Jumat, 13 Desember 2019

Hukum Orang Sunni Yang Mau Mut’ah


Seri diskusi Tina Goncharov dengan Sinar Agama October 25, 2013 at 5:30 pm


Tina Goncharov: (15-4-2013) Mut’ah dengan Putri Ulama Syiah menyebabkan Kekal di Neraka Bersama Iblis.

Sebuah Fatwa yang hanya menguntungkan ulama Syiah, dan merugikan awam Syiah dikeluarkan oleh kantor Samahah As-Sayyid Ayatullah Al-UzhmaSistani bertanggal 3/9/1421 H bernomor 333, berikut ini,

Penanya: Bagaimana hukumnya jika saya memut’ah anak Anda dan Anda memut’ah anak saya? Perlu diketahui anak saya telah berusia 6 (enam) tahun.

Jawaban: Mut’ah halal bagiku terhadap siapa saja yang saya mau. Karena saya termasuk Ahlul Bait. Saya punya hak untuk itu. Meskipun anak itu masih kecil, kami akan berikan dia wawasan tentang nikah mut’ah.

Adapun Anda memut’ah anak saya, maka itu tidak boleh! Bahkan ini termasuk dosa besar! Anda kekal di neraka bersama Iblis di Neraka. Dan Andawajib hilangkan pemikiran setan ini dari kepala Anda.

Fatwa oleh Sistani yang egois.

Sadarlah wahai Syiah. Anda cuma diperalat oleh ulama Anda. Para ulama Syiah itu mengambil wanita dan harta Anda lewat ajaran mut’ah dan khumusyang dibuat-buat. Mereka melakukan itu hanya untuk memuaskan hawa nafsu mereka.

(keterangan: Tulisan di atas disertai copy-an surat jawaban ayt Sistani hf yang berisi hal yang dipermasalahkan, sinar agama)


Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaannya:

Tulisan itu jelas sekali mbak maksudnya, bukan seperti yang diterjemahkan itu. Apakah mbak ini mengerti bahasa arab atau tidak?

Terjemahan yang benar:

Pertanyaan: “Apa hukumnya aku bermut’ah dengan anak anda.....” (Terjemahan pertanyaannya sudah benar).

Jawab:

“Halal bagiku untuk bermut’ah dengan yang aku mau karena madzhabku adalah Ahlulbait, karena itu aku bisa bermut’ah. Dan kalau dia seorang yang masih kecil, maka dia bisa diberi pengertian tentang kawin mut’ah itu. Akan tetapi terhadap dirimu maka tidak boleh dan hal ini termasuk dosa-dosa besar dan akan dimasukkan ke dalam neraka bersama iblis, karena itu maka hendaknya kamu membuang jauh-jauh pikiran syaitan ini dari akarnya”.

Keterangan (Sinar Agama): Maksudnya (saya tidak akan membahas palsu tidaknya surat di atas, tapi hanya ingin menjelaskan maksudnya kalau surat itu benar-benar ada dan tidak bohong) adalah:

“Halal bagiku untuk bermut’ah dengan yang aku mau (dengan syarat-syarat yang di fikih, seperti kalaupun sudah baligh tapi belum janda maka harus ijin wali-nya dan kalau masih kecil haram dikumpuli walau sudah seijin walinya) karena aku bermazdhab Ahlulbait yang menghalalkan mut’ah. Dan kalau dia anak kecil maka aku akan memberikan pengertian kepadanya, sejauh yang dia pahami karena dari awal tidak bisa dikumpuli walau sudah seijin walinya. Di fikih sudah ditulis, biasanya mut’ah seperti ini dipakai hanya untuk membuat kemuhriman keluarga yang terpaksa tinggal serumah dengan ibu dan nenek si anak itu seperti anak lelaki sepupu yang kos di suatu rumah atau karena miskinnya harus tinggal serumah dengan orang tua yang punya anak perempuan kecil, supaya ibu dan neneknya yang tinggal serumah itu, tidak mesti selalu berkerudung atau berkaos kaki di dalam rumahnya (lihat kitab-kitab fikih kami/Syi’ah).

Tapi sebaliknya kalau kamu. Jelas sekali bahwa kamu tidak boleh melakukan mut’ah. Karena kamu Sunni/wahabi yang mengharamkan mut’ah ini dan mengatakannya lebih jahat dari zina. Nah, sudah tentu, kalau kamu melakukannya, SESUAI DENGAN AKIDAHMU, maka kamu akan masuk neraka dengan iblis seperti yang kamu katakan dan yakini. Karena itu, mut’ah yang bagi kamu perbuatan iblis ini, mesti kamu singkirkan jauh-jauh dari pikiranmu sejak awal dan dari akar-akarnya.”

Salam bagi yang mencari dan menerima hidayah.


Tina Goncharov: Yang tanya bukan orang Sunni mas tapi sama-sama orang agama syiah karena si penanya mau mut‘ah-swap, alias tukeran mut‘ah. Dan anda yang pura-pura bertanya tentang syiah tapi sebenarnya syiah nyamar janganlah bersilat lidah tentang wali, karena dalam hal mut‘ah tidak diperlukan wali. Silahkan cross check di situs syiah sendiri.

http://www.schiiten.com/backup/AhlelBayt.com/www.ahlelbayt.com/articles/mutah/mutah- fatwas.html

Ahlel Bayt " Articles " Fatwas: Permission of Wali Not Required for Mutah; Shia Guy Can Take Sunn

www.schiiten.com

…It is allowed to conclude a temporary marriage with a virgin if she is an adult...


Sinar Agama: he he....mana ada orang Syi’ah bertanya seperti itu kepada wakil imam Mahdi as dan marja’ bagi dirinya. Seperti kalau ada orang tanyakepadamu yang punya suami, “kalau kamu menghalalkan kawin poligami, apa kamu mau saya poligami?” Nah pertanyaan seperti ini tidak akan muncul dari muslim, sudah pasti kristen yang mengharamkan poligami.

Tidak ada orang Syi’ah di dunia ini, yang tidak memahami maksudnya. Baik maksud penanya atau penjawabnya. Sangat jelas. Mana ada mut’ah tukeran mbak? Bukankah kalau sudah kawin dengan anak kita, maka ia sudah menjadi mertua kita dan muhrim bagi kita dan anak-anak kita.

Lah kok bisa mertua itu mengawini anak kita mbakkkkk????

Tina Goncharov: Mana ada orang syiah yang gak taqiyah. Nikah seorang MUSLIMAH dengan orang kafir mana boleh mas? Apalagi muslimah yang sudah nikah untuk poligami?

Sinar Agama: Lah.... itu dia mbak................ Kok mbak jadi pintar kalau diserang kristen, tapi kok tidak mau paham kalau mau dijelasin tentang hakikat maksud kata-kata Syi’ah???????

Di jaman yang serba canggih ini kok masih bicarakan takiah? Kitab-kitab Syi’ah tersebar dimana- mana. Mbak ini bisa cek tentang semua yang kutulis itu di fikih-fikih Syi’ah.

Nah, ketika kristen tanya tentang poligami seperti itu, maka jawaban mbak pasti banyak kan, seperti tidak boleh kawin dengan kafir lah, saya punya suami lah....dan seterusnya...?

Nah, begitu pula dengan pertanyaan di atas itu. Ketika seseorang sudah kawin dengan perempuan, maka ayah perempuan itu sudah jadi muhrim bagi dirinya dan anak-anaknya, lah ...kok bisa ayah mertuanya itu kawin dengan anak menantunya sekalipun dari istri yang lain???????????????????????

Sudah saya terangkan bahwa pertanyaan itu pertanyaan yang nakal yang, karena itu tergantung pemberi jawabannya mau menjawabnya dengan logika orang tersebut, atau dengan adem-adem. Karena penjawab bagi soalan-soalan itu adalah wakil-wakilnya, bukan dirinya sendiri. Kalau mbak perhatikan tanda tangannya, maka atas nama “Kantor Sistani”, bukan Sistaninya sendiri.

Nah, mungkin karena ia merasa bahwa yang diwakilinya itu dikurang ajari oleh Sunni/ wahabi yang mengharamkan mut’ah ini (karena tidak ada orang Syi’ah yang akan bertanya seperti itu, seperti tidak ada orang muslim yang bertanya seperti pertanyaan di atas itu), maka ia pun menjawab dengan membalikkan logikanya dan tidak memilih menjelaskan hukum-hukumnya dengan cara biasa, seperti kalau dengan anak kecil harus ijin wali, tidak boleh dikumpuli dan kalau sudah jadi mertua tidak boleh kawin dengan anak-anak kita karena sudah jadi muhrim....dan seterusnya. Jadi, wakil Sistani itu menjawab dengan logika penanya. Yakni kalau kamu yang mut’ah, maka apalagi dengan muhrimnya sendiri, maka sudah pasti itu pekerjaan iblis yang akan dikumpulkan dengannya di neraka.

Mbak, kalau ingin tahu tentang mut’ah dan dalil-dalilnya, walau ringkas, silahkan main-main ke catatan-catatanku, di sana sudah ada sekitar 4 seri tentang mut’ah ini. Tidak ada takiah dalam ilmu. Ratusan buku Syi’ah bisa dipelajari di dunia ini, dicetak di berbagai negara, seperti Iran, Libanon, Pakistan, India, Indonesia, .................................. dan lain-lain negara.

Maz Nyit Nyit-be’doa: Trimakasih ilmunya ustadz , , , salam.

Muhammed Almuchdor: Tinaa oh tina..

Syed Musyaiyah Baabud: Bagi saya, akan saya cek fatwa tersebut, dan sudah saya copy, akan saya tanyakan kepada yang bersangkutan, karena banyak kitab-kitab yang dicetak oleh orang yang ingin memecah belah, (kitab-kitab kuning, kitab hadis, dikurangi dan ditambah menurut selera,

Sinar Agama: Adzar: Terima kasih telah membantu menarik jawaban-jawabanku dari tempatnya ke sini, semoga diterimaNya, amin.

Sinar Agama: Sy.M.B: Ahlan wa sahlan. Banyak cara menanggapi berbagai hal seperti surat dan pernyataan itu. Ada yang dengan cara mencari dulu ke sumbernya apakah ada surat seperti itu atau tidak. Ada juga, yang tidak perlu karena kalaulah benarpun, tidak berpengaruh apapun. Kalau melihat suratnya dan dibesarkan, seperti nampak ada blok pada semua tulisannya, seperti penumpangan. Akan tetapi dilihat dari bunyinya, walau agak janggal, tapi masih bisa dimungkinkan terjadi. By the way, kita-kita sih untuk hal ini memilih jalan menerangkan maksud suratnya, sekalipun sudah dikatakan di atas bahwa “terlepas dari benar-tidaknya surat tersebut”.

By the way, kalau antum sudah cek dan ada hasil, tolong di tag ke kita-kita wa sa’yukum masykuraa.

Oh iya, surat itu tidak ada alamat kantor mananya. Jadi, mungkin akan sedikit merepotkan antum. Apakah salah satu dari puluhan kantor yang ada diIraq, puluhan kantor yang ada di Iran, puluhan kantor yang ada di Libanon, puluhan kantor yang ada di Pakistan, puluhan kantor yang ada di Eropa, puluhan kantor yang ada di India..............dan puluhan kantor yang ada di negara-negara lain. By the way, selamat berusaha dan tolong hasilnya diberitakan ke kita. Masykuuriin....

Tina Goncharov: Saya gak minat mut‘ah & taqiyah.

Sinar Agama: Tina: Tidak minat itu tidak masalah. Boleh tidak minat daging kambing, tapi tidak boleh mengharamkan yang dihalalkan Allah. Tidak mau mut’ah juga tidak masalah, apalagi punya suami yang pasti haram bermut’ah dan menjadi zina, tapi tidak boleh mengharamkan yang dihalalkan Tuhan (QS: 4: 24). Tidak taqiah juga tidak masalah, tapi tidak boleh mengingkari ayat taqiah (QS: 16: 106).

Tina Goncharov: Setahu saya mut‘ah gak ada di Quran mas, ada di sunnah. Dan sudah dibatalkan oleh sunnah pula...kecuali kalo mas ada Quran versi lain saya gak tau itu.

Wibi Wibo de Bowo: Diskusi agama berbasis “sejarah”.

Sinar Agama: Tina: QS: 4: 24:

فََمااْستَْمتـَْعتُْم بِِهِ منـُْهَّن فَآتُوُهَّن أُُجوَرُهَّن فَِري َضةً

“Kalau kalian menggunakan harta kalian untuk bermut’ah dengan para wanita itu, maka berikanlah upahnya (maskawinnya) sebagai suatu kewajiban”

Saya sudah sering menjelaskan tentang hukum mut’ah ini sebelumnya, kalau kamu ingin tahu, maka bacalah catatan yang sudah 4 seri atau 5 seri (lihat di jendela catatan). Kalau tidak mau, ya.... tidak cocok dengan sifat seorang muslim kalau tidak tahu masalah, terus ngomong tentang yang tidak diketahuinya itu dan sadar lagi kalau tidak tahu. Mending kalau merasa tahu dan punya dalil walau salah. Tapi kalau tidak punya dalil dan sadar kalau tidak tahu lalu banyak bicara tentangnya, maka sudah tentu di samping keluar dari sifat-sifat seorang muslim dan bahkan dari sifat seorang yang sempat sekolah walau tidak tinggi sekalipun, juga akan dimintai tanggung jawab kelak di akhirat oleh Allah. By the way, ini hanya nasehat saja. Kan mending ada kami yang Syi’ah yang siap memberikan penjelasan. Dari pada bicara di belakang. Lah, sekarang sudah ada kami, mengapa tidak menanyakannya kepada kami. Kok bisa orang yang bukan Syi’ah lebih tahu tentang Syi’ah dari orang Syi’ah?

Tina Goncharov: Owh jadi,

اْستَْمتـَْعتُْم

[ista’mta’tum] di 4:24 itu mutah ya mas? Bagaimana dengan َمتَـٌع (mta) di ayat 3:197 Barangsiapa yang melakukan mutah tempatnya di neraka? Saya setuju!!!!!

Harjuno Syafa’at: Tina Goncharov : Kalau anda tidak mampu mempersatukan ummat Islam setidaknya jangan memecah belah kaum muslimin..! Ingat dosa mbak, ingat..!

Tina Goncharov: lah sudah saya katakan Syiah bukan Islam akidahnya saja beda kok mau disatukan apanya?

Sinar Agama: Tina: Kamu ini lucu amat. Ayat mut’ah itu jelas ada dan kamu katakan masuk neraka. Lah, berarti Tuhan mengajarkan mut’ah supaya masuk neraka???????

Istamta’a di ayat mut’ah itu jelas untuk ayat mut’ah, sebab: Pertama, dikatakan di ayat itu sebagai famaa istamta’tum bihi min hunna, yakni “Kalaukalian bersenang-senang dengan para wanita itu dengan menggunakan harta”. Nah, di sini jelas dikatakan bersenang-senang dengan perempuan. Ke dua, semua mufassir Sunni sekalipun, menyatakan bahwa ayat ini untuk mut’ah mbaak. Tidak ada tafsir Sunni yang tidak menyebut tentang keterangan mut’ah ini di ayat ini.

Sedang QS: 3: 197 itu, kamu mengkorupsinya. Karena ia tidak akan dipahami tanpa menyebut ayat sebelumnya.



“Dan janganlah kamu sekali-kali terperdaya dengan kebebasan orang kafir yang bergerak di dalam negeri (yakni kelancaran dan kemajuan dalam perdagangan...). Itu hanya kesenangan sementara kemudian tempat tinggal mereka ialah jahannam dan seburuk-buruk tempat kembali.”

Kalau kamu wahai Tina, di dunia dengan kesadaran tidak mengerti agama dan tidak mempelajari agama secara spesifik saja, sudah berani-beraninya mengkorupsi ayat-ayat Tuhan, lalu apa yang bisa kamu bawa menghadap Tuhanmu kelak?

Ajib banget, Tuhan mengatakan bahwa yang masuk jahannam itu adalah orang kafir dengan kesenangannya yang sementara itu, lah...kamu maknai dengan kesenangan kawin mut’ah. Kan kata-kata seperti ini tidak akan pernah keluar dari orang yang sadar ketidakpahaman dirinya.

Semua mufassir mengatakan bahwa kesenangan di sini maksudnya adalah kesenangan kebebasan dan kemajuan ekonomi yang bebas tanpa terikat dengan agama Tuhan, lah....malah dikatakan olehmu sebagai kesenangan menaati Tuhan dalam melakukan mut’ah yang ada ayatnya tersebut. Kok lucu amat cara berfikirmu itu? Semoga masih ada kesempatan bertaubat untukmu.

Orang-orang kafir itu senang karena tidak terikat dengan hukum Tuhan dan senang dengan kemajuan mereka. Itulah yang dimaksudkan ayat tersebut, karena itu dikatakan Tuhan sebagai kesenangan yang sedikit, BUKAN KESENANGAN KETIKA KUMPUL DENGAN ISTRI YANG DIIKAT DENGAN FIKIH TUHAN SEPERTI DI AYAT MUT’AH ITU. Wassalam.



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Ucapan Duka Untuk Hdh Faathimah as


Seri status Sinar Agama October 25, 2013 at 5:08 pm


Sinar Agama: 14 April

Bismillaah: Ucapan Duka dan Bela Sungkawa Atas Syahidnya Hdh Faathimah as.

Ucapan duka sedalam-dalamnya atas kesyahidan hdh Faathimah as ini (75 hari setelah wafatnya Nabi saww yang jatuh pada tgl 28 Shafar), saya sampaikan pada kanjeng Nabi saww, imam Ali as dan para imam makshum lainnya as terkhusus imam Mahdi as. Begitu pula saya sampaikan kepadapara ulama dan maraaji’ hf, terkhusus Rahbar tercinta hf. Dan juga kepada segenap kaum mukminin dan mukminat, terkhusus teman-teman facebook yang saya cintai.

Semoga kita semua menjadi pencinta hakiki Nabi saww dan Ahlulbait beliau saww-as, hingga bersedih dalam sedih mereka dan bersuka dalam bahagia mereka dan, ini yang terpenting, menaati ajaran mereka as hingga dapat menjadi hamba Allah yang hakiki, bukan diplomatik. amin.

Keterangan: Karena dalam penulisan gaya lama bahasa Arab tidak ada titik dan tandanya, seperti titik pada huruf “baa’ “, “taa’ “, “jiim”, “nuun” ...dan seterusnya..., maka tulisan tentang syahidnya hdh Faathimah ditulis seperti ini:

حمسه و سىعـــن يوما بعد وفات النبي ص

(karena huruf nuun tidak ada di keyboard yang tidak pakai titik, maka terpaksa memakai garis memanjang, sementara dari kata yauman ke belakang sudah tidak penting hingga karena itu, saya menulis pakai tanda/titik-nya)

Potongan yang penting itu bisa dibaca: “Khamsatu wa sab’iin yauman ...” dan bisa juga dibaca “Khamsatu wa tis’iin yauman....”. Bacaan pertama artinya75 hari dan bacaan ke dua 95 hari. Yakni syahidnya hdh Faathimah as, 75/95 hari setelah wafat atau syahidnya Nabi saww. Karena itu, 20 hari jeda antara kedua bacaan itu, dijadikan hari-hari hdh Faathimah as (ayyaamu al-Faathimiyyah). Karena itu, hari ini, yaitu hari ahad ini, tgl 3/Jumaadi al-Tsaanii atau yang bertepatan dengan 14/4/2013 ini, adalah hari ulang tahun kesyahidan beliau as.


PROSA SEDERHANA UNTUK HDH ZAHRAA’ AS

Seakan magma itu mati 
Dalam genggaman sang Nabi (saww) 
Umatpun damai lelap dalam mimpi
Senyuman menari setiap hari 
Seperti tak akan pernah terjadi

Kini menyembur tak terhalangi 
Sapu semua yang merintangi 
Kebun kurma pertama kali 
Singgasana, apa lagi
Padahal hari belum pagi

Hilang sudah 
Hancur sudah
Rumah-rumah berlian

Hilang sudah 
Hancur sudah 
Ayat-ayat pilihan

Hilang sudah 
Hancur sudah
Sabda-sabda junjungan

Asappun mengepul jadi kabut 
Kabuti semua hingga hanyut 
Ganas bagai malaikat maut 
Kafirkan semua yang mau sebut 
Hantam semua yang mau ribut

Bintang-bintang silih berganti 
Sinari bumi gantikan mentari 
Walau dicela dan ditertawai 
Walau dibantai dan diracuni 
Tetap sabar demi Ilahi

Oh betapa beratnya titipan 
Apalagi yang jadi titipan 
Lebih-lebih, yang menitipkan
Mereka bertahan dan bertahan 
Sampai datangnya janji Tuhan

Tiada sorak tiada sorai 
Tiap hari air mata berderai
Susuri Madinah dengan gontai 
Pintu-pintu tak pernah melambai 
Tertutup rapat bak dirantai

Rumah dibakar karena tangisan 
Rumah-tangis dibakar k’rna kebengisan 
Badan kurus menahan beban
Kalau diganti siang, kan jadi malam 
Padahal pagi belum jadi siang

Apa yang bisa kusajikan 
Apa yang bisa kupersembahkan
Agar bebanmu teringankan 
Atau dosaku terampunkan 
Atau jauhku terdekatkan
Atau hewaniahku terinsankan

Wassalam. 
25-3-2013



Fahmi Husein, MOhd. Arvian Taufiq, Doni Pratomo dan 150 lainnya menyukai ini.

Ramdhan Romdhon: Plis dong bro and sis... Kalo komen (walaupun mungkin antum bukan AB/ gak suka) yang sejalan dengan status yang ustadz buat, supaya gak “merusak suasana”... ‘afwan...

MukElho Jauh · Friends with Ramlee Nooh and 158 others:

اَللَُّهَّم َص ِّل َعلَى ُم َحَّمٍد َوآِل ُم َحَّمٍد َوَع ِّج ْل فـََرَجُهْم َوأَْهلِ ْك َعُدَّوُهْم ِمَن اْلاََّولِْيَن َواْلاَِخِريَْن

لعناللهظالميكيامولاتييافَاِطمه.أللُهْمأنِْيأُْشِهُدَكأنِْيُمِحْبلُِمَحّمٍدَوآِلُمَحّمٍدَوُمْبِغ ٍضلَِمْنظَلََمُهْم َوَعاَداُهْم ألِى يَوْم ألِديِْن

Muhammad Resa · 26 mutual friends: Salam.., ustadz ijin copy.

Sabrina Basyir: (𑛉𑛉𑛉𑛉_𑛉𑛉𑛉𑛉)

اَللَُّهَّم َص ِّل َعلَى ُم َحَّمٍد َو آِل ُم َحَّمٍد

Mardiansyah Cinangka Kulon · 27 mutual friends: Salam ustadz.

Edo Saputra · Friends with Sang Pencinta and 190 others: Syahidah fatimmah sebagai ikon paripurna anak istri, ibu dan pemuka, adalah sosok welas sekaligus keras ‘peramah’ sekaligus pemarah demi kebenaran. Ia adalah himpunan teladaan Hawa, Maryam, Khodijah dan para pionir muslimah di dalam sejarah kemanusiaan. Di hari ini saya mengucapkan Asalamualiki ya sayidah fatimmah zahra..as. Salam sejahtera kepadamu wahai wanita pemimpin surga.

Sattya Rizky Ramadhan:  اللَّهم صل علَى مم ٍد وآِل مم ٍد وع ِّجل فـرجهم

Irawati Vera: Salam atasmu wahai Fathimah az Zahra Salam atasmu wahai Putri Muhammad saw

Salam atasmu wahai Cahaya Mata Rasul

Salam atasmu wahai penghulu wanita semesta alam

Salam atasmu wahai ibunda penghulu pemuda surga

يَاَوِجيـَْهةًِعْنَداللِّه إِ ْشَفِع ْي لَنَاِعْنَداللِّه اللُّهَّم َصِّل َعلَْي ُمَحَّمٍدا َوآِل ُمَحَّمٍدوَعِّجْلفـََرَجُهْم

Sufyan Hossein: Assalamu Alaiki Ya Fathima tuz Zahra.. 

Assalam-u-Alaika Ya

Aabida..

Assalam-u-Alaika 

Ya Aadila..

Assalam-u-Alaika Ya Aalia.. 

Assalam-u-Alaika Ya 

Aalima..

Assalam-u-Alaika Ya Aamila.. 

Assalam-u-Alaika Ya

Adil..

Assalam-u-Alaika Ya 

Ahad-ul-Akbar..

Assalam-u-Alaika Ya 

Arfiya..

Assalam-u-Alaika Ya 

Azhra..

Assalam-u-Alaika Ya 

Aziza..

Assalam-u-Alaika Ya 

Basita..

Assalam-u-Alaika Ya 

Batina..

Assalam-u-Alaika Ya 

Batool..

Assalam-u-Alaika Ya 

Batool-e-Izra...

Alaikum Minni Jamian Salamullah Abadan Ma Baqitu wa Baqial Lailu wa Nahar.. Allahumma shalli ala Muhammad wa aali muhammad wa ajjil faraja aali Muhammad. 

Mahdi Panji Wibowo · 28 mutual friends: Ijin copas ustadz.

Widodo Abu Zaki: Salam Atas kesucian ya Zahro, semoga maafmu untukku, karena aniayaku pada diriku. Maafkan kalau keberadaanku menambah luka dan sedihmu. Maafkan aku kalau tingkah dan lakuku ibarat cuka yang menyiram pedih lukamu. Ya Zahro maafkan kami, kami berlepas diri dari mereka yang kau benci.

Zainab Naynawaa: Salammualaiki ya Zahro...

Andri Kusmayadi: Ijin copas, tapi sebagian boleh ga ustadz...ana ga masukan yang ke para imamnya...?

Agus Sumardi · 6 mutual friends: Salam atas kesucianmu Ya Zahro, kami bersedih atas musibah- mu, kami menangis ...

Ammar Dalil Gisting: Ya Umi abiha.. Ya binta rasulillah.. Salam ‘alaiki.. Ya waji-hatan ‘indallah isyfa’i-lana ‘indallah...

Sinar Agama: Salam dan terima kasih atas semua jempol dan komentarnya

Sinar Agama: Yang mau copas, silahkan saja. Semua tulisan alfakir di facebook ini adalah gratis asal untuk kebaikan, tidak diedit, tidak dirubah nama dan tidak dibisniskan.

Sinar Agama: Andri: Untuk kali ini silahkan saja. Sebenarnya dalam tiap saatnya, boleh memotong. Yang tidak boleh itu, adalah mengedit. Tapi menukilsebagian, jelas boleh asal tidak menimbulkan salah paham.

Ahmad Jamaluddin Khususon: Sayyidah Fatimah Zahroo ra Alfatihah + Allohumma solli ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali Sayyidina Muhammadin ‘adadama fi ‘ilmillahi solatan daa- imatan fidawami mulkillahi.
Sri Wastini:  عظمــ الله أجورنــا وأجوركـــم بإستشهاد السیدة فاطمة الزهراء علیها السلام

Avianto Doni · Friends with Bintu Agil and 2 others: Allahumma shalli ‘alaa Zahra wa Abuha wa Ba’luha wa banuha wa ‘ajjil faraja Ibna Zahra.

Beel Zelfana · Friends with Moxen Ali Bsa and 9 others: ALLAHUMMA SHALLI ‘ALAA MUHAMMAD WA AALI MUHAMMAD.

“Assalamu’alaiki ya Zahra,,

Hadrah Ali · 2 mutual friends: Semua pengikut ahlul bait, atas ijin اللَّهُ akan mendapatkan pintu syafaat Al-Haqq Adzawajallah melalui Rasul Muhammad SAWW yang maha agung dan menjadi penghuni-penghuni Syurga اللَّهُ....!!! Amiin Ilahi Rabbi...

Juli Bin Haji Idris: MasyaAllah bagus banget prosanya saudara tua, semoga Rasul saww, amirulmu’minin as dan aimmah ma’shumin semua salam atas mereka, khususnya shohibal ashri wazzaman afs memberi perhatian pada anda.

Sinar Agama: Juli dan teman-teman semunya: Tidak ada yang lebih meringankan sesaknya dada yang penuh penyakit ini, kecuali do’a-do’a antum semua. Karena itu, setiap hati ini hancur dengan seluruh putus asanya, dan setiap kali sudah merasa tidak mampu lagi menyelamatkan diri karena sudah terlalu hitam dan sebegitu lemahnya untuk mencoba lagi, semua do’a-do’a antum itulah yang memberiku energi hingga tak sepenuhnya duakakiku ini menjadi lumpuh. Jadi, sekalipun tertatih dan berjuta kali jatuh ketinggalan jauuuuuh sekali dari langkah-langkah para guru dan arif besar yang tak pernah berhenti menasehati dan mengajari walau memiliki murid yang memiliki puluhan wajah species binatang yang beraneka ragam ini, tapi dengan karuniaNya yang mengkaruniaiku do’a-do’a antum itu, menjadikanku tidak sepenuhnya putus asa walau, saya yakin di mata para guru dan aulia itu, sudah tergolong putus asa.

Ya Allah, andaikan Engkau tidak membuka pintu taubat dan kesempatan itu sampai titik ajal yang penghabisan, dan membatasinya dengan sejuta kali kesempatan, maka aku yakin sekali bahwa kesempatanku sudah tidak tersisa.

Ya Allah, bantulah kami semua agar lebih mudah meraih Pertolongan, Kasih, Hidayah dan SyariatMu yang hakiki hingga kami semua dapat berjalan di atasnya, dan tidak berjalan di atas syariat, hidayah dan kasih serta pertolongan yang kami buat sendiri, yang kami bentuk sendiri, yang kami khayalkan sendiri hingga pada akhirnya kami hanya akan layak memasuki surga khayalan kami sendiri yang, pada kenyataannya adalah Murka dan NerakaMu. amin.

Beel Zelfana · Friends with Moxen Ali Bsa and 9 others: Ya Allah semoga di hari ini dan seterusnya menjadi hari-hari yang penuh dengan hikmah, yang juga Kau turunkan rahmatMu untuk orang- orang yang mencintai rasulMu & keluarganya,, 

& Kau beri semangat orang-orang yang mencintai RasulMu & keluarganya,, & terbimbing selalu berada di jalanMu. Wassalam.



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Ingkar Sunnah Sama Dengan Ingkar Kitabullah


Seri tanya jawab Piliang Dtk Panjang dengan Sinar Agama October 25, 2013 at 4:56 pm


Piliang Dtk Panjang mengirim ke Sinar Agama: (13-4-2013) Salam ustadz, habis makan siang dengan sambal kemiri, nasinya panas aduh mandi sama keringat, sambil ngadem buka-buka facebook. Muncul status di salah satu grup, yang bingung saya menanggapinya, kayaknya yang memposting (JIL) yang anti sunnah. Saya lampirkan di komentar. Salam.

Mata Jiwa menyukai ini.


Piliang Dtk Panjang: Yadi Oktomi Chaniago > SURAU MAYA PAYOBASUANG (PAYAKUMBUH).

Salaam, telah terjadi perseteruan abadi antara dua kubu di dunia Islam. Satu menamakan diri Ahlul Sunnah (Sunni), satu lagi pembela mati-matian “keturunan” Nabi Muhammad alias Ahlul Bayt (Syi’ah). Permusuhan tersebut menjelma menjadi genangan darah dan air mata di Iraq.


Dahulu, hari ini, dan mungkin esok. Salah satu pemicu awal permusuhan ini adalah ucapan Nabi Muhammad menjelang meninggalnya. Kononkabarnya kala itu Nabi mengatakan bahwa umatnya tidak akan tersesat sepanjang berpegang teguh pada dua perkara yaitu: (versi Sunni) “Al-Qur'an dan Sunnahku” atau (versi Syi’ah) “Al-Qur'an dan keturunanku”. Perbedaan versi ini berimplikasi politis dan berkembang menjadi konflik panjang hingga sekarang…Aneh juga, bagaimana mungkin satu orang dalam satu kesempatan dan satu konteks kalimat telah menyatakan dua hal yang berbeda (“sunnahku”, “keturunanku”).

Namun begitulah, kitab-kitab yang ditulis di atas nafsu manusia tidak bisa lepas dari kepentingan golongan yang menulis, karenanya pertentangan-pertentangan di dalamnya tidak akan terelakkan. BERPEGANG TEGUH VERSI AL-Qur'an Berhubung yang diajarkan oleh Nabi Muhammad tidak lain adalah Al-Qur’an, mari kita tinjau saja versi Al-Qur'an tentang frasa “berpegang teguh” ini. Ternyata, Nabi Muhammad berpesan agar kita berpegang teguh kepada Allah dan kepada Kitab- Nya sebagai petunjuk pada jalan yang lurus. “Barang siapa yang berpegang teguh kepada Allah makasesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan lurus”. [Q.S. 3:101] (Ayat dengan redaksi serupa: 4:146, 4:175) Berpegang teguh kepada Allah identik dengan berpegang teguh kepada firman-Nya yaitu Al-Qur'an.

Sayangnya kebanyakan orang tidak senang kalau diingatkan kepada Allah satu-satunya. Tapi kalau membahas “sunnah” atau “hadits” atau “ahlul bayt” barulah mereka gembira “Dan apabila Allah diingatkan (disebut) satu-satunya, maka kesal-lah hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat; tetapi apabila orang-orang selain Dia yang disebut, tiba-tiba mereka bergembira”. [Q.S. 39:45]

BUTA Fanatisme Sunni dan syiah telah membutakan mereka dari kebenaran yang terang-benderang ada di hadapan mereka (Al-Qur'an). Sunni buta dari kenyataan bahwa “sunnah” dan “hadits” yang mereka agung-agungkan hanyalah klaim kosong belaka karena Nabi Muhammad dengan tegas mendeklarasikan bahwa beliau memberi peringatan dengan Al-Qur'an. Bukan dengan yangselain dari itu “Siapakah yang lebih kuat kesaksiannya? Allah menjadi saksi antara aku dan kamu, dan Al-Qur'an ini diwahyukan kepadaku supaya aku memberi peringatan dengannya kepadamu dan kepada orang-orang yang telah sampai, apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?”. [Q.S. 6:19]

Syi’ah buta dari kenyataan bahwa garis keturunan seseorang (Arab) ditarik dari laki-laki, sedangkan Nabi Muhammad mendapatkan cucu (penerus) dari anak-anak perempuannya. Buta pula dari kenyataan bahwa beliau adalah seorang rasul, bukan seorang raja yang tahtanya diwariskan kepada kerabat dan keturunan. “Muhammad bukanlah bapak seorang laki-laki diantara kamu, tetapi adalah rasul Allah dan penutup Nabi-Nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [Q.S. 33:40]

Piliang Dtk Panjang: Kalo ustadz ada waktu, saya mohon tanggapannya. Terima kasih, salam.

Sinar Agama: Piliang: Orang itu bukan liberal, tapi ingkarussunnah atau yang mengingkari sunnah Nabi saww atau hadits-hadits Nabi saww. Dan jawabannya:

1- Untuk mukaddimah-mukaddimahnya tentang sejarah itu, sungguh ia telah ngacau dan jawabannya banyak di catatanku, seperti tentang munculnya aliran-aliran, terutama Syi’ah dan sunnah.

2- Untuk jawaban terhadap pernyataan ingkarussunnahnya, juga sudah pernah disinggung di facebook ini bahwa, yang mengingkari sunnah dan menghanyakan mengikuti kitabullah, maka ia sama saja dengan menolak kitabullah itu. Karena Allah sendiri mewajibkan kita dan umat manusia, untuk mengikuti Nabi saww. Lalu bagaimana mengikuti Nabi saww kalau tidak mengambil hadits-hadits beliau saww?? Begitu pula Tuhan mengutus Nabi saww untuk mengajarkan kitabullah. Nah, bagaimana mengajarkan kalau hanya membacakan ayat- ayatnya tanpa menjelaskanmaksudnya, atau tanpa mencontohkannya dalam kehidupan?

............dan seterusnya. Allah berfirman dalam:

- QS: 4: 64:

“Dan Kami tidak mengutus rasul, kecuali untuk ditaati...”

- QS: 2: 129:


“Wahai Tuhan kami, utuslah kepada mereka rasul-rasul dari mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayatMu kepada mereka, dan mengajarkan mereka al-Kitab dan al-Hikmah dan mensucikan mereka, sesungguhnya Engkau Maha Mulia dan Bijaksana.”

Kalau kita hanya mau ambil Qur'an, maka berarti hanya mengambil satu dari 4 tugas kerasulan itu. Yaitu hanya menerima yang pertamanya, yakni“membacakan ayat-ayat Tuhan”.

Sedangkan ayat ini sendiri, mengatakan bahwa Rasul itu, di samping membacakan ayat-ayat Tuhan, juga menerangkan maksudnya karena itu dikatakan “dan mengajarkan kepada mereka kitab Tuhan”. Ditambah lagi dengan mengajarkan hikmah itu. Ditambah lagi dengan pembimbingan terhadap pensucian jiwa itu.

Ditambah lagi di Qs: 53: 3-4:

“Dan ia -Nabi saww- tidak berbicara apapun dari dirinya sendiri, melainkan wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”


Ditambah lagi QS: 33: 21:


“Sesungguhnya di dalam diri Rasulullah itu terdapat contoh-contoh yang baik bagi orang yang mengharapkan Allah dan akhirat dan mengingat Allah dengan banyak sekali.”

Karena itu, tugas-tugas Nabi saww itu antara lain:

1- Membacakan ayat-ayatNya.

2- Menjelaskan KitabNya.

3- Mengajarkan hikmah-hikmah, yaitu kebenaran dan dengan dalil kuat/muhkam/hikmah dan jelas.

4- Membimbing untuk pensucian.

5- Memberi contoh-contoh nyata yang wajib ditiru muslimin supaya selamat.

6- Tidak berbicara apapun kecuali dari wahyu, yakni semua ajaran beliau dan perbuatan beliau yang wajib dicontoh itu dikeluarkan dari wahyu-wahyuyang telah sampai kepada beliau saww dan tak satupun kata-kata dan perbuatan yang tidak dari wahyu sesuai dengan ayat di atas.

Nah, semua tugas-tugas itu, tidak bisa dipahami hanya dengan membaca kitabullah. Karena itulah maka hadits-hadits Nabi saww tersebut, menjadi pedoman ke dua agama Islam di sisi Qur'an, dimana hadits adalah:

“Kata-kata, perbuatan dan bahkan keridhaan Nabi saww ketika melihat suatu perbuatan dari shahabat (taqriir).”

Tentu saja Nabi saww sendiri tahu bahwa akan ada yang membakar hadits-hadits beliau saww, baik shahabat atau ingkarussunnah. Karena itu beliau saww menyampaikan pesan Allah untuk menunjuk pemimpin yang makshum dan, memberikan pedoman bahwa kalau kita mendengar hadits beliau saww, maka hendaknya dibandingkan dulu dengan Qur'an dimana kalau isinya bertentangan dengannya, maka pasti bukan hadits dari beliau saww. Itulah gunanya mempelajari hadits demi mencari setidaknya, yang terkuat. Wassalam.



Baca Juga:
==========



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Rijsun Adalah Semua Dosa, Besar Atau Kecil, Lahir Atau Batin


Seri tanya jawab Inbox Pr.T dengan Sinar Agama October 25, 2013 at 4:50 pm


Percakapan dimulai 28 September

PrT. (saya -SA- singkat nama penanya karena takut orangnya tidak rela): 28/09/2013 05:16

Salam ustadz..saya mau tanya...saya dari Malaysia...saya ingin menanyakan 1 soalan dalam page ustadz yaitu Sinar Agama...saya udah register jadi members... habis itu gimana ingin menanyakan soalan?


Sinar Agama:

30/09/2013 19:21

Kalau cuma soalan, bisa di sini atau di dinding atau di situs itu sendiri. Bisa juga melalui akun Sang Pencinta, untuk diteruskan ke dinding saya kalau antum ingin dimuat di dinding/wall.


PrT.:

01/10/2013 06:06

Salam ustadz...saya dari Malaysia ingin menanyakan 1 soalan tentang bab Ar rijs..

ArRijs Dalam Al Quran terdapat cukup banyak ayat yang menggunakan kata rijs, diantaranya adalah sebagai berikut.

“Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji (rijs) termasuk perbuatan syaitan” (QS Al Maidah: 90).

“Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis (rijs) dan jauhilah perkataan-perkataan dusta” (QS Al Hajj: 30).

“Dan adapun orang orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat ini bertambah kekafiran (rijs) mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir” (QS At Taubah: 125).

“Maka berpalinglah dari mereka, karena sesungguhnya mereka itu adalah najis (rijs)” (QS At Taubah: 95). “Dan Allah menimpakan kemurkaan (rijs) kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya” (QS Yunus: 100).

Dari semua ayat-ayat ini dapat ditarik kesimpulan bahwa rijs adalah segala hal boleh dalam bentuk keyakinan atau perbuatan yang keji, najis yang tidakdiridhai dan menyebabkan kemurkaan Allah SWT. Asy Syaukani dalam tafsir Fathul Qadir jilid 4 hal 278 menulis, “… yang dimaksud dengan rijs ialah dosa yang dapat menodai jiwa jiwa yang disebabkan oleh meninggalkan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah dan melakukan apa-apa yang dilarangoleh-Nya. Maka maksud dari kata tersebut ialah seluruh hal yang di dalamnya tidak ada keridhaan Allah SWT”.

Kemudian ia melanjutkan, “Firman `… dan menyucikan kalian… ‘ maksudnya adalah: `Dan menyucikan kalian dari dosa dan karat (akibat bekas dosa) dengan penyucian yang sempurna.’ Dan dalam peminjaman kata rijs untuk arti dosa, serta penyebutan kata thuhr setelahnya, terdapat isyarat adanya keharusan menjauhinya dan kecaman atas pelakunya”.

Lalu ia menyebutkan sebuah riwayat dari Ibnu Abbas sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Hakim, At Turmudzi, Ath Thabarani, Ibnu Mardawaih, dan Al Baihaqi dalam kitab Ad Dalail jilid 4 hal 280, bahwa Nabi saw. bersabda dengan sabda yang panjang, dan pada akhirnya beliau mengatakan “Aku dan Ahlul BaitKu tersucikan dari dosa-dosa”. (kami telah membahas secara khusus hadis ini di bahagian yang lain)

Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki dalam kitab Ash Shawaiq hal 144-145 berkata, “Ayat ini adalah sumber keutamaan Ahlul Bait, kerana ia memuat mutiarakeutamaan dan perhatian atas mereka. Allah mengawalinya dengan innama yang berfungsi sebagai pengkhususan kehendakNya untuk menghilangkan hanya dari mereka rijs yang berarti dosa dan keraguan terhadap apa yang seharusnya diimani dan menyucikan mereka dari seluruh akhlak dan keadaan tercela.”

Jalaluddin As Suyuthi dalam kitab Al lklil hal 178 menyebutkan bahwa kesalahan adalah rijs, oleh kerana itu kesalahan tidak mungkin ada pada AhlulBait. Semua penjelasan di atas menyimpulkan bahwa Ayat tathiir ini memiliki makna bahwa Allah SWT hanya berkehendak untuk menyucikan Ahlul Bait dari semua bentuk keraguan dan perbuatan yang tercela termasuk kesalahan yang dapat menyebabkan dosa dan kehendak ini bersifat takwiniyah atau pasti terjadi.

Selain itu penyucian ini tidak berarti bahwa sebelumnya terdapat rijs tetapi penyucian ini sebelum semua rijs itu mengenai Ahlul Bait atau dengan katalain Ahlul Bait dalam ayat ini adalah peribadi- peribadi yang dijaga dan dihindarkan oleh Allah SWT dari semua bentuk rijs.

Jadi tampak jelas sekali bahwa ayat ini telah menjelaskan tentang kedudukan yang mulia dari Ahlul Bait yaitu Rasulullah SAW, Imam Ali as, Sayyidah Fathimah Az Zahra as, Imam Hasan as dan Imam Husain as.

Penyucian ini menetapkan bahwa Mereka Ahlul Bait sentiasa menjauhkan diri dari dosa-dosa dan sentiasa berada dalam kebenaran. Oleh keranyatepat sekali kalau mereka adalah salah satu dari Tsaqalain selain Al Quran yang dijelaskan Rasulullah SAW sebagai tempat berpegang dan berpedoman umat islam agar tidak tersesat.

Kemuliaan Ahlul Bait Dalam Hadis Rasulullah SAW, Rasulullah SAW bersabda: “Kutinggalkan kepadamu dua peninggalan (Ats Tsaqalain), kitab Allah dan Ahlul BaitKu"

Sesungguhnya keduanya tak akan berpisah, sampai keduanya kembali kepadaKu di Al Haudh“ (Mustadrak As Shahihain Al Hakim juz III hal 148 Al Hakim menyatakan dalam Al Mustadrak As Shahihain bahwa sanad hadis ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim).

Hadis-hadis Shahih dari Rasulullah SAW menjelaskan bahwa mereka Ahlul Bait AS adalah pedoman bagi umat Islam selain Al Quranul Karim. Mereka Ahlul Bait sentiasa bersama Al Quran dan senantiasa bersama kebenaran. Bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Wahai manusia sesungguhnya Aku meninggalkan untuk kalian apa yang jika kalian berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat ,Kitab Allah dan Itrati Ahlul BaitKu”.(Hadis riwayat Tirmidzi, Ahmad, Thabrani, Thahawi dan dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albany dalam kitabnya Silsilah Al Hadits Al Shahihah no 1761)

Hadis ini menjelaskan bahwa manusia termasuk sahabat Nabi diharuskan berpegang teguh kepada Al Quran dan Ahlul Bait. Ahlul Bait yang dimaksud dijelaskan sendiri dalam Hadis Sunan Tirmidzi di atas atau Hadis Kisa’ yaitu Sayyidah Fathimah AS, Imam Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS.

Selain itu ada juga hadis Hanash Kanani meriwayatkan “aku melihat Abu Dzar memegang pintu ka’bah (baitullah)dan berkata ”wahai manusia jika engkau mengenalku aku adalah yang engkau kenal, jika tidak maka aku adalah Abu Dzar. Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda “Ahlul BaitKu seperti perahu Nabi Nuh, barangsiapa menaikinya mereka akan selamat dan barangsiapa yang tidak mengikutinya maka mereka akan tenggelam”.(Hadis riwayat Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain jilid 2 hal 343 dan Al Hakim menyatakan bahwa hadis ini shahih).

Hadis ini menjelaskan bahwa Ahlul Bait seperti bahtera Nuh dimana yang menaikinya akan selamat dan yang tidak mengikutinya akan tenggelam. Mereka Ahlul Bait Rasulullah SAW adalah pemberi petunjuk keselamatan dari perpecahan. Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

”Bintang-bintang adalah petunjuk keselamatan penghuni bumi dari bahaya tenggelam di tengah lautan. Adapun Ahlul BaitKu adalah petunjuk keselamatan bagi umatKu dari perpecahan. Maka apabila ada kabilah Arab yang berlawanan jalan dengan Mereka niscaya akan berpecah belah dan menjadi partai iblis”. (Hadis riwayat Al Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain jilid 3 hal 149, Al Hakim menyatakan bahwa hadis ini shahih sesuai persyaratan Bukhari Muslim).

INI PERTANYAANNYA:

Baik, Jika penyucian dari ar-rijs di sini bermaksud penyucian dari dosa maka macam mana pula dengan ayat al-an-Anfal 8 :11 berikut:


Terjemahan: Ingatlah: “Ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari rijs al- syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki (mu).”

Ayat di atas jelas menggunakan perkataan rijs bahkan lebih SPESIFIK dari ar-Rijs dalam surah al-Ahzab 33 yakni rijs yang disebabkan oleh syaitan Kalau kita kan penyucian ar-Rijs membawa maksud kemakshuman maka kita juga perlu katakan penyucian di atas telah ‘memakshumkan’ sahabat.

Kami tahu Ada yang membidas dengan mengatakan ar-Rijs di atas gangguan syaitan bukannya dosa, saya katakan jikapun ia gangguan syaitan, maka apakah para sahabah telah bebas sepenuhnya dari gangguan syaitan dan tidak sekali-kali melakukan dosa akibat gangguan syaitan??

Diharap ustadz dapat menjawab bertanyaan saya ini.. wassalam ustadz.

Hari Ini (6-10-2013)


Sinar Agama:

17:52

Salam, ada dua masalah yang perlu diperhatikan:

1- Ayat di atas, terasa kurang lengkap. Karena ayat pensucian itu diartikan dengan pensucian, padahal artinya adalah PENGHINDARAN. Karena Allah memakai kata “adzhaba ‘anhu” pada kata “liyudzhiba ‘ankum”, dimana kata-kata ini dipakai untuk menghindarkan sebelum menem- pel, bukan membersihkan atau melepaskan yang sudah menempel.

2- Ayat pensucian pada Ahlulbait as, jauh beda dengan pensucian umum pada ayat: 11, dari surat al-Anfaal itu.

Karena pada pensucian Ahlulbait tidak diqorinahi atau tidak dikondisikan dengan apapun. Artinya, pensucian mutlak. Padahal di ayat 11 di surat al-Anfaal itu, pensucian yang diakibatkan oleh air. Jadi, air inilah yang menjadi penjelas dari maksud pensucian rijs di ayat tersebut. Artinya, air yang diturunkan Allah itu untuk mensucikan apa-apa yang bisa disucikan dengan air. Karena itu, ia/air itu hanya bisa mensucikan hal-hal seperti najis dan hadats.

Jadi, rijs yang bisa disucikan itu adalah dosa-dosa yang diakibatkan oleh najisnya makanan karena haram, najisnya badan dan baju dalam shalat yang karena akan membatalkan shalat, begitu pula mensucikan dari rijs yang berupa hadats kecil dan besar hingga terhindar dari rijs yang berupa shalat yang batal, atau dosa yang diakibatkan memegang tulisan Qur'an yang tanpa wudhu atau tanpa mandi besar. By the way, rijs di sini adalah dosa-dosa yang diakibatkan oleh tidak difungsikannya air atau tidak difungsikannya dengan benar dimana hal itu juga merupakan godaan syethan.

Akan tetapi dosa-dosa seperti syirik, riya, sombong, zina, menyembah berhala, membunuh, membakar manusia hidup-hidup (seperti Khalid Bin Walid sewaktu menjadi panglima Abu Bakar dalam penyerangan ke satu suku shahabat dari suku Bani Tamiim), kesesatan ilmu dan amal, kemusyrikan, ......dan seterusnya,....sama sekali tidak bisa disucikan dengan air yang diturunkan Tuhan tersebut.

Jadi, pensucian rijs terhadap Ahlulbait as, atau yang lebih benar, penghindaran rijs dari Ahlulbait as, bersifat mutlak dan tanpa kondisi hingga Ahlulbaitas terhindar dari segala macam rijs, baik yang diakibatkan dari berkah air atau apa saja, seperti berkah ilmu, ketaatan, shalat itu sendiri, puasa itusendiri, haji, ikhlsh, tawadhu’, dzikir...dan seterusnya...dari amal-amal yang berfungsi menghindarkan dari segala macam rijs.

Sedang penghindaran dari rijs di ayat 11 surat al-Anfaal itu, adalah penghindaran yang hanya diakibatkan oleh air saja dan meliputi semua orang, baik makshumin atau bukan, baik shahabat atau kita-kita di jaman selain shahabat.

Tambahan-1: Dari penjelasan di atas itu, dapat dipahami bahwa karena penghindaran umum dari rijs yang diinginkan Tuhan itu diwasilahkan atau diperantarakan melalui air, maka dapat dipahami bahwa hal tersebut, tidak akan terjadi kalau tidak ada air. Jadi, hal ini merupakan pembatasan ke dua. Karena itu, kalau makanan belum dibersihkan dari najis, seperti darah, yang disebabkan tidak adanya air, maka rijs di sini tidak akan dapat dihindarkan. Jadi, manusia akan terpaksa memakan yang najis. Begitu pula kalau tidak punya air ketika berhadats yang mana tidak bisa shalat.

Nah, karena Islam itu rahmat dan bukan beban, maka Tuhan memakai rahmatNya, untuk menghapus rijs yang tidak disucikan dengan air karena tidak adanya air tersebut. Karena itu, kita dibolehkan makan yang haram, kalau terpaksa dan disuruh tayammum kalau tidak punya air kala mau shalat.

Karena itu, air ini, menunjukkan batasan yang lain hingga di luar batasnya, ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa yang, karena itulah Tuhan menggunakan kaidah dan hukum lain untuk menepiskan rijs tersebut manakala tidak ada air.

Akan tetapi, di dalam penghindaran rijs dari Ahlulbait as, di sana tidak ada pembatasan dan pengkondisian apapun, baik air atau yang lainnya seperti shalat, puasa, ikhlash, ilmu yang benar, tawadhu’, menghindari dosa itu sendiri....dan seterusnya.

Tambahan-2: Selain yang sudah dijelaskan di atas itu, maka perlu diketahui bahwa Rijsun yang di QS: 33:33 yang untuk mensucikan Ahlulbait as, bukan Rijzun yang ada di QS: 8:11 di atas. Rijsun (siin) bukan Rijzun (zaa’). Rijsun segala keburukan sedang Rijzun waswas.

Jadi, rijzu al-syaithaan di ayat yang antum bawa itu adalah waswas syaithan. Jadi, katika manusia mensucikan diri, baju dan makanannya dari najis dengan air, lalu berwudhu’ dan mandi besar dengan air, maka dalam keadaan suci itu, ia bisa terbentengi dari waswas syaithan.

Wassalam. 07/10/2013 01:45


PrT.:

Terima kasih ustadz...

Menurut riwayat dalam kitab syiah daripada imam, ia penyucian khusus tersebut ialah bebas dari keraguan ( ﻚشلﺍ وﻫ ﺲﺟرلﺍ ) Rujuk Basair Darajat (1/232), Ma’ani al-Akhbar (1/171) dan lain-lain rujukan. Saya tahu ada ulama syiah yang menakwilkannya sebagai penyucian dosa tapi apa yang saya fokuskan ialah kata- kata imam syiah sendiri, bukan takwilan para pengikutnya agar sesuai dengan hawa nafsu mereka. Mungkin ustadz boleh bawakan riwayat yang menjelaskan maksud ar-Rijs di sisi imam-imam syiah. Maka saya berpendapat penyucian dari ar- Rijs tidak kira samada dari syaitan ataupun dari keraguan tidak membawa arti kemakshuman.

Maksud saya ar rijs dari ayat penyucian untuk ahlul bait yang kalian dakwakan... bukan ar rijs dari mana-mana surah lain...

14/10/2013 01:38

Pr. T.:

Salam ustadz....izinkan saya bertanya 1 lagi soalan.

Adakah benar mencaci sahabat adalah sebagian rukun islam syiah?


Sinar Agama:

Salam:

1- Sebelum membaca riwayat-riwayat Syi’ah yang tidak kamu percayai itu, maka sebaiknya kamu baca dulu Qur'an yang telah menerangkan makna dari rijs itu sendiri, seperti:


  • a- Bermakna najis lahiriah, seperti di surat al-An’aam, 154:

أو لحم الخنزير فإنه رجس

“Atau daging babi, maka sesungguhnya ia adalah rijs/najis.”


  • b- Bermakna najis batin seperti syirik, kafir dan amal-amal buruk, seperti di surat al-Taubah, 152:

و أما الذين في قلوبهم مرض فزادتهم رجسا إلى رجسهم و ماتوا و هم كافرون

“Sedang orang-orang yang ada penyakit di hatinya, maka mereka diperbanyak oleh rijs mereka ke atas rijs mereka dan mereka mati secara kafir.”


  • c- Bermakna batin akan tetapi dari jenis umum dan bukan hanya kafir, tapi seluruh kesesatan, seperti al-An’aam, 152:

و من يرد أن يضله يجعل صدره ضيقا حرجا كأنما يصعد في السماءكذلك يجعل اهلل الرجس على الذين
ال يؤمنون

“Dan barang siapa yang ingin disesatkanNya, maka harinya dibuat sempit sengsara seperti orang yang naik ke langit. Begitulah Allah menjadikan rijs kepada orang-orang yang tidak beriman.”


  • d- Di QS: 5:90, bermakna mencakup semua dosa-dosa:



“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, berjudi, berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah rijs dari perbuatan syaithan, karena itu, hindarilah agar kalian selamat.”


2- Di ayat pensucian itu, selain masalah rijsun ini, dilengkapi dengan firmanNya yang berbunyi:
“...dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya...”.

Jadi, di samping rijsun itu semua dosa dimana sudah dihindarkan dari Ahlulbait, juga dikuatkan dengan pembersihan sebersih-bersihnya itu. Jadi,dakwaan bahwa ayat ini bukan kemakshuman dan hanya pensucian dari ragu, maka hanya dakwaan kebingungan dalam memahami ayat- ayatTuhan dan, sudah tentu merasa lebih tahu Syi’ah dari orang Syi’ah itu sendiri.

3- Ketika imam-imam makshum as, yang kamu tidak percayai itu, menjelaskan maksud rijsun itu, bisa disebabkan oleh asbab wurudnya sebagaimana ayat yang sering disesuaikan dengan sebab turun/nuzul-nya. Karena itu, maka hadits-hadits itu, seperti ayat-ayat di atas yang menjelaskan rijsun itu. Apakah bisa kita hanya mengambil satu penjelasan lalu menolak makna lainnya? Misalnya memaknainya dengan bangkai dan babi, lalu menolak makna syirik, kafir, berhala, judi, mabok,.....dan seterusnya???!!!!

Jadi, penjelasan imam as tentang rijsun yang pembersihan dari ragu itu, adalah merupakan penjelasan dari salah satu maknanya, seperti ayat di atas yang saling beda menerangkan makna rijsun itu.

4- Semua perbedaan itu, karena memang tidak saling bertentangan, maka bisa dipadukan dengan menggabungnya. Karena itu, maka rijsun itu bukan hanya bangkai dan babi seperti yang diterangkan dalam satu ayat, akan tetapi juga semua dosa dan kekafiran seperti yang dijelaskan di ayat-ayat lainnya.

5- Kalau kamu memahami bahasa apapun, baik arab atau melayu atau indonesia dan jawa atau apa saja, maka sangat beda ketika ada orang yang berkata “rijsun itu keraguan” dan mengatakan “rijsun itu hanya keraguan”. Atau yang berkata “Pensucian dari ragu” atau “Pensucian hanya dari ragu”.

Artinya, ketika ayat atau hadits itu, tidak menyebutkan “hanya”, baik dalam kata atau dalam isyarat-isyaratnya, maka jelas bahwa penyebutan satuekstensi atau satu makna dari berbagai maknanya, tidak berarti menolak makna-makna yang lainnya.

6- Kamu ini semakin lama menjadi semakin lucu. Karena kalau ada hadits dari imam yang bertentangan dengan keyakinanmu langsung dikatakan sesat dan keluar dari Qur'an tapi kalau DIKIRA sama dengan prinsipmu maka dikatakan benar walau, bisa dipertentangkan dengan Qur'an (yakni kalau dimaknai dengan “hanya pensucian dari ragu” dan bukan “pensucian dari ragu”). Tentu saja riwayat Syi’ah yang kamu nukil itu tidak bertentangan dengan Qur'an karena ia hanya menjelaskan salah satu bagian dari makshum dan pensucian dari rijsun itu. Tapi karena kamu menginginkan “hanya pensucian dari ragu” itu, maka ia bisa bertentangan dengan Qur'an itu sendiri dan, kamupun menyukainya walau bertentangan dengan Qur'an.

7- Saya juga heran dengan cara belajarmu, selain heran terhadap cara kamu memahami ucapan dan tulisan dan bahasa apapun seperti yang sudah diterangkan di atas itu. Di sini, saya heran dengan cara belajarmu karena belajarmu seperti caramu yang mengherankan dalam memahami bahasa itu. Dalam memahami bahasa/ucapan, perkataan yang tidak disertai “hanya”, kamu maknai dengan “hanya”. Lah di sini, kamu menemukan satu hadits saja, lalu menghanyakannya bahwa tidak ada pernyataan imam yang mengartikan bahwa makshum itu dari dosa. Di rumahku ada sekitar 45.000 jilid kitab Syi’ah dan 40.000 jilid kitab Sunni, sudah berapakah yang sudah kamu baca hingga semudah itu berkata “hanya” sementara kamu hanya memiliki khayalanmu sendiri itu?

8- Kalau kamu mau belajar, maka ini kukutipkan hadits-hadits lain yang, sekali lagi, salinan yang kamu nukil itu, seperti:

و في رواية عن علي بن الحسين ع: “ قيل له يابن رسول اهلل، فما معني المعصوم ؟ فقال “ :هو المعتصم
”. بحبل اهلل .و حبل اهلل هو القرآن، اليفترقان الي يوم القيامة 

Dari imam Ali bin al-Husain as, beliau as ditanya: “ Wahai putra Rasulullah, apa makna makshum itu?”

Beliau as menjawab: “Yaitu yang menjaga diri dengan tali Allah. Dan tali Allah itu adalah Qur'an. Mereka (orang makshum dan Qur'an), tidak saling berpisah sampai hari kiamat.” (Bihaaru al- Anwaar, 25/194).

Nah, menyatu dengan Qur'an tanpa berpisah sampai hari kiamat, tandanya mengerti seluruhnya dengan benar dan mengamalkan seluruhnya juga dengan benar.

Atau hadits ini:

Dari Abi Abdillah as (imam Ja’far as): Makshuum itu adalah mencegah diri dengan Allah dari semua yang diharamkan Allah. Karena itu Allah berfirman: ‘Dan barang siapa menjaga diri dengan Allah maka dia telah dihidayahi ke jalan yang lurus.’.” (Biharu al-Anwaar, 25/194).

9- Tentang mencaci shahabat itu, bisa ditanya kepada yang membuat fitnah tersebut, dimana didapat penjelasan Syi’ah yang ada menerangkan bahwa pencacian kepada shahabat itu sebagai rukun Islam? Emangnya ajaran islam yang sudah sempurna di jaman Nabi saww itu masih perlu ditambahi lagi dengan ajaran yang aneh-aneh seperti yang difitnahkan itu?

Tambahan:

Ini riwayat yang kamu maksudkan di Ma’aanii al-Akhbaar, 1/171:

1 -

حدثنا أبي، ومحمد بن الحسن بن أحمد بن الوليد -رضي اهلل عنهما -قاال :حدثنا عبداهلل بن جعفر الحميري، عن محمد بن الحسين بن أبي الخطاب، قال :حدثنا النضر بن شعيب، عن عبدالغفار الجازي، عن أبي عبداهلل
عليه السالم في قول اهلل عزوجل “ :إنما يريد اهلل ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا “ (1) قال:
 . الرجس هو الشك

Ketika Abu ‘Abdillah as menerangkan ayat “innamaa yuriidullaahu lisyudzhiba ‘ankum al-rijs ahlalbait .....” beliau as berkata: Rijs itu adalah Syak.”

Nah, di hadits ini, hanya berkata “syak” dan tidak berkata “hanya syak”. Karena itu, maka jelas tidak bermaksud menafikan atau menolak makna-makna lain yang juga datang dari para imam makshum as itu sendiri seperti yang sudah dinukil sebagiannya di atas itu. Kalaupun mau dipaksakan hanya syak, maka jelas akan bertentangan dengan hadits-hadits lain dan, sudah tentu dengan Qur'an sebab Qur'an telah menerangkan banyak maknanya seperti yang sudah dinukilkan di atas.

Lagi pula, apapun yang menyebabkan dosa seseorang, seperti maksiat besar atau kecil, maka disebabkan keraguannya. Coba seseorang itu, yakin padaAllah, yakin pada neraka seperti yakinnya seorang pencuri yang saling melihat polisi, maka sudah pasti tidak akan mencuri dan tidak akan maksiat.Karena itu, syak itu, memiliki makna yang dalam. Coba kita yakin pada kebenaran firman- firman Allah sebenar-benar keyakinan yang tidak ada sedikitpun keraguan, maka sudah pasti, tidak akan berbuat maksiat sedikitpun. Jadi, dosa itu tanda dari ragu dan, karenanya, yakin tanda dari makshum.

22/10/2013 01:55


PrT.: Terima kasih ustadz Wassalam.

2 Shares

Ramlee Nooh and 21 others like this.


Win Panay: Ijin copas Ustadz.

Wasroi Aja: Nyimak

Heri Widodo: ALLAH HUMMA SHOLI ALA MUHAMMAD WA ALI MUHAMMAD.

Sinar Agama: Salam dan terima kasih untuk semua jempol dan komentarnya.

Sinar Agama: Win, semua tulisanku di facebook ini gratis selama untuk kebaikan walau dalam bentuk apa saja asal, tidak diedit, tidak dirubahnamanya dan tidak dibisniskan walau dengan nilai yang amat murah sekalipun.

Sinari Beta: Ustadz Sinar Agama ada pertanyaan ana di inbox belum dijawab-jawab. Mohon dibantu.

Sinar Agama: Sinari, doakan ya...hingga aku ini memiliki tenaga berlimpah dan penuh berokah, hingga tidak terlalu sering keteter menjawab inbox. Sepertinya ana baru menjawab yang tgl 16 atau 17-an bulan Oktober ini, afwan banget. Tapi kalau darurat dan buru-buru, beri tahu lagi di salah satu komentar di dinding ini, supaya ana bisa dahulukan.

Sinari Beta: Ga pa pa ustadz sesempatnya aja, pertanyaannya udah di dinding Sang Pencinta juga. Semoga Allah selalu menganugerahi antum kesehatan dan kekuatan serta umur yang barokah., amin wassalam.

October 28 at 8:08pm via mobile · Like · 1



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Rabu, 11 Desember 2019

Banyak Shalat dan Kewajiban


Seri tanya jawab Heri Widodo dengan Sinar Agama October 25, 2013 at 4:05 pm


Heri Widodo mengirim ke Sinar Agama: (13-4-2013) Assalamu ‘alaikum wr...wb.sholawat. Ustadz, afwan. Fiqih tentang sholat bila dilakukan sesering mungkin, apakah efek yang paling utama bagi jasadi & ruhani musholi. Apakah kita boleh memaksakan diri untuk sering melakukan sholat seperti Imam Ali Zaenal Abidin Sa. bagaimana tips-tips agar ketika sedang sholat benar-benar mampu merasakan bahwa kita sedang berhadapan dengan Sang Maha Agung. Mohon penjelasan berkaitan dengan pernyataan ‘barang siapa yang mengejar dunia maka dunia akan berlari, lalu Imam Ali Amiril Mukminin yang telah mentalaq dunia justru dunia menghampiri & bertekuk lutut di bawah telapak kakinya’. Bagaimana proses siapa saja yang mengurus agamaNYA maka Allah Swt akan memenuhi seluruh kebutuhan hamba tersebut. Apakah kita mesti menganggap dunia sebagai bangkai yang menjijikan seperti pernyataan suami Hadrat Fatimah Azzahro Sa dalam Nahjul Balaghoh. Motivasi apa yang memicu Ustadz berikhtiar sedemikian keras hingga detik ini.

Zu Baida, Anita Zahra, dan Etika Maria menyukai ini.


Sang Pencinta: Salam, 108. Khusyu Oleh Ustadz Sinar Agama = http://www.facebook.com/groups/210570692321068?view=doc&id=217527258292078
, 219. Apakah Bisa Kita Manusia Biasa yang penuh dosa Menembus Hijab yang tebal dalam sholat seperti para imam Makshum..Oleh Ustad ...Lihat Selengkapnya
Berlangganan Catatan-catatan Sinar Agama 

Sang Pencinta:
http://www.facebook.com/groups/210570692321068/doc/355710674473735/ ,

800. Penjelasan Kalimat ‘’Hisablah Dirimu Sebelum Hari Penghisaban Itu Datang’’ Oleh Ustadz Sinar Agama:

http://www.facebook.com/groups/210570692321068/doc/404613026250166/ , 1161. O...Lihat Selengkapnya

Sang Pencinta: http://www.facebook.com/notes/sinar-agama/makna-puasa-hati-seri-tanya-jawab-mata-jiwa-dg-sinar-agama/541916892485530

Makna Puasa Hati, seri tanya jawab Mata Jiwa dengan Sinar Agama

Bismillaah: Makna Puasa Hati Mata Jiwa mengirim ke Sinar Agama 6-11-2012 Salam.....Lihat Selengkapnya


Sinar Agama: Salam dan terima kasih pertanyaannya:

1- Jawaban saya sama dengan yang sebelum-sebelumnya.

2- Kalau dunia ini bangkai menjijikkan, maka antum jangan memakannya.

3- Sebegitu berharganya rejeki Tuhan sampai-sampai para imam mencium roti yang dihidang- kannya.

4- Dunia itu adalah cinta kita kepadanya, bukan alam yang berupa Tajalli dari Jamal dan Jalal Allah itu.

5- Kenapa antum tidak mengambil hadits imam Baqir as yang rajin mencangkul di ladang di siang hari sementara badannya agak gemuk sampai-sampai pencintanya ketakutan beliau as akan pingsan atau mati dan menasehatinya untuk tidak melakukan hal itu. Lalu beliau as menjawabbahwa hal itu adalah perintah Tuhan (untuk mencukupi diri dan keluarga dan tidak meminta kepada orang lain) dimana beliau as katakan bahwa kalau beliau as mati kala itu, maka akan terhitung syahid????!!!!!!

6- Nasi dan uang itu bisa menjadi dunia dan bisa menjadi Wajah Tuhan. Kalau antum cintai maka itulah dunia dan kalau antum tidak mencintainya dan hanya mencintai Allah hingga sama sekali tidak terikat kepadanya dan tidak tertarik, hingga hanya dibelanjakan dalam jalan Tuhan dan kepentingan agama dan sosial, maka itulah akhirat.

7- Satu lagi, MALAS BEKERJA DAN TIDAK BERIKHTIAR MENCARI REJEKI UNTUK DIRI DAN KELUARGA- NYA, ADALAH BUKAN HANYA HAKIKAT DUNIA ITU, TAPI MALAH DARI JENIS TERBURUKNYA YANG BAHKAN LEBIH BURUK DARI DAGING BABI BAGI MANUSIA.

8- Satu lagi, malas membaca penerangan-penerangan yang sudah dipaparkan dan dihantar sampai ke rumah-rumah, jelas merupakan dunia yang mungkin lebih buruk dari semuanya (Tulisan ini hanya untuk keilmuan, bukan untuk antum).

9- Orang kalau sudah mengamalkan fikih, maka di sana cara khusyuk dan semacamnya sudah diterangkan. Seperti memahami yang dibaca. Seperti meninggalkan semua dosa. Seperti benar dalam thaharah, wudhu, mandi dan shalatnya itu sendiri....dan seterusnya.


Tambahan:

Shalat sunnah yang banyak, kalau melepaskan tanggung jawab yang lain, bukan hanya tidak berpahala, akan tetapi bisa saja batal dari awal dan bisa dosa. Misalnya, banyak shalat sunnah, sementara istri dan anaknya kelaparan.

Wassalam.


اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Tidak Boleh Mengharap Adanya Perang, Walau Demi Kedatangan Imam Zaman as


Seri tanya jawab Andri Kusmayadi dengan Sinar Agama October 25, 2013 at 4:01 pm


Andri Kusmayadi berbagi tautan: (13-4-2013) Jika membaca berita seperti ini saya suka bingung, satu sisi tidak menginginkan perang terjadi, karena akibatnya bukan hanya akan dirasakan oleh orang-orang di negara-negara yang bersangkutan, tapi juga akan ke mana-mana termasuk ke kita. Akan tetapi, sisi lain juga berharap agar perang itu terjadi, bahkan bisa menjadi permulaan perang dunia ketiga. Dengan alasan, karena sesuai dengan riwayat bahwa Imam Mahdi akan muncul ketika sudah terjadi perang dunia atau bersamaan dengan perang dunia, artinya Imam muncul ketika perang dunia sedang berlangsung. Bagaimana Ustadz, sebenarnya? Bagaimana do’a kita seharusnya? Apakah berdo’a agar tidak terjadi perang atau justru berdo’a sebaliknya? Dosakah kita ketika berdo’a mengharapkan agar perang itu terjadi?

Terima kasih.

Islam Times - Korea Utara Siap Tembakkan Rudal ke Korea Selatan
www.islamtimes.org

Islam Times – “Senjata kami siap untuk ditembakkan. Koordinat yang tepat sudah dimasukkan ke dalam hulu ledak. Jika kita tekan tombol, benteng musuh-musuh kita akan berubah menjadi lautan api, “kata seorang penyiar televisi Korea Utara pada hari Kamis (11/4/13).

Okki Deh dan Bintang Az Zahra menyukai ini.


Sinar Agama: Salam dan terima kasih pertanyaannya:

Sepertinya, sekitar dua tahun lalu antum sudah menanyakan soalan serupa dengan yang di sini. Kalau tidak salah. By the way:

Kita jelas tidak boleh mengharap adanya perang dan wajib membencinya. Karena kalau tidak, maka kita akan kena dosanya. Dan dosa perang ini, bukan hanya satu nyawa dan derita, tapi sejuta nyawa, derita dan air mata (bukan puitis).

Kita juga sama sekali tidak boleh mengharap adanya perang, baik sebagai orang yang diperangi karena kita membela Islam supaya bisa syahid dan supaya imam cepat datang, atau apalagi, sebagai penyerangnya yang jelas diharamkan dari awal itu.

Jadi, tugas kita tetap mendoakan cepatnya datang imam Mahdi as, tidak ada perang, tidak ada kezhaliman, tidak ada penindasan dan korupsi, tidak ada pencuri dan penipu rakyat dan bangsa, tidak ada kebodohan.....dan seterusnya.

Dan, sudah tentu kita wajib meningkatkan ilmu argumentatif dan diamalkan sepenuhnya, terutama fikih yang meliputi segalanya dalam amal aplikasi apapun juga.

Apa-apa yang ada dalam hadits, katakanlah belum tentu seperti itu. Bisa memiliki makna yang lain. Tapi kalaulah tidak memiliki makna yang lain, tetap bisa saja terjadi perubahan. Karena itulah, kita akan tetap beriman kepada imam Mahdi as kalau sudah keluar dengan bukti-bukti gamblang walau, tidak didahului dengan perang dunia ke seratus sekalipun (apalagi cuma perang dunia ke tiga).

Wassalam.


Andri Kusmayadi: Ga ustadz, ana baru aktif bertanya ke antum itu belum nyampe setahunan... ana mulai aktif nanya ke antum setelah bertemu lagi dengan Bande Husein Kalisatti, makanya ana berterima kasih kepadanya, karena ana jadi belajar fikih lagi yang benar...awal-awal j...Lihat Selengkapnya

Sang Pencinta: Salam, aktif dalam menunggu imam Mahdi afs,

https://www.dropbox.com/s/pka9gb33lx3jbip/Imam%20Mahdi%20afs%20dalam%20Penantian. pdf?m Imam Mahdi afs dalam Penantian.pdf

www.dropbox.com

Sinar Agama: Andri: Iya, ana sendiri ragu, karena itu ana katakan “sepertinya”. Yang teringat di dalam benak, adalah di inbox dan gambarnya mirip dengan gambar akun antum. By the way, syukurlah kalau sudah jelas.

Andri Kusmayadi: Terima kasih atas linknya Sang Pencinta... Wassalam.



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Sesat dan Bagian-bagiannya


seri tanya jawab Mata Jiwa dengan Sinar Agama
July 17, 2013 at 6:47pm


Mata Jiwa mengirim ke Sinar Agama: (16-3-2013) Salam ...  Pak ustadz, mohon penjelasannya tentang apa itu sebenarnya arti/pengertian dari kata ‘sesat’ dalam agama kita? Apa pula syarat-syaratnya hingga suatu keyakinan itu boleh menyandang gelar ‘sesat’? Saat ini, dengan gampangnya orang menyesatkan golongan lain, ketika ditanya sesatnya dimana ? Jawabnya ngelantur....terima kasih untuk penjelasannya ya pak ustad...

Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaannya:

1-  Sesat itu memiliki asal makna “Tidak sesuai kenyataan”. Kalau kebenaran tentang agama, maka memiliki “Tidak sesuai dengan ajaran agama.”  Karena agama memiliki ajaran paling dasar dua hal, yaitu akidah dan fikih, maka yang tidak benar dalam kedua hal itu, bisa dikatakan sesat.

Akan tetapi, sebagaimana Islam juga mengajari kebenaran hingga yang tidak sesuai dengan-nya dikatakan sesat (dhaallun), ia juga mengajarkan berbagai hal seperti pembagian sesat itu dan jalan pengampunan serta mendapatkan kebenarannya.  Yang jelas, yang menjadi ukuran Islam untuk kebenaran dan kesesatan itu, adalah Islam itu sendiri, bukan pahaman tentang Islam yang dimiliki oleh setiap orang atau golongan.

2-  Sesat itu memiliki bagian-bagian yang diantaranya bisa dilihat dari beberapa sisi seperti berikut:

2-a-  Sesat besar dan sesat kecil.

Sesat besar yaitu yang berkenaan dengan akidah dan fikih yang besar-besarnya dimana kesalahan dalam hal ini, kalau disengaja atau bahkan tidak sengajapun bisa menyebabkan keluarnya seseorang dari Islam, seperti tauhid, keAdilan, kenabian, keimamahan dan akhirat. Masih ada yang lainnya, seperti yang berkenaan dengan Qur'an dan hadits dan seterusnya.

Sedang yang besar dalam fikih, seperti yang mudah-mudahnya untuk diketahui yang juga merupakan identitas Islam itu sendiri (dharuri), seperti shalat, puasa, haji, taqlid, kewajiban berfikih, kewajiban taqlid, dan seterusnya.

Sedang yang kecil-kecilnya, seperti kesalahan-kesalahan yang tidak menyebabkan keluarnya seseorang dari agama Islam, seperti kesyirikan halus (seperti riya’, karena riya’ itu syirik), dosa (karena dosa juga syirik pada hakikatnya) dan seterusnya. Kalau fikih seperti dosa-dosa kecil.

Dosa kecil adalah dosa-dosa yang tidak diancam neraka, tidak disamakan dengan syaithan, tidak disamakan dengan penjahat-penjahat besar seperti Fir’un...dan seterusnya. Tapi ingat, bahwa tidak ada dosa kecil kalau diremehkan. Karena peremehan itu, tandanya menentang Tuhan dan, karenanya akan menjadi besar.

2-b- Ada sesat yang sengaja dan yang tidak.

Yang sengaja seperti sudah tahu kebenaran tapi menentangnya atau tidak menerimanya. Atau sudah tahu dirinya salah, atau ada keraguan di dalam dirinya, dan bisa mencari jalan keluar dengan belajar, tapi ia tidak mau mempelajarinya. Yang ke dua ini, biasanya disebut dalam istilahku sebagai “setengah sengaja”.

Ada juga yang tidak sengaja, yaitu yang belum didatangi kebenaran yang benar (bukan atas nama seperti Islam yang bisa datang melalui orang yang tidak mengerti Islam yang sebenarnya). Atau kalau ilmunya belum lengkap seratus persen atau belum tentu benar seratus persen, tapi selalu dalam pencarian dan pengecekan diri tanpa henti.

Biasanya yang sengaja atau setengah sengaja itu, tidak diampuni Tuhan. Tapi yang tidak sengaja, maka secara global masih diampuni Tuhan. Hal itu, karena berarti dalam melakukan kesalahan dan maksiatnya itu, tanpa didasari pada penentangan terhadapNya.

2-c-  Ada yang sesat menyesatkan dan ada yang sesat untuk dirinya sendiri.

Sesat menyesatkan adalah kesalahan yang disebarluaskan yang biasanya melalui tokoh-tokoh politik, sosial, dan tidak jarang melalui guru-guru agama itu sendiri.

3-  Siapa saja yang tidak makshum, pasti memiliki kesesatan. Karena itu, yang tidak sesat yang biasa disebut dengan “jalan lurus”, adalah jalan Islam seratus persen, yaitu yang ilmu-ilmu keislamannya lengkap seratus persen dan benar seratus persen serta diamalkan seratus persen.

4-  Sebagaimana sudah diterangkan di atas, bahwa tidak semua kesesatan itu masuk neraka. Karena yang masuk neraka hanya yang dari yang sengaja, sementara yang tidak sengaja, akan dapat pengampunan dari Allah. Tapi ingat, bahwa pengampunan bagi yang ketidaksengajaaan itu, adalah ketidaksengajaan yang sudah diterangkan di atas itu, yakni yang tidak mencakupi orang-orang yang malas mencari kebenaran.

5-  Salah satu kesesatan yang sulit diampuni kesesatan yang disebarkan tanpa dalil-gamblang atau bahkan dibanggakan tanpa dalil gamblang. Biasanya hanya berdasar taqlid, seperti wahabi-wahabi yang justru merasa menentang taqlid. Semua pengikut wahabi, taqlid dan mengikuti guru-guru mereka tanpa dalil gamblang karena memang tidak ada dalilnya.

6-  Ada lagi kesesatan yang sulit diampuni adalah kesalahan yang suka mengolok-olok kebenaran.

7-  Sesat menyesatkan, selama dengan argumentasi yang gamblang dan tidak saling memaksa, bukan hanya dilarang, tapi diwajibkan agama.

Karena itulah amr ma’ruf dan nahi mungkar itu diwajibkan dalam Islam. Tapi ingat, harus dengan argumentasi gamblang, santun, tanpa ejekan dan tanpa pemaksaan dan juga disertai dengan rasa ingin tahu apakah benar dirinya sendiri yang menyesatkan orang lain itu sebenarnya sudah benar atau sebenarnya sesat (ini yang biasa dikatakan ikhlash dalam mencari ilmu atau diskusi).

Begitu pula, dalam menyesatkan orang lain itu, hanya dan hanya untuk menasihatinya dengan penuh argumen dan santun serta bijaksana serta tidak memaksa, bukan untuk meremehkannya, melecehkannya dan apalagi mengintimidasinya terlebih menyakiti dan melawannya.

8-  Akan tetapi, dalam kondisi-kondisi tertentu, tidak memakai kata-kata sesat, walau muatannya adalah sesat, lebih baik dan dianjurkan Islam. Karena itu, dalam komunikasi harus disesuaikan dengan keadaan masing-masing. Ini anjurannya. Tapi minimalnya, harus santun, tidak memaksa dan dengan argumentasi gamblang serta benar-benar ingin membantu sesama, bukan menghardik sesama manusia.

9-  Sekali lagi, orang yang tidak makshum, harus menyadari bahwa dirinya pasti memiliki kesesatan itu. Karena itu, dalam menyesatkan orang lain, juga harus disertakan bahwa dirinya juga memiliki kesesatan itu. Artinya, diskusi-diskusi itu harus dilakukan dengan penuh ketawadhuan dan kehati-hatian, karena jangan sampai dirinya yang sesat. Karena itu, harus disemangati dengan mencari kebenaran dan mencari argumentasi yang lebih kuat.

10-  Sekali lagi ingat, bahwa tidak selayaknya menyesatkan orang yang tidak siap menerimanya, seperti bukan karena diskusi dan semacamnya atau yang bisa menyebabkan perpecahan kesatuan Islam dan bahkan bangsa. Walhasil, mengatakannya hanya dalam kondisi yang mendukung seperti diskusi, dan dengan bahasa yang lebih lunak dan nyaman didengar tapi tetap memiliki makna salah/sesat itu, biasanya sangat danjurkan.  Wassalam.

Mata Jiwa :ALHAMDULILLAAAAAH...penjelasan pak ustadz rinciiiiii sekali....kan kalau begini, kita yang disesat-sesatkan juga bisa dengan mantap hati berdalil gamblang, saya rasa orang yang kita beritahu juga mungkin akan terang dengan penjelasan ini.....terima kasih pak ustadz, semoga pak ustadz sehat selalu.  Wassalam.

Haidar Dzulfiqar and 25 others like this.

Khommar Rudin  اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Andri Kusmayadi: Afwan, tapi kalau boleh ana tarik pelajaran dari tulisan antum ini, sesat itu berbeda dengan kafir kan ustadz? Maksud ana kafir yang berarti nonmuslim? Karena kalau dari tulisan ini, seolah-olah yang tidak meyakini imamah sebagai yang sesat? Tapi, kalau yang ana pahami saudara-saudara kita dari Sunni itu juga kan masih termasuk ke dalam barisan muslimin bukan kafirin? Mohon pencerahannya...dari antum Ustadz Sinar Agama. Syukron.

Sang Pencinta: Andri, 1110. Kafir Dalam Kamus Syi’ah dan Sunnah Oleh Ustadz Sinar Agama = http://www.facebook. com/.../21057069.../doc/486549254723209/

Andri Kusmayadi: Setelah baca linknya...ana masih belum nemu jawabannya apakah sesat itu sama dengan kafir?

Andri Kusmayadi: Ustadz Sinar Agama, ana copaskan status antum ini di dinding ana, terus ada yang komen begini...apa antum bisa membantu menjawabnya? “’Semua pengikut wahabi, taqlid dan mengikuti guru-guru mereka tanpa dalil gamblang karena memang tidak ada dalilnya’....bisa dicontohkan misalnya apa?”


Antara 37 dan 45 Menit, Waktu Maghrib/ berbuka Syi’ah??!!!



seri tanya jawab Amrillah Rizki dengan Sinar Agama
by Sinar Agama (Notes)  mn July 10, 2013



Amrillah Rizki mengirim ke Sinar Agama: (8-7-2013) Assalamualaikum udtadz.... berapa lama buka puasa 45 menit atau 30 menit setelah azan suni ?? Soalnya ane biasa 15 menit bukanya.

Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaannya: 

Yang bisa dikatakan meyakinkan adalah 45 menit. Dan kalau mau paling nekad (tapi saya tidak tanggung jawab) adalah sekitar 37 menit, yakni pertengahan antara adzan maghrib dan isyaa’ Sunni. Karena adzan maghrib baru munculnya mega merah di timur. Dan adzan isyaa’ adalah hilangnya mega merah di barat. Jadi, hilangnya mega merah di atas kepala kita ke timur, adalah pertengahannya. Ini kalau mau gampang-gampangannya. 

Tapi kalau mengikut ru’yat, sudah berkali-kali diru’yat dimana bukan hanya satu orang, tapi rombongan dan orang-orang lain di tempat-tempat lain, maka waktunya adalah 45 menit setelah adzan Sunni.  

Catatan: 45 menit itu waktu pasnya, bukan hati-hatinya. Hati-hatinya adalah dilebihkan lagi sedikit.

Amrillah Rizki: Waduh lama amat ya..... bukannya udah azan isya tuh 45 menit .... ?  

Mohamad Bagir: Salam ustadz, bagaimana puasa-puasa yang lalu-lalu terlanjur kurang dari 45 menit setelah adzan saudara Sunni? Bagaimana dengan shalat magribnya juga mengikuti waktu tersebut? Terimakasih..  

Sang Pencinta: Silahkan di https://www.facebook.com/notes/sang-pencinta/diskusi-ttgmasuknya-waktu-maghrib-dan-buka-puasa/488642857852292  Diskusi ttg masuknya waktu Maghrib dan buka puasa 

Bismillaah   Waktu Buka Puasa Oleh Ustadz Sinar Agama: http://www.facebook.com/gr...  

Amrillah Rizki: Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf[115] dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa.  

“Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam,” ada yang tau ga, bagaimana menyempurnakan puasa hingga malam... (45 menit setelah azan Sunni menurut ust. Abu Amar).  Orang Islam pasti tahu azan maghrib itu panggilan untuk shalat maghrib bukan untuk buka puasa! Lha Suneo mengira azan maghrib itu panggilan berbuka puasa !! Bego, bego, bego!!   

Sinar Agama: Amrillah: Jarak antara adzan maghrib Sunni dan isyaa’-nya sekitar 70-75 menit. Karena itu saya katakan bahwa kalau mau nekad, setidaknya menunggu 35 menit setelah adzan maghrib Sunni karena ia waktu pertengahan antara kedua adzan Sunni itu. 

Sementara makna adzan maghrib Sunni itu, sama dengan matahari terbenam. Artinya, awal kemunculan mega merah di seluruh bagian langit, baik di barat atau di timur. Sementara makna adzan isyaa’ di Sunni, adalah hilangnya mega merah di barat. 

Nah, kalau maghrib Syi’ah, sama dengan hilangnya mega merah di belahan timur langit, yakni dari arah timur sampai ke atas kepala kita, maka berarti maghrib Syi’ah itu, di pertengahan waktu maghrib dan isyaa’-nya Sunni. Karena itu, maghrib Syi’ah adalah 70-75 menit dibagi dua yang, sekitar 35-37,5 menit.  Tapi ingat, saya tidak tanggung jawab dengan waktu ini. Karena, walaupun kita tidak tahu sebabnya apa, sudah sering teman-teman meru’yat bahwa mega merah di belahan timur itu, baru hilang setelah 45 menit. 

Saya sendiri mengira, bahwa hal tersebut dikarenakan negara kita berada di katulistiwa yang, mengakibatkan timur bagian utara dan selatan, tetap memega merah lebih lama lantaran utara dan selatan bumi itu, memiliki kemiringan hingga ia masih ditembusi sinar matahari hingga tetap membuat mega merah di timur, sementara di bagian katulistiwa bumi, sudah tertutupi perut bumi hingga sinar mataharinya sudah terhambat untuk membuat mega merah di sebelah timur. Karena itu, dalam waktu 35 menit setelah adzan Sunni itu, memang di timur bagian tengah sudah gelap, tapi di timur bagian utara dan selatan, masih memega merah.   

Sinar Agama: Muhammad Baqir: Kalau puasa yang dulu-dulu tidak 45 menit itu, maka tergantung masing-masing keadaan. Sebenarnya sudah diterangkan panjang lebar tahun kemarin atau sebelumnya. Ringkasnya, kalau ia tidak berbuka 45 menit setelah adzan Sunni, maka:  

1-  Kalau Syi’ah tidak dari Sunni dan mengira bahwa waktu puasa Syi’ah itu sama dengan Sunni, maka kewajibannya adalah qadhaa’ tapi tidak perlu kaffarah.  

2-  Kalau Syi’ah yang dari Sunni dan tahu bahwa waktu maghrib/berbuka di Sunni beda dengan di Syi’ah, Tapi ia malas mencari tahu sementara ada tempat untuk bertanya, apakah buku, guru, teman yang tahu, facebook, ...dan seterusnya, maka kewajibannya, selain qadhaa’, juga harus kaffarah.  

3-  Kalau Syi’ah yang dari Sunni (atau memang Syi’ah dari awal) dan tahu bahwa waktu maghrib/ berbuka di Sunni beda dengan di Syi’ah, dan ia sudah bertanya ke orang yang tahu dan adil (tidak melakukan dosa) bahwa menunggunya itu hanya sekian menit dari selain 45 menit itu, maka kalau ia yakin dengan beritanya itu dan tidak tahu kesalahannya setelah itu sampai kelak meninggal, maka puasanya sudah benar. 

4-  Kalau Syi’ah yang dari Sunni (atau memang Syi’ah dari awal) dan tahu bahwa waktu maghrib/ berbuka di Sunni beda dengan di Syi’ah, dan ia sudah bertanya ke orang yang tahu dan adil (tidak melakukan dosa) bahwa menunggunya itu hanya sekian menit dari selain 45 menit itu, maka kalau ia yakin dengan beritanya itu tapi kemudian ia tahu kesalahannya (baik karena tahu dalilnya tidak benar sama sekali atau telah memeriksanya sendiri setelah tahu cara memeriksa dengan benar seperti di barat tidak boleh ada mendung dan di tengah dan timur harus ada mendung tipis dan tidak boleh tebal), maka ia wajib mengqadhaa’ semua puasanya itu.  

5-  Kalau Syi’ah yang dari Sunni (atau memang Syi’ah dari awal) dan tahu bahwa waktu maghrib/ berbuka di Sunni beda dengan di Syi’ah, dan ia sudah bertanya ke orang yang tahu dan adil (tidak melakukan dosa) bahwa menunggunya itu hanya sekian menit dari selain 45 menit itu, maka kalau ia yakin dengan beritanya itu tapi kemudian ia tahu kesalahannya tapi masih terus mengamalkannya, maka ia wajib mengqadhaa’ semua puasanya yang telah lalu itu dan untuk puasa yang berikutannya dari setelah tahu dengan pasti itu, ia selain wajib mengqadhaa’ puasanya, juga harus membayar kaffarah.  

6-  Kalau Syi’ah yang dari Sunni (atau memang Syi’ah dari awal) dan tahu bahwa waktu maghrib/ berbuka di Sunni beda dengan di Syi’ah, dan ia sudah bertanya ke orang yang tahu dan adil (tidak melakukan dosa) bahwa menunggunya itu hanya sekian menit dari selain 45 menit itu, maka kalau ia tidak yakin dengan beritanya itu (entah karena ada adil lain yang berkata beda atau entah karena dalil peru’yatannya tidak jelas dan lain-lain) tapi tetap nekad melaksanakannya, kemudian ia tidak tahu kesalahannya sampai meninggal, juga tidak masalah (tapi saya dalam hal ini tidak terlalu yakin karena ia sendiri dari awal sudah tidak yakin, tapi dari sisi pemberitanya yang adil, maka memang sudah cukup bisa dijadikan pengesyahan puasanya).  

7-  Kalau Syi’ah yang dari Sunni (atau memang Syi’ah dari awal) dan tahu bahwa waktu maghrib/ berbuka di Sunni beda dengan di Syi’ah, dan ia sudah bertanya ke orang yang tahu dan adil (tidak melakukan dosa) bahwa menunggunya itu hanya sekian menit dari selain 45 menit itu, maka kalau ia tidak yakin dengan beritanya itu (entah karena ada adil lain yang berkata beda atau entah karena dalil peru’yatannya tidak jelas dan lain-lain) tapi tetap nekad melaksanakannya, kemudian ia tahu kesalahannya sebelum meninggal, maka untuk qadhaa’nya sudah jelas wajib qadhaa’. Tapi untuk kaffarahnya, sangat mungkin kaffarah. Tapi perlu konfirmasi lagi dengan marja’nya.  

8-  Kalau Syi’ah yang dari Sunni (atau memang Syi’ah dari awal) dan tahu bahwa waktu maghrib/ berbuka di Sunni beda dengan di Syi’ah, dan ia sudah bertanya ke orang yang tahu atau dianggap tahu akan tetapi bukan orang yang diyakini adil (tidak melakukan dosa) karena diyakini masih melakukan dosa atau tidak tahu atau tidak yakin terhadap keadilannya, maka kalaupun ia itu yakin terhadap kebenaran beritanya, tapi kalau nanti ia tahu bahwa beritanya itu salah dan yang benar itu yang 45 menit (yang entah karena ia menelitinya sendiri dengan cara yang benar seperti yang sudah diterangkan di atas itu, atau karena ada orang yang diyakininya adil mengatakan 45 menit), maka selain qadhaa’, ia wajib membayar kaffarah.  

9-  Kalau Syi’ah yang dari Sunni (atau memang Syi’ah dari awal) dan tahu bahwa waktu maghrib/ berbuka di Sunni beda dengan di Syi’ah, dan ia sudah bertanya ke orang yang tahu atau dianggap tahu akan tetapi bukan orang yang diyakini adil (tidak melakukan dosa) karena diyakini masih melakukan dosa atau tidak tahu atau tidak yakin terhadap keadilannya, maka kalaupun ia itu yakin terhadap kebenaran beritanya sampai mati dan tidak tahu sampai mati terhadap kesalahannya itu seperti yang di poin 8, tapi kalau ternyata di ilmu Tuhan itu yang benar adalah 45 menit, maka ia berkewajiban mengqadhaa’ dan membayar kaffarah. Tapi kewajibannya ini di alam hakikatnya. Sedang di dunia dan untuk dirinya di dunia ini, kalau ada yang mengabarkannya seperti orang adil makshumin as, maka wajib mengoqadhaa’ dan membayar kaffarah.  

10-  Kalau Syi’ah yang dari Sunni (atau memang Syi’ah dari awal) dan tahu bahwa waktu maghrib/ berbuka di Sunni beda dengan di Syi’ah, dan ia sudah bertanya ke orang yang tahu atau dianggap tahu akan tetapi bukan orang yang diyakini adil (tidak melakukan dosa) karena diyakini masih melakukan dosa atau tidak tahu atau tidak yakin terhadap keadilannya, maka kalaupun ia itu yakin terhadap kebenaran beritanya sampai mati dan tidak tahu sampai mati terhadap kesalahannya itu seperti di poin 8, tapi kalau ternyata di ilmu Tuhan itu yang benar adalah 45 menit, maka ia berkewajiban mengqadhaa’ dan membayar kaffarah. Tapi kewajibannya ini di alam hakikatnya. Sedang di dunia dan untuk dirinya di dunia ini, kalau tidak ada yang mengabarkannya seperti makshumin as, maka kewajiban mengoqadhaa’ dan membayar kaffarahnya akan disampaikan kelak di akhirat. Sedang apakah Tuhan akan memaafkannya atau tidak, maka dikembalikan kepada DiriNya.  

11-  Penutup: Untuk sementara ini, hanya 10 macam ini yang terbayang terhadap keadaan orang yang tidak shalat maghrib dan tidak berbuka dalam 45 menit setelah adzan maghrib saudarasaudara kita yang Sunni. Dan alfakir sudah berusaha menjelaskan kewajiban-kewajiban hukumnya dari yang alfakir rasakan tahu dari fikih fatwa marja’.  

12-  Nasihat: Dengan melihat semua pembagian dia atas itu, maka urusan agama ini, bukan urusan menang-kalah atau hura-hura. Tapi urusannya justru kehati-hatian. Hal itu  karena betapa beratnya pertanggung jawaban kita dan/atau urusan kita sendiri di akhirat kelak. Karena itu, dari pada masuk dalam bencana di dunia dengan mengqadhaa’ atau bayar kaffarah, dan dari pada nanti ditolak mentah-mentah di akhirat, maka menunda beberapa menit lagi dari pandangan yang lemah walau nampak kokoh dan terlihat banyak peminatnya, adalah hal yang sangat bijaksana dan dapat  membantu diri sendiri. 

Karena kalau sudah hati-hati dan salah, maka sudah pasti yang benar itu sudah masuk di dalam yang hati-hati itu dan, karenanya kerugian kita hanya lapar dan haus beberapa menit lebih lama dari yang benar tersebut. Akan tetapi, kita hidup di dunia ini dengan nyaman dan di akhirat, bisa memiliki hak untuk berharap penerimaanNya.  

Lagi pula, di hadits-hadits para makshumin as dikatakan: Kalau kita menghadapi dua masalah atau beberapa masalah yang berbeda-beda yang beredar di kalangan ulama atau muslimin, maka memilih menjauhi yang disukai hati, dan memilih merangkul yang tidak disukai hati/ nafsunya. 

Misalnya: 

 عن الرضا عليه السلام: أن أمير المؤمنين عليه السلام قال لكميل بن زياد فيما قال: يا كميل أخوك دينك فاحتط لدينك بما شئت 

Imam Ridha as berkata bahwa Imam Ali bin Abi Thalib berkata kepada Kumail: “Wahai Kumail, saudaramu itu adalah agamamu, karena itu ambilnya jalan yang paling hati-hati sesukamu, terhadap agamamu.”  

Salah satu dari bagian wasiat imam Musa as kepada Hisyaam:

  ..... وإذا خر بك أمر ان لا تدري أيهما خير وأصوب، فانظر أيهما أقرب إلى هواك فخالفه، فإن كثير الصواب في مخالفة هواك ..... 

“....Dan kalau sampai kepada dua urusan yang tidak kamu ketahui yang mana yang lebih baik dan lebih benar, maka lihatlah mana yang lebih dekat kepada hatimu/sukamu/nafsumu, karena sesungguhnya kebenaran itu banyak terdapat di dalam hal-hal yang bertentangan dengan hatimu/sukamu/nafsumu....”  Wassalam

Mohamad Bagir: Ahsantum ustadz,  

Mohamad Bagir: Bagaimana kalau Syi’ah yang dari Sunni (atau memang Syi’ah dari awal) dan tahu bahwa waktu maghrib/berbuka di Sunni beda dengan di Syi’ah, dan ia sudah bertanya ke beberapa orang yang saya anggap tahu dan adil (tidak melakukan dosa) bahwa menunggunya itu berbeda-beda, ada yang sekian menit dan sekian menit termasuk 45 menit, dari antum, tapi semuanya memiliki kesamaan bahwa waktunya adalah ketika mega merah di timur harus hilang sampai lebih dari lurus di atas kepala kita lalu melakukan perukyatan sendiri sekitar 3 hari akhir sya’ban dan 3 hari awal ramadhan dengan pahaman itu, dan yakin sudah terjadi 35 menit dari adzan magrib, lalu selanjutnya berbuka berdasarkan perukyatan sendiri sampai akhir ramadhan? 

Atau kalau Syi’ah yang dari Sunni (atau memang Syi’ah dari awal) dan tahu bahwa waktu maghrib/ berbuka di Sunni beda dengan di Syi’ah, dan ia sudah bertanya ke beberapa orang yang saya anggap tahu dan adil (tidak melakukan dosa) bahwa menunggunya itu berbeda-beda, ada yang sekian menit dan sekian menit termasuk 45 menit, dari antum, lalu mendownload aplikasi adzan yang konvensi waktu shalatnya berdasarkan aplikasi tersebut berdasar perhitungan syiah ithna asyari (jafari) dan untuk kehati-hatian ditambah 10 menit lagi (tapi totalnya masih kurang dari 45 menit) dan berbuka di waktu itu (aplikasi “Muslim Pro”)?   

Sinar Agama: Mohammad,  

1- Meru’yat sendiri itu memang yang paling selamat. Tapi harus tahu caranya, seperti di bagian barat tidak boleh ada mendung, di tengah tidak boleh ada mendung tebal tapi harus ada mendung tipis atau mendung yang terpencar dan di timur juga harus ada mendung yang terpencar terutamanya harus ada mendung di bagian utara dan selatannya. Jadi yang di sebelah timur, mendungnya harus ada di bagian tengah, utara dan selatan atau kanan dan kiri.  Guna kanan kiri ini, untuk menangkap cahaya matahari yang sudah tidak bisa ditangkap oleh mendung yang di tengah karena sudah ketutup oleh perut bumi yang menonjol. Dan di langit bagian atas tidak boleh bermendung tebal, karena akan menutupi sinar matahari untuk sampai ke timur. Persis seperti di barat yang tidak boleh ada mendung. Karena kalau ada mendungnya maka sinar mataharinya akan terhambat hingga di tengah dan di timur tidak  akan kebagian sinar matahari untuk memunculkan mega merah atau kalaulah juga kebagian, akan teramat lemah hingga kurang bisa dipantau apakah mega merah itu masih ada atau tidak (yakni di tengah dan di timur).  

Akan tetapi, di langit bagian tengah ini, harus ada mendung juga sekalipun tidak boleh tebal. Karena kalau tebal akan menutupi atau melemahkan sinar untuk menembus bagian timur, tapi kalau tidak ada sama sekali, maka kita tidak akan bisa menentukan apakah mega merah itu sudah hilang sampai ke atas kepala kita.  KESAKSIAN ANTUM YANG MERU’YAT SENDIRI INI, AKAN DITULIS SEJARAH, BAHWA SAMA SEKALI MUSTAHIL 15 MENIT SETELAH ADZAN SUNNI ITU SUDAH MASUK MAGHRIB. KARENA ANTUM SENDIRI DAN TEMAN-TEMAN LAINYA SUDAH MERU’YAT SENDIRI DIMANA ADA YANG 45 MENIT DAN SEKARANG ANTUM MENYAKSIKANNYA 35 MENIT. 

Saran: Coba antum ru’yat lagi dengan anjuran di atas itu, semoga pada akhirnya dapat mendapat keyakinan kepada yang benar. 

PESAN SERIUS:  RU’YAT SENDIRI YANG SUDAH BENAR DAN MEYAKINKAN ITU, DI DALAM FIKIH, ADALAH HUJJAH DAN WAJIB DITAATI/DIAMALKAN SEKALIPUN BEDA DENGAN MARJA’NYA SENDIRI, APALAGI HANYA BEDA DENGAN USTADZ ATAU YAYASAN ATAU ORMAS ATAU SEGEROMBOLAN ORANG YANG TIDAK DIKETAHUI ADILNYA. KARENA DALAM OBYEK HUKUM/FATWA, SUDAH TIDAK ADA TAQLID LAGI DAN SEMUA ORANG WAJIB MENGAMALKAN KEYAKINAN DARI PENERAPANNYA SENDIRI. SEPERTI RU’YAT INI ATAU SEPERTI APAKAH BAJU KITA INI TERKENA KENCING DAN NAJIS ATAU TIDAK. JADI, KALAU KITA YAKIN KENA KENCING, MAKA BAJU ITU NAJIS, SEKALIPUN MARJA’NYA MENGATAKAN TIDAK ADA KENCINGNYA. APALAGI KALAU HANYA USTADZ YANG SEKALIPUN ADIL. DAN, APALAGI KALAU HANYA SEKELOMPOK ORANG YANG TIDAK KETAHUAN ADILNYA. 

Jawaban Soalan antum:  

1-  Kalau nanti sebelum mati ketahuan salah karena yang benar 45 menit misalnya, maka hanya wajib mengqadhaa’ saja dan tidak wajib kaffarah. Alasannya antum sudah meru’yat sendiri DENGAN CARA YANG BENAR. Jadi yang meringakan antum ini adalah ru’yat dengan benar itu, bukan ustadz-ustadz yang adil itu. Karena semua kesaksian ustadz-ustadz itu sudah gugur dengan peru’yatan antum yang ternyata melebihi kesaksian para ustadz itu sendiri. Tentu saja, kalau keyakinan antum terhadap keadilan ustadz yang antum yakini keadilannya itu, sudah benar. Yaitu yakin dengan akal dan bukan dengan perasaan. Yaitu yakinnya sudah sesuai fikih. Yaitu tidak melihatnya bermaksiat sama sekali. Bukan karena karena jarang sekali kumpul hingga tidak melihat dan, apalagi berjauhan hingga memang tidak pernah tahu kesehariannya pada diri, keluarga dan teman-temannya hingga dapat dilihat apakah ia adil atau tidak, yakni sudah tidak melakukan dosa atau masih melakukan dosa. Dan, sudah tentu, antum sendiri harus tahu semua fikih hingga tahu apakah orang/ustadz itu melanggar fikih hingga dosa atau tidak. Tapi kalau antum tidak tahu fikih keseharian dan, apalagi ditambah dengan jarang gaul dengannya atau apalagi tidak pernah pernah memperhatikannya karena beda kota atau pulau, maka keyakinan antum terhadap keadilan seseorang, jelas tidak bisa dianggap sudah memenuhi syarat.  

2-  Kalau yang dipertanyaan ke dua antum di kolom terbaru antum itu, maka jawabannya adalah kalau ternyata sebelum mati nanti tahu bahwa yang benar itu adalah yang 45 menit, maka:  

-  Kalau yang kesaksian 45 menit itu diyakini sebagai adil dan alim serta sudah melihat dalildalilnya dengan benar dan apalagi kalau sudah melihat di lapangan dengan benar, maka kalau downloadan itu kurang dari padanya, maka selain qadhaa’, juga harus kaffarah.  

-  Begitu pula kalau diyakini sebagai adil walau dengan pantauan kalimat-kalimat di internet dan hujjah-hujjahnya yang kuat dan gamblang, maka sekalipun tidak mengeceknya sendiri di lapangan, sangat mungkin juga, selain qadhaa’, juga harus kaffarah.  

-  Tapi kalau tidak tahu keadilannya dan juga tidak yakin dengan jalan apapun, tapi mengecek ke lapangan dan benar, maka selain qadhaa’, juga wajib kaffarah. Artinya, kalau masih saja mengamalkan hasil hitungan downloadnya itu.  

-  Tapi kalau tidak tahu keadilannya dan juga tidak yakin dengan jalan apapun, dan tidak pula mampu mengecek di lapangan karena tidak tahu caranya atau pas kebetulan lagi mendung-mendung terus, maka kewajibannya hanya qadhaa’ saja bagi yang telah lalu itu.  

Catatan: Hukum-hukum  ini, berlaku untuk yang tahu kesalahannya sebelum mati dan penyebab salahnya adalah seperti yang antum tanyakan di pertanyaan ke 2 di kolom terbaru antum itu.  Tapi kalau tidak tahu sampai mati, maka kalau sudah bersandar kepada info adil yang keyakinannya itu sudah diterima fikih seperti yang sudah dijelaskan di atas itu, atau sudah bersandar pada 
peru’yatannya sendiri yang sudah disandarkan kepada teori yang benar, maka In'syaa Allah akan dimaafkan oleh Allah dan bahkan sudah  dipahalai karena sudah  mengamalkan sesuai dengan hujjah lahiriah yang diberikanNya melalui agamaNya (fikih). Yaitu melalui adil atau peru’yatan yang benar itu.  Tapi kalau tidak demikian, yakni tidak dari adil atau keyakinan adilnya tidak benar atau tidak sesuai fikih, dan/atau tidak meru’yatnya sendiri dengan benar (misalnya meru’yat di kala mendung dimana dengan mudah akal mengerti bahwa mendung itu akan mencegah sinar matahari untuk membuat mega merah), maka di akhirat akan sulit. Syukur-syukur kalau mendapat ampunan, apalagi mau dapat pahala.  Wassalam.

Sattya Rizky Ramadhan: Selamat berbuka puasa Ustadz...45 menit dari adzan Sunni telah berlalu..mohon doa untuk kami semua.. 

Adie de Track Ana: iseng-iseng ru’yat dari tadi. Mega merah di barat hilang sekitar 15 menit setelah azan Sunni..Sedang mega merah di timur hilang 40 menit setelah adzan Sunni dan muncul bintang..dan 30 menit lagi akan di lantunkan adzan isya di sini. Lokasi Kota Medan. 

Khäñzæ Himmatul Aliyah Rö: Kenapa tidak skalian nanti sahur baru buka puasanya kan lebih gelap lagi tuh,,ya Allah tunjukanlah kami jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang engkau beri nikmat bukan jalannya nasrani, yahudi, apalagi syiah..allahumustaan

Sinar Agama: Khanzae: Mengapa merubah doa yang sudah dibuat Tuhan sendiri? Mestinya, doanya diteruskan, yaitu: “Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus (shirathalmustaqim), yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan orang-orang Engkau murkai dan bukan jalan orang-orang yang tidak makshum (wa laa al-dhaalliin).” 

Nah, apakah jalan kita sudah merujuk kepada jalannya orang-orang yang tidak salah sama sekali, alias makshum? Al-Dhaaliin ini jama’ dari dhaal yang berarti salah atau tersesat. Nah, karena ia merupakan jamak, maka yang dimaksudkan adalah semua kesesatan, baik kecil atau besar, baik sengaja atau tidak, baik sebagian atau keseluruhan, baik fikih atau akidah, baik satu ayat atau lebih, baik satu hadits atau lebih....dan seterusnya. Apalagi ditambahi alif laam oleh Allah di ayat tersebut dimana menambah lagi tekanan pada keseluruhan macam jenis kesesatan itu. Karena itu, kita mesti meminta jalan lurus yang dibawa para makshum sampai akhir jaman dan kiamat kelak. 

Nah, pertanyaannya, siapa pembawa jalan makshummu yang engkau minta kepada Allah tiap hari dalam shalat ketika meminta jalan lurus ini? Lagi pula, yang dikatakan jalan lurus itu yang sudah tidak ada salahnya sama sekali. Mana ada jalan lurus dikatakan pada jalan yang hanya benar atau kemungkinan benar sebagian, tapi sebagian lainnya ada kesalahan. Nah, kalau jalan lurus itu adalah jalan Islam yang tidak salah sama sekali, pertanyaannya adalah, apakah kamu sudah mengetahui semua Islam seratus persen dan apakah kamu sudah mendapat wahyu dari Allah bahwa yang kamu pahami seratus persen itu sudah benar pula seratus persen? Dan kalau sudah seperti itu (dimana hal ini pasti mustahil), maka apakah kamu sudah mengamalkannya seratus persen pula? Tidak ada yang makshum selain yang disaksikan Allah sendiri. Atau setidaknya, tidak ada yang bisa seratus persen diyakini makshum selain yang disaksikan Allah sendiri. Karena itulah, maka kita wajib mengikuti para makshum yang sudah disaksikan Tuhan itu seperti yang sudah diterangkan dalam QS: 33:33 dimana Tuhan berfirman:

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Sesungguhnya Allah HANYA ingin menepis dari kalian wahai Ahlulbait SEMUA KEKOTORAN/KEKEJIAN/ DOSA dan MEMBERSIHKAN kalian SEBERSIH BERSIHNYA.”  

Saya sudah sering menerangkan bahwa ‘Aisyah sendiri di riwayat Shahih Muslim, 2/368, bersaksi bahwa ayat itu turun untuk Ahlulbait yang  khusus, yaitu hfh Faathimah as, imam Ali as, imam Hasan as dan imam Husain as. Nabi saww sendiri di riwayat Shahih Bukhari dan Muslim dan lain-lainnya, mengatakan bahwa  imam-imam setelah beliau saww itu ada 12 orang dan semuanya dari Quraisy. Sementara imam ini harus makshum, karena Tuhan melarang taat pada yang tidak makshum atau yang masih memiliki dosa, seperti di QS: 76:24:

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعْ مِنْهُمْ آثِمًا أَوْ كَفُورًا

Maka sabarlah dengan hukum Tuhanmu, dan jangan taati orang-orang yang memiliki dosa dan orang-orang yang kafir.”

Kesimpulan: Doa meminta jalan lurus itu, bukan jalan Islam saja. Tapi Islam hakiki yang tidak mengenal kesalahan sedikitpun (wa laa al-dhaalliin) dalam ilmu dan amalnya. Yaitu yang ilmu Islamnya lengkap seratus persen, dan semua ilmunya benar seratus persen serta diamalkan seratus persen. 

Ini baru jalan lurus yang dimaksudkan Tuhan dalam surat al-fatihah itu yang mana Tuhan sendiri mensifatinya dengan tiga sifat, yaitu jalan yang telah diberikan kepada orang-orang yang telah diberi nikmat (seperti yang diterangkanNya dalam QS: 24:32, yaitu para nabi, para shaadiqiin, para syuhadaa’ dan shaalihinn) dan sifat ke dua adalah bukan jalan orang yang dimurka (di sini tidak makshum masih bisa ikut, karena yang salah dengan  tidak sengaja, tidak dimurka Tuhan) dan sifat ke tiga yaitu bukan jalan orang-orang yang tidak bersih dari kesalahan/kesesatan (disinilah maka selain makshum tidak bisa ikutan dalam jalan lurus yang dipinta tersebut). 

Begitu pula, meminta dijauhkan dari jalan yang sesat itu bukan nashrani, yahudi dan majusi saja. Karena jalan sesat itu bukan hanya agama selain Islam. Tapi Islam juga bisa sesat. Yaitu yang ilmunya masih belum lengkap atau ilmunya masih salah. Termasuk amal-amalnya juga. Yakni kalau masih maksiat, atau ikut ilmunya yang tidak lengkap dan tidak benar seratus persen itu. Jadi, tidak semudah yang kamu kira, bahwa jalan lurus itu adalah jalan Islam dan jalan sesat itu yahudi, nashrani dan majusi, dan lain-lain-nya dari agama-agama selain Islam. Terlebih lagi, tidak semudah yang kamu kira bahwa  yang beda sama kamu itu yahudi dan majusi sementara yang kamu pahami dan ikuti, adalah Islam. Lah, kok enak. Padahal dari awal sudah tidak meyakini kemakshuman dirinya sendiri dan yang diikuti, tapi ketika memfonis orang lain, berlagak seperti makshum. 

Kalau dari awal sudah mengingkari makshum, maka semestinya kamu katakan: “Yang aku pahami sebagai tidak makshum, waktu berbuka itu ketika matahari sudah terbenam, bukan hilangnya mega merah di sebelah timur seperti yang kamu katakan, dimana barangkali saya yang salah dan kamu yang benar.” Nah, mestinya berkata seperti ini. Bukan berkata: “Kenapa tidak skalian nanti sahur baru buka puasanya kan lebih gelap lagi tuh,,ya Allah tunjukanlah kami jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang engkau beri nikmat bukan jalannya nasrani, yahudi, apalagi syiah..allahumustaan” 

Nah, kalau nanti kalau kamu sudah benar menyusun iman dan perasaan serta keyakinanmu terhadap kebelumtentuan benarnya kamu ini, maka baru kita diskusi tentang berbuka ini. Misalnya apa-apa saja alasanmu dan apa-apa saja alasanku.

Ahsanul Haqq: Kalau ajaran cuma sejarah, bisa dibuat baik dan buruk tergantung yang mengarangnya, sudah jelas sejelas-jelasnya bahwa Allah ingin membersihkan ahlul bait dengan sesuci sucinya ? Siapa ahlul bait yang benar menurut al Qur'an? Yang benar adalah Rasul dan istri-istrinya ini tidak bisa terbantahkan lagi hanya orang bodoh yang tertipu ? Dan kalau orang yang merasa pintar tapi memutar balik kan isi alqur’an tunggulah azab Allah yang pedih. Kalau Imam Ali, Sy. Fatima, Hasan dan Husain itu kita tahu beliau ahli surga dan keturunan Ahlul bait, kenapa istri Rasul tidak kalian masukkan ke ahlul bait ??? Semoga bisa direnungkan wassalam. 

Ijinkan Ku Sendiri:  Allahumma Shalli ‘alaa Muhammad wa Aali Muhammad.

Sinar Agama: Ahsanul: He he...kok enak banget antum ini menafsir Qur'an kepada yang jelas-jelas salah. Istri-istri Nabi saww banyak yang tadinya kafir. Kok bisa tersucikan atau makshum? Begitu pula Allah dalam QS: 66:3-5, telah menyebut dua istri Nabi saww yang khianat kepada beliau saww dan diancam akan diceraikan dan diperangi kalau tidak taubat. 

Nah, ketika Tuhan mengatakan (إِنْ تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ), “Kalau kalian berdua taubat”, maksudnya taubat dari dosa khianat kepada Nabi saww, yaitu yang membocorkan rahasia beliau saww yang telah beliau saww amanatkan. 

Nah, dengan semua itu, kok bisa antum masih mau mengatakan bahwa Ahlulbait itu adalah istri-istri Nabi saww? Sementara Nabi saww sendiri mengatakan bahwa yang dimaksud Ahlulbait yang makshum ini adalah yang hdh Faathimah as, imam Ali as, imam Hasan as dan imam Husain as. Merekamereka ini tidak pernah kafir dan tidak pernah melakukan dosa sesuai dengan kesaksian Allah dan NabiNya saww ini.  

Emangnya antum lebih tahu dari Nabi saww dan istri-istri beliau saww sendiri, seperti ‘Aisyah yang menyaksikan di shahih Muslim bahwa Ahlulbait itu bukan istri-istri beliau saww, atau seperti kesaksian Ummu Salamah, istri Nabi saww yang lain yang mengatakan bahwa saking inginnya beliau masuk ke dalam golongan Ahlulbait yang disucikan ini, sampai-sampai beliau meminta ijin kepada Nabi saww untuk masuk ke dalam Ahlulbait ini akan tetapi Nabi saww menolaknya walaupun sembari bersabda (kurang lebih): “Tapi kamu termasuk orang baik.” (lihat Turmudzi, hadit ke: 3258 dan 3963; Syawaahidu al-Tanziil al-Haskani al-Hanafi, hadits ke: 659, 706, 707, 708, 709, dan 28 riwayat yang lainnya; Tafsiir Ibnu Katsiir, 3/484-485; Usdu al-Ghaabah Ibnu Atsiir, 2/12; Tafsir Thabari, 22/7-8; Dzakhaairu al-’Uqbaa Thabari, 21-22; dan lain-lain-nya). 

Yang meriwayatkan bahwa ayat tersebut untuk yang sudah disebutkan di atas itu dan bukan untuk istri-istri Nabi saww, banyak sekali dan tidak terhitung, seperti Shahih Muslim, 2/368; Shahih Turmudzii, 5/30; Musnad Ahmad bin Hanbal, 1/330; Mustadrak Haakim, 3/133, 146, 147, 158; alMu’jamu al-Shaghiir Thabraanii, 1/65 dan 135; Syawaahidu al-Tanziil Hakim al-Haskaani, 2/11-92 yang membawa sekitar 64 hadits; ...dan seambrek lagi dari kitab-kitab hadits Sunni, begitu pula kitab-kitab tafsir dan sejarah. Dulu saya pernah mencoba menghitung hadits-hadits ini di riwayat-riwayat Sunni, ada sekitar 250 hadits lebih. 

Kalau kamu ingin menghitungnya dan mengerti bahasa arab silahkan kunukil di sini:











Penutup: Nah, sekarang, saya ingin antum berenung supaya tidak gampang-gampang menafsirkan ayat-ayat Tuhan, terlebih Nabi saww sendiri sudah menafsirkannya atau bahkan telah mengutarakan makna dan maksud ayatnya. Jadi, jangan seenaknya mengatakan bahwa Islam kita hanya sejarah. Tapi Qur'an dan Hadits. Lah, Islam antum terus Islam apa, wong menafsir Qur'an saja dengan yang berlawanan dengan Qur'an itu sendiri. Seperti menafsir Ahlulbait yang dimakshumkan Allah, dengan istri-istri  Nabi saww yang di ayat lain dikecam Allah dan dinyatakan telah melakukan dosa dan pengkhianatan terhadap Nabi saww sendiri. Padahal Allah sudah mengancam akan mengadzab dua kali lipat kalau istri Nabi saww itu melakukan fakhsyaa’, seperti dalam QS: 33:30:

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ مَنْ يَأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا

“Wahai istri-istri Nabi, siapa yang berbuat fahsyaa’ yang nyata diantara kalian, maka adzabnya akan didobelkan, dan yang demikian itu mudah bagi Allah.” Wassalam.

Adie de Track : Kami beriman kepada Allah dan Kitabullah..serta Rasulullah Muhammad dan Ahlul bait beliau. Allahumma Sholli alaa Muhammad wa ali muhammad wa ajil farajahum. 

Ahsanul Haqq: Astaghfirullah hal azim ada Istri rasul yang dibilang hianat tafsiran darimana? Sudah jelas di al Qur'an , bahwa Istri-istri  rasul adalah Ummul Mukminin ? Kalau yang tidak mempercayainya jelas bukan orang mukmin ? Kalau ada istri nabi salah, itu adalah kesalahan seperti manusia biasa, ada rasa cemburu ada rasa gundah karena beliau adalah manusia biasa, tentu ada kesalahan tapi sudah diampuni, hal ini tidak seperti fahamnya syiah yang mengkafirkan Istri Nabi siti Aisah , Hafsah dan kedua orang tuanya , coba dilihat di kitab Syiah alkafi, dari kitab attoharoh Khomeini tidak ada yang memuliakan istri Nabi tersebut kecuali melaknat, inilah perbedaan prinsip Sunni dan Syiah yang tidak bisa disatukan kecuali tidak ada penistaan terhadap Ummul Mukminin. Wassalam. 

Sasando Zet A: nah,, itu sudah dijawab sendiri oleh ahsanul, bahwa istri nabi juga HANYA MANUSIA BIASA,,, jadi sudah jelas istri nabi bukan termasuk ahlul bait yang makshum itu,, makanya masih berbuat kesalahan... mau diputar baik kayak apapun toh terjawab sendiri... Istri Nabi itu ummul mukminin yang kita hormati,, tapi menghormati bukan berarti suci dan lepas dari dosa/makshum...karena Allah sendiri yang menegur istri-istri nabi yang berbuat salah/dosa itu,, yang anda katakan Hanya manusia biasa tak luput dari kesalahan/dosa...kalau pemahaman nya membabi buta yang gak sejalan dengan yang sebenarnya yang dimaksud dengan ayat diatas,, apalagi ustadz sudah jelaskan dukungan hadits justru yang ada dalam kitab Bukhari.. dibaca secara seksama dulu, dipahami dihayati, barulah membuka argumen balasannya.. maka ilmu itu akan sampai kepada pemahamannya.. bukan sekedar bantahan karena membela gol...Dan lagi istri nabi itu kan wanita,, sedangkan pemimpin itu dari lelaki.. penerus Risalah karena nabi itu dari lelaki...dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad.. Afwan melancangi ustadz SA. 

Amrillah Rizki : Afwan ustadz sinar pertanyaan ana belum dijawab. Apakah azan maghrib syiah di yayasan-yayasan syiah hampir sama dengan waktu suni terus sholat maghrib jamaahnya diterima atau batal sholat nya karena belum waktunya maghrib ?? Dan kapan waktu sholat subuh bagi orang syiah sama dengan sunni ? Sekali lagi afwan mohon pencerahannya ustadz.....
Sinar Agama: Amrillah: Siapapun yang shalat di luar waktunya, maka ia batal dan wajib diulang di dalam waktunya dan kalau sudah lewat, maka wajib di qadhaa’. Tentang sadar dan tidak-nya akan hal itu, maka sudah dirinci sebelumnya. Untuk shalat shubuh, tidak ada beda sedikitpun antara Syi’ah dan Sunni.

Sinar Agama : Ahsanul:  -  Mbok ya...baca Qur'an yang kita banggakan itu dan jangan dijadikan kebanggaan kosong. Sudah saya berikan alamat ayatnya kok tidak dibaca dan dikatakan bahwa itu tafsiran. Ra’syih antum ini. Lihat semua Qur'an yang ada di rumah antum itu, tentu kalau antum punya Qur'an. Dan lihat terjemahannya. 

Ayat itu tidak perlu tafsiran. Karena sudah dikatakan bahwa kedua istri Nabi saww itu telah mengkhianati amanat beliau saww dan diancam kalau tidak taubat. 

-  Tentang dikatakan sebagai ibu mukminin itu harus diketahui maksudnya. Maksudnya adalah bahwa janda Nabi saww itu, tidak boleh dikawini siapapun selamanya, walau sudah ditalaq atau ditinggal wafat beliau saww. Bukan lebih afdhal dari mukminin karena tidak ada dalil apapun bahwa seorang ibu itu lebih taqwa dari anak-anaknya. 

-  Seperti yang dikatakan Sasando, bahwa kamu sendiri sudah meyakini keberdosaan istri-istri  Nabi saww itu. Nah, ini sudah cukup bahwa istri-istri Nabi saww itu tidak maskum. Karena makshum itu tidak berdosa, bukan berdosa dan kembali bersih setelah diampuni. Karena itulah Tuhan memakai bahasa khusus dalam QS: 33:33 itu, yaitu:

 إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Nah, (لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ)  diambil dari (Adzhaba ‘An) yang memiliki artian “menjauhkan” atau “menepis”. Artinya menjauhkan dosa dari Ahlulbait, bukan membersihkan dosa yang sudah menempel. 

Jadi, di samping pahaman antum tentang makshum itu jauh sekali dari kebenaran, karena semua orang walau tidak sekolah juga mengerti bahwa makshum itu tidak melakukan dosa akan tetapi antum menerjemahkan sebagai orang yang diampuni dosanya, juga bertentangan dengan ayat tentang penghindaran dosa dari Ahlulbait di ayat ini.
Khommar Rudin: Allohumma shalli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad..Allohumma shalli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad..Allohumma shalli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad.. wa ajjilfarajjahum.