Rabu, 30 September 2020

Syarat Dan Definisi Saudara Sepersusuan


oleh Ustadz Sinar Agama http://www.facebook.com/groups/210570692321068/doc/268710263173777/ Oleh Anggelia Sulqani Zahra pada 30 Oktober 2011 pukul 18:43


Abdul GHofur: Assalaamualaikum. Ustad, apa definisi dari saudara sepersusuan, lalu bagaimana batasannya?

Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaananya:

(1). Saudara sepersusuan adalah saudara yang diakibatkan oleh satu susu ibu yang diminumnya yang bukan merupakan ibunya sendiri. Dan ia memiliki beberapa syarat hingga memiliki konsekuensi kemahraman itu. Syarat-syarat tersebut adalah:
  • a. Ibu yang menyusui harus dalam keadaan hidup, bukan diambil dari air susu ibu yang sudah mati.
  • b. Susu perempuan itu tidak diakibatkan oleh perbuatan haram, seperti zina lalu hamil, maka air susunya itu diakibatkan dari pebuatan haram.
  • c. Anak yang menyusu itu harus menyusu langsung dari susu ibu tersebut.
  • d. Anak yang menyusu itu umurnya tidak lebih dari 2 tahun.
  • e. Air susunya harus murni dan tidak dicampur apapun.
  • f. Lama menyusuinya setidaknya sampai kenyang dan setidaknya selama satu hari satu malam dan disela-selanya itu tidak diberi makanan lain atau air susu ibu yang lain. Atau setidaknya, sebanyak 15 kali menyusui (sampai kenyang) dan di sela-selanya itu tidak diberi susuan dari ibu yang lain. Atau menyusuinya sampai menyebabkan pertambahan daging dan kuatnya tulang si bayi.
  • g. Susu ibu tadi, harus disebabkan oleh satu suami. Yakni dalam waktu minimal penyusuan di poin f itu, tidak dilengkapi dengan susu yang diakibatkan oleh suami yang lain. Misalnya setelah disusui lima kali lalu berhenti, lalu si wanita tadi bersuamikan orang lain lalu hamil dan menyusuinya lagi untuk melengkapi sisanya.
  • h. Air susunya tidak dimuntahkan.
(2). Jika telah memenuhi syarat-syarat di atas, maka kalau si anak itu lelaki, konsekuensinya adalah sebagai berikut:
  • a. Si anak menjadi muhrim dengan yang menyusuinya itu.
  • b. Si anak menjadi muhrim dengan ibu dan nenek dari ibu susuannya itu.
  • c. Si anak menjadi muhrim dengan saudari-saudari dari ibu susuannya itu.
  • d. Si anak menjadi muhrim dengan anak-anak dan cucu-cucu dari ibu susuannya itu.
  • e. Si anak menjadi muhrim dengan bibi dari ayah atau ibu dari ibu susuannya itu.
  • f. Suami ibu susuannya itu juga menjadi ayah susuan dari si anak tersebut.
(3). Kalau si anak yang menyusu itu adalah perempuan maka konsekuensinya, akan menjadi mahram dengan orang sebagai berikut:
  • a. Suami dari ibu yang menyusuinya.
  • b. Ayah dari suami ibu yang menyesuainya itu.
  • c. Anak-anak dan cucu-cucu dari suami ibu susuannya itu.
  • d. Saudara-saudara dari suami ibu susuannya itu.
  • e. Paman-paman suami ibu susuannya, baik dari arah ibu atau ayahnya.
  • f. Saudara-saudara dari ibu susuannya.
  • g. Anak-anak dan cucu-cucu dari ibu susuannya itu.
  • h. Ayah dan kakek dari ibu susuannya.
  • i. Paman-paman dari ibu susuannya, baik dari arah ayah atau ibunya.
(4). Ibu yang menyusui dikatakan ibu susuan dan suami dari ibu susuannya itu dikatakan ayah susuan.

(5). Ibu yang menyusui dikatakan ibu susuan dan suami dari ibu susuannya itu dikatakan ayah susuan.

(6). Yang menjadi mahram tersebut hanya anak yang menyusu itu, bukan keluarganya, sekalipun ayah dan ibu kandungnya sendiri. Jadi, ibu dan ayah kandungnya tidak menjadi muhrim dengan ibu susuanya atau anak-anak dan lain-lainnya itu.


Arif Muhajir menyukai ini.



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar