Kamis, 02 Agustus 2018

Wahdatu Al-Wujud, (Bagian: 8) Hakikat Kesaksian atau Syahadat Kepada Nabi Muhammad saww



Seri Tanya Jawab : Anwar Mashadi dan Ustad Sinar Agama Oleh Anggelia Sulqani Zahra 
by Sinar Agama (Notes) on Wednesday, January 26, 2011 at 6:52 am


Anwar Mashdi: Assalamu ‘alaikum warohmatullahi, wabarokaatuh. Tak berlebihan jika kemajuan teknologi (seperti FB ini) megungkap kebenaran ”lihatlah yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan”. Jika benar demikian maka pondasi utama untuk mengukur dinamika info (sistematis atau semrawut) yang diterima, menurut saya, cuma 1, yaitu argumntasi/akal gamblang, ilmu mudah & istilah semakna lain, (seperti kerap disampaikan). Soal bagaimana selanjutnya, kembeli pada masing-masing orang. 

Dan saya merasa banyak dapat inspirasi dari catatan-catatan & komentar-komentar Anda pada diskusi-diskusi yang berlalu. Oleh karena saya setuju & juga yakin seperti itu, maka ingin juga minta Pak Sinar memberi penjelasan untuk tanya saya sebagai berikut: 

(1) Meski saya masih haus dengan penjelasan-penjelasan lanjutan atau pendalaman tentang topik-topik tauhid, tetapi saya minta Pak Sinar juga mau uraikan (secara filsafat & irfan) tentang 

(2) syahadat ke-2: Muhammadar Rasulullah, lalu shalawat, salam pada Nabi saw, assalamu’alaina wa ’ala ibadillahissholihin, dan salam wr.wb. (Bacaan tasyahud akhir dalam fiqih/syariat Islam yang saya yakini. 

(3) Teks Ilahi, wahdini limahtulifa fihi minal haqqi bi-idznika, innaka tahdi man tasya’u ila shirotim mustaqim... 

Sinar Agama: Salam, tolong pertanyaannya diulang lagi dengan penomeran yang jelas. Terimakasih. Pertanyaannya saja, yang pertama tanya apa, ke dua juga begitu dan seterusnya. 

Anwar Mashadi : Salam.. 

1. Pak Ustad, minta penjelasan tentang makna dan maksud Muhammadarrasulullah (sebagai sahadat ke-2 dalam tasyahud). 

2. Minta penjelasan tentang makna dan maksud shalawat dalam tasyahud. 

3. Minta uraian tentang makna dan maksud assalamu’alaika ayyuhannabi wr.wb. 

4. Mohon uraian tentang makna dan maksud assalamu’alaina wa ’ala ibadillahish-sholihiin. Dan assalamu’alaikum wr.wb. Terima kasih. 

Sinar Agama: Bismillaah. Salam. Nah, sekarang baru mantap dan tidak ragu lagi terhadap pertanyaannya. Semoga jawabannya bisa mantap juga, sekalipun saya ragu tentang hal itu. 

1. Kesaksian lengkap kita kepada Nabi saww adalah ”Aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hambaNya dan rasulNya” 

a. Kesaksian ini didahului dengan kesaksian terhadap kebudakan beliau saww kepada Allah. Dan hal adalah membuat beliau saww lebih menyukainya ketimbang mendahulukan kerasulannya terlebih dahulu. Mungkin, karena beliau ingin selalu tawadhu dihadapan Tuhannya dan segenap makhluk. Begitu pula, ingin mengajarkan kepada kita bahwa nilai terpenting itu adalah kehambaan seseorang. 

Yakni tanpa kehambaan, maka tidak mungkin seseorang itu mencapai maqam(maqam) apapun, termasuk kenabian ini. 

b. Karena kenabian itu dicapai dari penghambaan (ketaatan mutlak), maka dapat dipahami bahwa kerasulannya itu dicapai dengan usaha, bukan karena pengangkatan yang semcam dilotre oleh Tuhan yang namanya keluar dalam undian itu. Atau bukan juga karena dadanya dibedah dan dikeluarkan syetannya sampai dua kali atau beberapa kali seperti di sebagian riwayat saudara kita ahlussunnah. 

c. Bahwa arti sesungguhnya hamba itu adalah ketidakpemilikan apapun dan kepemilikan maula atau tuannya secara penuh. Jadi bukan hanya taat. Tapi tidak memiliki apapun karena pemiliknya adalah tuannya yang, dalam hal ini adalah Tuhannya. Jadi, Nabi saww itu sudah sampai ke tingkat ketidak merasa pemilikan apapun. 

d. Ketidakpemilikan apapun secara mutlak, adalah ke-fanaan mutlak. Jadi, Nabi saww berarti sudah jelas, bahwa sebelum menjadi rasul sudah sampai ke derajat fanaa’ dan fanaa’ dalam fanaa’, yakni ketidakmerasaan terhadap fanaa’ atau ketiadaannya itu sendiri. Hal ini, jelas menguatkan konsep filsafat dan Irfan. Jadi dalam syahadat tersebut tersembunyi pelajaran filsafat dan irfan yang tinggi dan meyakinkan. 

e. Fanaa’ adalah maqam yang dicapai manakala orang sudah sampai ke Akal-Pertama dan tidak merasakan ke-Akalan-Pertamanya. Fanaa’ dalam Fanaa’ adalah ke-tidak-merasaan terhadap kefanaa’an atau ketiadaannya itu sendiri. Karena kalau seseorang itu masih merasa Fanaa’, berarti dia masih memiliki diri hingga merasa ”tiada”. Jadi Fanaa’ mutlak adalah ”ketidakmerasaan diri sekalipun dalam ketiadaan sekalipun”. 

f. Sekali lagi, bahwa dalam syahadatain saja sudah terdapat pelajaran filsafat dan Irfan yang tinggi. Maksud saya bahwa hal seperti ini, yakni ilmu filsafat dan Irfan ini, atau yang biasa dikenal dengan makrifah ini, adalah ilmu yang diajarkan Islam. Namun, karena tidak semua orang memahminya, maka secara lahiriah cukup dengan penyaksian akan kahambaan dan kerasulan beliau saww, tanpa harus berfikir hubungan keduanya, yakni kehambaan dan kerasulan tersebut. 

g. Tentangtidakdibedahnyadada Rasulsawwitu, karenakalaudibedahberartikehambaannya itu tidak berfungsi sebagai sebab kerasulannya. Hal itu karena apapun ketaatan Nabi saww, baik sebelum atau sesudah kenabian, adalah akibat dari pencucian terhadap hatinya yang dioperasi malaikat Jibril as itu. Artinya ketaatannya karena kesucian hatinya, dan kesucian hatinya karena dicuci Jibril as, serta pencucian Jibril as karena diperintah Allah. Ini semua akan menghasilkan bahwa ketaatan Nabi saww adalah karena dipaksa Allah, bukan karena Ikhtiarnya. 

h. Kalau kebaikan Nabi saww karena paksaan Allah, maka sudah tentu beliau saww tidak layak lagi menjadi Uswatun Hasanatun. Karena yang lain melakukan segala perbuatannya dengan ikhtiarnya sendiri, artinya dengan hati yang kotor dan banyak syetannya, sedang Nabi saww dengan hati yang sudah dibersihkan. 

Jadi perintah bahwa kita harus mengikuti Nabi saww, adalah perintah yang akan menjadi perintah di atas kemampuan manusia. Karena manusia manapun tidak akan mempu menirunya. 

Dan kalau dikatakan bahwa kita diperintah mengikuti sebagaiannya, maka kata-kata ini adalah karangan yang tidak ada sumbernya. Karena perintah mengikutinya itu adalah mutlak, bukan ”Ikuti Rasul saww semampu kalian”. 

Dan kalau ternyata ada yang mampu mencontohnya, walau dalam perbuatan kecil saja, maka orang tersebut akan melebihi pahala Nabi saww dalam hal tersebut. Karena si pengikut mengikutinya dengan modal nol dan dada kotor yang banyak syetan, artinya banyak melalui liku-liku jihad besar dan kecil, sementara Nabi saww tinggal lakukan saja. Jadi, mutu dan bobot perbuatannya, pasti lebih berat yang menirunya. Jadi, sudah selayaknya kalau dia yang mesti dicontoh Nabi saww, bukan sebaliknya, na’udzubillahh 

i. Kalau saya menulis tentang Fanaa’, dan ada pembaca yang ingin tahu seluk beluknya, maka harus merujuk ke tulisanku sebelumnya, yaitu tentang Wahdatul Wujud dari bag 1-6. 

j. Jadi maqam penghambaan itu bisa dikategorikan dua tingkatan: Pertama maqam taat mutlak kepada Allah. Ke dua, melihat dirinya tidak memiliki apapun dan melihatnya semua yang ada pada dirinya adalah milikNya. Baik kepemilikan itu yang defakto, atau yang dalam amalan. Artinya ketaataannya itu hanya dikarenakanNya karena memang tetap milikNya, bukan milikNya yang dipinjamakaan ke kita lalu penggunaannya kita niatkan untuk mendapat PahalaNya. Jadi tingkat inilah yang akan mengantar manusia ke maqam Fanaa’ itu. 

2. Tentang shalawat kepada Rasul saww. 

a. Shalawatnya berbunyi ”Allahumma Shalli ’Ala Muhammadin wa aali Muhammadin”. 

b. Shalawat itu memiliki, setidaknya dua makna. 

Pertama, memintakan kesejahteraan pada Rasul saww dan keluarga sucinya dimana shalawat ini adalah shalawat kita dan para malaikat. 

Ke dua, memberikan kesejahteraan kepada Nabi saww dan keluarganya yang suci dimana shalawat ini adalah shalawat Tuhan. Karena dalam QS: 33: 56 diterangkan bahwa Allah dan para malaikat bershalawat kepada beliau saww, dan memerintahkan kita semua untuk bershalawat kepada beliau saww. 

c. Sebenarnya, permintaan shalawat kita kepada Allah untuk Nabi saww dan Ahlulbaitnya itu, adalah sesuai dengan derajat masing-masing orang. Karena kesejahteraan itu memiliki tingkatan yang terbentang dari kesejahteraan Dunia, Barzakh yang memiliki ribuan tingkatan, dan Akal yang juga memiliki ribuan tingkatan, serta Asma-Asma Allah yang juga memiliki ribuan tingkatan. 

Sebagaimana yang telah diterangkan di Wahdatul Wujud, alam ini memiliki tiga tingkatan global, Materi, Barzakhi (tempat surga-neraka) dan Akli. Barzakhi dan Akli tentu saja memiliki ribuan tingkatan. 

Jadi permintaan masing-masing orang, tidak akan melebihi kapasitas dirinya sendiri. Seperti orang yang ingin rejeki yang dipanjatkan dalam doa pengemis, tukang kebun, pegawai tingkat 1 A, 3 A, bupati, mentri, presiden, konglomerat, dst. Artinya, ketika masing- masing orang berdoa, maka yang akan tergambar dalam dirinya adalah apa-apa yang ada dalam dirinya. Jadi, kapasitanya itu menentukan isi dan muatan doanya tersebut. 

d. Ketika doa seseorang tidak akan melebihi kapasitas ilmu dan taatnya (sebagai ukuran hakiki tingkatan manusia), maka sudah tentu semua tingkatan kita akan berada jauh di bawah tingkatan Nabi saww. Kalau demikian halnya, sama dengan memintakan Nabi saww kepada Allah uang satu rupiah sementara Nabi saww memiliki seluruh isi dunia ini. Berarti doa kita itu tidak ngangkat dan tidak akan memadahi. 

e. Mengapa berdoa itu ditentukan kapasitas seseorang, dan bukan ditentukan bayangannya, hingga serendah apapun seseorang itu akan bisa mengkhayal keitnggian yang tertinggi sekalipun? 

Jawabnya adalah, 

Pertama, karena khayal yang dikhayalkan itu pun tidak ada. Bagaiamana seseorang bisa mengkhayal kalau belum pernah melihat dan mengkasyafnya? Paling-paling hanya berupa lamunan gelap yang diringkas salam ”setinggi-tingginya”. 

Ke dua, karena doa dalam kacamata hakikat dan filsafat adalah bukan bacaan doa. Yakni bukan yang dilontarkan lewat hati dan mulut saja, karena itu, namanya membaca doa atau berkretek doa (doa di hati). Sedang berdoa, adalah ”Kehendak hati yang disuarakan lewat mulut dan diusahakan pencapaiannya lewat aplikasi dari isi ucapan atau doanya itu” 

Dengan demikian maka dapat dipahami, bahwa doa masing-masing orang akan sangat ditentukan dengan kadar ilmu dan taatnya. 

f. Karena kita lebih rendah di bawah Rasul saww dan Ahlulbait as, maka doa kita dan shalawat kita, tidak akan pernah mencapai diri mereka. Karena mainnya mereka sudah di atas surga, di atas al-Lauhu al-Mahfuzh, di atas Akal-Pertama, di Asma-Asma tertinggi Tuhan yang, bahkan para anbiyaa’ dan rasul lainpun as tidak menjangkaunya. 

g. Kalau shalawat kita tidak naik kecuali di tingkatan kita dan tidak akan bisa menyentuh Nabi saww dan Ahlulbait as, maka untuk apa Allah mewajibkan kita shalawat kepada mereka as? Jawabnya bisa dari berbagai segi: 

Pertama, supaya manusia tetap punya hubungan dengan mereka as. Karena hubungan ini, walau hanya hubungan ingatan saja, akan tetap bermanfaat bagi kita, karena keingatan kita akan membuat semakin mencintai dan meniru mereka as. 

Ke dua, supaya kita tidak putus asa dalam menjangkau maqam tertinggi. Artinya Allah tidak pilih kasih kepada siapapun dan semua yang mencapai maqam tertinggi itu adalah hasil usahanya sendiri. Jadi semua manusia bisa berusaha mencapai maqam mereka as sekalipun. Artinya pintu terbuka, walau Tuhan tahu tidak akan ada orang yang akan melebihi usaha mereka as, akan tetapi, yang penting, Tuhan menyatakan bahwa maqam- maqam itu terbuka bagi siapapun. 

Ke tiga, supaya kita selalu berusaha mendekati mereka as. Artinya dengan merasa mengantarkan doa sejahtera, akan membuat kita semakin dekat dengan maqam mereka as. Allamah Thaba Thabai mengatakan ibarat kita berjalan di pinggir kebun bunga mereka as, dan karena kita mencari alasan untuk mendekati mereka, maka kita berasalan dengan memberikan bunga kepada mereka as, akan tetapi bunga yang kita petik dari kebun mereka as sendiri. Jadi, mengantar bunga yang juga milik mereka kepada mereka, adalah alasan kita mendekati mereka. 

Ke empat, tentu saja kedekatan atau semakin dekatnya derajat kita kepada mereka, akan menaikkan derajat kita semndiri, bukan derajat mereka. 

Ke lima, tawassul kita kepada mereka as. Jadi dalam doa kita kepada mereka as itu terdapat bobot hakikat tawassul, bukan doa. Yakni supaya kita dilirik oleh mereka as dan disyafaati. Jadi, shalawat kita itu bukan sumbangan kita kepada mereka, tapi sumbangan kita pada diri kita sendiri. 

Ke enam, sebagai penguat dari yang sebelumnya, adalah suatu kenyataan bahwa guru akan memiliki seluruh pahala muridnya yang mengamalkan ilmu yang diajarkannya. Nah, karena mereka as adalah guru kita semua, maka apapun yang kita lakukan, termasuk shalawat ini, maka pahalanya akan mengalir kepada mereka as juga. Dengan demikian, maka anggaplah bahwa shalawat kita berpengaruh kepada mereka as, maka tetap hal itu merupakan pahala mereka as sendiri, bukan sumbangan kita. 

Ke tujuh, mungkin dengan hakikat ke enam ini maka shalawat itu akan mengalir kepada mereka sesuai dengan derajat mereka as sendiri. Artinya karena mereka mengajarkan shalawat kepada kita di tingkatan yang paling tinggi, maka sekalipun kita hanya melaksanakan di tinggkat yang paling rendah, tapi mereka as akan tetap mendapatkan yang paling tinggi tersebut, karena pahalanya disesuaikan dengan derajat mereka as sendiri. 

Ke delapan, kemungkinan ke tujuh itu, bagi alfakir ini sangat kecil, karena pelaksanaan yang di bawah tetap tidak akan mengusik yang di atas. Jadi, kemungkinan besarnya adalah tetap bahwa mereka as, tidak tersumbangi oleh kita dengan shalawat itu, akan tetapi malah kita dan para nabi sebelumnya yang tersumbangi dengan perintah shalawat ini. 

Ke sembilan, ketika semua derajat dibawahnya tersumbangi dengan shalawat yang dibawahnya kepada mereka as yang diatanya, maka hal ini cocok sekali dengan QS: 21: 107, bahwa Nabi saww (termasuk Ahlulbait as karena dirinya adalah diri mereka) adalah rahmat bagi segenap alam atau alam-alam. 

h. Ketika shalawat itu diwajibkan ke atas kita untuk menshalawati Nabi saww dan Ahlulbaitnya as, maka sudah tentu terdapat hikmah di dalamnya. Dan beberapa diantaranya sudah dijelaskan di point (g). 

Oleh karena itu sangat diherankan bagi orang yang bershalawat kepada keluarga Nabi saww, akan tetapi tidak menghormati mereka as dan tidak pula mengikuti mereka as, tetapi bahkan mengikuti yang memerangi mereka as. 

3. Tentang salam pada Nabi saww dalam tasyahud shalat kita. 

Seyogyanya, dalam shalat, sang pelaku sudah sampai ke tingkat Fanaa’ dalam Fanaa’. Artinya, kalau shalat seseorang itu khusyuk, maka dia tidak akan melihat apapun kecuali Allah. Dunia, haram, lewat. Dunia halal, lewat. Kasyaf neraka, lewat. Kasyaf surga, lewat. Kashaf al-Lauhu al- Mahfuzh, lewat. Kasyaf ’Arsy Allah, lewat, Kasyaf Akal-Akal atau Malaikat tertinggi, juga lewat. Kasyaf Akal-Pertama, juga lewat. Jadi yang tersisa adalah Asma-AsmaNya sesuai dengan derajat kemampuannya menyerapi Asma-Asma tersebut. 

Ketika shalat itu seperti itu, maka sudah pasti pelaku shalatnya sudah mencapai Fanaa’ dan bahkan di atasnya. Mencapai Fanaa’ berarti ia lupa akan segalanya, selain Tuhan. Nah, ketika sudah selesai shalatnya, maka harus turun lagi ke alam materinya, supaya bisa hidup secara sosial sebagaimana mestinya orang hidup. 

Nah, ketika harus turun itulah ia harus berakhlak. Dan akhlaknya sudah tentu tidak mengucap salam kepada Allah, karena Allah adalah Hakikat Salam itu dan tidak terbatas dan tidak perlu didoakan dengan keselamatan. 

Jadi, untuk turun ke bumi lagi, harus berpamitan dulu dengan maqam tertinggi setelah Allah. 

Itulah maqam Nabi saww. Jadi, kita harus mengucap salam dulu kepada beliau saww sebagai tanda ingin pamit turun ke bumi dan kehidupan lagi. 

4. Tentang salam kepada kita sekalian ” ’alaina” dalam shalat. 

Setelah kita mengucap salam kepada Rasul saww sebagai maqam tertinggi, maka dalam kelanjutan proses turun ke bumi lagi, maka seorang yang Fanaa’ akan ingat dan menyadari kembali akan keberadaan dirinya lagi. Bagitu pula lingkungannya orang-orang yang terbang dalam kesempurnaan itu. Jadi Allah menyuruh kita untuk mengucapkan selamat atau doa keselamatan kepada diri kita sendiri dan para penerbang yang terbang ke derajat kamal atau kesempurnaan itu. 

5. Tentang salam kepada ”kamu sekalian” dalam shalat 

Tenrang salam kepada “kamu sekalian” dalam shalat, adalah, setelah kita mengucap salam-akhlak kepada Nabi saww, dan salam-doa kepada diri kita dan lingkungan kita yang ada di alam dan maqam tinggi itu, yakni di ketinggian ”Sadar” setelah Fanaa’ itu, dimana masih maqam yang tinggi, dan sekarang mau hidup lagi di muka bumi atau materi, maka ia mengucap salam kepada alam materi yang akan dimasukinya ini. Jadi, salam kepada Nabi saww adalah salam-akhlak sebagai salam pamitan, salam kepada diri sendiri dan para penerbang lain di maqam itu adalah salam- doa sebagai doa kelanggengan dalam maqam tersebut, dan salam kepada kamu sekalian adalah salam kepada alam materi semuanya sebagai tanda masuk dimana terhitung akhlak ijin masuk dan doa kepada alam materi semuanya. 

Sekian – terima kasih. 

Al-fatiha – sholawat. Wassalam. Semoga bermamfaat untuk dunia-akhiratku dan segenap pembaca. 

In this note: Sinar Agama, Haerul Fikri, Syaharbanu Bob, Muhammad Yusuf S Tarigan, Natsir Said, Amran Abstrack, Fatimah Zahra, Saiful Makshum, Saiful Bahri, Alia Yaman, Bin Ali Ali, Annisa Asiyah Khadija, Andi Bachtiar Mavhazoy, Nebucadnezar Pecinta Keadilan, Don Flores, Ali Petra, Hati Kecilku, Hendy Al-Qaim, Noer Aliya Agatha 

Bin Ali Ali dan 16 orang lainnya menyukai ini. 

Romeo Kampar: Kamu sendiri gak mau jawab kalau lagi ditanya....hehehe... 

Sinar Agama: Anggelia: terimakasih banget, semoga Tuhan selalu menunjuki kita semua, amin, kutunggu yang ke: 9-nya, terimakasih. 

Anggelia Sulqani Zahra: iye, ustad. in syaaAllah. Semoga kami semua dapat mengambil manfaat atas kehadiran ustad di antara kami.. 

Roman Picisan: Ustadz... saya pernah baca dalam buku karangan Ahmad Chadzim tentang dalam mistik dan makrifat sunan Kali Jogo tentang hadist ana Ahmad bila mim itu adalah maqam ketika Nabi mengalami maqam Majdzub/Jadzba. Kesimpulan beliau jadi siapa saja yang akan mencapai tingkatanan ke-walian ia pasti mengalami Majdzub....dan setelah melihat penjabaran ustadz tentang hadist di atas saya lebih bisa memahami penjelasan ustadz daripada apa yang disampaikan Ahmad Hadizm. Soalnya, bagaimana seorang Rosul sampai Jadzab yang lebih identik dengan kegila-an (maaf) meski saya sendiri belum tahu hakikat sebenarnya apa di Jadzab atau majdzub... bila ada kesempatan mohon ustadz jelaskan hakikat JADZAB-MAJDUB...? 

Ali Petra: Syukran katsir atas Ilmunya.. sangat bermanfaat.. 
Allâhumma shalli ’alâ Muhammad wa âli Muhammad wa ’ajjil faraja âli Muhammad. 

Sinar Agama: Roman, Jadzb/jadzbun itu bukan gila, begitu pula dengan majdzub. Jadzb adalah sedotan atau tarikan dan majdzub adalah tersedot. Jadi, kalau seseoang sudah berusaha membersihkan dirinya, maka ia akan tersedot kepada wahdatulwujud, hingga cepat meniggalkan dirinya dan apa-apa selain Allah. Karena apapun usaha kita, dalam filsafat dikatakan sebagai sebab penyiap, bukan sebab pemberi. Karena yang tak punya tak mungkin memberi. 

Nah, kita yang tak punya kesempurnaan apapun, kok bisa dengan usaha bisa menjadi memiliki kesempurnaan? Jadi, usaha hanya sebab penyiap, yakni yang mengantarkan kondisi potensial kita kepada siap menerima. Dan setelah itu baru Tuhan memberikan kepada kita sebagai Sebab Pemberi atau Faa’ili-nya. 

Tapi memang, karena banyak dari yang berusaha menjelaskan masalah pelik irfan tidak belajar filsafat, maka hanya bisa menukil lahiriah kata-kata orang arif tanpa mengerti maksud sebenarnya. Akhirnya menjelma dengan barbagai kesesatan sufiah atau akidah seperti takdir dsb. Atau seperti jadzb ini. Karena yang Rasul saww itu dimana dan yang jadzb-nya orang lain dimana. Begitu pula maksud Rasul saww itu apa dan maksud selainnya, terlebih yang tidak belajar itu apa. 

Jadi,masing-masing memiliki posisinya dan idenya sendiri.(Ada yang benar ada yang salah. Ada yang di bawah, tengah dan ada yang diatas...dan seterusnya. 

Sinar Agama: Jadzb atau majdzub yang bermakna gila itu adalah bahasa arab ’amiah, atau arab slank, terkhusus di Indonesia. Memang, orang kalau kesedot itu kayak gila, seperti kesedotnya Majnun oleh Laila. 

Karena sudah tidak tahu apa-apa lagi kecuali Allah. Dari situ dikatakan orang gila. Tapi bukan gila yang dimaksudkan dalam bahasa arab slank tadi. 

Roman Picisan: Syukron penjelasannya..... 

Don Flores: Allahumma shalli ala Muhammad wa Aali Muhammad. 
Saudari Anggelia, terimakasih dengan seri tanya jawab bag 7 & 8. Dengan ilmu ini semoga kita smua mendapatkan manfaatnya dan semoga kita smua selalu dalam keberkahan-NYA.... amin ya Rabbal alamin. 

Bin Ali Ali: Barakallah ustadz dan ukhti Angelina. Terima kasih banyak atas ilmunya, Semoga berkah bermanfaat....amin.



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar