya, lebih agung keharamannya dari Ka’bah. Apalagi perasaan dan darah seorang muslim.
  • (b). Kalau seorang muslim saja sudah lebih agung dari Ka’bah, apalagi Nabi saww.
  • (c). Sesuai dengan kesepakatan ulama yang berserakan di kitab-kitab Sunni dan bahkan di kitab-kitab Ibnu Taimiyyah yang merupakan asal dari cikal bakalnya wahabi, adalah bahwa tubuh Nabi saww dan tanah kubur Nabi saww lebih afdhal dari Ka’bah.

(8). Nah, sekarang mari kita lihat siapa Imam Husain as itu.

  • (a). Rasulullah saww bersabda:

“Husain itu dari aku dan aku dari Husain.”

Lihatlah di berbagai kitab yang diantaranya di: Shahih Turmudzi, hadits ke: 3708,3775 dan 4144; Shahih Ibnu Maajah, hadits ke: 141, 144 dan 149; Mustadrak hadits ke: 4807 dan 4820;

Mu’jamu al-Kabiir hadits ke: 2586, 2589, ...dst; Kanzu al-‘Ummaal, hadits ke: 34264, 34289 ... dst; Ahmad bin Hanbal, hadits ke: 16903, 18027,. dst; Bukhari dalam kitabnya al-Adabu al-Mufrid, hadits ke: 364;......... dll dari seambrek kitab-kitab Sunni lainnya.

  • (b). Rasulullah saww bersabda pada Imam Ali as, Hadharat Faathimah as, Imam Hasan as dan Imam Husain as:

“Aku perang dengan siapapun yang memerangi kalian dan damai terhadap yang damai dengan kalian.”

Lihatlah hadits ini di berbagai kitab yang diantaranya: Mustadrak, hadits ke: 4697 dan 4714; Shahih Turmudzi, hadits ke: 3870, 4244, ..dst; Kanzu al-‘Ummaal, hadits ke: 34159; Usdu al- Ghaabah, jilid. 3, hal. 11; dan lain-lain seperti Jaami’u al-Shaghiir dan Kabiir dll dari kitab-kitab tafsir, hadits dan sejarah.

  • (c). Rasulullah saww, menjelang turunnya ayat kemakshuman (ayat Tathhir/pembersihan dosa) hingga mejadi sebab turunya ayat tersebut, dimana sebelumnya beliau saww mengumpulkan dalam Imam Ali as, Hadharat Faathimah as, Imam Hasan as dan Imam Husian as bersama- sama diri beliau saww dan bersabda:

“Ya Allah. mereka inilah Ahlulbaitku, karena itu bersihkanlah mereka dari segala kekotoran dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya.” Lalu turunlah ayat yang berbunyi:

“Sesungguhnya Allah hanya ingin menepis dari kalian Ahlulbait, dan membersihkankan kalian sebersih-bersihnya” (al-Ahzaab, 33).

Lihat di: Tafsir Ibnu Katsiir; Tafsir Kabiir; Tafsir al-Kasysyaaf; Tafsir al-Durru al-mantsuur; Tafsir Thabari; Tafsir Qurthubii; Tafsir dll.

Kalau di kitab-kitab hadits diantaranya bisa dilihat di: Jam’u al-Shahiihaini al-Bukhaari wa al- Muslim, hadits ke: 3435; Shahih Muslim, hadits ke: 4450, 6414, Shahih Turmudzi, hadits ke: 3129, 3130, 3719, ...dst; Ahmad bin Hanbal, ; Baihaqii, hadits ke: 2680, 2683, ..dst; Nasai, hadits ke: 8398, 8399; Mustadrak, hadits ke: 3517, 3518, dst; Kanzu al-‘Ummaal, hadits ke: 37545;

Ahmad bin Hanbal, hadits ke: 2903, 16374, ...dst; dan seambrek lagi hadits-hadits lainnya yang bertebaran di kitab-kitab hadits, musnad dan lain-lainnya di Ahlussunnah.

  • (d). Selain tafsir dan kitab-kitab hadits di atas, kesaksian terhadap keAhlulbaitan mereka itu juga datang dari istri-istri Nabi seperti ‘Aisyah dan Ummu Salamah.

Lihat kesaksian ‘Aisyah di: Shahih Muslim hadits ke: 6414; Mustadrak, hadits ke: 4690, 4707; Baihaqii, hadits ke: 2972; Tafsir al-Durru al-Mantsuur dan lain lain dari kitab-kitab hadits dan tafsir yang sangat banyak sekali.

Lihat kesaksian Ummu Salamah istri Nabi saww yang lain, di: Sunan Baihaqi, hadits ke: 2683, 2875, ; Shahih Turmudzi, hadits ke: 3129, 3719; Mustadrak, hadits ke:3517, 3558, 4705; dan lain-lain dari kitab-kitab hadits yang banyak sekali. Lihat juga Tafsir Ibnu Katsiir; Tafsir al-Durru al-mantsuur, dll.

  • (e). Rasulullah saww bersabda:
“Kutinggalkan dua perkara yang berat buat kalian, kitab Allah (Qur'an) dan Ahlulbaitku. Kuingatkan kalian pada Ahlubaitku, kuingatkan kalian pada Ahlubaitku, kuingatkan kalian pada Ahlubaitku”

Dan banyak juga hadits yang serupa walaupun tidak sama perhurufnya, akan tetapi kandungannya sama.

Hadits-hadits seperti ini dapat dilihat di kitab-kitab hadits yang diantaranya:

Shahih Muslim, hadits ke: 4429, 6378; Nasaai, hadits ke: 8148; 8464; Mustadrak, hadits ke: 4553; Turmudzi, hadits ke: 3718, 3720, 4155, 4157 dst; Kanzu al-‘Ummaal, hadits ke: 870, 871, 872, 873 ...dst; Ahmad bin Hanbal, hadits ke: 10707, 10779, 11135.... dst; Usdu al-Ghaabah, jilid 1, hal 260, 662, jilid 2, hal 162; ... dst dari kitab-kitab hadits, tafsir, sejarah..... dan lain-lain yang ada di Sunni yang jumlahnya tidak terkira banyaknya. Yang disebut ini hanya sebagian kecil dari yang ada di kitab-kitab itu sendiri dan kitab-kitab lainnya.

Di dalam beberapa tafsir ayat-ayat seperti:

    • (e-1). “Wa’tashimuu bi hablillah jamii’an wa laa tafarraquu. ”
Lihat di: Tafsir al-Duuru al-Mantsuur; Tafsir Ibnu Katsiir; Tafsir Aluusii; Tafsir al-Raazii; .... dst.

    • (e-2). “Qul laa as alukum ‘alaihi ajran illaa al-mawaddata fi al-Qur baa.”
Lihat di: Tafsir al-Durru al-Mantsur; Tafsir Ibnu Katsir; Tafsir Tsa’labi;..... dan seterusnya.

    • (e-3). “Innamaa yuriidullah liyuthhira ‘ankum la-rijsa ahlalbait. ”
Lihat di: Tafsir Tsa’labii;.... dan seterusnya.


Catatan: Yang disebutkan di atas itu hanya sedikit saja dari yang ada di dalam tafsir-tafsir itu sendiri dan di kitab-kitab tafsir yang lainnya.

(9). Setelah kita tahu bahwa kaharaman harta muslim saja lebih afdhal dari Ka’bah, apalagi perasaan dan darahnya, apalagi Nabinya saww. Dan ketika kita jadi sudah tahu bahwa Imam Husain as itu adalah makshum, Ahlulbait Nabi saww, diri Nabi saww, asal Nabi saww, titipan Nabi saww, yang diperangi mereka diperangi Nabi saww....dst seperti hadits-hadits yang disebut dalam hadits-hadits yang banyak seperti sebagai perahu nabi Nuh as dimana yang menaikinya selamat dan yang meninggalkannya hanyut, atau sebagai Imam 12 yang dari Quraisy yang wajib ditaati secara mutlak dimana diperintahkan di QS: 4: 59, atau sebagai jalan lurus yang selalu diminta dalam shalat karena jalan lurus itu adalah jalan makshum, atau sebagai yang wajib dishalawati dalam shalat sehari-hari sebagai Aali Sayyidinaa Muhammad (keluarga tuanku Muhammad), atau sebagai bintang-bintang petunjuk di langit...................................................... dan seterusnya dari yang banyak sekali pesan ayat dan riwayat tentang Ahlulbait as dimana Imam Husain as adalah salah satunya, maka ketika beliau as bukan hanya tidak ditaati, tapi malah dikepung dan dibantai di Karbala, badannya dicabik-cabik dan dipotong-potong, darahnya berceceran dimana-mana, kepalanya dipotong dan dijadikan bola dilempar sana dan sini lalu ditusuk dengan tombak lalu kemudian diarak dari Iraq sampai ke Suria, maka apakah masih ada keraguan kalau kubur beliau as dan tanah dimana bercecerannya darah dan tubuh beliau as itu lebih afdhal dari Ka’bah?!!!! Jangan-jangan antum ini orang yang ingin melebih afdhalkan sepeda motor antum yang diparkir di halaman rumah antum itu dengan hadits kelebihafdhalan harta kaum muslimin dari Ka’bah seperti hadits Nabi saww itu, badan suci putra dan juga diri Rasulullah saww yang tercabik-cabik di Karbala itu?!!!!


Catatan:

Tapi jangan lupa bahwa kelebih afdhalan sesuatu dari Ka’bah itu bukan berarti kita terus menawafinya, sujud menghadapnya dan seterusnya dari yang tidak diatur dalam fikih Islam.

Jadi, kita tidak terus tawaf kepada sesama mukminin dan shalat menghadap padanya. Begitu pula pada Imam-Imam Makshum as.

Sedang tawaf yang difitnahkan ke Syi’ah oleh orang-orang naif, tidak lain hanyalah pindah-pindah arah mengucap salam kepada Imam as yang sudah diatur dengan jelas di kitab-kitab Syi’ah. Yaitu, misalnya, ketika datang ke kubur para Imam suci as, pertama harus menghadap dari arah depan dan mengucap salam, lalu ke arah kepala dan mengucap salam, lalu ke arah kaki dan mengucap salam/doa, lalu ke arah kepala lagi dan mengucap salam dan doa ..dst sampai pada shalat hadiah. Jadi yang ada adalah pindah arah dalam melakukan salam dan doa, bukan tawaf.

Tulisan ini dibuat sangat terburu-buru dengan tujuan untuk memberikan pertimbangan kepada orang-orang yang bisa menimbang. Selain itu, urusanku tidak ada dan semua aku kembalikan kapada Yang Maha Bijak dan Adil. Tinggal tunggu hasil dan kenyataannya nanti di akhirat. Semoga saja bagi yang lambat menaiki perahu nabi Nuh as, segera menaikinya, supaya tidak kecele nanti kalau sudah masuk liang lahat. Setidaknya, bertawadhu’lah dalam kehidupan karena barangkali dengan itu seseorang yang salah bisa mendapat maafNya. Tapi kalau keterlaluan dan menyombongkan diri, maka benar-benar akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.

Wassalaamu ‘ala man ittaba’a al-hudaa.



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar