Minggu, 19 Juli 2020

Hemat, Boros dan Kikir

seri tanya jawab Zainab Naynawaa dengan Sinar Agama
July 22, 2013 at 8:58pm

Zainab Naynawaa mengirim ke Sinar Agama: (18-3-2013) Daerah Khusus Ibukota Jakarta Salam..semoga ustadz selalu dalam keberkahan. Afawan Dalam pandangan syariat kikir boros hemat pemberi bedanya dimana..? Mohon penjelasnya..afwan.



Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaannya: Ana belum paham betul terhadap yang
ditanyakan. Tolong dibetulin dulu bahasanya, beri koma dan semacamnya hingga ana tidak salah
menjawab. Itupun kalau ana mampu mejawabnya.

Zainab Naynawaa: Afwan pertanyaannya : Dalam pandangan syariat sifat kikir pemberi, hemat
boros, bedanya apa? Misalnya memberi sampai tidak terbatas dari hal yang wajib apakah itu bisa
dikatagorikan boros..?

Sinar Agama: Salam dan terimakasih penjelasan pertanyaannya:

Sebenarnya tidak ada ukuran khusus untuk hal seperti itu. Akan tetapi ada garis-garis umum.
Misalnya, kalau tidak mau membantu orang sementara ia mampu membantunya, maka disebut
kikir. Bahkan kikir ini bisa juga berobyek pada keluarganya sendiri atau bahkan dirinya sendiri.
Yaitu manakala tidak memenuhi keperluan pokoknya dalam keadaan mampu untuk melakukan
hal tersebut. Jadi, kikir, adalah tidak melakukan minimal pokok keperluan atau tanggung jawab
(baik pada diri sendiri, keluarga atau lingkungannya) yang telah diwajibkan Islam.

Sedang lawannya, adalah boros. Yaitu yang melebihi ukuran pokok keperluannya, keluarganya
serta lingkungannya. Akan tetapi, bukan berarti kalau lebih satu hal sudah dikatakan boros hingga
kalau sudah makan tempe maka tidak boleh makan tahu juga, atau karena sudah makan ayam
maka tidak boleh makan tahu dan tempe juga...dan seterusnya...atau kalau sudah punya satu
baju maka tidak boleh beli baju yang lain juga. Bukan seperti itu. Akan tetapi harus disesuaikan
dengan kebijakan umum dan disesuaikan pula dengan kedudukan masing-masing orang di
masyarakat. Karena itu, sederhananya orang kaya, akan terhitung borosnya orang miskin. Jadi,
semua itu, disesuaikan dengan kedudukan sosialnya masing-masing.

Hemat, adalah mencukupkan kepada nilai minimal dengan maksud untuk persiapan masa depan
yang diperlukan. Akan tetapi, kesiapan ke depan itu, harus sesuai dengan ajaran agama. Seperti
harus mengeluarkan sebagiannya manakala ada yang perlu bantuannya, begitu pula kalau Islam
memerlukannya dan, juga harus dikeluarkan khumusnya kalau sudah sampai pada akhir tahunan
khumusnya.

Tambahan:

Biasanya kikir itu, melakukan pengiritan atas dasar cinta harta dan takut miskin. Tapi hemat, atas
dasar program kehidupan saja dan bukan rasa cinta yang berlebihan atau rasa takut miskin.

Wassalam.


Haidar Dzulfiqar, Armeen Nurzam, Salman and 20 others like this.

Arwan Maulana: Salam warohmah ustadz, ane mau tanya ni apa iya kalau kita berbuat keburukan
di malam lailatul Qodar dosanya sama seperti kita berbuat dosa 1000 bulan juga? Sebelumnya
terima kasih ustadz, moga ustad sehat selalu dan selalu berada dalam rahmat Allah. Amin!

Sinar Agama: Arwan: Kalaulah dosanya tetap satu, akan tetapi satu dosa yang dilakukan di malam
yang fadhilahnya melebihi seribu bulan, sama dengan mengabaikan kebaikan lebih dari seribu
bulan. Dan, hal ini, sudah cukup bagi kita untuk menyesalinya sepanjang umur kita.

Khommar Rudin: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

July 25 at 11:20pm



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar