Senin, 11 November 2019

Tanggung Jawab Syi’ah Indonesia Terhadap Buku SMS

8. Tanggung Jawab Syi’ah Indonesia Terhadap Buku SMS

https://www.facebook.com/notes/sang-pencinta/tanggung-jawab-syiah-indonesia-terhadap- buku-sms/788825271167381

Bismillaah

Sinar Agama: Bismillaah: Tanggung Jawab Syi’ah Indonesia Terhadap Buku SMS

Sebelum saya menulis tanggung jawab ini, perlu adanya penekanan kembali kepada beberapa hal yang sudah kita diskusikan bersama selama ini, yaitu:

a- Yang saya tulis ini hanya berdasarkan pemahaman saya yang cetek tentang agama dan Syi’ah. Jadi, bisa salah dan bisa benar dan tidak mewakili siapapun.

b- Kalau pandangan saya salah di sisi Allah tentang tanggung jawab terhadap buku SMS ini, maka berbahagialah bagi yang tidak memperhatikannya. Akan tetapi kalau benar, maka semoga Tuhan mengampuninya.

c- Sebagaimana biasa, kita tidak bermain di niat, melainkan di alam nyata seperti ucapan dan tulisan serta perbuatan. Jadi, kalau ada kata sesat atau batil atau keluar dari Syi’ah, maka penghukuman itu hanya pada tulisannya, tidak ada hubungan dengan niat penulisnya sebagaimana sudah diterangkan sebelum ini. Niat mereka dan aplikasinya, merupakan urusan Tuhan sepenuhnya. Dan kita sebagai hamba zhahir, hanya diperintahkan untuk mengambil sikap dan berbuat sesuai dengan zhahirnya saja.

d- Sebagaimana himbauan ini tidak berurusan dengan niat penulisnya, juga tidak ada urusan dengan penerbitnya atau kelompok manapun. Jadi, murni bahasan buku dan ilmu. Karena itu, tidak ada muatan politiknya sama sekali. Yang tidak percaya, yah...tunggu kelak di akhirat apakah kami dusta atau tidak semoga Tuhan menjagaku dari perbuatan keji ini selama- lamanya, amin.

e- Zhahir yang kita pakai untuk memahami buku SMS itu, adalah pemahaman uruf dan umumnya. Yakni bahasa yang normalnya. Dan sikap kita ini, adalah pada pemahaman uruf yang kita dapatkan dari buku tersebut bahkan sejak sebelum terbitnya sebagaimana maklum. Atausetidaknya sebelum besar-besaran dicetak atau menjadi issu. Karena bahasan dan diskusi tentang imamah yang divertikalkan itu, sudah kita lakukan sejak sekitar bukan November tahun lalu.

Sedang Tanggung Jawab Syi’ah Indonesia Terhadap Buku SMS Adalah:

1- Kalau sudah tahu masalah dan kesesatannya, cukup di masalah imamah vertikal saja, maka wajib ia melakukan anjuran kepada keluarga danlingkungan Syi’ahnya untuk tidak membaca buku tersebut. Dan wajib pula mengambil sikap dan ramai-ramai meminta penarikan buku itu ke penerbit walau hanya melalui ucapan dan tulisan di medsos. Ingat, jangan ditambahi dengan kata-kata kasar lainnya. Yang diwajibkan (dari pemahaman saya yang relatif sebagaimana sudah diterangkan di atas) hanya meminta penarikan. Itu saja.

Kalau seseorang yang di poin 1 ini, tidak melakukan kewajibannya, maka di pemahaman saya, seperti mendengar seruan imam Husain as yang berseru:

“Adakah penolong yang mau menolongku?” (yang diserukan di Karbala ketika sudah tinggal sendirian)

Akan tetapi tidak menolong beliau as. Atau seperti melihat imam Husain as dikeroyoki di Karbala atau rumah hdh Faathimah as dibakar, akantetapi tidak menolong mereka as. Kalau ini yang terjadi, yakni tidak membantu, lalu kemana aplikasi “Labbaika ya Husain as” yang sering kita ucapkan, baca dan dengar selama ini?

2- Kalau sudah tahu masalah dan tidak gamblang kesesatannya, yakni benar-benar begitu di hatinya yang disaksikan Tuhan, maka hati-hatinya tidak mendukung buku tersebut dan berdoa kepada Allah swt, agar membantu kita semua keluar dengan keindahan hidayah dari permasalahan ini.

3- Kalau tidak tahu masalah, maka di samping berdoa seperti di poin 2 itu, ia tidak boleh membaca buku tersebut dan tidak boleh ikut-ikutan berpendapat. Karena pendapatnya kalau salah, sementara tidak tahu masalahnya, sangat mungkin tidak akan dimaafkan Tuhan kecuali dengan taubat yang benar seperti mengumumkan lagi kesalahannya itu di tempat yang sama.

4- Kalau tidak tahu masalah, akan tetapi tidak bisa tahan untuk tidak membaca, maka dari pada dosa yang lebih berbahaya, mungkin bisa dilakukan dengan jalan lain yang barangkali tidak dosa. Yaitu membaca buku itu, di bahasan kita selama ini, jangan membaca bukunya langsung. Tentu saja, kalau dirinya merasa tahu agama dan mampu membedakan yang benar dan yang salah karena memang sudah belajar agama dan Syi’ah secara spesifik, dan memastikan diri tidak akan terpengaruhi, maka halal-halal saja membaca buku tersebut.

5- Perhatikan fatwa Imam Khumini ra berikut ini:

مسألة 41 : معونة الظالمين فى ظلمهم بل فىكل محرم حرام بال إشكال

Masalah 14:

“Membantu Zhalim dalam kezhalimannya itu, bahkan membantu dalam setiap satu dosa saja, adalah haram/dosa tanpa keraguan....”

مسألة 51 : يحرم حفظكتب الضالل و نسخها و قراءتها و درسها و تدريسها إن لم يكن غرض صحيح فى ذلككأن يكون قاصدا لنقضها وإبطالها وكان أهال لذلك و مأمونا من الضالل، و أما مجرد االطالع على مطالبها فليس من االغراض الصحيحة المجوزة لحفظها لغالب الناسمن العوام الذين يخشى عليهم الضالل و الزلل، فالالزم على أمثالهم التجنب عن الكتب المشتملة على ما يخالف عقائد المسلمينخصوصا ما اشتمل منها على شبهات و مغالطات عجزوا عن حلها و دفعها ، و ال يجوز لهم شراؤها و

إمساكها و حفظها بل يجب عليهم إتالفها.

Masalah 15:

“Diharamkan menyimpan kitab yang menyesatkan, menyalin, membaca, mempelajari dan mengajarkannya, kalau tidak memiliki tujuan yang benar seperti berniat untuk membantahnya dan membatalkannya dan iapun memang orangnya untuk itu dan aman dari pengaruh sesatnya. Akan tetapi kalau hanya ingin tahu terhadap kandungannya, maka hal itu bukan tujuan yang dibenarkan hingga membolehkan (membaca), demi penjagaan terhadap umumnya umat yang awam (bukan spesialis agama dan Syi’ah) yang ditakuti ketergelinciran dan ketersesatannya. Karena itu, wajib bagi orang seperti mereka ini, untuk menjauhi semua buku yang mengandungi apa-apa yang bertentangan dengan keyakinan akidah kaum muslimin, dan khususnya buku-buku yang mengandungi keragu-raguan (syubhat dan ketidakjelasan) dan tipu daya dalil yang mereka tidak mampu untuk menanggulanginya dan menolaknya. Dan tidak boleh juga bagi mereka untuk menjualnya, menahannya dan menjaganya. Bahkan wajib bagi mereka untuk menghancurkannya (bukunya sendiri, bukan buku orang, SA).”

6- Saya juga sudah sering menulis fatwa Rahbar hf tentang wali faqih bahwa sekalipun seseorang sudah udzur/dimaafkan lantaran ketidakpercayaannya kepada wali faqih mutlak itu disebabkan ijtihad atau taqlid atau tidak tahu, akan tetapi Rahbar hf mengharamkan mereka untuk membuat perpecahan di kalangan kaum muslimin. Karena itu, kalau kita ambil anti taqlidnya atau wali faqihnya saja dari yangSMS itu sesuai dengan yang kita pahami secara lahiriahnya, maka sudah cukup bahwa menyebarkan buku itu, tergolong pemecah belah kaum muslimin yang dilarang dan diharamkan Rahbar hf. Jadi, yang memecah umat itu bukan yang mengkritiki buku SMS-nya, melainkan buku SMS itu sendiri karena telah mengajak pada tidak wajib taqlid dan apalagi wali faqih mutlak.

Jadi, mau dilihat dari kevertikalan imamah atau anti taqlid dan wali faqihnya, buku itu tetap merupakah hal yang tidak boleh disebarkan. Karena itu, mesti ditarik dari peredaran dan kaum muslimin serta Syi’ah secara khusus, tidak boleh (haram) untuk menyebarkannya. Pengharaman ini, sekali lagi bagi yang nggak paham-paham dan tidak mau paham, adalah penerapan fatwa, bukan memberi fatwa. Dan kalau menerapkan fatwa mesti merujuk ke marja’ semuanya, kecuali yang memerlukan istinbath seperti yang sudah diterangkan sebelum ini, maka seperti menyuruh kita semua, antri di rumah marja’ dengan membawa kencing, untuk memastikan apakah kencing kita itu najis seperti yang difatwakannya.

Kevertikalan yang sekaligus kehorisontalan imamah dalam pandangan Syi’ah, adalah akar dan dasar kesyi’ahan itu sendiri (kalau bukan seperti itu, lalu apa arti Syi’ah itu dan bedanya dengan selain Syi’ah?) serta jelasnya melebihi matahari di siang bolong bagi semua pengikutnya. Kalau kesesatan yang terjadi di dalamnya yang ada di buku SMS itu, karena hanya menvertikalkan saja, harus meminta pendapat marja’ lantaran ditulis malaikat Jibril as sekalipun (umpamanya, apalagi manusia yang tidak dikenal siapapun di dunia ini), maka di samping sama dengan tidak mengerti sama sekali arti ushuluddin yang tidak taqlidi itu, juga sama dengan menyuruh kita antri dengan membaca kencing ke rumah marja’ untuk memastikan apakah kencing kita itu najis seperti yang difatwakannya. Apalagi kalau ditambah dengan anti taqlid dan walifaqih mutlak yang jelas dapat dipahami secara uruf dari buku SMS tersebut.

Kalau antum termasuk yang sepaham dengan saya dan mengucap “Labbaika Ya Husain as”, maka labbaikilah imam Husain as dengan penuh kebijakan. Tegas akan tetapi tetap dengan bahasa yang santun. Tidak melihat sesama muslimin yang beda pandangan sebagai musuh. Semua puak dan golongan, mesti berdoa kepada Allah dan bertawassul kepada Nabi saww dan Ahlulbait as, agar kita dapat diselamatkan dari musibah ini dengan indah, damai akan tetapi dalam kejelasan hidayah. Kalau yang biasa membaca Naadi Ali as, maka kalau mau bacalah satu dua kali hanya untuk meminta kepada Allah terjauhkan dari dampak buruk buku SMS tersebut. Wasalam.

Sri Purni: Salam afwan, bisa dijelaskan bagian a (bisa benar dan bisa salah, jadi tidak mewakili siapapun ).. itu terlihat seperti anda tidak yakin tetapi pun berani menyalahkan, bila memang anda yakin tidak seperti itu bahasanya,. dan anda adalah wakil dari yang anda katakan... afwan.

Sinar Agama: Sri, bukan: “bisa benar dan bisa salah, jadi tidak mewakili siapapun.”, akan tetapi: “Jadi, bisa salah dan bisa benar dan tidak mewakili siapapun.” Dan kedua kalimat tersebut, jauh berbeda. Coba baca lagi dan kalau masih belum bisa menjawab pertanyaan antum, tanyakan lagi.

Abdurrahman Shahab: Semoga buku sms dapat memberikan manfaat yang besar bagi yang menulis, menerbitkan dan yang membacanya, demikian juga yang mengkritiknya, membaca kritikannya dan menyetujui kritikannya

Mari kita kembali bergandengan tangan dalam memperjuangkan kemuliaan dan kebenaran ajaran Ahlul bait, dengan cara dan kemampuan masing-masing yang kita miliki tanpa ada saling hasud diantara sesama.

Mari salin mengingatkan kembali tentang ketinggian dan kebenaran Ilmu Ahlul bayt dengan menjunjung tinggi Ahklaq dan kemuliaan ajarannnya dengan tidak salin mencaci dan menghina serta meledehkan diantara para pencintanya.

Hargailah pemikiran ILMIAH sari sebuah hasil karya dengan melakukan produk ilmiah juga dan tidak menjadikannnya sebagai degelan dan lelucon pasar dikerumunan ramai yang tanpa arah dan tujuan dari yang mendengarkannnya.

Abdurrahman Shahab: Tambahan “ yang tidak penting” : orang buku filsafat ketuhanan yang menyimpang dari kebenaran esensi ketuhanan saja tidak diharamkan, bahkan menjadi bacaan wajib para filosof islam dan para irfan, apalagi hanya buku sms yang jelas-jelas merupakan karya islam ke- Indonesiaan yang memiliki tujuan sangat mulia dan pemahaman yang baik dari banyak sisi.

Sinar Agama: Abdurrahman, sayyidnaa, bacalah tulisan orang itu dengan berusaha memahami maksud tulisannya secara uruf, jangan diplintir-plintir he he... afwan.

Abdurrahman Shahab: Afuan Satu lagi Ustadz Sinar Agama, rasanya agak berlebihan, tidak pas, labay dan terlihat terlalu galau untuk menyamakan seruan antum selayak nya seruan Imam Husain a.s...

Afuan sekali lagi ya habibi Ustadz SA.

Sri Purni: Pembelaan diri anda menyudutkan anda, afwan.. kata “jadi” semakin memperlihatkan ketidakyakinan anda akan kebenaran pendapat anda,.

Sama-sama ustad, sama-sama AB, tapi mengkritik dengan cara di depan umum, tanpa diskusi langsung.. sungguh terlihat sangat memalukan, karena gelar yang ada.. bila orang awam itu mungkin tidak terlalu penting, tetapi ini..?

“orang awam tidak mgkin bisa menyesatkan orang,. tetapi para ulama dan penguasa bisa”

Abdurrahman Shahab: Iya Ustadz... mari kita baca baca buku sms ataupun kritikan yang ustadz berikan secara uruf dan tidak diplintir-plintir, apalagi bertujuan untuk memprovokasi, seperti yang sempat dijadikan bahan diskusi dengan memberikan pertanyaan atau menanggapi sebuah kalimat di dalambuku sms seperti yang sering dikutif oleh ASZ, SP, HL dan beberapa yang lain dengan nada dan kalimat yang diplintir dan menjurus ke arah provokasi dankebencian....

Semoga saja niat mereka baik demikian juga yang mencoba membela buku sms atau menanggapi kritikan ustadz, semua memiliki niat yang baik dan di rodhoi oleh Allah dan para Aimmmah a.s

Semoga tiada kebencian dan hasad diantara kita semua para pencinta AB.

Fikri Disyacitta: Salam ustadz SA, kemaren saya berjalan-jalan di sebuah toko buku dan menemukan buku “Hitam di Atas Putih” tulisan Amin Muchtar. Buku itu membantah “Buku Putih Madzhab Syi’ah” terbitan ABI. Kiranya mungkin urgen betul bagi ustad SA dan asatidz madzhab Ahlul Bait lainnya untuk melakukan kontrawacana pula lewat buku. Ancaman dari Wahabi semakin serius. Terimakasih, maafkan saya yang kurang ajar ini. Salam.

Fahmi Alkaff: Orang awam lebih menghormati ustadz karena adab, ucapan dan perilakunya...... kedalaman ilmu yang berikutnya....karena ilmu itu untuk penuntutnya dan para arif bijaksana....

Aswandi Amran: Pak ustadz SA, terimakasih semoga Allah membukakan pintu hati dan akal kita untuk menerima kebenaran...

Sang Pencinta: Abdurrahman, cukup antum buktikan satu pernyataan yang saya plintir secara provokatif. Satu saja, tidak banyak-banyak. Kalau antum tidak bisa membuktikan (dan pasti tidak bisa membuktikan), berarti...

Abdurrahman Shahab: Bukankah antum, SP, pernah menulis bahwa yang menulis buku sms itu tidak mempunyai kredibilatas ke ilmuan yang cukup, padahal semua orang tahu bahwa yang menulis buku tersebut adalah salah seorang asatid Syi’ah yang ada di Indonesia...

Apakah antum menganggap diri antum lebih alim dari ust ML, sehingga berani menilai seperti itu ?

Afuan, sebaiknya antum merenungi saja, apa yang sudah pernah kita buat yang mungkin bisa memperkeruh suasana, dibandingkan ingin melakukan pembelaan diri.... afuan sekali lagi.

Sinar Agama: Sri, sepertinya antum bukan mau klarifikasi tulisanku toh. Kalau mau berbeda, yah... berbeda saja. Monggo...., kan semua amal tiap orang akan dipikulnya sendiri termasuk kita-kita ini. Jadi, saya sudah gugur kewajiban memberikan penjelasan kepada antum sebab antum tidak bertanya. Btw.

Sinar Agama: Abdurrahman, antum silahkan jalan dan kami juga akan jalan sesuai dengan keyakinan kami. Monggo, monggo.....

Sinar Agama: Fikri, kalau saya bisa membantu, maka silahkan bawa ke fb ini, tapi sikit-sikit, jangan sekaligus. Nanti kita akan bahas sesuai kemampuan dan kondisinya, in syaa Allah. Tidak ada beda kewajiban bersama untuk menanggapi penjelasan miring tentang Syi’ah, apakah ditulis orang Syi’ah atau bukan Syi’ah.

Bintu Zahra: YA ALLAH

Natsu Dragneel Shiriyu: Pak ustad Sinar Agama, saya bingung dengan Islam sekarang terlalu banyak ada yang Sunni, Syi’ah, wahabi, JIL, ISIS,, dan lain-lain yang bener yang mana pa ustadz...tolong beri pencerahan orang faqir ilmu ini...

Imamah Dzil Qurba: Alhamdulillah, saya mulai bisa paham dikit-dikit ajaran Syi’ah. Terimakasih Ustadz SA, SP, semoga Allah memberkahi anda sekalian di manapun berada. Aamiin3x.

Abdurrahman Shahab: Ana masih bagian dari “kami” yang ustadz maksud, atau, memang ustadz sudah membaut barisan/front sendiri yang ingin memisahkan “kita” menjadi “kami” dan “aku” ustadz?

Sudah sejauh itukah ???

Nazriel Adam Ygselalucyangkkakninna: Penjelasan ustadz sudah jelas tapi kenapa masih banyak yang belum mengerti, ana bingung kepada mereka yang tidak mengerti disebabkan oleh apa? Apa karena kefanatikan terhadap golongannya atau adakah alasan lain sehingga mereka tidak mengerti atau tidak mau mengerti?

Sang Pencinta: Abdurraman, sayyid, antum tidak kunjung membuktikan hal yang antum tuduhkan. Kedua, sangat terlihat antum sendiri ragu terhadap apa yang antum tulis. Ketiga, antum ingin membela buku itu (yang menyatakan marja tidak mesti diikuti) atau membela marja antum? Silahkan, silahkan sayyid mau di posisi mana.

Bintu Zahra: Sebaiknya merujuk kepada si penulis SMS. Agar kita tau maksud dari buku itu.

Tak usah kita ributkan ini di media .

Janganlah kita menghacurkan tembok yang kokoh dibangun oleh Baginda Agung MUHAMMAD saw, walau pun setiap padangan dan berpikir kita berdah marilah kita tetap bergadeng tangan jangan bercerai berai.

Saya rasa ke ributan ini tidak akan membawa manfaat. Maaf sebelumnya.

Sang Pencinta: Bintu, tulisan buku itu sangat sederhana dipahami, tidak perlu jenjang pendidikan tinggi untuk memahaminya. Cukup bandingkan dengan fatwa seluruh marja hf bab ketaqlidan, maka akan sangat menyala kebathilannya. Btw saling salah menyalahkan di medan argumntasi satu hal, mengukuhkan persatuan muslimin satu hal. Jangan dibenturkan antara dua hal ini.

Fahmi Alkaff: Wah ini bagus.....nampaknya banyak bertebaran ustadz... yang semuanya belum saya kenal.....alangkah bagusnya bila mendiskusikan materi yang berguna dan tidak berbahaya supaya yang awam ini bisa belajar tentang Syi’ah lebih dalam, bukan belajar cara bertahan dari serangan atau menyerang lawan ....walaupun dengan santun....cukuplah orang orang pintar jaman dulu saling serang lewat hadits....bikin hadits....dan seterusnya untuk menyerang dan bertahan.....oh ya....kenapa yang nulis bukunya ga pernah muncul...??

Bintang Kejora: Kak Sini Dech, Ada Sesuatu Yang Sangat Menarik Menurut Dede, Yaitu Pengakuan Si Sa Bahwa Pemahamannya Mengenai Agama Dan Syi’ah Masih Terbilang Cetek Kak Iik Fikri Mubarok.

Sinar Agama: Natsu, kalau mau ringkasnya yang benar adalah Islam yang dibawa Ahlulbait yang Makshum as yang kita shalawati terus dalam shalat sehari-hari kita. Pengikut imam-imam Makshum as ini, disebut dengan Syi’ah dan dulu disebut dengan raafidhah karena tidak menerima para khalifah. Yakni menolak mereka karena diyakini bahwa yang mesti jadi khalifah itu adalah imam Makshum yang 12 orang dan dari keluarga Nabi saww.

Setelah masalah keimamahan ini terlalui, maka para imam Makshum as sendiri memerintahkan kita untuk mengikuti para alim ulama yang penuh dengan ketaqwaan. Karena itu kita mesti mengikuti ulama itu. Dan mengikut ini diistilahkan dengan taqlid sedang yang diikuti diistilahkan dengan marja’ atau tempat merujuk.

Tentu saja, yang mesti taqlid ini dalam urusan fikih. Sementara urusan akidah tidak boleh taqlid dan wajib mengerti dengan akalnya sendiri. Boleh mendengar penjelasan ulama atau udtadz atau teman, akan tetapi tidak boleh menerima kecuali kalau dalam akalnya sudah jelas bahwa hal itu adalahbenar. Kalau nanti ketahuan bahwa pahamannya ini salah, maka wajib berubah kepada yang baru yang lebih benar itu.

Minimal akidah yang mesti dipahami dengan akal adalah tentang keTuhanan, keAdilanTuhan, kenabian, keimamahan/ kepemimpinan Makshum as dan hari akhirat.

Sinar Agama: Nazriel, buruk sangkanya karena kepentingan dan kefanatikan. Baik sangkanya karena dari awal sudah melihat bahwa pandangan dan pilihannya sudah bagus. Nah, ketika yang difokus itu hanya yang dia pahami itu, maka tulisan orang lainpun akan diplintir-plintir DENGAN IKHLASH kepada yang dia pilihi itu. Saya katakan ikhlash karena memang tidak ingin membuat kerancuan melainkan hanya kekurang bijakan dalam menata cara berfikirnya. Itulah mengapa saya sering katakan bahwa sekalipun kita sudah yakin terhadap kebenaran kita, kalau ada yang membantah, maka mestilah kita berusaha memahami pembantah itu sesuai dengan maunya si pembantah, bukan maunya kita. Ini yang dikatakan berbuat adil dalam berdiskusi.Setelah kita paham sesuai dengan maksud pembantah, maka barulah kita dibolehkan mengajukan pendapat dan dalil kita apakah kita menerimanya atau menolaknya. Intinya dipahami dulu maksud orangnya, baru kita dukung atau sanggah dengan dalil.

Sinar Agama: Bintu, kalau begitu, maka sebaiknya penerbit menarik bukunya dulu, karena tidak bisa dipahami kecuali dengan bertanya ke penulis.

Sinar Agama: Bintang, bukan hanya cetek, tapi lebih kecil dari sepermilyard cetek. Bagaimana mungkin saya akan merasa tahu Islam secetek sekalipun, sementara ia adalah lautan yang tidak terbatas yang tidak bisa disentuhnya secara menyeluruh kecuali Makshumin as. Btw, kalau tidak suka ilmu cetek, maka antum bisa mencari ilmu yang tidak cetek. Monggo...semoga mendapatkan ketidakcetekan dan selamat dunia-akhirat.

Bintang Kejora: Hmm... Belum Apa-apa Saja, Dach Menilai Seseorang Yang Bukan-bukan, Ketahuan Sekalee Anda Ini Sangat Terburu-buru Sekalee Menilai Seseorang Yang Bukan-bukan Kalau Anda Ga Suka, Yaudah Diam Saja, Ga Usah Menjelek-jelekkan Orang Lain Dengan Kata-kata Yang Bukan-bukan.

Andri Kusmayadi: Ustadz, ana kan sudah memiliki buku tersebut, waktu itu istri yang beli...tapi belum rame-rame seperti sekarang ini...nah, ana juga waktu itu baru baca sebentar dan ana langsung baca yang soal Iran..dari situ ana sudah bisa menebak akan seperti itu pernyataannya karena secara umum ana sudah tahu posisi penulis dalam hal hubungan kita dengan Iran dan bagaiamana melihat Iran... setelah tahu itu, ana tidak membacanya lagi karena selain kesibukan, juga ya itu sudah ketahuan isinya ke mana...yang ingin ana tanyakan apakah sekarang ini ana tetap haram untuk membaca keseluruhan buku tersebut? Atau apakah ana tetap wajib untuk menghancurkan buku tersebut? Kalau sekarang ini setelah antum membahasnya panjang lebar sepertinya kalaupun baca buku itu semuanya, akan tahu letak kesesatannya? Kemudian, apakah ana tetap mempunyai kewajiban untuk meminta penerbitnya atau ormasnya untuk menarik buku tersebut? Artinya, wajibnya ain atau kifayah. Jadi, sudah diwakili oleh antum? Hehe...syukron.

Sinar Agama: Andri, paling tidak, buku itu tidak boleh dibaca lagi. Kalau menurut saya, mungkin ditaruh sebagai data ngecek ketika kita membahasnya dan menyebutkan buktinya. Tapi tidak boleh dibaca tanpa hal itu.

Untuk permintaan penarikan itu, karena lebih banyak lebih kuat, maka setidaknya setiap orang yang sudah paham kesesatannya mesti melakukannya.

Bintu Zahra: Saya sering baca tulisa ustadz dan dari tulisan itu saya banyak merauk info mengetahuan yang saya tidak tau jadi tahu.

Bukan maksud saya untuk bicara tidak sopan pada ustadz maaf sebelumnya.

Diskusi makin memanas akhirnya ada pihak-pihak yang tidak baik ingin mengadu domba persaudaraan ini.

Yang ada ribut saling mejatuhkan. Sekali lagi maaf.

Sinar Agama: Bintu, itu memang akibat normal suatu perbedaan. Yang paling penting, kita hanya membatasi isi dan tidak larut dalam adu domba dan selalu memberi penjelasan pada yang memahami adu domba. Nah, kalau ada yang adu domba atau teradu domba, maka kita mesti mengingati mereka, bukan menarik kritikan pada buku yang nyata kesesatannya yang diatasnamakan Syi’ah itu.

Andri Kusmayadi: Oh gitu ya ustadz, syukron atas jawabannya...ahsantum.

Bintu Zahra: Adu domba ini tidak terasa masuknya.

Imamah Dzil Qurba: Ustadz SA, SP, apapun bentuknya, suatu yang benar/salah memang harus diungkap, biar yang awam seperti saya ini tidak keliru dalam melangkah.

Imamah Dzil Qurba: Mohon ustadz SA, SP, jangan pernah bosan mendidik kami.

Filzah Fatinah: Salut kakak Sinar Agama....berbahagialah kkk mendapat hujatan banyak orang, karena berjuang buat para Aimah as tidak semudah membalikkan telapak tangan....salut atas kesabaran dan kesopanan kkk dalam menghadapi hinaan hinaan mereka.... yang membalas tidak dengan ilmiah... semoga Allah SWT, Rasulullah SAWW dan ahlul bait ridho pada apa yang kkk perjuangkan,,,,aku yang fakir selalu doa buat kkk juga sang pecinta....Bihaqqi Muhamma wa aali Muhammad...