Minggu, 19 Januari 2020

Hukum Perbudakan dalam Islam


Oleh : Ustad Sinar Agama http://www.facebook.com/groups/210570692321068?view=doc&id=220483044663166 Oleh Anggelia Sulqani Zahra pada 19 Juli 2011 pukul 12:50


Purbo Kuncoro: Salam wa rahmah, ustadz ijin tanya.

1. Bagaimanakah hukum budak dan perbudakan dalam islam?
2. Seperti apakah penjelasan tentang hukum nasikh dan mansukh dalam ajaran ahlul bait? Syukron.


Sinar Agama: Sakam dan terimakasih pertanyaannya:

(1). Perbudakan dalam Islam tidak digalakkan akan tetapi dibolehkan. Biasanya yang akan dijadikan budak adalah tawanan-tawaran perang dari orang-orang yang memerangi Islam. Jadi, sepintas pembolehannya hanyalah untuk pembebasan budak yang telah lalu dengan ajaran Islam seperti penebusan kaffarah sehari meninggalkan puasa Ramadhan, dan lain- lainnya, serta untuk mencegah penyerangan kepada Islam dan penghinaan bagi yang telah memerangi agama Tuhan tersebut. Artinya, mereka sendiri yang telah menghinakan diri mereka menjadi tidaksederajat dengan manusia merdeka. Yaitu dengan memerangi agama yang hak.

(2). Hukum nasakh dan mansukh itu seperti halalnya bir di awal-awal Islam. Karena pada awalnya minuman keras itu halal. Dan ketika orang-orang bertanya kepada Nabi saww-pun Allah menurunkan ayat yang tidak mengharamkan. Misalnya Tuhan mengatakan: “ia -minuman keras itu- memiliki manfaat, akan tetapi mudharatnya lebih besar.” Kalau tidak salah beberapa kali umat menanyakan kepada Nabi saww Allah -kalau tidak salah- menurunkan dua ayat yang tidak mengharamkannya. Akan tetapi setelah pertanyaan ke tiga -kalau tidak salah ingat- akhirnya Allah menurunkan ayat pengharamannya dengan mengatakan: “minuman keras itu adalah kotor dan dari salah satu perbuatan syaithan.”

Chi Sakuradandelion, Agoest Irawan, Khommar Rudin dan 7 lainnya menyukai ini.

Khommar Rudin: Allah humma shalli alla Muhammad wa alli Muhammad.

29 Juli 2012 pukul 18:54 · Suka




اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Hukum Menggambar Mahluk Hidup


Oleh : Ustad Sinar Agama http://www.facebook.com/groups/210570692321068?view=doc&id=220481214663349 Oleh Anggelia Sulqani Zahra pada 19 Juli 2011 pukul 12:44


Denok Saja: Assalamu’alaikum Ustadz. Mau nanya’ kalau boleh,

Ustadz,.. saya masih awam dalam bidang agama,.. terutama Ahlul Ba’it,.. Yang mau saya tanyakan,.. dulu sekali kita tidak boleh menggambar makhluk hidup, karena hal itu menyerupai makhluk ciptaan Allah,.. tapi kebanyakan di media FB ini terdapat banyak gambar/lukisan dari beberapa orang suci seperti (kalo saya tidak salah),.. Sayidina Ali, Imam Hasan & Husein, dan lain-lain,.. dan apakah itu gambar benar-benar melukiskan wajah mereka yang sebenar-benarnya?.. Saya tau mungkin terdapat perbedaan mendasar... Maaf dan terimakasih.


Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaannya:

(1). Menggambar makhluk hidup dalam syi’ah tidak haram, dan yang haram hanyalah mematung atau membuat patung makhluk hidup (binatang dan manusia).

(2). Sedang gambar Nabi saww yang diambil dari lukisan Buhaira yang tersimpan di gereja Romawi, atau gambar-gambar imam-imam maksum as, juga memiliki hukum yang sama dengan menggambar selain mereka. Yakni tidak haram.

(3). Lukisan-lukisan manusia-manusia suci itu akan menjadi haram, kalau dipastikan bahwa gambar tersebut adalah gambar mereka. Tetapi kalau hanya sebagai tabarruk, artinya hanya sebagai pengingat kepada mereka, dan tidak meyakini bahwa wajah mereka memang seperti itu, maka lukisan tersebut tidak haram, begitu juga memakainya dan menjualnya.

Denok Saja : Maaf menyela. Apakah gambar manusia-manusia suci yang ada di gereja Roma tersebut adalah gambar asli mereka,.. ataukah juga perwakilan saja,.. ?? Maaf & terimakasih.

Sinar Agama: Denok: Gambar yang ada di gereja Romawi yang konon dibuat oleh Buhaira yang pernah ketemu Nabi saww di waktu masih muda itu, hanyalah satu lukisan saja, yaitu lukisan Nabi saww. Nah, menurut riwayat gambar itu dilukis Buhaira, karena itu walau pada dasarnya adalah perwakilan (seperti tulisan nama-namanya), akan tetapi sangat diharapkan kemiripannya. Yang jelas tidak boleh dipastikan.

Chi Sakuradandelion dan 6 orang lainnya menyukai ini.

Komarudin Tamyis: Jazakallah kher. Syukron.

Khommar Rudin: Allah humma shalli alla Muhammad wa alli Muhammad. 

29 Juli 2012 pukul 18:52 · Suka



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Jumat, 17 Januari 2020

Hukum Jual – Beli Produk Zionist


Oleh : Ustad Sinar Agama http://www.facebook.com/groups/210570692321068?view=doc&id=220479717996832 Oleh Anggelia Sulqani Zahra pada 19 Juli 2011 pukul 12:39


Al Louna: Salam ustadz, semoga kebaikan selalu melimpahi ustadz...Insya Allah...

Ustadz louna pernah baca kalau kita diharamakaan membeli atau lebih tepatnya memanfaatkan semua produk dari USA dan ISRAEL, bagaimana dengan PC, bukankah penemu PC menurut sejarah itu berkebangsaan USA??? Lalu bagaimana nasib orang muslim USA, adakah ia juga tidak wajib kita akui??.


Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaannya:

(1). Sebenarnya hukum aslinya itu seperti ini: “Diharamakaan jual beli dengan orang-orang/ negara-negara yang memerangi Islam dengan terang terangan dan membatu Israil.”

(2). Karena Amerika itu adalah negara yang jelas-jelas memerangi Islam dengan terang-terangan, maka jual beli dengannya adalah haram.

(3). Lalu siapa yang dimaksud dengan Amerika disini? Jelas, pemerintah Amerika. Jadi, kalau produksi swasta, maka tidak termasuk yang diharamakaan.

(4). Tetapi untuk orang-orang Israil, maka jual beli dengan semua masyarakatnya juga haram sekalipun swasta. Karena setiap orang zionist yang tinggal disana adalah yang memerangi Islam dengan terang-terangan, yakni menjajah muslim Palestina.


Panda Malik Al Asytar: Ustadz, maaf kalau kasusnya saya jual ke pihak ke tiga, yang ternyata me routing penjualan ke Israel.. (sebelumnya saya tidak tahu bahwa produk saya akan dijual ke Israel)... bagaimana hukumnya? Makasih ustadz.


Sinar Agama: Benar tidak apa-apa, sebelum kita yakin bahwa dia membantu peperangan Amerika dengan Islam, atau sebelum kita yakin bahwa ia membantu Israil. Yang sementara beredar dan yang saya pahami itu adalah haram membeli barang-barang mereka. Tetapi kalau menjualnya, maka saya akan menanyakan lagi ke kantor Rahbar in'syaa Allah.

Tetapi memang hati-hatinya dihindari, sebab fatwanya itu ana sudah lupa leterleknya, kalau berupa “haram mu’amalah” atau “haram jual beli”, maka kedua-duanya haram. Tetapi kalau “haram syira’nya” atau “haram membeli”, maka yang haram hanya membelinya.

Chi Sakuradandelion, Agoest Irawan dan 3 orang lainnya menyukai ini.




اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Logika (bagian 7) Hubungan Sebab – Akibat dan Argumentasi Gerak


Oleh Ustad Sinar Agama http://www.facebook.com/groups/210570692321068?view=doc&id=220478367996967 Oleh Anggelia Sulqani Zahra pada 19 Juli 2011 pukul 12:35


Al Louna: Salam ustadz afwan, satu pertanyaan lagi... Tolong jelaskan:

1. Mengenai hubungan Sebab dan Akibat?
2. Tentang argumentasi Gerak?

Syukran ustadz, semoga amalan ilmu ustadz bisa membawa ustadz ke sebuah akhir yang di mimpikan,,, insya Allah....


Sinar Agama : Salam dan terimakasih pertanyaannya:

(1). Hubungan sebab dan akibat, adalah keterikatannya. Artinya, keterikan akibat pada sebabnya. Kalau ingin lebih dalam, hubungan keduanya adalah hubungan menifestasi sebab kepada akibat. Artinya, kalau dalam penjelasan pertama masih melihat adanya dua hal, yaitu sebab dan akibat. Akan tetapi di pandangan ke dua ini hanya melihat satu hal saja yaitu sebab. Karena pada kenyataannya, memang hanya satu keberadaan sebab saja dan tidak ada akibat itu. Artinya, akibat tersebut tidak lain hanyalah pewujudan sebab pada tingkatan yang lebih rendah (akibat).

Kalau kita lihat telur ayam dan anak ayam yang menetas darinya, maka kita bisa melihat dengan pandangan pertama itu dua hal, telur dan pitik dimana telurnya adalah sebab dari keberadaan pitiknya.

Akan tetapi kalau kita lihat lebih jeli lagi, maka sebenarnya yang ada itu hanyalah telurnya saja. Yaitu pada peringkat sebab ia adalah telur, tetapi pada peringkat akibat ia (telur itu) menjadi pitik.

(2). Argument gerak itu untuk membuktikan adanya Tuhan.

Dalam setiap gerak, terdapat 6 unsur: Yang bergerak; Gerak; Titik mula gerak (titik mungkin); Titik akhir gerak (tujuan/de fakto); Volume gerak (jarak gerak, misalnya dari jambu hijau ke kuning); dan Penggerak.

  • (2-a).Argumentnya seperti ini: Setiap yang bergerak perlu kepada penggerak. Penggerak ini, kalau masih bergerak juga, maka iapun perlu kepada penggerak yang lainnya. Begitu seterusnya sampai kepada yang tidak bergerak. Dan yang tidak bergerak itulah yang dikatakan Tuhan.
  • (2-b).Mengapa setiap yang bergerak itu perlu kepada penggerak? Karena makna gerak adalah: “Keluarnya sesuatu dari titik mungkinnya menuju kepada titik de faktonya secara jamani -dalam jaman.”

Nah, ketika ia -yang bergerak- misalnya masih berupa mani dan ovum, maka ia jelas masih ada di titik mungkin, yakni mungkin untukmenjadi manusia. Ketika ia keluar dari titik mungkinnya itulah, yakni ketika keduanya sudah bertemu dan berproses menuju manusia itulah yang dikatakan gerak atau proses.

Ketika dikatakan bahwa sesuatu itu bergerak dari titik mungkinnya, maka berarti ia tidak memiliki titik de faktonya. Dan karena ia tidak punya, maka ia tidak mungkin bisa memberikan kepada dirinya sendiri de fakto tersebut. Karena sudah dibuktikan kebanaran pernyataan bahwa “Yang tak punya tak mungkin memberi.”

  • (2-c).Ketika yang bergerak itu keluar dari titik mungkinnya menuju titik de faktonya dengan papa -tak punya kesempurnaan de faktonya- makasudah pasti ia digerakkan oleh yang lainnya. Karena jangankan de faktonya, prosesnya saja ia tidak memilikinya sebelum ia keluar dari titik papanya itu. Artinya sejak keluarnya dari titik nol tersebut ia sudah dikeluarkan oleh yang lainnya. Yakni digerakkan oleh yang lainnya karena yang tak punya tak mungkin memberi.

Karena itulah maka setiap yang memiliki gerak, maka pasti ia digerakkan oleh yang lainnya. Yang lainnya inilah yang dikatakan sebagai Penggerak.

  • (2-d).Kalau penggerak itu sendiri masih bergerak, maka iapun memiliki penggerak dengan dalil yang sama.

Begitulah seterusnya sampai pada yang tidak bergerak. Artinya ia hanya memberikan gerak tanpa ia bergerak dan digerakkan.

  • (2-e).Penggerak yang tidak bergerak itulah yang dikatakan Tuhan. Karena ia telah memiliki semua kesempurnaan. Karena itu tidak perlu lagi mengejar kesempurnaan apapun dengan proses atau dengan gerak. Dialah Tuhan itu.

Wassalam.


Chi Sakuradandelion, Agoest Irawan, Khommar Rudin dan 4 lainnya menyukai ini.


Khommar Rudin: Allah humma shalli alla Muhammad wa alli Muhammad. 

27 Juli 2012 pukul 15:07 · Suka



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Penjelasan Hadits Tentang “setiap yang mukmin adalah arab dan juga quraisy.”


Oleh Ustad Sinar Agama http://www.facebook.com/groups/210570692321068?view=doc&id=220476951330442 Oleh Anggelia Sulqani Zahra pada 19 Juli 2011 pukul 12:30


Dharma Narendra T P: Salaam !

Ustad. Ana pernah mendengar salah seorang ustad pernah mensitir hadits tapi tidak memerinci awal sumber hadits tersebut. Dalam ta’lim, kalimatnya : “ kullu mu’min ‘arabiyyun, kullu mu’min quraisyiyyun ... dan seterusnya.

Pertanyaan ana: apakah maksud dari hadits tersebut ustad, sehingga dikatakan setiap yang mukmin adalah arab dan juga quraisy .... afwan jika ini merepotkan ustad.... syukron ustad. Salaam !


Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaannya:

(1). Saya sudah mencari hadits tersebut tetapi belum dapat, semoga suatu saat bisa mendapat- kannya kalau memang ada.

(2). Dan kalau ada maka mungkin maknanya seiring dengan dengan hadits yang berbunyi -dari Rasulullah saww: “Aku dan Ali adalah ayah dari umat ini.”

Artinya, bahwa setiap orang beriman adalah anak dari mereka berdua. Karena mereka berdua adalah Qurausy, maka berarti orang-orang mukmin adalah Quraisyiyyun.

(3). Tentu saja, yang dimaksud Quraisy atau sayyid disini adalah dari pewujudan ruh manusia pada tahap kelahiran ke duannya. Karena yang pertama adalah ikut ayahnya, apakah Quraisy/sayyid atau tidak. Tetapi dalam kelahiran ke duannya, maka ikut nasabnya Nabi saww dan imam Ali as. Jadi, ruh seorang mukmin adalah Quraisy.

(4). Dalam pelajaran irfan atau akhlak, dalam menerangkan tajassudnya amal, yakni berwujudnya atau berbentuknya sebuah amal, adalah pewujudan amal tersebut pada ruh kita. Seperti makan api ketika kita makan harta anak yatim tanpa ijin, atau makan daging bangkai manusia ketika kita mengghibah orang mukmin, atau menjadi kera (jadilah kalian kera-kera yang hina) -dimana semuanya itu ada dalam Qur'an.

(5). Bentukan yang terjadi pada ruh itu, adalah barzakhi. Artinya wujud non materi yang masih memiliki sifat materi selain beban/matter-nya.

(6). Orang mukmin, walaupun badan matternya, atau badan materinya itu dari bukan Quraisy, akan tetapi badan ruhnya adalah dari Quraisy, karena ia bentukan yang terjadi pada ruh yang disebabkan keimanannya.

(7). Iman yang merupakan penyebab bentukan ruhnya sebagai Quraisy itu disebabkan, karena setiap orang mukmin sudah pasti pada akhirnya disebabkan oleh ajaran Nabi saww. Nah, ketika badan ke dua yang barzakhi ini diambil dari ajaran Nabi saww maka berarti ia terlahir dari Nabi saww. Karena itu nasabnya kepada Nabi saww. Dan karena Nabi saww adalah Quraisy, maka setiap mukmin juga Quraisy.

(8). Sedang orang yang secara badani materi dari Quraisy, kalau ia tidak beriman, maka keQuraisyan dia hanyalah materinya dimana tidak akan bermanfaat untuk akhiratnya.

Chi Sakuradandelion, Agoest Irawan, Khommar Rudin dan 3 lainnya menyukai ini. 


Khommar Rudin: Allah humam shalli alla muhammad wa alli muhammad waajjilfarajahum 

27 Juli 2012 pukul 15:09 · Suka




اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Penjelasan Surah Al-Ahzab ayat 49


Oleh Ustad Sinar Agama http://www.facebook.com/groups/210570692321068?view=doc&id=220476274663843 Oleh Anggelia Sulqani Zahra pada 19 Juli 2011 pukul 12:28


Wawan Mencari Yang Benar: 49: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan- perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka ‘iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. Maka berilah mereka mut’ah dan lepaskanlah mereka itu dengan cara yang sebaik- baiknya. “surah Al Ahzab 49”.


Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaannya: 

(1). Saya tidak tahu apanya yang tidak jelas bagi antum.

(2). Kalau cerainya, maka di ayat itu sedang menjelaskan hukum penceraian yang terjadi sebelum dikumpuli (dicampuri). Saya pikir dari sisi ini jelas.

(3). Kalau iddahnya, maka jelas bahwa cerai yang terjadi sebelum terjadi pencampuran itu adalah tidak ada. Artinya, tidak perlu iddah cerai yang tiga kali bersih untuk melakukan kawin lagi dengan orang lain.

(4). Kalau yang ditanyakan adalah Mut’ahnya, maka maksudnya disini adalah Pemberian Yang Menyenangkan (hadiah). Dalam pembahasan fikih dibahas apakah pemberian ini wajib atau sunnah.

Ada yang mengatakan wajib kalau dalam kawinnya itu tidak menentukan jumlah maskawin, tetapi tidak wajib kalau sudah ditentukan maskawinnya. Karena yang wajib ketika sudah menentukan maskawin sewaktu nikahnya, adalah memberikan separuh maskawinnya kalau menceraikan istri sebelum dikumpuli.

Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa walaupun sudah menentukan maskawin dan telah ditetapkan wajib memberikan separuh maskawinnya (kalau mencerai istrinya sebelum dikumpuli), akan tetapi memberikan hadiah itu tetap dianjurkan alias disunnahkan.

Wassalam.

Chi Sakuradandelion, Agoest Irawan dan 2 orang lainnya menyukai ini.



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Penjelasan Do’a Arafah Imam Husain as : ”Mendapat apakah orang yang kehilanganMu, dan kehilangan apakah orang yang mendapatkanMu?!”


Oleh Ustad Sinar Agama http://www.facebook.com/groups/210570692321068?view=doc&id=218954708149333 Oleh Anggelia Sulqani Zahra pada 16 Juli 2011 pukul 14:25


Sinar Agama: Bismillahirahmanirrahim

Kalau manusia memang benar-benar ingin mencari selamat dan kesempurnaan, maka sudah tentu ia tidak akan mementingkan hal lain di dunia ini kecuali Allah. Karena itu, semuanya akan serba Allah dalam hidupnya. Cara berfikir, cara hidup, cara senyum, cara cinta, cara benci

.... walahsil cara lahir batinnya dalam seluruh aspek kehidupannya, akan selalu diselaraskan denganNya atau dengan keHendakNya (syariat). Karenaitu, ia akan sesuai semua hidupnya, lahir dan batin, dengan agama Islam, secara profesional dan argumentatif gamblang.

Dan, semua itupun ia akan lakukan sesuai dengan niat yang ikhlash karenaNya.

Jadi, orang seperti ini akan ketat dalam dirinya dan hidupnya. Karena tidak semua Islam akan jadi kebahagiannya. Artinya dia akan selalu melihat apakah Islamnya itu adalah IslamNya? Atau sekedar atas nama. Karena itu, semuanya akan dilihat dengan cermat dan selalu dikoreksi ulang dengan ketat di bawah naunagan argumentasi gamblang.

Nah, ketika orang seperti ini sudah menemukanNya dalam seluruh aspek kehidupannya dengan argumentasi gamblang (bukan hanya dakwaan),artinya secara teori sudah mendapatkanNya dan begitu pula dalam prakteknya, dan, itupun dilakukan dalam keikhlasan yang tinggi, maka ia sudah pasti akan selalu bersamaNya dengan penuh kesadaran dan dalil serta aplikasi.

Nah, orang yang seperti ini maka sudah bisa dikatakan telah mendapatkanNya. Dan, sudah tentu, berarti ia telah mendapatkan segalanya. Karena hidup ini dicipkataknNya hanya supaya manusia bisa mendapatkanNya, artinya mendapat kesempurnaanNya.

Ketika hidup ini hanya untuk mendapatkanNya, maka semua selainnya yang diciptakanNya, sebenarnya hanyalah wasilah dan perantara untuk itu. Semua yang dicipkanNya di dunia ini, seperti kita, akal kita, nafas-nafas kita, potensi kita, keluarga kita, harta kita, pasangan kita, kerja kita ..... dan seterusnya ... hanyalah wasilah dan perantara menujuNya.

Karena itu, orang yang telah mendapatkanNya, maka buat apa lagi ia bersedih dan gelisah dengan kehilangan selainNya? Bukankah selainNya itu dicipta untuk perantaraan mendpatkanNya? Buat apa dia sedih karena miskin setelah ia berusaha dengan profesional dan sesuai dengan syariatNya yang juga dikarenakanNya? Misalnya antum kerja karena Allah (untuk mendapat ridahNya) karena Ia tidak suka kita membebani orang lain, dan benar-benar karenaNya semata (bukan karena suka dunia), lalu kerja-kerja antum sudah disesuaikan dengan hukum-hukum syariatNya,

lalu dikerjakan juga dengan profesional sesuai dengan kemampuan (tidak ceroboh) yang juga sesuai dengan perintahNya ... dan seterusnya, maka bararti antum sudah mendapatkanNya, walau antum tetap tidak kaya. Dan antum, sudah pasti tidak akan perduli apakah antum kaya atau tidak, karena bagi antum yang penting adalah mendapatkanNya (ridhaNya). Jadi, kaya tidak akan membuat antum senang, begitu pula miskin tidak akanmebuat antum sedih. Karena antum telah mendapatkanNya. Antum akan sedih kalau antum menyimpang dariNya dari mauNya dari hukum-hukumNya atau sedih ketika antum tidak tahu mauNya, hukumNya ...dan seterusnya.

Nah, orang seperti antum itu, bisa dikatakan telah mendapatkanNya. Lalu, apa lagi yang hilang dari antum ketika antum sudah mendapatkanNya?

Tetapi sebaliknya, kalau orang memburu dunia, atau memburu dunia dan Dia (syirik halus), maka sudah pasti ia akan kehilanganNya. Lalu kalau sudah demikian, maka apa yang dia dapat ketika ia sudah kehilanganNya? Apakah kekayaannya, kesehatannya, ..... dapat menolongnya? Bukankah semua itu hanyalah wasilah untuk mendpatkanNya? Nah, ketika ia sudah kehilanganNya, maka apa lagi yang ia dapatkan?

Chi Sakuradandelion, Agoest Irawan, Heriyanto Binduni dan 4 lainnya menyukai ini. 


Komarudin Tamyis: alaihi afdholash sholaatu wa azkas salaamala al imam asy syahid fi Karbala’.. 

19 Juli 2011 pukul 14:53 · Suka



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Kamis, 16 Januari 2020

Teori dan Maknawi dari “Mahdawiyah”


Oleh Ustad Sinar Agama http://www.facebook.com/groups/210570692321068?view=doc&id=218947241483413 Oleh Anggelia Sulqani Zahra pada 16 Juli 2011 pukul 13:54


Widodo Abu Zaki: Salam, semoga antum dan keluarga dirahmati Allah, mohon agar dijelaskan secara teori dan maknawi dari “Mahdawiyah” apakah mahdawiyah bisa dijadikan isu pemersatu agama bahkan kemanusiaan.

Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaannya:

(1). Mahdawiyah adalah ajaran yang mengajarkan tentang keberadaan imam Mahdi as sebagai imam ke 12, dan yang mengajarkan akan munculnya beliau di akhir jaman serta yang akan menegakkan keadilan Islam di muka bumi ini (dengan dibantu juga nabi Isa as dan memerangi penentang keadilan Islam yang dipimpin Dajjal).

(2). Kalau kita berada di jaman-jaman sebelum munculnya Wahabi, dimana semua orang sunni mempercayai imam Mahdi as walaupun mereka ada dua golongan dimana yang satu mengatakan akan lahir dan yang lainnya mengatakan sudah lahir, maka sangat mungkin untuk menjadikan Mahdwiyah ini titik dasar pemersatu umat manusia. Tetapi setelah munculnya wahabi yang meterialistis (tidak percaya kebanyakan hal-hal ghaib), dimana membuat dunia sunni jauh dari sunninya sendiri dan terpengaruh wahabi ini, maka sulit menjadikannya titik dasar persatuan umat. Tetapi sulit disini bukan berarti mustahil. Jadi, masih mengingatkan saudara-saudara sunni kepada kitab-kitab dasar mereka dimana memang sama-sama mempercayai akan munculnya imam Mahidi as tersebut.

(3). Akan tetapi dilihat dari sisi kesatuan daulat/pemerintahan di dunia ini dan merupakan paling adilnya pemerintahan sepanjang adanya manusia, maka bisa saja dijadikan pemicu untuk hal tersebut. Tentu saja sambil terus mengingati saudara-saudara sunni bahwa ciri sunni itu adalahmengimani adanya atau akan munculnya imam Mahdi as ini.

(4). Sebenarnya, semua agama dan kepercayaan serta madzhab di dunia ini, kecuali madzhab “anti madzhab” alias wahabi, mengimani akan munculnya ratu adil, raja adil, pemimpin adil, penguasa adil, penegak keadilan, .... dan seterusnya di akhir jaman. Jangankan agama dan madzhab, komunis dan Marxix sendiri mencitakan dan meprogramakaan akan munculnya pemerintahan adil yang tidak perlu lagi pemerintahan dan hukum.

Artinya, keyakinan dan kepercayaan akan adanya satu permerintahan adil di dunia ini, merupakan kepercayaan yang bukan hanya sesuai dengan agama-agama langit, akan tetapi ia juga selaras dengan fitrah manusia itu sendiri.

(5). Karena itu ada satu orang yang menjadikan “Ketidakrelaan manusia untuk dizhalimi dan kecintaan manusia pada keadilan dan keinginan untuk selalu diperlakukan adil”, sebagai argument fitrah untuk keakanmunculan imam Mahdi as sebagai pemimpin pemerintahan adil yang mendunia di akhir jaman. Dan kemenduniannya itu didasarkan kepada kemenduniaan fitrah manusia di atas tersebut dimana tidak suka penganiayaan dan suka kepada keadilan.

Dan pendalilannya adalah, bahwa fitrah tidak suka kepada kezhaliman (ketidak adilan) dan suka kepada kedilan itu sama dengan kesukaan manusia pada makanan. Artinya ia merupakan hal-hal yang bersifat fitrah bagi manusia, seperti nafsu sex dan lain-lainnya. Nah, kalau fitrah itu akan tetapi Tuhan tidak memberikannya, maka sama dengan Tuhan telah mengadzab manusia sebelum berdosa. Karena telah memberinya perasaan tersebut tetapi tidak memberikan jalan keluarnya.

Jadi, keinternasionalan cinta keadilan dan benci penganiayaan, tetapi kalau tidak diberikan jalan dan titik tuju serta akhir dari pengejawantahannya, maka sama dengan mencipta laki- laki tetapi tidak diciptakan pula wanita sebagai pasangannya.

Wassalam.

Chi Sakuradandelion, Agoest Irawan, Doeble Do dan 7 lainnya menyukai ini.

Komarudin Tamyis: Yaa MAHDI.. Adrikni..

Sinar Agama: Salam untukmu Anggelia. Terasa sangat berkurang lelahku kala melihat kumpulan- kumpulan serakannya tulisanku. Sungguh aku bersyukur padamu sebagai syukurku padaNya. Karena yang tidak mensyukuri makhlukNya sama dengan tidak mensyukuriNya.

Tolong juga kamu save semua tulisan-tulisan itu dalam harddisk/komputermu, supaya kalau terjadi apa, baik hilang atau pemalsuan di fb ini, bisa digunakan kelak, terutama olehku sendiri yang pasti akan memerlukannya kalau hal-hal itu terjadi.

Aku sendiri akan berusaha ngesave kalau ada waktu, tapi sepertinya sulit. Jadi, tolong disave semua itu di komputermu ya.... terimakasih sekali lagi.

Khommar Rudin: Allah humma shalli alla Muhammad wa alli Muhamamd waajjilfarajahum. 

27 Juli 2012 pukul 15:15 · Suka

Rabu, 15 Januari 2020

Tanggungjawab Pendidikan Anak


Oleh Ustad Sinar Agama http://www.facebook.com/groups/210570692321068?view=doc&id=218946744816796 Oleh Anggelia Sulqani Zahra pada 16 Juli 2011 pukul 13:52


Zainab Naynawaa: Salam ... semoga ustad dan keluarga senantiasa diberikan kesehatan jasmani dan rohani, afwan saya minta penjelasan dari antum, batasan kedua orang tua mendidik anak anaknya sampai usia berapa...?? Dan pada saat di akhirat siapakah yang dipertanggungjawabkan dalam hal pendidikan anak-anaknya..??? Apakah seorang ibu lebih besar pengaruhnya dibandingkan seorang ayah...?? Jika ada pendapat dari ayahdan ibunya dalam hal mendidik anak anaknya harus lebih mengutamakan pendapat dari ibunya apakah hal ini dibenarkan dan apa dalilnya ...????


Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaannya:

(1). Batasan formalnya mungkin tidak ada, tetapi yang dapat dipahami adalah sampai dewasa dan mandiri. Terutama kalau sudah nikah. Akan tetapi tetap saja harus memberikan saran- saran kepada anaknya, dengan dalil dan tanpa paksa.

(2). Di akhirat secara mayoritas adalah ayahnya yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya itu. Akan tetapi ibu juga pasti dimintai tanggung jawab tersebut. Karena ia yang banyak bergaul dengan anaknya selagi masih kecil.

(3). Pertanyaan ke tiga ini sudah ibu tanyakan dulu. Jawabannya tergantung keadaan. Tetapi mungkin untuk urusan dasar karakter bisa saja ibu yang dominan karena ia yang menalkini anaknya dari kecil. Tetapi ketika anaknya sudah bisa berfikir agak dewasa, maka bisa saja ayahnya yang berpengaruh. Hal ini tidak bisa diambil ukuran pasti. Tergantung pada perbandingan banyak bergaul dan berbincang serta mendidik anaknya.

(4). Kalau ada perbedaan antara ayah dan ibu, maka dilihat masalahnya. Kalau kembali kepada pengaturan rumah tangga, maka harus mengambil yang ayah karena ia yang harus ditaati oleh anak dan ibunya juga. Tetapi kalau tidak mengacu kepada kepemimpinan rumah tangga, dan benar-benar berupa seperti keilmuan dan semacamnya, maka anak sudah semestinya melihat dan yang lebih kuat. Sudah tentu tanpa meremehkanyang lainnya sebagai kewajiban rasa hormat pada orang tuannya.

Haura Haurainsiyyah: Maaf ustad Sinar Agama, jika ada seorang yang cacat dari lahir, apakah itu bisa di bilang takdir, atau apa karena ada hubungannya dengan fikih, mungkin ??? Mohon penjelasannya, syukran.

Sinar Agama: @Haura: Takdir yang bermakna nasib atau telah diatur oleh Allah untuk anak tersebut itu, tidak ada dalam Islam. Memang, ia terkurung dari takdir, tetapi bukan takdir untuk dirinya seperti itu. Akan tetapi takdir umum. Misalnya, kalau orang tuanya suka zina (atau mut’ah makruh) lalu terkena penyakit sipilis maka kalau parah maninya akan cacat dan akan melahirkan anak cacat. Nah, kalau orang tua si anak tersebut, melakukan dengan ikhtiarnya rumus atau ketentuan di atas itu, maka sudah pasti anaknya akan cacat.

Atau misalnya ada dalam hukum takdir Tuhan untuk alam ini yang berbunyi, misalnya, orang yang lagi hamil, harus menjaga makanan dan minumannya dan bahkan perasaannya. Kalau ia tidak menjadi maka anaknya bisa cacat. Lalu ibunya tidak jaga, baik sengaja atau tidak, maka sudah pasti anaknya akan cacat.

Tentu saja takdir-takdir umum ini banyak sekali ragamnya dan bentuknya serta syarat-syarat dan kondisinya. Karena itu bisa saja satu perbuatan yang dilakukan dua orang berbeda, bisa menimbulkan dua efek atau akibat yang berbeda pula. Karena itu, kita tidak bisa mengambil satu lahiriahperbuatan saja lalu menfonis akibatnya harus seperti ini dan itu. Tetapi yang jelas, bahwa kita tahu bahwa tidak ada takdir yang berupa nasib itu.

Wassalam.

Chi Sakuradandelion, Agoest Irawan, dan Sudiana Sulaiman menyukai ini.



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Selasa, 14 Januari 2020

Tentang Kaum Sufi


Oleh Ustad Sinar Agama http://www.facebook.com/groups/210570692321068?view=doc&id=218466074864863 Oleh Anggelia Sulqani Zahra pada 15 Juli 2011 pukul 13:54


النمل يمر: Assalamu’alaikum.

Afwan ustadz. Ane sering baca fatwa-fatwa para imam yang mencela kaum sufi. Dan ane juga sering baca fatwa-fatwa mereka yang memuji kaum sufi. Pertanyaan saya, kenapa bisa begini? Sebenarnya sufi yang dicela itu.

Kok bisa ya ? Afwan ustad, mohon penjelasannyha, saya sangat membutuhkan jawaban ini!!!


Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaannya:

Sebelum saya jawab, tolong terangkan siapa yang antum maksud dengan imam di sini, dan kalau boleh sebutkan juga pujian dan celaannya di mana dan seperti apa? Terimakasih.

النمل يمر: Marwan bin Muhammad rahimahullahu berkata:

“Tiga golongan manusia yang tidak bisa dipercaya dalam masalah agama: shufi, qashash (tukang kisah), dan ahlul bid’ah yang membantah ahlul bid’ah lainnya.”

(Lihat Mukhalafatush Shufiyah, hal.16-18)

Celaan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu terhadap shufiyah.

Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullahu meriwayatkan dengan sanadnya sampai Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu: “Jika seorang belajar tasawuf di pagi hari, sebelum datang waktu dhuhur engkau akan dapati dia menjadi orang dungu.”

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu juga mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seorang shufi yang berakal. Seorang yang telah bersama kaum shufiyah selama 40 hari, tidak mungkin kembali akalnya.”

Beliau juga berkata, “Azas (dasar shufiyah) adalah malas.” (Lihat Mukhalafatush Shufiyah lil Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu hal. 13-15)

Beliau menamai shufiyah dengan kaum zindiq. Kata beliau rahimahullahu, “Kami tinggalkan Baghdad dalam keadaan orang-orang zindiq telah membuat-buat bid’ah yang mereka namakan sama’ (nyanyian sufi, red.).”

Dan lain-lain ustad.

sumber: www.asysyariah.com

Kalau yang memuji sumbernya: ana lupa sumbernya, yang saya ingat di websitenya ustad Abu Sangkan, mohon ustad untuk dijelaskan, apakah benar sumber-sumber tersebut? Dan juga mohon dijelaskan pertanyaan pertama.

Imam Abu Hanifa (81-150 H./700-767 CE)

Imam Abu Hanifa (r) (85 H.-150 H) berkata, “Jika tidak karena dua tahun, saya telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Ja’far as-Sadiqdan mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”. Ad-Durr al-Mukhtar, vol 1. p. 43 bahwa Ibn ‘Abideen said, “Abi Ali Dakkak, seorang sufi, dari Abul Qassim an-Nasarabadi, dari ash-Shibli, dari Sariyy as-Saqati dari Ma’ruf al-Karkhi, dari Dawad at-Ta’i, yang mendapatkan ilmu lahir dan batin dari Imam Abu Hanifa (r), yang mendukung jalan Sufi.” Imam berkata sebelum meninggal: lawla sanatan lahalaka Nu’man, “Jika tidak karena dua tahun, Nu’man (saya) telah celaka.” Itulah dua tahun bersama Ja’far as-Sadiq

Imam Malik (94-179 H./716-795 CE)

Imam Malik (r): “man tassawaffa wa lam yatafaqah faqad tazandaqa wa man tafaqaha wa lam yatasawwaf faqad fasadat, wa man tafaqaha wa tassawafa faqad tahaqqaq. (Barangsiapa mem- pelajari/mengamalkan tasauf tanpa fikh maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fikh tanpa tasauf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasauf dan fikh dia meraih kebenaran).” (dalam buku ‘Ali al-Adawi dari keterangan Imam Abil-Hassan, ulama fikh, vol. 2, p. 195

Imam Shafi’i (150-205 H./767-820 CE)

Imam Shafi’i: “Saya bersama orang sufi dan aku menerima 3 ilmu:

1. Mereka mengajariku bagaimana berbicara.

2. Mereka mengajariku bagaimana meperlakukan orang dengan kasih dan hati lembut.

3. Mereka membimbingku ke dalam jalan tasauf.

[Kashf al-Khafa and Muzid al-Albas, Imam ‘Ajluni, vol. 1, p. 341.] Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H./780-855 CE)

Imam Ahmad (r): “Ya walladee ‘alayka bi-jallassati ha’ula’i as-Sufiyya. Fa innahum zaadu ‘alayna bikathuratil ‘ilmi wal murqaba wal khashiyyata waz-zuhda wa ‘uluwal himmat (Anakku jika kamu harus duduk bersama orang-orang sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka tetap mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka orang-orang zuhud dan mereka memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi,” --Tanwir al-Qulub, p. 405, Shaikh Amin al-Kurdi) Imam Ahmad (r) tentang Sufi:”Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka” ( Ghiza al-Albab, vol. 1, p. 120)

Imam al-Muhasibi (d. 243 H./857 CE)

Imam al-Muhasibi meriwayatkan dari Rasul, “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu yang akan menjadi kelompok yang selamat”. Dan Allah yang lebih mengetahui bahwa itu adalah Golongan orang tasauf. Dia menjelaskan dengan mendalam dalam Kitab al-Wasiya p. 27-32.

Imam al-Qushayri (d. 465 H./1072 CE)

Imam al-Qushayri tentang Tasauf: “Allah membuat golongan ini yang terbaik dari wali-wali-Nya dan Dia mengangkat mereka di atas seluruh hamba-hamba-Nya sesudah para Rasul dan Nabi, dan Dia memberi hati mereka rahasia Kehadiran Ilahi-Nya dan Dia memilih mereka diantara umat-Nya yang menerima cahaya-Nya. Mereka adalah sarana kemanusiaan, Mereka menyucikan diri dari segala hubungan dengan dunia dan Dia mengangkat mereka ke kedudukan tertinggi dalam penampakan (kasyf). Dan Dia membuka kepada mereka Kenyataan akan Keesaan-Nya. Dia membuat mereka untuk melihat kehendak-Nya mengendalikan diri mereka. Dia membuat mereka bersinar dalam wujud-Nya dan menampakkanmereka sebagai cahaya dan cahaya-Nya .” [ar-Risalat al-Qushayriyya, p. 2] Imam Ghazali (450-505 H./1058-1111 CE)

Imam Ghazali, hujjat ul-Islam, tentang tasauf: “Saya tahu dengan benar bahwa para Sufi adalah para pencari jalan Allah, dan bahwa mereka melakukan yang terbaik, dan jalan mereka adalah jalan terbaik, dan akhlak mereka paling suci. Mereka membersihkan hati mereka dari selain Allah dan mereka menjadikan mereka sebagai jalan bagi sungai untuk mengalirnya kehadiran.

Ilahi [al-Munqidh min ad-dalal, p. 131]. Imam Nawawi (620-676 H./1223-1278 CE)

Dalam suratnya al-Maqasid: “Ciri jalan sufi ada 5:

1. Menjaga kehadiran Allah dalam hati pada waktu ramai dan sendiri.

2. Mengikuti Sunah Rasul dengan perbuatan dan kata.

3. Menghindari ketergantungan kepada orang lain.

4. Bersyukur pada pemberian Allah meski sedikit.

5. Selalu merujuk masalah kepada Allah swt [Maqasid at-Tawhid, p. 20] Imam Fakhr ad-Din ar-Razi (544-606 H./1149-1209 CE)

Imam Fakhr ad-Din ar-Razi: “Jalan para sufi adalah mencari ilmu untuk memutuskan diri mereka dari kehidupan dunia dan menjaga diri mereka agar selalu sibuk dalam pikiran dan hati mereka dengan mengingat Allah, pada seluruh tindakan dan perilaku” .” [Ictiqadat Furaq al-Musliman, p. 72, 73]

Ibn Khaldun (733-808 H./1332-1406 CE)

Ibn Khaldun: “Jalan sufi adalah jalan salaf, ulama-ulama di antara Sahabat, Tabi’een, and Tabi’ at- Tabi’een. Asalnya adalah beribadah kepada Allah dan meninggalkan perhiasan dan kesenangan dunia” [Muqaddimat ibn Khaldan, p. 328]

Jalaluddin as-Suyuti

Dalam Ta’yad al-haqiqat al-’Aliyya, p. 57: “tasauf dalam diri mereka adalah ilmu yang paling baik dan terpuji. Dia menjelaskan bagaimana mengikuti Sunah Nabi dan meninggalkan bid’ah”

Imam Ibn Qayyim (d. 751 H./1350 CE)

Imam Ibn Qayyim menyatakan bahwa, “Kita menyasikan kebesaran orang-orang tasauf dalam pandangan salaf bagaimana yang telah disebut oleh by Sufyan ath-Thawri (d. 161 H./777 CE). Salah satu imam terbesar abad kedua dan salah satu mujtahid terkemuka, dia berkata: “Jika tidak karena Abu Hisham as-Sufi (d. 115 H./733 CE) saya tidak pernah mengenal bentuk munafik yang kecil (riya’) dalam diri (Manazil as-Sa’ireen) Lanjut Ibn Qayyim:”Diantara orang terbaik adalah Sufi yang mempelajari fiqh”

Shaikh Rashad Rida

Dia berkata,”tasauf adalah salah satu pilar dari pilar-pilar agama. Tujuannya adalah untuk membersihkan diri dan mempertanggungjawabkan perilaku sehari-hari dan untuk menaikkan manusia menuju maqam spiritual yang tinggi” Majallat al-Manar, 1st year, p. 726].

Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaan dan kesabarannya:

(1). Shufi ini memiliki setidaknya dua arti di kalangan kaum muslimin. Atau bahkan lebih. Saya pikir mereka menghukumi para shufi itu, sesuai dengan definisi yang ada pada dirinya.

(2). Salah satu makna shufi, dan ini yang aslinya, adalah orang-orang yang meninggalkan keluarga dan masyarakatnya demi mencari Tuhan. Meraka meninggalkan seluruh hartanya dan mengganti pakaiannya dengan bulu domba (kulit domba). Karena itulaha dikatakan Shufi, yakni orang yang memakai bulu/kulit domba.

Sebagian orang ingin mengartikan bahwa shufi ini adalah orang suci atau mensucikan diri. Padahal suci itu ada Shofi, bukan Shufi.

Shufi dengan arti ini, maka dari sisi amalannya ini jelas jauh dari ajaran Islam. Karena itu, mereka dikecam oleh sebagian imam atau pemuka madzhab tersebut.

(3). Dari sisi akidah shufi ini lebih parah dari perbutannya itu. Karena mereka mengaku Tuhan. Mereka menggariskan tiga jalan, Syari’at, Thariqat dan Hakikat. Dimana kalau sudah sampai ke Thariqat maka tidak perlu lagi memperhatikan syari’at. Ini benar-benar ajaran yang konyol. Karena itu mereka dikecam.

(4). Ada lagi dari sisi akidahnya, yaitu kalau sudah mencapai hakikat, maka bersiap-siaplah kita menerima syatahiyyatnya mereka, karena mereka tidak jarang mengaku Allah dan semacamanya.

Nah, shufi dengan makna ini, maka jelas dikecam oleh para pemuka agama.

(5). Ajaran terkenal dari shufi model pertama ini adalah Ittihad dan Hulul. Artinya kalau seseorang sudah bersih dan suci maka ia akan menyatu dengan Tuhan, itulah yang dikatakan dengan Ittihad.

Atau kalau seseorang sudah mensucikan hatinya dari apapun selainNya, maka Ia akan memasuki hatinya, itulah yang dikatan dengan Hulul.

Nah, kalau shufi ini dikecam, maka dari semua hal-hal ini.

(6). Dalam padangan Mulla Shadra ra, shufi dengan makna, ajaran dan akidah di atas itu dijuluki dengan Mutashawwifah, yakni sok shufi. Artinya mereka tidak mengerti hakikat yang diajarkan para shufi hakiki seperti Ibnu ‘Arabi.

(7). Degan demikian, maka ada lagi maksa shufi yang berarti aliran mengajarkan wahdatu al- wujud dengan benar. Golongan-golongans ebelumnya itu, juga mengajarkan wahdatulwujud, akan tetapi tidak benar dan tidak memahami pengajarnya seperti Ibnu ‘Arabi. Karena itu mereka mengatakan diri mereka Tuhan atau mengatakan bahwa alam ini tidak ada dan yang ada hanya Tuhan.

Jadi, mereka disamping salah akidahnya, juga salah ajarannya.

Akan tetapi shufi yang benar, adalah yang mengajarkan wahdatu al-Wujud dengan benar dan begitu pula cara untuk mencapainya.

Kalau ingin tahu detailnya, silahkan menyimak ke 14 bagian catatan saya yang berjudul wahdatu al-wujud.

(8). Nah, dari sisi wahdatul Wujud ini, walau sudah benar, tetap saja bisa dikecam oleh sebagian imam atau pemuka agama. Akan tetapi pengecamnya biasanya adalah fuqaha' atau ahli fikih atau imam fikih. Artinya, imam fikih yang tidak melengkapi dirinya dengan ilmu fisafat dan irfan atau keshufian.

(9). Akan tetapi, pemuka agama walau fikih, akan tetapi yang melengkapi dirinya dengan ketinggian ilmu akhlak, makrifat, irfan dan filsafat, makabiasanya mereka tidak mengecam shufi. Mereka bahkan memuji keshufian ini (tentu yang benarnya bukan yang mutashawwifah itu).

(10). Shufii yang benar ini adalah mengajarkan wahdatu al-wujud dengan benar dan mengajarkan cara mencapainya juga dengan benar. Rujukannya kitabnya bisa merujuk ke semua kitab karangan Ibnu ‘Arabi (seperti Futuuhaatu al-Makkiyah dan Fushuushu al-Hikam) dan untuk rujukan cara pencapaiannya, disamping buku-buku tadi bisa merujuk ke kitab Manaazilu al- Saairin: Risaaalatu al-Sairi wa al-Suluuki .... dst.Wassalam.

Chi Sakuradandelion, Agoest Irawan, Khommar Rudin dan 8 lainnya menyukai ini. 

Khommar Rudin: Allah humma shalli alla Muhammad wa alli Muhammad waajjilfarajahum. 

14 Juli 2012 pukul 16:49 · Suka



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ