Selasa, 31 Desember 2019

Khusyu'


Oleh Ustad Sinar Agama http://www.facebook.com/groups/210570692321068?view=doc&id=217527258292078 Oleh Anggelia Sulqani Zahra pada 13 Juli 2011 pukul 16:44


Bento B D’Blueisland: Assalamu’alaika Warahmatullah Wabarakah, Ustad, Saya ingin tanya, Ustadz.

1. Khusyu’ menurut panjenengan itu apa, ustadz?


2. Lantas, khusyu’ yang bagaimana yang harus kita lakukan dalam sholat (khususnya), dan semua ‘pekerjaan’ kita (umumnya)? Terima kasih sebelumnya, mohon pencerahan dan penjelasannya, Ustad.. Wassalamu’alaika Warahmatullah Wabarokah.



Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaannya:

(1). Khusyu’ adalah tidak memikirkan apapun dalam shalat kecuali yang dihadapi yaitu Allah.

(2). Ada berbagai penjelasan tentang khusyu’ ini. Diantaranya khusyu’ secara fikih. Yaitu hanya memikirkan makna-makna yang kita baca dan tidak memikirkan yang lainnya.

(3). Khusyu’ dalam Irfan, yaitu hanya memikirkan Allah saja. Jadi, makna yang dibacapun tidak boleh dipikirkan. Yang dipikirkan hanya Tuhan saja. Tentu saja dengan kesadaran penuh akan makna-maknanya itu. Posisinya seperti antum disuruh membaca hafalan pelajaran di depan guru dimana perasaaan antum ke guru tersebut akan tetapi sadar sesadar sadarnya terhadap makna yang antum baca. Jadi, makna bacaan shalat itu hanya disadarinya saja akan tetapi fokus pikiran kita hanya kepada Allah semata.

(4). Dari sisi yang lain khusyu’ ini dibagi menjadi tiga bagian: 
  • (a). Merasa dilihat Allah. 
  • (b). Merasa seperti melihat Allah. 
  • (c). Melihat Allah.

(5). Nah, khusyuk fikih itu bisa dimasukkan ke dalam golongan pertama pada pembagian ke dua khusyu’ ini. Yaitu yang merasa yakin dilihat Tuhan. Karena konsennya pada makna-makna yang dibacanya. Tentu saja ada Tuhan juga di situ, akan tetapi tidak terlalu terang. Karena itu yang dominan adalah merasa dilihat Tuhan.

(6). Maqam pertama itu sebenarnya diambil dari sebuah hadits yang cukup terkenal yang mengatakan: “Shalatlah kamu seakan-akan kamu melihat Tuhan, dan kalau tidak bisa, maka yakinkanlah kalau kamu dilihatNya.”

(7). Maqam ke dua, adalah maqam “Seakan-akan melihat Tuhan.” Maqam ini lebih cocok dipadukan dengan tingkat ke dua di pembagian khusyu’ pertama itu, yaitu yang bermakna hanya konsen kepada Tuhan (tetapi makna juga dipahaminya dengan baik, bukan tidak sadar pada makna yang dibaca). Akan tetapi tetap belum bisa melihat Tuhan. Hanya seakan-akan melihatNya. Dan, sudah tentu penglihatan disini adalah dengan hati/akal, bukan dengan mata.

(8). Maqam tertinggi adalah maqam melihat Tuhan. Jadi, bukan lagi seakan-akan. Tentu saja makna yang dibacanya itu tidak terlepas dari akalnya, akan tetapi konsentrasinya hanya padaNya.

(9). Dalam buku Irfan diberikan dua jalan untuk melihatNya. Pertama dengan membayangkanNya ada di depan kita tanpa membatasiNya dengan depan. Jadi, kita melakukan shalat di depanNya, tetapi tidak membatasiNya dengan depan. Karena depan itu juga batasan dan makhluk. Karena itulah Tuhan juga tidak bisa dilihat dengan mata di surga, karena salah satu dalilnya adalah karena Tuhan nanti akan terbatas dengan surga atau depan.

(10). Cara ke dua adalah melihat langsung apa yang sering kita bahas di wahdatu al-wujud itu, yaitu wujud dimana wujud ini tidak bisa dipengaruhi segala macam esensi, warna dan bentuk-bentuk apapun serta gradasi apapun. Nah, kalau bisa melihat yang ini, maka ini adalah golongan yang tertinggi. Tentu saja, di golongan ini masih banyak maqam-maqamnya sebagaimana golongan-golongan sebelumnya atau tingkatan-tingkatan sebelumnya.

Artinya, semua golongan maqam ini masih memiliki tingkatan-tingkatan yang tidak terhingga.

(11). Shalat ini, akan selalu seiring dengan kelakuan manusia. Kalau manusianya masih berbuat maksiat, maka ia tidak akan pernah khusyu’ dalam shalatnya. Karena keduanya, yakni khusyu; dan tidak maksiat, merupakan dua hal yang saling terkait. Karena Allah telah mengatakan bahwa shalat itu dapat mencegah dari perbuatan dosa (fakhsyaa’) dan batil (mungkar). Karena itu walau difokus seperti apa, kalau seseorang itu masih melakukan dosa, maka ia tidak akan mendapatkan kekhusyukan walau di level dan tingkatan yang paling bawah sekalipun (fikih).

(12). Untuk mengetahui apakah kita sudah meninggalkan dosa atau tidak, maka wajib belajar fikih. Karena itu dalam Ahlulbait belajar fikih itu wajib ‘aini bagi setiap orang (bukan kifayah). Memang untuk menjadi mujtahid yakni yang merumus fikih dari Qur'an, hadits, akal dan ijma’, adalah wajib kifayah, tetapi untuk tahu fikih keseharian dan yang harus kita jalani dalam hidup adalah wajib. Jadi, jangan mentang-mentang mengaku tidak berbuat haram kalau belum belajar fikih dengan lengkap dan baik.

Disamping meninggalkan maksiat untuk mendapat kekhusyukan, ada hal lain yang dapat membantu mencapai kekhusyukan itu. Yaitu, belajar ilmu agama dengan baik. Jagan buang-buang waktu untuk mempelajari hal-hal yang tidak berbau agama kalau ilmu agamanya belum kuat dan dalam. Tentu saja, sebagaimana maksiat, banyak sekali ilmu-ilmu di dunia ini yang menggiurkan.


Akan tetapi semuanya tidak akan ada gunanya, kalau tidak ilmu agamanya tidak kuat dan dalam. Mungkin kita akan dihormati orang karena pandai pemikiran ini dan itu, filsafat ini dan itu, akan tetapi, kalau tidak merupakan bagian dari agama, maka ilmu-ilmu itu tidak akan ada gunanya bagi kita baik di dunia atau apalagi di akhirat.

Karena itu, gunakan umur dan kemampuan akal yang terbatas ini, pada ilmu-ilmu agama. Sedang ilmu-ilmu lain, ambil hanya untuk kepentingan hidup di dunia ini saja. Tidak perlu ia menjadi fokus batin kita dan pikiran kita siang malam.

Artinya, kita boleh jadi dokter, tetapi keluh kesah kita haruslah di ilmu agama. Karena itu sesibuk apapun kita hidup di dunia ini, akan tetapi kita tidak punya hak untuk menjauhkan diri kita dari ilmu agama yang luas dan dalam. Wassalam.

Chi Sakuradandelion, Agoest Irawan, Khommar Rudin dan 26 lainnya menyukai ini.

Komarudin Tamyis: Jazakallah kher.

Khommar Rudin: Allah humma shalli alla Muhammad wa alli Muhammad.

Nandar Syarif: Alhamdulillah syukron ustadz atas pencerahannya, jangan bosan-bosannya jawab pertanyaan ana.

23 September 2013 pukul 16:42 · Suka



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Takdir


Oleh Ustad Sinar Agama http://www.facebook.com/groups/210570692321068?view=doc&id=217527048292099 Oleh Anggelia Sulqani Zahra pada 13 Juli 2011 pukul 16:43


Alie Ntu Vharug: Assalamualaikum.

Ustad. Saya mau tanya. Apakah yang terjadi di dunia ini sudah takdir tuhan dan apakah rejeki, mati, jodoh itu ditentukan tuhan ? Jika semuanya sudah ditentukan kepada kita, kenapa kita masih harus berikhtiyar ?



Sinar Agama:

Salam dan terimakasih pertanyaannya:

(1). Takdir itu bisa diartikan dua arti:

  • (a). Takdir yang bermakna nasib manusia, yaitu semuanya sudah ditentukan oleh Allah. Apakah bisa dirubah atau tidak, atau dimana yang bisa dirubah atau dimana yang tidak bisa (itu masalah nanti).
  • (b). Takdir yang bermakna bahwa Tuhan telah menentukan semuanya sesuai dengan ketentuannya. Seperti api panas, air cair, manusia harus berusaha sendiri tentang nasibnya, bumi bulat, matahari bersinar dan panas, manusia yang tidak taat ke neraka, manusia yang taat ke surga, ....dan seterusnya.

(2). Takdir/taqdir dengan makna yang pertama tidak ada dalam Islam. Karena itu rukun iman rumusan Asy’ari itu, yakni yang ke enam itu, tidak termasuk ajaran Islam. Konsep nasib dan takdir seperti itu hanya ada di agama Kristen, Hindu dan semacamnya. Tetapi di Islam tidak ada. Karena kalau ada, lalu buat apa Islam diturunkan dimana mengajarkan “Lakukan ini” dan “Jangan lakukan itu”???? Yang menyuruh kita takwa dan menjauhi maksiat? Yang menyuruh kita mati syahid dan menjaga kebersihan supaya tidak sakit? Yang menyuruh kita bekerja dan menjadi tangan di atas? Yang menyuruh kita mencari pendamping yang takwa?

.... dan seterusnya?

Kalau semuanya sudah ditentukan, seperti umur, jodoh, rejeki, iman, surga, neraka ... dan seterusnya, lalu buat apa agama Islam itu diturunakan dengan membawa ajarannya supaya kita berumur panjang (dengan silaturrahim), mencari pasangan yang takwa, bekerja keras, dan taat serta menjauhi maksiat?.

(3). Untuk makna ke dua, maka memang sudah seyogyanya Tuhan melakukan itu. Karena Ia Maha Bijaksana dan Alim. Karena itu sudah tentu semua dicipta dan diatur sesuai dan keBijakan dan IlmuNya tersebut. Jadi, semua sudah sesuai dengan ketentuanNya.

Dan ketentuan untuk manusia sehubungan dengan perbuatannya ini (temasuk umur, jodoh dan rejekinya, serta surga-nerakanya) adalah Ikhtiar. Yakni Tuhan telah menentukannya bahwa semua itu sesuai dengan pilihan manusianya itu sendiri. Inilah yang dikatakan Ikhtiar. Dan takdir yang seperti ini jelas bukan hanya tidak bertentangan dengan turunnya agama, akan tetapi malah sangat seiring dengannya. Begitu pula dengan akal manusia itu sendiri.


Untuk lebih rincinya, silahkan menyimak catatanku yang berjudul “Pokok-pokok dan Ringkasan Ajaran Syi’ah” bagian ke dua (a dan b).

Chi Sakuradandelion, Agoest Irawan, Khommar Rudin dan 9 lainnya menyukai ini.



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Jodoh


Oleh; Ustad Sinar Agama http://www.facebook.com/groups/210570692321068?view=doc&id=217526564958814 Oleh Anggelia Sulqani Zahra pada 13 Juli 2011 pukul 16:40


Diamond Kosong Lima : Afwan ustad saya mau tanya... Bagaimana jika sebagai seorang perempuan saya menyerah dalam persoalan jodoh dan kekasih???? Kekecewaan besar membuat saya saat ini miris dan surut niat menikah... afwan ustad apa itu salah???

Mohon pencerahannya ustad... syukran.


Sinar Agama : Salam dan terimakasih pertanyaannya:

(1). Menikah itu adalah sunnah. Tidak dosa kalau orang tidak menikah. Yang dosa kalau tidak menikah, adalah kalau dia mampu menikah tetapi tidak menikah dimana kalau tidak menikah ia melakukan maksiat (sehubungan dengan lain jenis). Jadi, kalau tidak mampu, atau belum ada yang meminang, atau kalau tidak kawin tidak akan melakukan maksiat, maka perbuatan itu tidak haram.

(2). Akan tetapi ketika mampu atau ada yang meminang (kalau perempuan), walaupun tidak akan maksiat kalau tidak kawin, maka hukumnya sunnah. Namun demikian, kesunnahannya ini sangat ditekankan. Sebegitu ditekankan hingga Nabi saww pernah bersabda bahwa yang meninggalkan perkawinan ini bukanlah dari golongan beliau. Maksudnya, ditekankan sangat. Jadi, usahakan untuk tidak meninggalkannya.

(3). Tentu saja, tekanan untuk kawin itu bukan berarti harus membabi buta. Artinya harus menerima setiap lelaki yang datang meminang. Karena itu, mestilah dilihat apakah dia orang shalih yang menjaga agamanya atau tidak. Kalau menjaga, maka tidak usah banyak dipikirkan hal lainnya.

Kalau kamu mau aku carikan, maka masukkan datamu di pesan-ku, nama, umur, tinggal dimana, sudah pernah kawin atau belum, pendidikan, mau lelaki yang seperti apa. Afwan barang kali nanti ada yang cocok. Tentu saja, dalam tahap pertama saya tidak akan mengenalkan nama. Saya hanya akan menggunakan sifat-sifat saja, dan perkenalan serta pertanyaan masing-masing itu hanya akan melalui aku, tidak langsung. Kecuali nanti kalau sudah dianggap save.


Chi Sakuradandelion, Khommar Rudin, Alie Sadewo dan 11 lainnya menyukai ini.

Khommar Rudin: Allah humma shalli alla Muhammad wa alli Muhammad. 

28 Juli 2012 pukul 16:42 · Suka · 1




اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Senin, 30 Desember 2019

Wilayatul Faqih (seri 2)


Oleh: Ustad Sinar Agama http://www.facebook.com/groups/210570692321068?view=doc&id=217520644959406 Oleh Anggelia Sulqani Zahra pada 13 Juli 2011 pukul 16:11


Muhammad Ali: Salam, bagaimana menurut antum wilayatul fagih (rahbar) apakah beliau dipilih dengan musyawarah atau ditunjuk oleh yang mempunyai otoritas tertinggi saat ini yaitu imam Mahdi Alaihissalaam.


Kalau beliau dipilih secara musyawarah, dimana konsep imamahnya? Dan berarti juga beliau “tidak wajib” diikuti.

Kalau beliau ditunjuk oleh yang mempunyai otoritas tertinggi saat ini yaitu imam Mahdi Alaihis- salaam, berarti beliau ma’sum pada tingkatan beliau dan wajib diikuti.

Indikasi apa kita sebagai awam meyakini saat kemunculan Imam Mahdi (semoga kita termasuk dalam barisannya).


Sinar Agama:

Salam dan terimakasih pertanyaannya:

Saya sebenarnya sudah menulis hal ini dalam bentuk diskusi dengan teman dalam catatan yang berjudul: Taqlid dan kelebih pandaian marja’ (a’lam), seri tanya-jawab Al Louna dan Sinar Agama. Kalau antum lihat disana maka akan terjawab. Namun demikian saya akan memberikan jawab ringkas atas pertanyaan antum ini.

(1). Rahbar hf dipilih oleh musyawarah ahlulkhibrah (para mujtahid). Dimana pada dasarnya dalam syariat, cukup dilakukan 2 orang dari ahlulkhibrah itu dan adil. Tetapi karena di Iran sudah memiliki negara Islam, maka supaya adil, dibentuklah majlis yang bernama Majis Ahlulkhibrah yang dipilih secara pemilu seperti majlis MPR. Sudah tentu calon yang bisa dipilih oleh rakyat dalam pemilu itu harus mujtahid. Dan pemilihan anggota majlis ahlulkhibrah ini dilakukan dalam 4 th sekali. Karena jumlah mereka harus disesuaikan dengan jumlah penduduk, dan tugas mereka disamping mengangkat Rahbar (pemimpin tertinggi) dari yang paling a’lam dari semua mujtahid yang ada, adalah mengontrol terus kerja-kerja dan keadilannya dimana kalau terlihat adanya sifat ketidak adilan (bc: melakukan dosa), dan melakukan hal-hal yang menyimpang dari ajaran Islam, maka segera mencopotnya dari posisi tersebut dan memilih yang lainnya.

Dengan adanya pemilu ini, maka dua arah keadilan telah dilaksanakan dengan baik. Keadilan yang diminta Tuhan yang minimal 2 orang itu (karena ulama wakil rakyat ini jelas melebihi 2 orang, dimana pada waktu pemilihan Rahar ayatullah Ali Khamenei ada 72 orang ulama wakil rakyat yang duduk di majlis tersebut (sekarang sudah pasti lebih banyak karena penduduk sudah semakin banyak).

(2). Ketika pemimpin tertinggi (Rahbar) telah diplih oleh lebih dari 2 dan, apalagi sepakat dari puluhan mujtahid, maka tidak ada kedudukan lebih kuat dalam Islam dari kedudukan tersebut. Artinya, tidak bisa dibanding dengan yang hanya disaksikan 2 orang ulama ahlulkhibrah yang adil (tidak melakukan dosa besar dan kecil) itu. Ini pertama.

Ke dua, ketika Tuhan menyuruh taat pada Rasul saww, dan Rasul saww menyuruh taat pada imam maksum as, dan imam maksum as menyuruh ikut dan taat pada marja’ dikala tidak adanya mereka atau jauh dari mereka (seperti di jaman imam maksum as tetapi tempat dan kotanya jauh dari imam maksum as), maka disinilah arti bahwa kepemimpinan marja’ itu berakar dari konsep keimamahan.

Yang perlu diketahui bahwa wakil imam maksum as itu ada dua macam: Ada yang ditunjuk langsung, seperti 4 wakil yang ditunjuk imam Mahdi as; Ada juga yang ditunjuk secara tidak langsung, akan tetapi memakai kriteria. Seperti mujtahid, taat, tidak melakukan dosa besar dan kecil (adil) dan tidak tamak kepada dunia sekalipun halal.

Karena itu maka mengikuti mujtahid dan/atau pemimpin tertinggi itu hukumnya adalah wajib.

Saya heran kepada antum kok bisa kalau tidak dipilih oleh imam maksum secara langsung terus tidak wajib ditaati? Konsep dari mana itu?

Dengan demikian, maka jangankan mengikuti Rahbar (pemimpin tertinggi), mengikuti marja’ saja wajib hukumnya. Dan marja’ ini hanya, ilmu (ijtihad) dan keadilannya, cukup disaksikan dengan 2 orang ulama/mujtahid yang adil. Padahal Rahbar (pemimpin tertinggi) itu terjadi dikala adanya pemerintahan Islam dan dipilih oleh puluhan mujtahid.


(3). Taat itu sebenaranya tidak hanya berhubungan dengan maksum as. Karena banyak sekali ketaatan yang diwajibkan oleh Islam. Seperti taatnya istri pada suami (tentu dalam batasan Islamnya seperti di kamar dan lain-lain), taatnya anak pada orang tua (tentu kalau tidak untuk maksiat), taatnya budak pada tuannya, dan seterusnya, dimana salah satunya adalah taatnya muqallid (yang taqlid) pada marja’nya dan sudah tentu kepada pemimpinnya para marja’ yang dikenal dengan Rahbar (pemimpin tertinggi itu).

Nah, dengan demikian dapat diketahui bahwa ketaatan itu milik Tuhan, tetapi Tuhan dengan HikmahNya mewajibkan manusia taat pada Rasul saww dan imam maksum as, sementara imam maksum as memerintahkan kita untuk taat pada marja’ (tempat kita bertaqlid). Karena itu maka ketaatan ini adalah wajib karena dikehendaki imam maksum as dan Rasul saww dimana sesuai dengan kehendak dan ajaranNya.

(4). Indikasi yang terbaik adalah melihat apa yang dikatakan para marja’ kala itu. Begitu pula melihat tanda-tandanyanya, terutama kemaksumannya. Karena orang maksum disini mengetahui semua hal dengan ijinNya. Karena itu kalau antum sempat bertemu dengan beliau as nanti, maka kalau ingin tambah yakin maka tanya saja rahasia antum, misalnya waktu kelas 6 sd waktu itu antum pernah jatuh di sungai dan seterusnya. Tetapi dengan niat untuk mencari kebenarannya, bukan untuk kurang ajar. IsyaAllah beliau as tidak akan marah dan akan menjawabnya dengan bijak.

Selamat!


Muhammad Ali : Syukron atas jawabannya, sekali lagi afwan karena ana awam dalam keilmuan agama, tapi maksud saya wajib diikuti adalah sami’na wa ata’na tanpa syarat (tidak ada batasan), kalau rahbar dipilih oleh ahlulkhibrah dan ternyata yang paling A’LAM dari semua mujtahid yang ada adalah beliau (menurut ahlulkhibrah), lantas siapa yang berhak menilai beliau jika sudah menyimpang dari ajaran Islam sedang beliau sendiri adalah yang paling A’LAM? Kalau ahlulkhibrah yang mempunyai tolok ukur keimanan seseorang yang dipilih mereka, berarti imamah tidak lebih seperti presiden, yang mungkin bisa digantikan 4 tahun sekali

Sinar Agama:

(1). Ketika pemimpin tertinggi itu dipilih oleh Tuhan melalui Rasul saww dan imam maksum as (yang memberikan kriteria itu), maka pemimpin tertinggi tersebut wajib ditaati tanpa ini dan itu (sami’naa wa atha’naa).

(2). Karena taat kepada selain maksum itu bersyarat (seperti taat ke orang tua, begitu pula pada pemimpin tertinggi), yaitu tidak di dalam maksiat pada Tuhan dan juga bersyarat tetap adilnya sang pemimpin tertinggi itu (tidak melakukan dosa besar dan kecil), maka selama perintahnya itu tidak keluar dari Islam dan dia tetap adil (tidak melakukan dosa besar dan kecil), maka wajib menaatinya (sam’an wathaa’atan).

(3). Karena a’lam itu adalah sifat ilmu, yakni lebih pandai dari yang lain, maka ia bukan berarti bisa membuat sembarang hukum Islam. Karena itu, apapun yang akan diperintahkannya akan tetap diketahui oleh orang lain yang juga mujtahid bahwa hal itu keluar dari Islam atau tidak. Karena yang dikatakan a’lam itu bukan bisa membuat keanehan, tetapi dalil yang dipakai untuk fatwanya itu sangat dalam dan sangat terperinci dan luas. Sedang marja’ yang lain dalilnya lebih sempit. Anggap, kalau a’lam punya dalil 100, tetapi kalau bukan a’lam dalilnya hanya 50 dalil.

Disamping itu a’lam itu dapat diketahui karena ketajamannya melihat masalah-masalah dan dalil-dalil nya. Persis seperti kita sekarang dalam diskusi di fb ini dapat melihat siapa yang lihai berdalil dan jitu dan siapa yang tidak. Nah, dalam ijtihad juga seperti itu, tetapi dalam tingkatan yang jauh lebih tinggi.

Kesimpulannya:

A’lam itu sifat ilmu, bukan sifat untuk membuat halal jadi haram dan haram jadi halal. Begitu.

Karena itu, maka ia tidak bisa sembarangan memberi perintah. Karena itu orang-orang yang mengira bahwa ia akan sembarangan berfatwa itu akan keluar dari perkiraannya. Apalagi diawasi oleh majlis ahlulkhibrah itu yang, terdiri dari puluhan mujtahid itu.

(4). Ketika a’lam itu adalah kejituan memberikan dalil maka ia adalah berupa hukum Islam yang menyangkut semua orang termasuk dirinya. Artinya, dapat dilihat apakah ia mengamalkan fatwanya atau tidak. Artinya dia mengamalkan Islam atau tidak. Karena itu, kalau ia mengamalkannya maka ia tetap dalam adil dan wajib ditaati. Tetapi kalau sebaliknya, maka sebaliknya.

Jadi, a’lam tidak bisa dijadikan tempat sembunyi untuk melakukan dosa. Karena a’lam hanya sifat ilmu tentang dasar fatwanya, sementara fatwanya juga mengikatnya. Karena itu, tugas umat, terutama ahlulkhibrah itu adalah selalu melihat pemimpinnya dengan cerdas dan kritis dalam arti aplikasinya.

Kesimpulan:

A’lam itu bukan tempat menyembunyikan fatwa aneh, dan bukan pula tempat besembunyi untuk berbuat makasiat.

Karena itu setiap keanehan dan penyimpangan dalam aplikasinya/amalnya, akan dapat dilihat dengan mudah oleh umat atau apalagi oleh ahlulkhibrah.

Karena itu, sebelum dua hal itu tercemari, maka taat kepada pemimpin tertinggi adalah bukan hanya kewajiban para selain ulama, bahkan ulama dan marja’pun wajib menaatinya (dalam fatwa-fatwa sosial politiknya tentunya).

Muhammad Ali: Sekali lagi afwan karena saya awam dalam keilmuan agama dan menurut antum yang lebih lihai berdalil adalah yang lebih a’lam, insya ALLAH semua pembaca fb ini dapat menyerap hikmah yang antum maksud, syukron katsir atas jawabannya.

Sinar Agama: Harus kutambahkan satu catatan bahwa lihai berdalil itu bukan asal-asalan dan pandai-pandaian bersilat lidah. Karena yang dimaksuditu adalah kejituan dan ketajaman melihat masalahnya. Karena itu, bukan yang asal-asalan, karena yang asal-asalan itu akan dapat diketahui ahlinya/ulama, walau mungkin mengagumkan para awam (bc: bukan ahli). Jadi, kea’laman itu tidak bisa dibuat-buat dan asal-asalan. Karena ia dan dalil-dalilnya, dalam tatapan ribuan para ahli/ulama.

Tentang, diskusi di fb ini, itu hanya sekedar contoh pendekat. Karena kelihaian yang ada belum tentu hakiki. Karena perlu pembahasan tersendiri apakah kelihaiannya itu asal-asalan, atau memang mengandungi dalil-dalil yang berbobot sesuai dengan konsep-konsep yang sudah dipaparkan di setiap bidang ilmu (seperti logika, filsafat, irfan, ushulfikih, rijal, ...dan seterusnya). Karena itu kelihaian dan kepiawaian di fb itu perlu telaah tersendiri. Tetapi yang kumaksudkan dalam penyebutannya adalah sebagai pendekat saja. Bahwa semua mata, dan ribuan peserta di fb ini melihat apa yang ditulis orang dan dijadikan dalil-dalil dalam diskusinya. Karena itu, kalau kita secara relatif telah melihat satu orang yang lebih lihai, maka kita mengatakan ia adalah a’lam dari yang lain.

Nah, seperti itulah kesaksian ulama terhadap kea’laman seseorang. 

Wassalam.

Chi Sakuradandelion, Agoest Irawan, Khommar Rudin dan 11 lainnya menyukai ini.

Aziz Laparuki: maaf, ustadz. Rijal itu bidang ilmu mengenai apa?

Sinar Agama: Rijal itu ilmu mengenai perlu tidaknya hadits-hadits yang ada kepada penelitian terhadap perawi-perawinya. Dan juga siapa saja perawi-perawi itu dan sifat-sifatnya hingga dapat dipecaya atau tidak perawiannya. Begitu juga dibagi berapa macam hadits itu kalau dilihat dari macam-macam perawinya ... dan seterusnya.

Cuäh Cåampoeng Pengger: Afwan..Nich.. keluar konteks..

Apakah yang dmaksud dajjal dan ya’jud m’jud itu.. apa wujud seperti hewan, tumbuhan, jin atau yang lain.. kenapa sebagai tanda kiamat..

Apakah cuma kiasan dari budi pekerti/aklaq manusia.. saja..

Sinar Agama: Cuah: Ya’juuj dan Ma’juuj itu adalah manusia yang memimpin kerusahakan di jaman Dzulqarnain. Sedang Dajjal itu juga manusia yang memimpin kesesatan dan kezhaliman di jaman imam Mahdi as nanti.

Khommar Rudin: Allah humma shalli alla Muhammad wa alli Muhammad. 

9 Juni 2012 pukul 4:04 · Suka




اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Sabtu, 28 Desember 2019

Taqiah (seri 2) : Penjelasan atas Fatwa Rahbar “Imam Ali Khamenei” tentang Taqiah


Oleh Ustad Sinar Agama http://www.facebook.com/groups/210570692321068?view=doc&id=215668901811247 Oleh Anggelia Sulqani Zahra pada 9 Juli 2011 pukul 17:03


Bintang Ali: Salam wa rahmah.

Ustad, dulu saya pernah bertanya tentang taqiah persatuan ke ustad dan intinya berjamaah dengan sodara sunni itu boleh selama fiqih solat syiah dikerjakan (sujud diatas turbah, irsal dan lain-lain), di luar itu solatnya ga sah.. tapi ada fatwa rahbar yang membingungkan saya:


Fatwanya:

“bermakmum pada sodara ahlusunah dengan tujuan untuk memilhara persatuan dan kesatuan islam adalah diperbolehkan. Apabila untukmemelihara persatuan ini meniscayakan pelaksanaan hal-hal sebagaimana yang mereka lakukan, hal ini diperbolehkan dan solatnya sah, BAHKAN JIKA MENGHARUSKAN SUJUD DI ATAS PERMADANI DAN SEJENISNYA, tetapi bersedekap dalam solat brsama mereka tidaklah diperbolehkan kecuali bila keadaan menuntut hal tersebut”

(sumber: daras fiqih, ringkasan fatwa imam Ali Khamenei.)

Yang saya capslock itu yang buat saya bingung, pertanyaannya berarti boleh sujud di sajadah dalam rangka persatuan? Atau ada maksud yang saya tidak paham dari fatwa tersebut ?

Syukron.


Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaannya:

(1). Yang dimaksud dengan shalat persatuan itu adalah dengan memelihara ajaran Syi’ah dalam shalat tersebut kecuali bersama merekanya atau bermakmum kepada merekanya.

(2). Yang dimaksud dengan tidak boleh bertaqiah dalam sedekap karena ia merupakan ajaran wajib syi’ah yang di sunni juga ada. Hingga akan terlalu berlebihan kalau lurus tangan juga harus sedekap. Lagi pula lurus tangan tidak akan menyebabkan berbagai kesalahpahaman dan fitnah.

(3). Beda halnya dengan sujud di atas batu. Karena bisa saja mereka mengatakan bahwa kami akan bersatu dengan kalian (syi’ah) kalau kalian menyembah Allah, bukan menyembah batu. Nah, sujud di atas batu itu bisa dibuat fitnah kepada orang-orang awam dan bisa menjadi penyulut perpecahan.

Jadi, masuk akallah kalau diumpamakan terjadi akan adanya sujud di atas karpet itu sebagai syarat persatuan. Karena itu, karena masuk akal inilah, maka taqiah dengan alasan persatuan ini dapat dijalankan.

Beda halnya kalau meminta tangan lurus. Karena hal itu tidak membuat fitnah dan apalagi di sunni juga ada yang lurus. Dan, terlebih lagi disunni sedekap itu maksimalnya hanya sunnah. Karena di sunni ada tiga hukum sedekap: sunnah, makruh, dan mubah.

(4). Nah, akan tetapi, kalau suatu saat bahwa sedekap juga membuatnya seperti itu, misalnya di daerah yang dihuni orang-orang awam dan bermadzhab syafi’i. Misalnya mengira bahwa sedekap itu wajib dan kalau tidak maka shalatnya batal. Lalu mereka berkata “kita tidak mau bersatu dengan yang shalatnya batal”. Nah, kalau seperti itu keadaannya, maka boleh juga bertaqiah dengan sedekap dengan alasan persatuan.

Tambahan:

Yang dibahas di atas itu adalah taqiah persatuan, bukan keamanan yang 4 itu (ada kemungkinan dipukuli, dibunuh, diperkosa dan diambil harta kehidupannya). Karena taqiah yang disebabkan keamanan, maka semua dibolehkan sesuai dengan tuntutan keadaannya. Seperti sujud di karpet, sedekap ...dan seterusnya.


Taqiah di atas, kalau dilakukan untuk puasa, maka hanya menghilangkan dosanya saja akan tetapi tetap wajib diqodho di lain waktu.

Maksud dengan taqiah di atas, adalah taqiah yang sudah dengan sebab-sebab yang benar tersebut. Bukan hanya untuk pertemanan dalam arti tidak mengancap persatuan, atau karena tidak enak dan semacamnya. Karena kalau dalam hal-hal seperti ini dilakukan taqiah puasa, maka taqiahnya batal karena tidak memenuhi syarat-syarat taqiah dimana akibatnya bukan hanya dosa, tetapi juga harus membayar kaffarah puasa selain melakukan qodho di lain harinya.

Wassalam.


Chi Sakuradandelion dan 6 orang lainnya menyukai ini.



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Wudhu Ketika Diinfus


seri tanya jawab Muhammad El’Baqir dengan Sinar Agama November 2, 2013 at 5:23 pm

Muhammad El’Baqir mengirim ke Sinar Agama: 23-3-2013, Salam Ustadz.
Semisal saya sedang dirawat dirumah sakit masih belum bisa bangun dan tangan saya di infus, kemudian saya hendak melakukan sholat akantetapi saya belum bisa berwudhu dan bertayamum itu bagaimana Ustadz solusinya? Syukron.


Hikmah Munirah dan Zahra Herawati Kadarman menyukai ini.


Sinar Agama: Salamdan terimakasih pertanyaannya: Selama masih bisa melakukan wudhu dengan jabirah, maka wajib melakukannya. Wudhu itu kan bisa dengan setengah gelas air atau kurang dari itu. Tapi kalau tidak bisa, maka bisa dengan melakukan tayammum dengan meminta debu atau pasir yang bersih. Kalau tidak bisa bergerak, maka orang lain yang mentayammumkannya seperti yang sudah dijelaskan di fikih.

Muhammad El’Baqir: Kalau dengan segelas air itu bagaimana caranya Ustadz? Dan apakah infusan yang ada di tangan tidak jadi penghalang?

Sinar Agama: Muhammad: Wudhu itu memang hanya dengan setengah gelas kecil bahkan. Pertama tuang ke tangan kanan sedikit, untuk mencuci muka. Kalau dengan satu tuangan itu sudah bisa diratakan ke seluruh wajah, maka sudah cukup. Kalau belum boleh melakukannya dua kali. Dan kalau yang ke tiga, itu sudah haram. Lalu tuang sedikit lagi ke tangan kiri untuk membasuh tangan kanan dengan keterangan yang sama dengan membasuh wajah. Lalu tuang lagi ke tangan kanan untuk membasuh tangan kiri dengan keterangan yang sama.

Sedang tangan yang diinfus, maka hanya wajib mengusap-usap atau membasahi bagian atasnya, yakni bagian jabirah/perbannya. Hati-hati kalau pernah ada darah, jangan sampai terkena darahnya karena airnya akan menjadi najis. Bisanya, kalaulah ada darah, hanya di lubang suntikan infus yang, tentu aman karena biasanya ada plaster penjaga lepasnya infus. Nah, plaster itulah yang dijadikan jabirahnya dan hanya diusap bagian atasnya.

Setelah itu, maka tinggal usap kepala dan kaki. Uwwes beres kan?

Muhammad El’Baqir: Oke Ustadz. Syukron atas jawabanya. Oh iya Ustadz ana sekalian minta penjelasan usapan yang ke tiga itu haram. Afwan.

Sang Pencinta: Muhammad El’Baqir: berdasarkan fatwa basuhan yang ke tiga itu haram dan wudhunya bermasalah.

Muhammad El’Baqir: Itu menurut fatwa marja atau ada hadits dari Imam atau Nabi?

Sang Pencinta: Fatwa Rahbar hf bab wudhu. Untuk fikih, mukalaf non mujtahid merujuk dan wajib ke fatwa marja’nya.

Sinar Agama: Muhammad: Bukan usapan yang ke tiga yang bermasalah, tapi mengambil air yang ke tiga untuk membasuh muka atau tangan. Kalau usapan itu, maka kalau usapannya dilakukan pada kepala, maka jelas bermasalah untuk usapan kakinya. By the way, mengambil air tiga kali, usapan tiga kali, dalam Syi’ah, adalah bid’ah yang bertentangan dengan keborosan air. Dan, sudah tentu sebagai orang Syi’ah yang bukan mujtahid, hanya dan hanya wajib, mengikuti fatwa marja’nya. Wassalam.

Sinar Agama: Tatu: Yang ke tiga itu tidak boleh karena memang tidak boleh, bukan karena air dan seterusnya. Persis seperti shalat shubuh yang hanya dua rakaat yang tidak bisa ditambah dengan 4 rakaat sekalipun kita memauinya. Mengusap telinga di pertengahan wudhu itu tidak dianjurkan. Boleh-boleh saja kalau dilakukan sebelum wudhu, seperti membersihkan hidung. Tapi kalau sudah di tengah wudhu’, yakni sudah mulai membasuh muka, maka hindari membersihkan telinga tersebut.


Aroel D’ Aroel: Salam, afwan nambahin sedikit Ustadz, bagaimana dengan kumur dan membasuh lubang hidung? Disunahkan? Boleh-boleh saja? atau malah diharamkan?

Sinar Agama: Aroel: Dianjurkan kalau belum wuhdu, yakni menjelang wudhu seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Aroel D’ Aroel: Terimakasih Ustadz.

November 2 at 8:34 pm



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Sekilas Tentang ‘Allaamah Thaba Thabai ra dan Tabarruk


Seri tanya jawab Sang Pencinta dengan Sinar Agama November 2, 2013 at 5:20 pm


Sang Pencinta: (23-4-2013) Salam, Mas Fahmi Husein bertanya, menurut cerita beliau RA (Allamah Thathaba’i) bercelak dengan debu peziarah, dan kepandaian/kejeniusan beliau RA didapat karena dipeluk oleh Imam Zaman AFS? Terimakasih bersama Sinar Agama.


Agoest D. Irawan, Zahra Herawati Kadarman, Yoez Rusnika dan 9 lainnya menyukai ini.


Armeen Nurzam: Menyimak.

Tebe TB: Ikut.

Fahmi Husein: Sang Pencinta; kok fotonya tidak di ikut sertakan? Takdzim.

Yoez Rusnika: Menyimak.

Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaannya:

Sepertinya saya sudah pernah menceritakan tentang ‘Allaamah Thaba Thabai ra. Beliau termasuk seorang yang kurang cerdas hingga dalam belajar kitab paling dasar bahasa Arab di hauzah, yaitu al Juruumiyyah, yang biasanya selesai dalam beberapa bulan saja, dipelajarinya dalam tiga tahun dan, itupun belum paham-paham dengan baik. Tapi beliau ra, jangankan dosa, hal-hal yang tidak perlu, juga tidak dilakukan. Setelah sekitar umur 16 tahun (kalau tidak salah ingat), beliau ra memimpikan Nabi saww dan mengeluhkan keadaannya serta minta disyafaati supaya bisa lebih baik. Nabi saww mengatakan bahwa telah membantunya sejak umur 14 tahun (seingatku). Beliau ra pun, mengingat-ngingat apa yang terjadi pada tahun itu. Beliau ra ingat, bahwa tahun itu, tahun pertama beliau ra memakai serban.

Sebagaimana maklum, memakai serban untuk para pelajar agama, biasanya dilakukan melalui peresmian dalam upacara nasihat dan doa oleh para ulama besar.

Hikmah Cerita:

Biasanya guru-guru akhlak sering membawakan cerita hikmah dari para tokoh. Dari cerita beliau ra di atas, biasanya penekanannya kepada menjauhi dosa dan hal-hal yang tidak perlu. Karena itu, dikatakan, sejak kecil ‘Allaamah Thaba Thabai ra, kalau berjalan di jalan, selalu menundukkan kepala supaya tidak menengok dosa dan supaya tidak menengok apapun yang tidak perlu, seperti melihat barang di toko padahal tidak mau membelinya.

Itulah yang dikatakan para pembesar ulama seperti imam Khumaini ra dan ayatullah Jawodi Omuli hf dan yang lainnya, bahwa hati/akal itu harus disehatkan dulu sebelum ditumpahi ilmu agama karena kalau tidak, maka sekalipun mendapatkan ilmu agama, maka akan digunakan untuk jalan dunia, bukan akhirat. Dan, kalau sudah disehatkan, yakni akalnya difungsikan supaya dapat mengontrol daya-daya lainnya seperti khayal, nafsu dan seterusnya, maka ia akan mendapat pertolongan Allah dalam memahami banyak hal dan, akan mendapat kekuatan lebih untuk lebih mengontrol daya-daya ruh lainnya itu.

Jangan Salah Paham:

Dengan semua uraian itu, janganlah memahami cerita ajib atau karamah di Syi’ah, seperti sewaktu kita di Sunni yang mau terbang dengan kemalasan belajar dan hanya bertabarruk dengan ini dan itu lantaran percaya takdir Tuhan atas nasib manusia. Jalan dalam semua karamah dan keajaiban itu, adalah jalan Islam. Tidak lebih. Yaitu, usaha dalam mewujudkan potensi dalam diri dengan taqwa (menjauhi semua dosa dan melakukan semua kewajiban), lalu setelah itu barulah ia layak mendapatkan apapun pertolongan itu. Sementara salah satu jalan taqwa itu, yaitu yang menjauhkan kita dari dosa itu, adalah belajar fikih atau akidah dan mengamalkannya.

Karena itu jiwa tabarruk itu jangan dipahami negatif, yakni datang pada orang yang tidak potensial. Tapi harus dipahami secara positif, yaitu datang pada orang yang potensial. Tentu saja, kalau hanya pahala, maka dengan tabarruk sudah bisa didapatkan. Karena tabarruk itu sudah menandakan keimanan pada yang ditabarruki dan tawadhu padanya serta mencintai yang dicintai Tuhan. Semua ini, sudah cukup mendatangkan pahala. Tapi untuk hajat-hajatnya, seperti pandai, cerdas, taqwa, dan seterusnya harus dilengkapi dengan usaha keras melakukan semua mukaddimah-mukaddimahnya atau prasyarat-prasyaratnya, seperti belajar, menjauhi dosa, dan seterusnya sesuai dengan berbagai ragam hajat yang diinginkan dari tabarruk itu.

KARENA ITU, TABARRUK BUKAN INGIN MEMBUAT MANUSIA MENJADI MALAS. TAPI SEBALIKNYA, INGIN MEMBUATNYA OPTIMIS, BANGKIT DAN MELAMPAI (mencontoh) YANG DITABARRUKI UNTUK MENCAPAI HAJAT-HAJATNYA DI DUNIA INI ATAU DI AKHIRAT KELAK.


Penutup:


Cerita di atas, saya dengar sendiri dari guru akhlak saya walaupun mungkin saya bisa saja salah ingat dalam beberapa rinciannya. Dan, sudah tentu cerita itu tidak menolak adanya cerita lain tentang tabarruk beliau ra itu. Yang penting memahami kejiwaan dari makna tabarruknya.

Tambahan:

Kalau tidak salah ingat, beliau ra, dalam banyak puasanya, berbuka dengan debu yang menempel di maqam dari hdh Faathimah Makshuumah ra yang ada di Qom. Wassalam.


Fahmi Husein: Sinar Agama; Syukron atas penjelasannya, ada juga hubungan Sunni dan Syi’ah dalam cerita beliau RA? Afwan, debu (tanah yang dimaksud?) dalam fiqih Syi’ah tidak haramkah di konsumsi (buat berbuka)? Afwan, atau antum tidak salah dengar mungkin di pakai bercelak?

Sinar Agama: Fahmi: Yang haram itu tanah yang dikatakan tanah. Bukan atom-atom tanah yang tidak terlihat mata tapi hanya terlihat akal yang menempel di maqam kuburan. Karena maqam itu selalu dipegang orang dan diciumi. Jadi tidak pernah terlihat ada debunya. Kalau sampai ada terlihat debu, maka haram dimakan. 

Wassalam.




اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ


Rabu, 25 Desember 2019

Hutang Khumus Itu Dihitung Sejak Kerja (awal mendapat bayaran), Bukan Awal Menjadi Syi’ah?!


Tanya-jawab Sang Pencinta dengan Sinar Agama November 2, 2013 at 5:15pm


Sang Pencinta: 23-4-2013, Salam, ada yang bertanya, jika seorang Sunni lalu hijrah ke Syi’ah dan ketika di Sunni.

1) Tahu bahwa khumus itu wajib tapi tidak membayarkannya, apakah sekarang wajib bayar bagian yang harus dikhumusi?


2) Tidak tahu apa itu khumus, apakah wajib membayarnya sekarang? Terimakasih.


Jika wajib bayar, bagaimana dengan ibadah sholat dengan pakaian dari bagian yang belum dikhumusi, semasa Sunni dulu? — bersama Sinar Agama.

Indah Kurniawati, Achmadi Al Fauzi, Haladap Saw dan 32 lainnya menyukai ini.


Hidayatul Ilahi: Nyimak.

Ayuning Wins: Salam, ikut nyimak.

Hambali Return: Nyimak, saya belum mudeng itu khumus.


Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaannya:

1- Yang tahu tapi tidak membayar khumusnya itu, wajib membayarkannya. Dan cara menghitung qadhaa’nya adalah dikira-kira setelah setahun masa kerjanya itu, apa ada kelebihan dari uang atau barang-barang konsumsinya seperti bensin, beras, nasi, tempe mentah, tempe goreng, pulsa, rokok dan seterusnya. Kalau ada, maka dikirakan jumlahnya, lalu dikeluarkan seperlimanya. Begitu pula, tahun-tahun berikutnya. Tapimengqadhaa’ khumus itu, harus dari uang yang bersih seperti harta yang sudah dikhumusi (kelebihan tahun sekarang yang sudah dikhumusi).

2- Kalau tidak tahupun, tetap wajib bayar khumus. Karena kewajiban ini tidak tergantung kepada pengetahuan sekalipun mungkin dimaafkan atas keterlambatannya kalau memang tidak tahu dan tidak ada jalan untuk mencari tahu. By the way, yang telah lalu wajib dikhumusi walau dengan mengira-ngira kelebihan dari hasil pengurangan pendapatan setahun dikurangi belanja normal (tidak berlebih) selama setahun juga.

Untuk yang telah lalu yang belum dikhumusi di kala Sunni itu, biasanya tetap harus diqadhaa’ (setidaknya sebagai kehati-hatian), dan dalam hal ini, bisa mencicil tapi dengan keridhaan marja’ atau wakilnya yang memiliki ijin perelaan terhadap penyicilan tersebut sesuai kemam- puan. Tapi kalau tidak mau melakukan kehati-hatian itu, maka cukuplah mengkhumusi apa- apa saja yang tersisa dari uang ketika Sunni yang tersisa sampai menjadi Syi’ah dan begitu pula barang-barang yang tersisa dari yang mesti dikhumusi, seperti rumah ke dua, mobil ke dua, tanah yang bukan untuk rumah, modal yang didapat dari hasil kerja dan semacamnya. Saya sudah memintakan ijin ke kantor Rahbar hf dan bahwa kalau tidak mau melakukan kehati-hatian tersebut dimana memang tidak wajib menurut kantor Rahbar hf (akan tetapi hanya baik), maka wajib mengkhumusi yang tersisa di kala sudah menjadi Syi’ah sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas itu. Lihat juga poin Tambahan di bawah.

Mata Jiwa: Pak Uztadz, jika ada kasus suaminya belum mau mengeluarkan khumus karena beranggapan bahwa setiap bulannya telah mengeluarkan sekitar 10 % dari penghasilannya untuk menyantuni faqir miskin dan beberapa sayyid/syarifah yang terhitung masih kerabat, bagaimana hukumnya?

Willy Bulao: Kalau tiap akhir tahun (bulan Desember) dapat uang kaget seperti bonus perusahaan apakah wajib dikhumusi?

Sang Pencinta: Mata Jiwa: terhitung wajib khumus, khumus itu wajib diserahkan pada marja’, tidak disalurkan sendiri oleh mukallaf.

Reyza Pahlevi: Persoalan marja bagaimana kita menentukan marja buat kita ya. Mohon penje- lasannya.

Sang Pencinta: Reyza, Penentuan seorang mujtahid yang diangkat sebagai marja di antaranya dilihat dari kelebih-pandai-an seorang mujtahid dalam menjelaskan dalil-dalil sebuah fatwa dibanding mujtahid lain, dan beberapa syarat lainnya. Kalau berminat untuk memahami lebih dalam silahkan rujuk ke sini,

https://www.dropbox.com/s/g2unyedhagftit3/WF%20Marja%20Taqlid.pdf?m

Reyza Pahlevi: Terimakasih banyak Akhina.

Sasando Zet A: Barang apa saja yang dikhumusi?

Kalau beli barang seperti motor sewaktu masih di Sunni, bagaimana hukumnya? Tapi belinya dengan cara hutang?

Sinar Agama: Willy: Kalau uang tersebut adalah hadiah yang tidak wajib dikeluarkan perusahaan dan bukan hak karyawan, atau bukan karena ada pemotongan bayaran di perbulannya yang akan diberikan di akhir tahunnya, maka ia terhitung hadiah dan tidak ada khumusnya.

Memang, pemberi hadiahnya, kalau banyak dan di luar keumuman, maka ia yang wajib mengeluar- kan khumusnya dari hadiahnya tersebut. Tapi yang diberi hadiah, tidak wajib khumus.


Sinar Agama: Mata: Penyantunan itu bisa dianggap pengeluaran belanja. Tapi tidak sebagai khumus. Artinya belanjanya boleh dipotong untuk sedekah dan membantu orang atau Islam. Yakni yang dimaksudkan dengan belanja yang boleh dipakai dari penghasilan itu, termasuk di dalamnya hal-hal seperti sedekah itu.

Jadi, kalau pada akhir tahun Khumusnya masih ada sisa dari uang dan barang-barang konsumsinya, maka wajib dikeluarkan seperlimanya dan diserahkan ke marja’ atau wakilnya untuk disalurkan kepada yang berhak dan tidak bisa disalurkan langsung karena bisa salah dan sebagainya. By the way, harus disetor ke marja’-nya atau amil khumus dari marja’nya itu.

Kalau suami tersebut Sunni, maka jangan dipaksa supaya tidak terjadi hal yang lebih buruk seperti pertengkaran atau perceraian, karena itu cukup diingatkan saja. Tapi kalau istrinya yang syi’ah, maka setiap ada kelebihan dari belanja atau uang apa saja yang diberikan dari penghasilan suaminya di tahun khumusnya, maka keluarkan khumusnya tanpa harus ijin kepada suaminya. Karena khumus itu hak Allah, Nabi saww, Ahlulbait dan para sayyid/syarifah (keturunan ‘Abdulmuthallib) yang fakir, baik yatim atau tidak, atau yang kehilangan uang di perjalanan.

Mata Jiwa: Maaf Pak Ustadz, ada teman yang minta dihitungkan khumusnya dari seluruh harta dan penghasilan dan lain-lainnya, merepotkan Pak Ustadz tidak ya? Saya sudah minta pada Sang Pecinta secara garis besarnya, tapi dia minta Pak Ustadz yang hitungkan secara detail. Teman saya ini baru masuk Syi’ah, bagaimana Pak Ustadz Sinar Agama?

Arief Syofiandi: Afwan Ustadz kalau seseorang mendapatkan hadiah, misalnya berupa uang 4 juta rupiah dari saudara atau seseorang yang kitatahu pekerjaan dia bergelut di bidang MLM dan bisnis lainnya yang halal, apakah hadiah tersebut harus dikhumusi? Yang kedua; kalau seseorang mendapat honor menulis sebagai tambahan penghasilan apakah juga wajib dikhumusi? Terima kasih sebelumnya.

Sang Pencinta: Arief Syofiandi, kalau tidak diketahui status harta itu haram atau tidak (hanya menduga-duga), harta itu halal dan hadiah itu tidak kena khumus. Sepahaman saya, honor tambahan itu dikenai khumus.

Sinar Agama: Mata: Sudah tentu saya bisa membantunya, in'syaa Allah. Karena itu, tentukan dulu kapan ia mulai bekerja, baik di Sunni atau di Syi’ah. Artinya yang penting awal kerjanya atau awal menerima bayarannya, bukan awal Syi’ahnya. Lalu kirakan apa-apa yang tersisa di tahun berikutnya pertahunnya. Baik sisa uang di kantong atau di tabungan, atau sisa-sisa dari barang- barang konsumsinya (beras, nasi, tempe, minyak goreng, minyak wangi, pulsa, rokok, gula, dan seterusnya) dan semua itu, bisa dengan dikira-kira saja. Kalau ada barang-barang yang cukup satu, lalu dibeli dua, seperti motor, mobil, handphone dan seterusnya maka juga dimasukkan ke dalam sisa-sisa harta dalam pertahunnya. Begitu pula kalau membeli tanah atau rumah yang tidak diperlukan untuk tinggal karena sudah punya dan seterusnya. Tapi jangan dilanjutkan di sini, karena semakin ke bawah, biasanya saya lupa atau tidak terjangkau karena berbagai hal. Jadi, tulis di dinding yang baru. Hari ini saya roll ke bawah, hanya karena mau mencopy yang perlu dicopy sebagai data, dan ternyata ada pertanyaan lanjutan.

Sinar Agama: Arief: Saya sudah menjawabnya di pertanyaan baru yang antum buat di dinding. Ahsantum. Kalau pertanyaan antum tidak terjawab dalam beberapa hari, terutama di kolom, maka tolong tanyakan lagi di dinding yang baru.

Tambahan:

Memang ada yang mengatakan (seperti kantor Rahbar hf) bahwa kalau selagi di Sunni itu uang-uang kelebihannya sudah habis terpakai di waktu Sunninya, dan sudah tidak tersisa sampai sekarang (sampai menjadi Syi’ah), apakah dalam bentuk uang atau barang (barang yang mesti dikhumusi seperti barang ke dua dimana sebenarnya cukup memiliki satu saja, seperti rumah ke dua, mobil ke dua dan seterusnya), maka sudah dimaafkan. Tapi saya memilih menganjurkan yang pertama karena lebih hati-hati dan disyahkan juga oleh salah satu wakil Rahbar hf kalau mau hati-hati sekalipun tidak wajib. Hal itu karena untuk kemudahan penerapannya daripada salah hitung dan salah lacak. Mungkin kalau ada teman-teman yang kesulitan amat karena besarnya hutang khumus itu dan tidak mampu mencicilnya (mencicil ini juga harus dengan ijin marja’ atau wakilnya), maka mungkin bisa shuluh/berunding atau meminta keringanan kepada marja’nya. By the way.

Ramlee Nooh, Alie Sadewo Nsc and 18 others like this.

Reyza Pahlevi: Kalau untuk yang marjanya Rahbar bayar khumusnya ke siapa di Indonesia.

Sinar Agama: Reza: Benar, tanya pada Sang Pencinta di inboxnya.




Baca juga, tentang Khumus lainnya:
==========================


اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Air Hujan Di Bulan Niysaaan (April)


Seri tanya jawab Sang Pencinta dengan Sinar Agama November 2, 2013 at 5:01 pm


Sang Pencinta: 23-4-2013, Salam, tentang riwayat ini “Rasulullah saww bertanya:

“Apakah kalian mau aku ajari satu pengobatan yang telah diajarkan Jibril as padaku sehingga aku tidak butuh kepada pengobatan dokter?”


Para Shahabat pun bertanya: “Pengobatan apa itu ya Rasul?” Nabi Bersabda :

“Ambilah air Hujan di bulan Niysaaan (April) dan Bacalah AlFatihah, ayat kursi, al Ikhlas, anNas, alFalaq & alKafirun masing-masing 70x”. Apakah bacaan suratnya dibacakan ke air atau tidak? Terimakasih Ustadz. — bersama Sinar Agama.

Fahmi Husein, Maya Zahra, Indah Kurniawati dan 35 lainnya menyukai ini.


Sang Pencinta: Ustadz Sinar Agama: tambahan, bolehkah air hujan tersebut ditambahin dengan air dimasak/air kemasan, baru diminum, terimakasih Ustadz.

Armeen Nurzam: Menyimak.

Fahmi Husein: Umumnya air hujan yang baru turun (melalui seng) di buang dulu karena jelas bercampur kotoran.

Air hujan yang tinggi zat kapurnya sangat bagus untuk kesehatan, juga tetap ada efek sampingnya bila mengkonsumsi berlebihan.

Di Kalimantan banyak yang menampung air hujan untuk keperluan air sehari-harinya (minum, masak, dan lain-lain).

HenNy Chie-Cwityy: Berarti nunggu hujan tahun depan donk, ikut nyimak ya ustad.


Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaannya:

1- Terlepas haditsnya shahih atau tidak, tapi kalau urusan-urusan tidak terlalu mendasar dan, yang bersifat kesunnahan, biasanya Makshumin as sendiri sudah memberikan keluasan. Hingga dalam satu riwayat dikatakan bahwa kalaulah hadits yang dikira benar itu tidak benar, maka tetapakan diberi manfaat dari isi haditsnya. Jadi, kalaulah bukan sunnah melakukan ini dan itu seperti yang tertera dalam suatu riwayat yang diyakininya benar tapi ternyata tidak benar, maka tetap akan diberi pahala kalau mengerjakannya sebagai rahmat dari Tuhan bagi orang yangkarena ingin mengikuti Makshumin as mempelajari dan mengamalkan hadits-hadits makshumin as.

2- Biasanya hadits-hadits tentang pengobatan itu, bersifat kondisional. Jadi, bisa saja hanya memiliki berkah dan manfaat di jaman pengucapan haditsnya tersebut.

3- Kalau mau mengamalkan hadits di atas, maka niatkan karena Allah. Dan dalam petunjuknya air hujan yang dibacai itu, diminum di pagi hari dan di permulaan malam (isyaa’) selama tujuh hari.

Jawaban Soal:

Karena di haditsnya dikatakan “Bacakan KE ATAS air itu”, maka yang paling tidak meragukan dengan meniatkan dan memfokuskan pembacaannya untuk air tersebut dan, supaya tambah yakin, meniupkannya ke atas air tersebut. Minimal, niat dan fokus bahwa pembacaannya untuk air tersebut.


Anjuran:

Kalau bisa sediakan dua tempat. Tempat pertama diletakkan di awal-awal hujan. Tempat ke dua, diletakkan setelah hujan turun sekitar 5 menit. Tujuannya, kalau air yang ke dua itu cukup, maka jangan pakai yang pertama. Karena biasanya hujan yang pertama itu masih membawa banyak bakteri, beda dengan hujan di jaman Nabi saww yang manusianya belum milyaran dan belum ada berbagai penyakit terutama di negara arab yang mungkin kala itu memiliki kondisi beda sekali dengan tempat lain dan, terutama hari ini.

Kalau air ke dua itu tidak cukup dan/atau tidak hujan lama, maka pakailah air pertama itu. Semoga bacaannya itu dapat membuang dimensi penyakitnya (kalau ada).


Sang Pencinta: Riwayat di atas dikutip dari Mafatih Ustadz.

Sinar Agama: Henny: kan sekarang masih tanggal 23?

Sinar Agama: Pencinta, ahsantum, sangat mungkin memang shahih. 

Wassalam.



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ