Bersama Akidah, Fikih Menjadi Prioritas dan Utama. Melalui Fikih, Manusia Mengetahui Apa Yang Diingini Tuhan - Ust SA



(1). Perintah dan larangan Tuhan itu ada di berbagai obyek bahasan ke Islam, dari sejak akidah, fikih, akhlak, politik dan apa saja yang menjadi bagian Islam seperti tafsir. 

Contoh-contoh perintah dan larangan: 

a. Dalam akidah, seperti : Kita diperintahkan untuk mengerti dengan akal tentang Diri Tuhan, KeMaha-an Tuhan dan seterusnya sebagaimana saya sudah menulis di catatan yang berjudul “Kita Harus Memikirkan Tuhan” dan lain-lain catatan. Begitu pula suruhan terhadap beriman kepada Nabi saw dan seterusnya. Sedang larangannya seperti dilarang menyekutukanNya, dilarang taqlid buta dalam masalah keimanan dan seterusnya. Untuk mengetahui hal ini, harus belajar akidah dengan baik dan matang serta dengan dalil yang gamblang.

b. Dalam fikih seperti: perintah shalat, puasa,.dan seterusnya. Sedang laranganya adalah semua yang diharamkan Allah, seperti zina, pacaran, judi, bunga bank, korupsi, dan seterusnya. Intinya, semua kewajiban yang ada di fikih, yang adanya ribuan atau puluhan ribu itu, semuanya adalah yang diwajibkan Tuhan dan semua yang diharamkan di fikih yang juga ribuan, merupakan laranganNya. Mungkin secara global kwajiban itu bisa dihitung jari, seperti shalat, puasa, khumus, zakat dan seterusnya. Tetapi dalam masing-masingnya itu terdapat puluhan dan ratusan atau bahkan ribuan kewajiban lagi dimana kalau tidak diperhatikan, maka dasar kewajibannya, seperti shalatnya, tidak dianggap telah diselesaikan (batal). Untuk mengerti kewajiban dan larangan fikih ini, maka harus belajar fikih dengan benar dan cermat serta diulang-ulang supaya ingat. 

Perintah fikih dan larangannya, bisa memiliki dua bagian: Pertama, sampai ke tingkat dosa kalau melanggarnya, dan tidak sampai dosa melanggarnya tapi mendapat pahala kalau melaksanakannya. Yang sampai dosa kalau dilanggar, suruhannya dikatakan Hukum Wajib dan larangannya dikatakan Hukum Haram. Sementara yang tidak sampai dosa melanggarnya, kalau suruhan disebut Hukum Sunnah dan kalau larangan disebut Hukum Makruh. 

c. Dalam akhlak, seperti: Anjuran senyum sesama muslim (asal tidak lawan jenis), membantu tetangga atau orang yang memerlukan, silaturrahim kepada keluarga, menyantuni dan tidak memaksa orang lain yang beda pandangan (tapi bukan mengorbankan prinsip diri) dan seterusnya. Sedang larangannya, adalah kebalikan dari kewajibannya itu, seperti cemberut muka (kecuali wanita kepada lelaki bukan muhrim), tidak membantu tetangga, kurang santun dan memaksakan pandangannya kepada orang lain dan seterusnya.

Secara umum, perintah dan larangan di akhlak ini tidak memiliki konsekwensi dosa dan biasanya hanya mendapat pahala kalau melakukan perintahnya dan tidak mendapat dosa kalau meninggalkannya atau melanggarnya. Akan tetapi, sebagaian dari perintah dan larangan akhlak ini, memiliki konsekwensi dosa juga seperti ghibah/gunjing. Tidak membantu sesama muslim yang perlu bantuan dan meminta bantuan sementara kita mampu membantunya tetapi tidak membantu dan seterusnya. 

d. Dalam politik, seperti: PerintahNya untuk menghukumi apapun dalam kehidupan kita ini dengan hukum-hukum Islam, seperti memotong tangan pencuri, mencambuk penzina, mengangkat pemimpin yang sesuai dengan syarat-syarat agama, yaitu Nabi saww, atau wakilnya yang disebut dengan imam Makshum as atau wakil wakilnya yang disebut dengan ulama/marja’ dan lain-lain perintah. Sedang larangannya adalah sebaliknya.

(2). Masih banyak lagi cabang atau bagian-bagian suruhan dan larangan Tuhan dalam semua aspek kehidupan kita sehari-hari, baik yang menyangkut hati/akal dan aplikasinya. Karena itu, apapun kesibukan antum dan teman-teman, harus dapat menyisakan waktunya walau tidak terlalu banyak untuk belajar agama, baik melalui buku agama yang bermutu, atau diskusi, kajian atau bahkan seperti fb ini.

Perintah dan larangan Tuhan itu, secara umum dikatakan Takliif, atau Tugas atau Beban atau Tanggung Jawab atau Kewajiban dan seterusnya di dalam agama yang datang dariNya. Akan tetapi, sebenarnya, ia merupakan Kasih Sayang Tuhan kepada kita. Jadi, semua perintah dan larangan itu, bukan merupakan tugas bagi kita, akan tetapi berupa Manual Kehidupan. Persis dengan Manual Alat-alat yang kita beli dari toko yang mewakili pabrik produk yang kita beli itu. Bayangin saja, kalau awal adanya komputer tidak ada manualnya, kalau awal adanya mobil tidak ada manualnya, kalau awal adanya pesawat tidak ada manualnya dan seterusnya maka alat-alat itu bukan saja tidak akan dapat membantu kita, akan tetapi bahkan akan mencelakakan kita. 

Manusia dan lingkungan alam semestanya ini, merupakan alat yang Maha Besar dibanding alat-alat kehidupan lainnya. Karena kalau tanpa manual dan bimbingan penggunaannya, maka sudah pasti penciptaan semua ini (alam ini termasuk manusia) bukan hanya tidak berguna, akan tetapi justru akan mencelakakan manusia itu sendiri. Karena itu, agama itu tidak beda dengan manual alat-alat yang kita beli, tidak beda dengan rumus-rumus lalu lintas dan seterusnya. Dimana pengadaannya hanya dan hanya untuk kebaikan manusia itu sendiri dan sudah tentu dimana tanpa manual tersebut bukan hanya manusia hidup akan menjadi tidak akan berguna, akan tetapi justru akan hancur dan celaka. Maha Benar Allah Ketika Mensifati DiriNya dengan Maha Pengasih dan Penyayang.

Nasihat Untukku Dan Setiap Individu Dalam Masyarakat

Secara global, mental Indonesia sangat susah untuk jadi pemimpin dan jadi dipimpin, karena tidak memiliki mental di kedua sisi itu.

Nah, Syi’ah Indonesia juga demikian sebagai bangsa Indonesia. Penyakitnya macam-macam, ada yang tidak punya ilmu, atau punya sedikit banget ... dan seterusnya, tetapi ngotot ingin jadi pemimpin, sampai-sampai W.F. (Wali Faqih) yang agung dikecilkan menjadi W.F. - kecil-kecilan.

Yang lebih rumit lagi adalah yang mau dipimpin. Yang mau memimpin saja tidak ada dan tidak memiliki kelayakan apapun, yang mau dipimpin juga tidak memiliki mental kerakyatan. Karena hanya mau taat pada yang ia suka dan itupun hanya pada yang seide. Jadi di samping orangnya harus segolongan, perintahnya juga harus dalam hal-hal yang seide. Nah, dalam keadaan demikian, maka persis dengan orang yang ingin menata peradaban tinggi tetapi tidak dengan adab-adab peradaban. Atau sama dengan perlunya mursyid, sementara tidak ada yang jangankan jadi mursyid jadi murid mursyid saja tidak ada yang layak, tetapi berlagak paling arif dan mursyid. Yang mau jadi murid juga sama sekali tidak punya potensi itu, tetapi sama sekali tidak menyadarinya dan bahkan merasa paling layak untuk menjadi murid atau bahkan sudah merasa naik ke tingkat setengah mursyid hingga kesana kemari berlagak seperti orang fanaa’ dan mengajarkan kearifan atau keirfanan. Akhirnya masyarakat beradab yang diinginkan secara perasaan tapi tidak diinginkan secara filosofis itu (karena tidak mau berkorban mencari ilmu dan taqwa dan tidak berkorban untuk bersatu dengan selain golongan) hanyalah berupa PERADABAN MIMPI.

Jadi, kuncinya, bukan di INGINNYA KITA DAN BETAPA BAGUSNYA YANG DEMIKIAN ITU, YANG BERADAB ITU, YANG RAPI DAN TERATUR ITU .... DAN SETERUSNYA, karena INGIN yang seperti itu hanyalah khayalan dan insting natural yang ada pada setiap insan dan binatang (karena binatangpun tidak ingin diburu yang lebih kuat), artinya bukan menunjukkan manusianya manusia. 

Tetapi kuncinya adalah di KEINGINAN YANG FAKTAIS dan FILOSOFIS, yakni yang teraktual sesuai dengan prosesnya yang benar, BUKAN TIDAK BERPROSES TAPI MAU MEMBENTUK, yakni bukan yang tidak mau berproses jadi pemimpin tetapi mau jadi pemimpin, begitu pula yang mau dipimpin, artinya bukan yang tidak mau berproses jadi rakyat, tetapi ingin jadi rakyat yang dipimpin. Karena itulah maka kalau wf saja ada mininya alias tidak memenuhi syarat, maka rakyatnya juga akan ada mininya. Yakni wf mini memimpin rakyat yang juga mini.

Jadi, kalau memang mau, maka berproseslah dengan benar, ada yang berusaha jadi pemimpin yang baik, yang mengasah ilmu yang tinggi dan mengasah otaknya=akalnya supaya tajam sesuai dengan jamannya, memperluas hatinya, menuluskan niatnya, memprofesionalkan semua pikiran dan langkah- langkahnya, meninggalkan kesukaannya pada dunia sekalipun halal .... dan seterusnya sebagaimana yang harus dimiliki seorang pemimpin. 

Dan rakyatnya juga begitu, harus lapang dada hingga punya mental untuk taat. Karena kalau tidak, dia akan menjadi pemimpin bagi pemimpinnya, tidak tunduk pada kebenaran dan kesucian, tidak melepaskan kepentingan golongan .... dan seterusnya., tidak sebagaimana layaknya sifat yang harus dimiliki orang rakyat beradab dan berbudaya.

Nah, kalau itu diproses, maka kita tidak akan selamanya mengigit jari kita. Tetapi kalau tidak, dan hanya menyeminarkan inginnya, menyeyasankan dan mengorganisasikan keinginannya, maka selamanya kita akan menjadi penggigit jari kita sendiri yang sampai ke tingkat maniak. Atau menjadi Yazid dengan yang ber-KTP- bermadzhab Syi’ah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar