Selasa, 14 Januari 2020

Tentang Kaum Sufi


Oleh Ustad Sinar Agama http://www.facebook.com/groups/210570692321068?view=doc&id=218466074864863 Oleh Anggelia Sulqani Zahra pada 15 Juli 2011 pukul 13:54


النمل يمر: Assalamu’alaikum.

Afwan ustadz. Ane sering baca fatwa-fatwa para imam yang mencela kaum sufi. Dan ane juga sering baca fatwa-fatwa mereka yang memuji kaum sufi. Pertanyaan saya, kenapa bisa begini? Sebenarnya sufi yang dicela itu.

Kok bisa ya ? Afwan ustad, mohon penjelasannyha, saya sangat membutuhkan jawaban ini!!!


Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaannya:

Sebelum saya jawab, tolong terangkan siapa yang antum maksud dengan imam di sini, dan kalau boleh sebutkan juga pujian dan celaannya di mana dan seperti apa? Terimakasih.

النمل يمر: Marwan bin Muhammad rahimahullahu berkata:

“Tiga golongan manusia yang tidak bisa dipercaya dalam masalah agama: shufi, qashash (tukang kisah), dan ahlul bid’ah yang membantah ahlul bid’ah lainnya.”

(Lihat Mukhalafatush Shufiyah, hal.16-18)

Celaan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu terhadap shufiyah.

Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullahu meriwayatkan dengan sanadnya sampai Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu: “Jika seorang belajar tasawuf di pagi hari, sebelum datang waktu dhuhur engkau akan dapati dia menjadi orang dungu.”

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu juga mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seorang shufi yang berakal. Seorang yang telah bersama kaum shufiyah selama 40 hari, tidak mungkin kembali akalnya.”

Beliau juga berkata, “Azas (dasar shufiyah) adalah malas.” (Lihat Mukhalafatush Shufiyah lil Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu hal. 13-15)

Beliau menamai shufiyah dengan kaum zindiq. Kata beliau rahimahullahu, “Kami tinggalkan Baghdad dalam keadaan orang-orang zindiq telah membuat-buat bid’ah yang mereka namakan sama’ (nyanyian sufi, red.).”

Dan lain-lain ustad.

sumber: www.asysyariah.com

Kalau yang memuji sumbernya: ana lupa sumbernya, yang saya ingat di websitenya ustad Abu Sangkan, mohon ustad untuk dijelaskan, apakah benar sumber-sumber tersebut? Dan juga mohon dijelaskan pertanyaan pertama.

Imam Abu Hanifa (81-150 H./700-767 CE)

Imam Abu Hanifa (r) (85 H.-150 H) berkata, “Jika tidak karena dua tahun, saya telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Ja’far as-Sadiqdan mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”. Ad-Durr al-Mukhtar, vol 1. p. 43 bahwa Ibn ‘Abideen said, “Abi Ali Dakkak, seorang sufi, dari Abul Qassim an-Nasarabadi, dari ash-Shibli, dari Sariyy as-Saqati dari Ma’ruf al-Karkhi, dari Dawad at-Ta’i, yang mendapatkan ilmu lahir dan batin dari Imam Abu Hanifa (r), yang mendukung jalan Sufi.” Imam berkata sebelum meninggal: lawla sanatan lahalaka Nu’man, “Jika tidak karena dua tahun, Nu’man (saya) telah celaka.” Itulah dua tahun bersama Ja’far as-Sadiq

Imam Malik (94-179 H./716-795 CE)

Imam Malik (r): “man tassawaffa wa lam yatafaqah faqad tazandaqa wa man tafaqaha wa lam yatasawwaf faqad fasadat, wa man tafaqaha wa tassawafa faqad tahaqqaq. (Barangsiapa mem- pelajari/mengamalkan tasauf tanpa fikh maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fikh tanpa tasauf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasauf dan fikh dia meraih kebenaran).” (dalam buku ‘Ali al-Adawi dari keterangan Imam Abil-Hassan, ulama fikh, vol. 2, p. 195

Imam Shafi’i (150-205 H./767-820 CE)

Imam Shafi’i: “Saya bersama orang sufi dan aku menerima 3 ilmu:

1. Mereka mengajariku bagaimana berbicara.

2. Mereka mengajariku bagaimana meperlakukan orang dengan kasih dan hati lembut.

3. Mereka membimbingku ke dalam jalan tasauf.

[Kashf al-Khafa and Muzid al-Albas, Imam ‘Ajluni, vol. 1, p. 341.] Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H./780-855 CE)

Imam Ahmad (r): “Ya walladee ‘alayka bi-jallassati ha’ula’i as-Sufiyya. Fa innahum zaadu ‘alayna bikathuratil ‘ilmi wal murqaba wal khashiyyata waz-zuhda wa ‘uluwal himmat (Anakku jika kamu harus duduk bersama orang-orang sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka tetap mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka orang-orang zuhud dan mereka memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi,” --Tanwir al-Qulub, p. 405, Shaikh Amin al-Kurdi) Imam Ahmad (r) tentang Sufi:”Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka” ( Ghiza al-Albab, vol. 1, p. 120)

Imam al-Muhasibi (d. 243 H./857 CE)

Imam al-Muhasibi meriwayatkan dari Rasul, “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu yang akan menjadi kelompok yang selamat”. Dan Allah yang lebih mengetahui bahwa itu adalah Golongan orang tasauf. Dia menjelaskan dengan mendalam dalam Kitab al-Wasiya p. 27-32.

Imam al-Qushayri (d. 465 H./1072 CE)

Imam al-Qushayri tentang Tasauf: “Allah membuat golongan ini yang terbaik dari wali-wali-Nya dan Dia mengangkat mereka di atas seluruh hamba-hamba-Nya sesudah para Rasul dan Nabi, dan Dia memberi hati mereka rahasia Kehadiran Ilahi-Nya dan Dia memilih mereka diantara umat-Nya yang menerima cahaya-Nya. Mereka adalah sarana kemanusiaan, Mereka menyucikan diri dari segala hubungan dengan dunia dan Dia mengangkat mereka ke kedudukan tertinggi dalam penampakan (kasyf). Dan Dia membuka kepada mereka Kenyataan akan Keesaan-Nya. Dia membuat mereka untuk melihat kehendak-Nya mengendalikan diri mereka. Dia membuat mereka bersinar dalam wujud-Nya dan menampakkanmereka sebagai cahaya dan cahaya-Nya .” [ar-Risalat al-Qushayriyya, p. 2] Imam Ghazali (450-505 H./1058-1111 CE)

Imam Ghazali, hujjat ul-Islam, tentang tasauf: “Saya tahu dengan benar bahwa para Sufi adalah para pencari jalan Allah, dan bahwa mereka melakukan yang terbaik, dan jalan mereka adalah jalan terbaik, dan akhlak mereka paling suci. Mereka membersihkan hati mereka dari selain Allah dan mereka menjadikan mereka sebagai jalan bagi sungai untuk mengalirnya kehadiran.

Ilahi [al-Munqidh min ad-dalal, p. 131]. Imam Nawawi (620-676 H./1223-1278 CE)

Dalam suratnya al-Maqasid: “Ciri jalan sufi ada 5:

1. Menjaga kehadiran Allah dalam hati pada waktu ramai dan sendiri.

2. Mengikuti Sunah Rasul dengan perbuatan dan kata.

3. Menghindari ketergantungan kepada orang lain.

4. Bersyukur pada pemberian Allah meski sedikit.

5. Selalu merujuk masalah kepada Allah swt [Maqasid at-Tawhid, p. 20] Imam Fakhr ad-Din ar-Razi (544-606 H./1149-1209 CE)

Imam Fakhr ad-Din ar-Razi: “Jalan para sufi adalah mencari ilmu untuk memutuskan diri mereka dari kehidupan dunia dan menjaga diri mereka agar selalu sibuk dalam pikiran dan hati mereka dengan mengingat Allah, pada seluruh tindakan dan perilaku” .” [Ictiqadat Furaq al-Musliman, p. 72, 73]

Ibn Khaldun (733-808 H./1332-1406 CE)

Ibn Khaldun: “Jalan sufi adalah jalan salaf, ulama-ulama di antara Sahabat, Tabi’een, and Tabi’ at- Tabi’een. Asalnya adalah beribadah kepada Allah dan meninggalkan perhiasan dan kesenangan dunia” [Muqaddimat ibn Khaldan, p. 328]

Jalaluddin as-Suyuti

Dalam Ta’yad al-haqiqat al-’Aliyya, p. 57: “tasauf dalam diri mereka adalah ilmu yang paling baik dan terpuji. Dia menjelaskan bagaimana mengikuti Sunah Nabi dan meninggalkan bid’ah”

Imam Ibn Qayyim (d. 751 H./1350 CE)

Imam Ibn Qayyim menyatakan bahwa, “Kita menyasikan kebesaran orang-orang tasauf dalam pandangan salaf bagaimana yang telah disebut oleh by Sufyan ath-Thawri (d. 161 H./777 CE). Salah satu imam terbesar abad kedua dan salah satu mujtahid terkemuka, dia berkata: “Jika tidak karena Abu Hisham as-Sufi (d. 115 H./733 CE) saya tidak pernah mengenal bentuk munafik yang kecil (riya’) dalam diri (Manazil as-Sa’ireen) Lanjut Ibn Qayyim:”Diantara orang terbaik adalah Sufi yang mempelajari fiqh”

Shaikh Rashad Rida

Dia berkata,”tasauf adalah salah satu pilar dari pilar-pilar agama. Tujuannya adalah untuk membersihkan diri dan mempertanggungjawabkan perilaku sehari-hari dan untuk menaikkan manusia menuju maqam spiritual yang tinggi” Majallat al-Manar, 1st year, p. 726].

Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaan dan kesabarannya:

(1). Shufi ini memiliki setidaknya dua arti di kalangan kaum muslimin. Atau bahkan lebih. Saya pikir mereka menghukumi para shufi itu, sesuai dengan definisi yang ada pada dirinya.

(2). Salah satu makna shufi, dan ini yang aslinya, adalah orang-orang yang meninggalkan keluarga dan masyarakatnya demi mencari Tuhan. Meraka meninggalkan seluruh hartanya dan mengganti pakaiannya dengan bulu domba (kulit domba). Karena itulaha dikatakan Shufi, yakni orang yang memakai bulu/kulit domba.

Sebagian orang ingin mengartikan bahwa shufi ini adalah orang suci atau mensucikan diri. Padahal suci itu ada Shofi, bukan Shufi.

Shufi dengan arti ini, maka dari sisi amalannya ini jelas jauh dari ajaran Islam. Karena itu, mereka dikecam oleh sebagian imam atau pemuka madzhab tersebut.

(3). Dari sisi akidah shufi ini lebih parah dari perbutannya itu. Karena mereka mengaku Tuhan. Mereka menggariskan tiga jalan, Syari’at, Thariqat dan Hakikat. Dimana kalau sudah sampai ke Thariqat maka tidak perlu lagi memperhatikan syari’at. Ini benar-benar ajaran yang konyol. Karena itu mereka dikecam.

(4). Ada lagi dari sisi akidahnya, yaitu kalau sudah mencapai hakikat, maka bersiap-siaplah kita menerima syatahiyyatnya mereka, karena mereka tidak jarang mengaku Allah dan semacamanya.

Nah, shufi dengan makna ini, maka jelas dikecam oleh para pemuka agama.

(5). Ajaran terkenal dari shufi model pertama ini adalah Ittihad dan Hulul. Artinya kalau seseorang sudah bersih dan suci maka ia akan menyatu dengan Tuhan, itulah yang dikatakan dengan Ittihad.

Atau kalau seseorang sudah mensucikan hatinya dari apapun selainNya, maka Ia akan memasuki hatinya, itulah yang dikatan dengan Hulul.

Nah, kalau shufi ini dikecam, maka dari semua hal-hal ini.

(6). Dalam padangan Mulla Shadra ra, shufi dengan makna, ajaran dan akidah di atas itu dijuluki dengan Mutashawwifah, yakni sok shufi. Artinya mereka tidak mengerti hakikat yang diajarkan para shufi hakiki seperti Ibnu ‘Arabi.

(7). Degan demikian, maka ada lagi maksa shufi yang berarti aliran mengajarkan wahdatu al- wujud dengan benar. Golongan-golongans ebelumnya itu, juga mengajarkan wahdatulwujud, akan tetapi tidak benar dan tidak memahami pengajarnya seperti Ibnu ‘Arabi. Karena itu mereka mengatakan diri mereka Tuhan atau mengatakan bahwa alam ini tidak ada dan yang ada hanya Tuhan.

Jadi, mereka disamping salah akidahnya, juga salah ajarannya.

Akan tetapi shufi yang benar, adalah yang mengajarkan wahdatu al-Wujud dengan benar dan begitu pula cara untuk mencapainya.

Kalau ingin tahu detailnya, silahkan menyimak ke 14 bagian catatan saya yang berjudul wahdatu al-wujud.

(8). Nah, dari sisi wahdatul Wujud ini, walau sudah benar, tetap saja bisa dikecam oleh sebagian imam atau pemuka agama. Akan tetapi pengecamnya biasanya adalah fuqaha' atau ahli fikih atau imam fikih. Artinya, imam fikih yang tidak melengkapi dirinya dengan ilmu fisafat dan irfan atau keshufian.

(9). Akan tetapi, pemuka agama walau fikih, akan tetapi yang melengkapi dirinya dengan ketinggian ilmu akhlak, makrifat, irfan dan filsafat, makabiasanya mereka tidak mengecam shufi. Mereka bahkan memuji keshufian ini (tentu yang benarnya bukan yang mutashawwifah itu).

(10). Shufii yang benar ini adalah mengajarkan wahdatu al-wujud dengan benar dan mengajarkan cara mencapainya juga dengan benar. Rujukannya kitabnya bisa merujuk ke semua kitab karangan Ibnu ‘Arabi (seperti Futuuhaatu al-Makkiyah dan Fushuushu al-Hikam) dan untuk rujukan cara pencapaiannya, disamping buku-buku tadi bisa merujuk ke kitab Manaazilu al- Saairin: Risaaalatu al-Sairi wa al-Suluuki .... dst.Wassalam.

Chi Sakuradandelion, Agoest Irawan, Khommar Rudin dan 8 lainnya menyukai ini. 

Khommar Rudin: Allah humma shalli alla Muhammad wa alli Muhammad waajjilfarajahum. 

14 Juli 2012 pukul 16:49 · Suka



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar