Sabtu, 19 Juni 2021

Sistem Dan Materi Pembelajaran Kepada Anak- Anak di Negeri Iran


Oleh Ustad Sinar Agama http://www.facebook.com/groups/210570692321068/doc/326173997427403/ Oleh Anggelia Sulqani Zahra pada 4 Februari 2012 pukul 23:24


Ari Yani: Asslamu’alaikum. Ustadz kalau di Iran sistem dan materi pembelajaran yang diberikan kepada anak-anak seperti apa ya. Terima kasih. Wassalam.

Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaannya:

Sistem yang diberikan sudah sangat islami sekali. Tetapi bukan berarti islami ala teroris yang kaku dan keluar dari Islam itu. Ia didasarkan pada rasa santun yang luar biasa dan pendewasaan anak. Karena itu, seorang anak di sana harus berani dengan sopan menyoal guru atau orang tuanya, kalau tidak memahami atau tidak menyetujui seuatu yang didengar atau dilihat, untuk mendapatkan dalilnya -kalau ada dalilnya- atau mengingatkan -kalau memang tidak ada dalilnya.

Dalam kecamuk ilmu dan peradaban itu, yang tua ikhlash menyayangi yang muda dan yang muda ikhlash menghormati yang tua. Jadi, hiruk pikuknya dialog dan perdebatan itu, kedua hal itu tetap terlihat dari dua arah. Tidak seperti di tempat lain dimana yang tua harus diterima terus oleh yang muda (disamping harus dihormati). Jadi, di Iran, yang ada saling cinta dan memposisikan masing-masing posisi sosialnya, tetapi semua itu tidak boleh sampai mengkebiri nilai kebenaran dan peradaban.

Namun demikian, ketegasan ilmu itu tidak berarti saling hujat dan kaku, tetapi saling diskusi dan tanggung jawab. Di Iran, kalau ayah marah kepada anaknya, anaknya dilarang menundukkan kepalanya. Artinya, disuruh membela diri kalau memang ia benar. Bayangin, ayah yang marahpun masih dengan santun memberikan hak bela diri pada anaknya.

Nah, dasar seperti ini sangatlah penting dalam peradaban manusia dan apalagi dalam mendasari sistem pendidikan. Karena itu, yang akan dimunculkan oleh sistem yang didasari pada hal-hal seperti di atas itu, adalah mencetak yang lebih muda untuk selalu menjadi lebih alim dari yang seniornya atau yang lebih tua. Seorang ayah dan guru atau profesor atau mujtahid, akan sangat senang kalau anak atau muridnya telah benar-benar bisa mengalahkannya dan lebih tinggi darinya. Mereka senang karena berarti metodologi pendidikannya sudah benar. Mana ada jaman yang mundur? Karena itu, kalau hasilnya sama, apalagi lebih rendah, maka para kaula tua/senior itu telah gagal dalam membuat sistem pendidikan.

Nah, dari filsafat seperti itulah, ditambah lagi dengan wejangan-wejangan lainnya yang datang dari Islam, maka semua sistem pendidikan di Iran, sejak dari taman kanak-kanaknya, sampai universitasnya atau hauzah kelas tingginya, disusun dan disusun, dimajukan dan dimajukan.

Satu lagi kerja besar Iran kemarin. Bahwa setelah 10 tahun para profesor dan mujtahid merembuk-kan sistem pendidikan yang mandiri diri dari barat dan timur, maka mereka, sekitar sebulan yang lalu telah meluncurkan sistemnya sendiri. Semoga dapat diaplikasikan dengan lancar dan tidak menemukan sesuatu kekurangan dan halangan yang fatal. Wassalam.


MuSe Smoke: Salam..., permisi ustadz, ikut menambah pertanyaan..., adakah faktor-faktor yang mempengaruhi sempurnanya sistem pendidikan seperti yang ada di Iran, dengan melihat sisi manusia yang kompleks ?, Mohon penjelasannya, sukron.


Sinar Agama: Muse: Saya kurang paham terhadap kekompleks-an manusia yang antum maksud. Kalau maksudnya adalah pengendara hawa nafsu dan keinginan-keinginan dunia yang bermilyarand macam, yang tidak mau susah tetapi mau masuk surga, yang mencukupkan dengan hal-hal kering, shalat kering, puasa kering dan penuh lawak ...dan seterusnya ... tetapi mau masuk surga; yang hubungannya antar laki dan perempuannya tidak karu-karuan tetapi mau masuk surga, yang lari dari hukum Islam tetapi mau masuk surga, yang menentang hukum-hukum Tuhan tetapi sok khusyuk pada Tuhan ..........dst maka hal seperti ini di dilarang bukan hanya ketinggalan jaman, tetapi benar-benar sudah dianggap barang purba.

Tetapi kalau maksudnya adalah manusia yang kompleks karena ketinggian manusia itu tidak diketahui karena ia jauh sekali di atas malaikat, maka benar apa yang antum katakan. Bahwa pendidikan dan peradaban di sana itu sudah didasari pada hal-hal itu sejak sebelum revolusi. Hal itu, karena silih bergantinya para marja’ disana. Tetapi setelah revolusi tentunya, bukan hanya semacam mendasari dengan nasihat dan amal-amal yang tidak wajib dan pelanggarnya tidak didenda, tetapi diiringi dengan revolusi amal yang diserta dengan sanksi-sanksi yang perlu. Hal itu karena sudah memiliki negara yang sudah tidak numpang lagi pada raja-raja yang seperti mengaku titisan dewa seperti raja-raja lainnya, seperti di Ingris, Saudi dan beberapa negara- negara arab lainya.

Wassalam.

Sattya Rizky Ramadhan dan 2 orang lainnya menyukai ini.



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ


2 komentar:

  1. Mendidik anak sulitnya seperti memanah yg menurut mata sudah pasti kena obyek namun ternyata meleset, bicara mendidik anak tidak bisa lepas dari cara para Nabi mendidik anak2nya ada yg gagal ada pula yg sukses. Nabi Lhud Nabi Nuh termasuk yg gagal dalam mendidik anaknya adapun Nabi Ibrohim 100% sukses. Naah dari sejarah para Nabi trsbt maka mendekatlah kpd Nabi Ibrohim agar anak2 kita bs sprti Nabi Ismail dllnya. Amiiin

    BalasHapus
  2. Terimakasih komentarnya.
    Kegagalan makshum, bukan bermakna ketidakmampuan maksum tersebut. karena setiap manusia diberikan ihtiar, maka seorang nabipun tidak bisa memaksa walaupun dia anak dan istrinya sendiri. ibaratnya kedua tangan yang ditepukkan akan berbunyi jika keduanya saling bertemu dan saling menyambut. jika hanya satu yang ditepukkan yang satu lagi tidak mau menyambut maka hidayahnya itupun tidak akan diterimanya.

    BalasHapus