Rabu, 26 Agustus 2020

Penyandingan Nama Allah


Oleh Ustadz Sinar Agama http://www.facebook.com/groups/210570692321068/doc/274713715906765/ Oleh Anggelia Sulqani Zahra pada 12 November 2011 pukul 15:51


Nadine Sarah: Assalaam, ustadz.

Saya mau bertanya. Dalam sebuah ayat disebutkan; “hai orang orang yang beriman taatilah Allah, Rasul-Nya dan Ulil Amri di antara kamu” (QS An-Nisaa, Ayat 59). Menurut syiah, tidak mungkin Allah menggandengkan nama-Nya dan nama Nabi-Nya bersama orang yang dzalim. Karena, Allah suci, nabi suci sehingga ulil amri itu harus suci karena di gandengkan dengan nama yang suci. Pertanyaan saya.Allah dengan terang-terangan menggandengkan nama-Nya, nabi-Nya dengan Nama Abubakar ra.. Innallaha Ma’ana, sesungguhnya ALLAH BERSAMA KITA (NABI DAN ABU BAKAR)..At-Taubah). Apakah mungkin Allah menggandengkan nama-Nya, Ma’a orang dzhalim? Terima kasih, ustad.

Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaannya:

Tidak ada syi’ah yang berkata bahwa nama Allah itu tidak bisa disandingkan dengan nama orang zhalim, kafir, syetan, jin atau apa saja. Karena penyandingan nama itu bisa berbeda-beda. Bisa pujian, seperti syahadatain yang menyertakan nama Nabi saww dengan kesaksian pada Allah. Tapi bisa saja celaan, seperti (QS: 2: 98):

“Barang siapa menjadi musuh Allah dan para malaikat dan Rasul dan Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah itu musuh bagi orang-orang kafir.”

Allah juga tidak hanya bersama orang-orang mukmin, tapi bersama semua makhluk, kafir atau muslim. Kalau bersama mukmin adalah Ridha-Nya dan untuk kafirin adalah Murka-Nya.

Seperti (QS: 58: 7)

“....Tiada pembicaraan rahasia dari tiga orang kecuali Dia yang ke empat dari mereka....... ”

Atau (QS: 9: 105)

“Berbuatlah kalian sesuka hati, niscaya Allah akan melihat perbuatan kalian itu, dan Rasul-Nya dan Orang-orang mukmin -akan melihatnya juga- ”

Ayat yang saya bawa itu memang menunjukkan kesucian yang digandegnya itu, akan tetapi bukan dari sisi yang kamu katakan tersebut. Yakni karena pergandengan nama suci, bukan itu.

Akan tetapi karena penge-dan-an kata taat yang diletakkan pada Tuhan dimana berarti taat mutlak (dalam segala hal dan kondisi), kepada Rasul saww dan pemimpin. Artinya taat mutlak yang kepada Allah itulah yang di-dan-kan oleh Allah sendiri kepada Rasul saww dan Pemimpin di antara kita.

Nah, taat mutlak ini, jelas tidak sama dengan taat tidak mutlak seperti pada orang tua dimana harus dalam kebenaran saja. Artinya, taat mutlak ini adalah taat dalam segala kondisi. Nah, taat seperti ini jelas karena kemutlakan benarnya yang ditaati tersebut. Karena itu, orang tua yang kadang salah dan kadang benar, tidak boleh ditaati secara mutlak. Tapi Tuhan, Nabi saww dan para Pemimpin disini ini, adalah suci dan tidak mungkin salah. Karena itu wajib taat pada mereka ini adalah mutlak dan tidak mengenal kondisi apapun.

Nah, orang syi’ah berkata tentang kesucian Nabi saww dan Imam 12 as itu, dengan ayat yang kamu bawa itu, adalah dengan alasan seperti yang sudah diurai ini.

Wassalam.



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar