Senin, 02 Desember 2019

Hubungan Antara Tuhan Yang Mutlak dan Suci dengan Manusia (5)

5. Hubungan Antara Tuhan Yang Mutlak dan Suci dengan Manusia (5)

https://m.facebook.com/notes/abil-ghifari/hubungan-antara-tuhan-yang-mutlak-dan-suci-dengan-manusia-5/750247881725288/?refid=21


Surya Hamidi: Ga pake kayaknya, ini post yang sudah jelas arah dan tujuannya. Begitu juga post di wall kamu. Kalian memang suka menyulut perpecahan.

Hendy Laisa: Surya Hamidi, Bener-bener kasyaf, beliau tau sekali ya mata ana dah tertutup kebencian mendalam kepada tim pengarang buku tersebut.. but you make big mistakes brotha.. that’s wrong!!!

Surya Hamidi: Up to you lah mau ngomongin ana apa, yang jelas ana gak pernah musuhi antum.

Azmy Alatas: Hahahahaha... Ta pikir sughulnya emang bikin kritikan mas Abu Alief Al Kepri.

Surya Hamidi: Kalau kalian tidak benci, dan ingin bahu membahu dalam kemajuan Syi’ah di Indonesia ini, datangi kantor ABI atau datangi Rumah Ustadz Muhsin Labib. Kalau kalian tidak tau alamatnya, biar aku antar sampai ke depan pintu rumahnya.

Hendy Laisa: Azmy Alatas> Baiknya antum cari nukilan seperti yang di komen ustadz.

Surya Hamidi: Membedah buku tanpa pengarangnya padahal pengarangnya masih hidup, alamatnya jelas, organisasinya jelas, kantornya jelas... Intinya kalian hanya tim sorak yang sorakan kalian adalah bomb-bomb waktu yang suatu saat akan meledakkan rumah sendiri.

Azmy Alatas: Hendy Laisa, Bukunya jelas, tim nya jelas, penerbitnya jelas, kantornya jelas, organisasinya jelas, maksud dan tujuan penulisan jelas, sasarannya jelas, harapannya jelas. --->tanpa menunggu keterangan dan respon dari keseluruhan yang jelas tersebut muncul nukilan yang bersandarkan pada fatwa: Haram dan Sesat.

Padahal antara penyeru dan yang diseru sama-sama tak punya otoritas dalam keagamaan.

So, cobalah pakai metode akademik yang lazim dalam membangun kritik otokritik. Sama-sama di bidang akademik dan pengajaran, bukan? Sama-sama kelas terdidik, bukan? Buatlah ruang berbantah yang adil...

Hendy Laisa: wah kayaknya Surya Hamidi gak baca penjelasan ustadz soal kritik mengkritik karya ilmia.

Surya Hamidi: Siapa ustadz? Bagiku yang dinamakan ustadz itu yang mendidik, bukan yang menjerumuskan dan berlindung di akun bodong.

Hendy Laisa: Seperti antum gak pernah punya akun bodong aja.

Azmy Alatas: Hendy Laisa, Hihihi..ana tau maksud antum supaya membuktikan bahwa ana punya bukunya..lalu ana supaya nukilkan...karena antum lagi ga pegang buku, secara di yayasan itrah cuma ada 1 buat barengan semua umat kan...

Males banget menukil, wong saya peserta diskusi kok, ada fasilitator buat apa...ini kan lagi penyidangan dan penghakiman sepihak tanpa dihadiri pihak yang diadili... Mestinya kalian punya tim fasilitator yang menyiapkan data lengkap dong... Masak cuma menukilkan saja kok susah amat....atau ga pake data? Ah, ga mungkin... Heheeheehe... Piss..

Hendy Laisa: Bagi antum bodong tapi bagi ana itu gak jadi soal, yang jelas penyampaiannya argumentatif, mendidik, logis bagi ana yang goblok ini...

Azmy Alatas> Owh gak seperti dugaan antum, punya bukunya tau gak itu bukan urusan ana besok antum juga bisa beli kok.

Surya Hamidi: Aku pernah punya akun bodong tapi bukan untuk mengkritik Syi’ah dan menciptakan benih-benih perpecahan. Akun pertamaku dengan nama asli ini juga dan diblok oleh admin. Sekarang akunku ya ini.

Hendy Laisa: Iya iya mas ana tau akun-akun antum kok. Sekali lagi itu pendapat antum soal ciptakan benih-benih perpecahan, bagi kami di sini gak begitu kok.

Said Hasnizar: Surya Hamidi dan Azmy Alatas, Ada yang minta agar diadakan diskusi panel di Ithrah Institude. Saya hanya tolong menyampaikan dan mungkin hanya sebagai pemerhati soalnya buka fb paling cuman sekali seminggu. Saya rasa ini ide bagus, diskusi tentang buku SMS, dari pada di bahas di sebarang dinding.

Surya Hamidi: Ini juga bagian dari sembarang dinding Abu Alief Al Kepri..!! Siapa yang menjadikan ini dinding resmi yang disepakati?

Azmy Alatas: Abu Alief Al Kepri, Hah..ngapain cuma di itrah? Roadshow dong, setiap kota dan basis kita buat! Tentunya setelah ustadz SA melakukan dan menyampaikan tabayun, apakah mungkin...??? Bukankah ustadz SA itu tokoh fiksi, mana mungkin akan terjadi panel. Kalau dia di panel, ya mustahil yang di panel adalah SA. Bukti bahwa yang di panel adalah SA apa.

Hendy Laisa: Azmy Alatas> ide bagus tuh..ente head to head dengan kami..hitung-hitung sebagai warming up.

Azmy Alatas: Hahahaaaha....sama-sama interpretator ngapain menjadi sok tahu atas konten buku...

Mau bikin tambah kabur dan kagak jelas jluntrungannya? Semua yang berkaitan dengan buku SMS adalah JELAS dan wujud. Penerbitnya, teballnya, halamannya,, penulisnya, alamatnya, dan sebagainya. Bisa antum sentuh dan bisa didengar suaranya.

Lantas bagaimana dengan ustadz SA ?

Apakah beliau nya juga siap?!
Bagaimana mewujudkan yang samar itu?

Pake hijab, pake asap, awan, kabut, topeng atau bagaimana pas kelak di panel...
Hhaahahajahahahaha....seru nih...

Hendy Laisa: kita berdua aja dulu, gak usah libatkan orang lain..SIAP GAK???

dr

Said Hasnizar: Surya Hamidi, Ini juga bagian dari sembarang dinding Abu Alief Al Kepri..!!

Siapa yang menjadikan ini dinding resmi yang disepakati?

========================

Kok jadi ga nyambung ya brey?

Azmy Alatas: Abu Alief Al Kepri, Hah..ngapain cuma di itrah? Roadshow dong, setiap kota dan basis kita buat! Tentunya setelah ustadz SA melakukan dan menyampaikan tabayun, apakah mungkin...??? Bukankah ustadz SA itu tokoh fiksi, mana mungkin akan terjadi panel.

Kalau dia di panel, ya mustahil yang dipanel adalah SA. Bukti bahwa yang di panel adalah SA apa.

=========================

Kok bisa dua-duanya ga nyambung nih.

Azmy Alatas: Yang saya maksud diskusi antara antum berdua dengan tim Ithrah Institude, saya ga bilang ada ustadz SA-nya.

Ongen Amq: Man arafa nafsahu, faqad arafa rabbahu. Mudah-mudahan bisa tau diri masing-masing aja.

Azmy Alatas: Hendy Laisa, Ya sama lah..ga penting situ tau ana bukunya atau enggak, yang pasti di hal.269 paragraf terakhir tertulis:

4. Imam Ahmad meriwayatkan hadis berasal dari Jabir bin Samurah tentang dua belas khalifah/ amir....dan seterusnya.

Silakan dicek...hehehehe...pisss..

;-D

Andika Karbala: Mas Surya di balik akun walaupun nama disamarkan bukan berarti tanpa tanggung jawab. Saya jadi saksi bahwa Ustadz- SA adalah seorang terpelajar yang selalu berhujjah dengan dasar ilmu bukan hujatan dan cacimaki dengan kata kotor tanpa dalil. Justru saya melihat orang yang kata-katanya kotor itulah yang bodong karena tidak sadar bahwa setiap ucapannya walaupun di dunia maya ini akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Saya sependapat dengan Ustadz-SA bahwa Imamah itu merupakan Usuludin dalam keyakinan Syi’ah kalau ada pihak Syi’ah yang meragukan kemakshuman Imam as, lah.. apalagi yang kita banggakan bagaimana kita bisa meyakini marja/ulama kita padahal ulama itu wakil dari Imam Mahdi afs. Ini bukan masalah benci atau tidak benci, hasad atau tidak hasad tapi masalah Usuludin dalam keyakinan kita.

Azmy Alatas: Abu Alief Al Kepri, Ajiiibb...antum mau panel ana dan Surya Hamidi yang tidak terkait dengan bagaimana buku SMS itu terbentuk?

Tujuannya apa?

Apakah tim itrah tidak bisa mengundang tim ABI?

Bukankah antum-antum di sana butuh kejelasan maksud dari buku SMS tersebut?

Atau punya tujuan lain?

Said Hasnizar: Azmy Alatas, Saya hanya menyampaikan saran teman.

Azmy Alatas: Andika Karbala, Emang menurut SMS bukan ushuludin.... Atau menurut arahan dari penjelasan ustadz atas nukilan tersebut sehingga anda berpersepsi bahwa dalam SMS imamah bukan ushuludin? Hehehe...

Azmy Alatas: Abu Alief Al Kepri, Tanya sama Hendy Laisa itu yang dekat dengan orang-orang ABI untuk bisa mempertemukan itrah sama ABI... Hahaha.. Jangan repot-repot..

Said Hasnizar: Azmy Alatas, Mungkin teman itu bermaksud baik dengan mengajak anda dan om Surya Hamidi buat diskusi. hemmm

Hendy Laisa: Nih ada saran nih, saya ga ngerti yang ginian.. Maaf saya mau istirahat. Salam.

SatriaPmlg: Bikinaturanitugampang,,yangsusahitusportifitasdalammelaksanakannya,,,,,khusus buat ,,bang azmiy,,afwan akhiy,,,,

Sang Pencinta: Saya tidak suka menulis ini, tapi karena bahasa ikhwan yang satu ini sudah tidak normal lagi, maka terpaksa saya tulis, ‘Apakah ia pernah bertanya pada Tuan Guru Sinar Agama di wall kami tentang hukum waris’. Kok bisa orang yang dikatai ‘sampah’ dijadikan tempat bertanya!!!. Raksyih. Memang ketika emosional, daya hewaniah membalut akal, maka kebencian begitu mudah menyambar.

Kamal AvicenNa: Jadi betul kalau orang sedang terbawa emosional terlihat sperti orang bodoh..

Sang Pencinta: Perlu dicatet, apa-apa yang terpampang di sini akan kami dokumentasikan sebagai arsip dan khalayak luas ratusan bahkan ribuan pasang mata bisa menyaksikan..

Azmy Alatas: Satria Pmlg, Sudah dibuka halaman bukunya?

Azmy Alatas: @satria pmlg: Anda kasih dong teguran ke akademisi yang sudah puluhan tahun belajar... tapi ga paham gimana kritik ilmiah itu berlaku....

Ini lagi kritik ilmiah atau galang umat buat sepaham sana subyektifitas seseorang? Hehe..piss

Hendy Laisa: Azmy Alatas, Bener-bener gagal paham ckckckck ahsan antum gak usah komen lagi.

Azmy Alatas: Hendy Laisa oh... Hahahaha...

Azmy Alatas: Hendy Laisa, Oh, antum minta di panel diskusi sama ana? Emang nya elu siapa, dan ane siapa? Tujannya kan bredel buku? Anu, bukannya antum punya kontak orang-orang ABI ya?

Kenapa itrah tidak berani datangkan tim ABI sekalian sebagai narasumber, entar Sinar Agama pake teleconference ya juga gapapa seperti yang biasa dilakukan temen-temen via onlen..... tapi ahsan datengkan Sinar Agamanya entar dipakein topeng biar ga ketauan, ...ada fulusnya kan?!

Hehehe...piss...

Hendy Laisa: Azmy Alatas,

Ali Assegaf sedang saya coba undang ABI dari salah satu ormas NU dan semoga mereka diberi hak bicara ... tidak boleh kita dzalim padanya ... walau ormas dzalim ABI tidak berlaku keadilan ...

Ada bentuk yang jelas ... semoga punya rasa malu itu ormas ABI ... tidak terputus rahmat ALLAH yang menyeretnya pada golongan yang dikutuk ALLAH SWT.

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=854952831222354&set=a.427089434008698.120077.100001229357851&type=1




Tidak ada komentar:

Posting Komentar