Rabu, 15 Juli 2020

Hak-hak Sosial (seperti hormat/taat) Bukan Mesti Ketinggian Derajat dan Keselamatan Akhirat

seri tanya jawab Sang Pencinta dengan Sinar Agama
July 22, 2013 at 8:41pm

Sang Pencinta: (16-3-2013) Salam, intermezzo ustadz, sejauh mana keistimewaan keturunan Nabi/Imam Ali (Alawi) dalam syariat, katakanlah sayyid/syarifah? Bagaimana memposisikan keistimewaan (kalau ada) tersebut? Saya melihat fenomena sebagian ikhwan semacam mengikuti pendapat seseorang (tanpa cek dan mericek kebenaran dan kevalidannya) karena kesayyidannya dan semacam itu. Terimakasih ustadz. — bersama Sinar Agama.

Muhammad El’Baqir, Indah Kurniawati, Dian Damayanti dan 20 lainnya menyukai ini.

Debu Karbala: Kalau ada sipil ngaku-ngaku tentara, ini sebuah pelanggaran hukum..tapi kalau ada tentara ngaku-ngaku orang sipil bukanlah sepenuhnya pelanggaran. Begitupun gelar sayid/syarif, saya lebih respect pada alawiyin yang tawadhu dan bersedia melepas baju kesayidannya seperti Sunan Bonang yang rela jadi dalang demi dakwah, dari pada orang yang petingtang-petingting ngaku sayid/syarif tapi justru menyebarkan kebencian kepada sesama muslim, alafwu kalau pendapat ana salah...

Pangeran Ketiga: Silahkan anda baca kutipan tulisan di bawah ini :

Pada suatu kali, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menanyai ayahnya, ‘Bagaimana pendapat ayah
tentang tafdhil (urutan keutamaan) shahabat ?. Imam Ahmad bin Hanbal menjawab :
‘Dalam khalifah Abubakar, Umar, Usman’. Lalu bagaimana dengan Ali? Tanya Abdullah. Imam
Ahmad bin Hanbal menjawab : ‘Wahai anakku, Ali bin Abi Thalib termasuk ahlu bait dan tidak satu
orangpun yang dapat dibandingkan dengan mereka!’.

Di lain kesempatan Abdullah bin Ahmad bin Hanbal meriwayatkan kisah yang dilihatnya mengenai
sikap hormat dan kecintaan Imam Ahmad bin Hanbal kepada keluarga Nabi saw. Berkata Abdullah
bin Ahmad bin Hanbal , ‘Aku melihat ayahku jika datang kepadanya orang tua dan anak muda dari
kalangan bangsa quraisy atau siapa saja dari kalangan syarif ahlu bait, ia tidak akan keluar dari
pintu masjid mendahului mereka kecuali para syarif tersebut keluar terlebih dahulu dan ayahku
mengikutinya keluar dari belakang setelah mereka.

Sumber tulisan benmashoor.wordpress.com/2008/08/11/manhaj-salaf-dalam-mensikapi-ahlu-
bait-nabi-saw/

Ummatan Wasathan: Inna akromakum indalla hi atqakum. Imam Ali dan aimmah alma’shumin
menjadi mulia karena ketaqwaannya bukan karena hubungan daging dan darahnya. Oleh karena
itu imam Ali as. Bersabda dalam nahjul balaghah, “sesungguhnya kekasih Muhammad adalah
orang yang taat Allah dan Rosul nya sekalipun jauh hubungan dagingnya dan musuh Muhammad
adalah orang yang bermaksiat pada keduanya sekalipun dekat hubungan kekerabatnya. Abu
lahab tidak menjadi mulia karena kekerabatanya karena dia tidak taat pada Allah dan Rosulnya.

Pangeran Ketiga: Kiranya Imam Ahmad bin Hambal lebih memahami tentang ayat “inna
akromakum indallahi atqakum” dan bagaimana penerapannya. Beliau sangat menghormati para syarif ( dzuriyyat Nabi ) sampai beliau tidak berani keluar dahulu dari masjid jikalau masih ada syarif yang belum keluar.

Ummatan Wasathan: Yang perlu kita ketahui syarif yang seperti apa yang beliau hormati? Afwan...

Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaannya:

Islam memiliki aturan yang unik dalam mengatur umatnya. Aturan ini, begitu rapi dan lengkap
dan memiliki berbagai dimensi. Ada aturan tentang diri manusia, alam non materi dan alam
materi. Yang mengenai manusia, ada yang berkenaan dengan dirinya sendiri, keluarganya,
lingkungannya, ada juga yang berhubungan dengan Tuhan, Nabi saww, imam-imam dan semua
ajaran-ajarannya, seperti Qur'an, Hadits, ulama...dan seterusnya.

Salah satu dari aturan yang unik (hanya ada di Islam secara benar dan rinci), adalah yang mengatur
manusia dengan lingkungan sosialnya. Yakni dengan manusia yang lain.

Sebegitu rincinya, sampai-sampai tidak ada yang tertinggal. Misalnya hubungan manusia dengan
dirinya, ayahnya, ibunya, adik-kakaknya, paman-bibinya, kakek-neneknya, anak angkatnya, anak
istrinya, anak dari anaknya, anak dari menantunya, dan seterusnya... juga yang berhubugan
dengan gurunya, muridnya, istri-suaminya, sayyid dan bukan sayyidnya, pemimpinnya, marja’nya,
.....dan seterusnya.

Saya hanya akan mengambil beberapa contoh saja dari hubungan-hubungan di atas itu, misalnya:

1.  Seorang anak, sama sekali tidak boleh menengkari orang tuanya dan menyakiti hati mereka sampai-sampai dikatakan misalnya bahwa “Surga itu ada di bawah telapak kaki ibu.” Sampai-sampai Nabi saww mengatakan kepada shahabat beliau saww yang merawat ibunya dari sejak tidak bisa jalan hingga kemana saja mau pergi digendongnya, sampai menyuap kalau makan, atau bahkan dengan memahinya (dikunyahi dulu baru disuapkan ketika ibunya sudah tidak kuat mengunyah)...dan seterusnya...dimana hal itu terjadi sudah lama sekali dan bertanya kepada Nabi saww apakah sudah membalas budinya dan membayar haknya, Nabi saww menjawab: “Kamu belum membayar satu oh-pun ketika ia melahirkanmu.”

2.  Keutamaan ulama, seperti melihat wajahnya saja sudah mendatangkan pahala bagi umat Islam.

3.  Keutamaan orang shalih sampai-sampai imam Ja’far as mengatakan (+/-): “Barang siapa ingin menziarahi kami, tapi ia tidak mampu, maka datangilah Syi’ah kami yang shalih, maka pahalanya sama dengan menziarahi kami.”

4.  Hak seorang muslim dari yang lainnya sampai-sampai Allamah Thaba Thabai ra dalam tafsir Mizan-nya, mengatakan (+/-) bahwa yang bisa menolong saudara muslimnya yang minta tolong dimana ia memang layak ditolong, tapi ia tidak menolongnya, maka ia telah melakukan dosa besar dan taubatnya tidak akan pernah diterima Allah sekalipun menangis dengan air mata darah, kecuali mencari orang itu dan meminta ridhanya.

5.  Hak sayyid (keturunan Abdu al-Muthallib ra) yaitu harus diberi khumus dan menolong mereka kalau memerlukan pertolongan.

6.  Masih terdapat ribuan hak dan macam-macamnya serta bagian-bagiannya dan rincian-rinciannya dari masing-masing hak itu atau yang lainnya. Sebegitu lengkapnya, sampai-sampai kalau kita mengetahuinya, sulit akan mengatakan bahwa kita sudah melaksanakan semuanya dengan baik hingga memastikan keselamatan kita di akhirat.
7.   Nasihat: Jangan keliru memahami ajaran Islam tentang hak-hak itu:
  • Karena itu, jangan sesekali bahwa sang ibu atau sang ayah, sudah pasti masuk surga karena ia wajib dihormati dan ditaati anak-anaknya yang bahkan sudah menjadi wali sekalipun atau menjadi nabi sekalipun. Atau merasa lebih tinggi dari anak-anak yang wajib menghormati dan menaatinya itu.
  • Karena itu, jangan sesekali bahwa seorang guru dan ulama itu, sudah merasa aman dan memastikan diri masuk surga karena melihat dirinya saja umat ini mendapat pahala atau merasa lebih tinggi dari derajat umatnya itu.
  • Karena itu, jangan sampai para shalih sudah merasa yakin masuk surga dan berderajat tinggi karena yang menziarahinya saja mendapat pahala seperti menziarahi para imam makshum as. Karena keshalihannya itu, bisa saja berupa keshalihan yang dalam pandangan umatnya itu dan/atau anggap sudah shalih maka jangan kira tidak akan terjadi perubahan di masa datang. Karena itu, jangan sesekali merasa aman atau bahkan merasa lebih tinggi dari umat penziarahnya.
  • Karena itu, jangan sampai para mukmin yang diwajibkan untuk orang lain terhadap hak-haknya untuk menolongnya dimana yang tidak menolongnya tidak akan selamat kecuali dengan ridhanya, sudah merasa aman dari neraka dan memastikan masuk surga atau lebih tinggi derajatnya dari yang menolongnya.
  • Karena itu, jangan sampai para saadaat, sudah merasa aman dari siksa neraka dan lebih tinggi derajatnya dari yang ahwal.
  • Karena itu, jangan sesekali seorang suami merasa lebih tinggi dari istrinya yang wajib menaatinya itu dan, merasa sudah aman dari neraka karena hal tersebut.
8.  Semua di poin 7 itu, disebabkan bahwa semua kehormatan itu, HANYA DAN HANYA, merupakan aturan hukum Islam dalam mengatur hubungan antar sesama manusia dari berbagai tingkatan sosialnya, bukan ajaran tentang kelebihan derajat secara hakiki di hadapanNya.

9. Di samping poin 7 itu, tidak seorangpun yang dibolehkan menuntut orang lain untuk
menghormati hak-hak yang diberikan Islam itu. Jadi, semua itu hanya aturan sosial manusia
dengan manusia lain dan merupakan hak-hukum seperti layaknya hukum-hukum lain, seperti
pidana atau perdata dimana yang tidak memberikan hak-haknya bisa dituntut di pengadilan
resmi atau sosial. Yakni tidak bisa menuntut siapapun di meja hukum pengadilan, atau tidak
bisa mengecam siapapun di meja kajian dan mimbar-mimbar baik agama atau sosial lainnya.

10.  Poin ke 9 ini, disebabkan masih banyak lagi hal-hal yang bisa menggugurkan hak-haknya
itu akibat tingkah laku yang punya hak, atau karena sebab-sebab lain seperti sekalipun
yang punya hak itu tidak melakukan hal-hal yang negatif.

Misalnya, adanya tabrakan dalam beberapa hak dan pencampuradukan, misalnya kita tidak bisa mengatakan: “Hai, kamu harus belajar ke orang tuamu karena hak-hak mereka di atas itu. Atau kamu
harus belajar ke mukmin yang wajib dibantu atau ke saadah yang wajib dibantu...karena
hak-hak di atas itu!!!!”

Ketidakbisaan itu, karena tidak ada hubungannya dengan hak-hak yang disebutkan itu. Beda
kalau hak-hak ulama tersebut, karena kesunnahannya itu memang dibuat Islam supaya
umat sering mendatanginya dan bertanya-tanya tentang agama dan apapun masalah yang
dihadapinya dalam sosialnya.

11.  Jangankan belajar dan semacamnya itu, merasa lebih afdhal dari yang wajib menghormati
dan menolongnya itu, atau yang wajib menghormati dan menolongnya itu merasa lebih
rendah dari yang harus dihormatinya dan ditolongnya itu, saja, tidak boleh. Hal ini, karena
semua itu, SEKALI LAGI, hanya aturan hidup sosial yang diberikan Islam yang memiliki
falsafahnya sendiri.

12.  Semua ajaran Islam itu memang memiliki filsafat dan tujuannya sendiri, akan tetapi tujuan-
tujuan tersebut, bukan kembali kepada yang harus dihormati dan ditolong hingga karenanya
bisa menuntut orang-orang yang dirasa tidak memberikan hak-haknya.

Tujuan-tujuan itu jelas dapat ditangkap dari Islam itu sendiri. Misalnya, kalau ke orang
tua, supaya tidak menjadikannya sedih di masa tua dan supaya anak-anak tersebut tahu
kesyukuran betapa beratnya mereka melahirkan dan menjaga anak-anaknya. Kalau yang
mukmin atau saadaat yang wajib ditolong itu, karena memang wajib menolong sesama agar
umat tidak mementingkan dirinya sendiri dan supaya umat menjadi tangan Tuhan dalam
membantu menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi hamba-hambaNya.

Masih banyak pembahasan masalah-masalah hak ini yang, kalau dibukukan, mungkin bisa
menjadi puluhan jilid tanpa basa basi dan/atau hiperbolik. Karena di samping banyaknya hak-
hak itu sendiri, juga banyaknya tinjauan-tinjauan, baik tinjauan akidah dan Ilahiyyahnya, fikihnya,
sosialnya, psikologinya, hikmahnya ....dan seterusnya.

Nasihatku Dari Lubuk Hatiku Yang Paling Dalam:

1.  Pelajarilah Nabi saww dengan baik dan, ajaran beliau saww serta kitabullah yang dibawa
beliau saww.

2. Mungkin orang mengira bahwa perintah Tuhan dalam mencintai Ahlulbait as itu karena demi
meninggikan Nabi saww di sosial dan Ahlubait beliau saww, atau apalagi meninggikan mereka
dalam sosial hingga mendapatkan hak-hak materi atau sosial seperti penghormatan dan
semacamnya. Karena semua kewajiban penghormatan dan ketaatan itu, HANYA DAN HANYA,
untuk umat itu sendiri tanpa kembali sedikitpun manfaatnya kepada mereka, apalagi mau
menuntut umatnya untuk memberikan hak-haknya mereka itu.

Tolong jangan menganggap Nabi saww itu seperti kita-kita ini, yang senang dipuji, yang menuntut
demi diri beliau saww sendiri, yang senang kalau keluarganya dihormati dan ditolong...dan
seterusnya. Karena semua ini, bukan ajaran Nabi saww dan bukan ajaran Allah. Karena semua
hak-hak Nabi saww dan Ahlulbait as itu, sebenarnya untuk umat itu sendiri, bukan untuk mereka
baik di dunia atau akhirat.

Perhatikan beberapa ayat berikut ini:

قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ

“Katakan -Muhammad: ‘Aku tidak minta upah apapun dari kalian darinya (dari dakwah Islam) kecuali menyintai Ahlulbaitku.’” (QS Asy-Syura: 23)



قُلْ مَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ

“Katakan -Muhammad- apa-apa yang kuminta dari kalian dari upah itu, adalah untuk diri kalian
sendiri dan sesungguhnya upahku hanya di Allah.” (QS Saba: 47)



قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِلَّا مَنْ شَاءَ أَنْ يَتَّخِذَ إِلَىٰ رَبِّهِ سَبِيلًا

“Katakan -Muhammad- apa-apa yang aku minta dari kalian dari upah itu, tidak lain untuk orang-orang yang hendak mencari jalan menuju Tuhannya.” (QS Al Furqan: 57)



قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ

“Katakan (Muhammad): ‘Aku tidak minta upah apapun dari kalian darinya -tabligh- dan aku bukanlah yang memaksa.” (QS Shad: 86)


Catatan:

  • Perhatikan ayat pertama yang mewajibkan umat menyintai Ahlulbait as.
  • Perhatikan ayat ke dua yang mengatakan bahwa upah/ajr Nabi saww itu hanya di sisi Allah dan dari Allah.
  • Perhatikan ayat ke tiga dimana dijelaskan bahwa upah yang diminta itu, adalah bagi orang-orang yang ingin menjadikan jalannya kepada Allah. Yakni pewajiban cinta itu untuk mencapai ajaran Islam yang murni sebagai jalan kepada Allah.
  • Perhatikan ayat terakhir yang mengatakan bahwa semua yang diminta Nabi saww itu, bukan dari diri Nabi saww, tapi dari Allah.

Kesimpulan:

1-  Pewajiban cinta kepada Ahlulbaiat yang makshum as itu, HANYA DAN HANYA untuk kepentingan umat itu sendiri, bukan untuk mereka as dan bukan untuk Nabi saww sama sekali hingga kalau umat tidak memberinya mereka sedih dan menuntutnya. Tapi mereka as hanya dan hanya
mengingatkan umat ini agar supaya mereka sendiri mendapatkan jalan yang benar yang
disebut dengan jalan lurus itu.

2- Mungkin orang mengira bahwa kalau mencintai dan menolong Ahlulbait as pertanda telah
menuju Tuhan dengan pahala-pahala yang didapatkan dari itu. Hingga dengan demikian,
maka ketika mereka as menuntut, berarti menuntut untuk mereka as demi mencapai hak-hak
mereka as dari umat ini di dunia ini. Sama sekali bukan seperti itu.

Itulah mengapa ayatullah Makarim Syirazi hf dalam tafsirnya al-Amtsaal, ketika menjelaskan
ayat kewajiban menyintai Qurbaa/Ahlulbait as itu, memaparkan ketiga ayat di atas itu.
Karena yang dimaksud bahwa yang memenuhi kewajiban dari umat ini dalam menyintai dan
menaati Ahlulbait as itu adalah demi menuju kepada Allah, bukan dengan pahala.

Karena kata-kata “sabiil” yang di ayat itu, jelas bermakna “jalan”. Jadi “jalan menuju Allah”, bukan
“mendekati Allah” yang bisa dengan pahala-pahala itu. Jalan, artinya tuntunan dan ajaran. Jadi,
maksudnya adalah jalan dan aturan serta tuntunan dan pedoman menuju kepada Allah. Ini
artinya, adalah agama itu sendiri.

Jadi, pewajiban itu hanya demi supaya umat ini, mendapat jalan-lurus menujuNya, bukan pahala dan semacamnya hingga dikembalikan manfaatnya kepada Nabi saww dan Ahlulbait as yang berupa hak-hak di dunia ini, yaitu berupa manfaat, seperti kesenangan-halal, keridhaan, kelezatan-halal, kenyamanan-halal....dan seterusnya.

Sekarang mungkin ada yang bertanya: “Apakah yang tidak menyintai Ahlubait as tidak men­
dapatkan agama?” Jawabannya jelas bahwa agama yang dimaksud di sini adalah agama yang agama, bukan dakwaan dan keyakinan agama. Karena dakwaan dan keyakinan seseorang itu, belum tentu
agama. Jadi, yang dimaksukan adalah agama yang makshum dan lepas dari kesalahan ilmu
dan amal. Inilah yang dikatakan bahwa pengemban agama yang agama ini hanya dan hanya
orang-orang yang makshum yang kemakshumannya diumumkan Tuhan dan Nabi saww.

Apalagi kalau dihubungkan dengan ayat terakhir di atas itu. Ayat itu jelas bahwa pewajiban
cinta itu, yakni yang demi mendapatkan agama yang murni dan benar itu, adalah merupakan
syariat Tuhan itu sendiri. Artinya, bahwa pewajiban itu bukan dari Nabi saww dan apalagi
untuk kepentingan dan kesenangan dan keridhaan beliau saww. Sama sekali bukan seperti
itu. Akan tetapi, demi umat itu sendiri secara murni tanpa penyisipan kesenangan diri seperti
orang-orang yang belum Fanaa’ atau seperti orang-orang yang belum menyintai Tuhan secara
murni karena masih menyintai hal-hal lain selainNya.

Artinya, ajaran itu, yakni pewajiban menyintai Qurbaa itu, adalah murni ajaran Tuhan demi
umat ini sendiri, bukan demi Nabi saww dan Ahlulbait as itu sendiri. Hal itu, karena tanpa
melalui Nabi saww dan Ahlulbait yang makshum as, umat tidak akan mendapatkan ajaran
murniNya.

Begitu pula, hal itu, karena Nabi saww dan Ahlulbait as, sudah tidak lagi melirik dunia ini sedikitpun hingga menginginkannya. Karena mereka sudah sampai ke derajat dimana HANYA DAN HANYA Allah yang dicintai dan dirinduinya selalu. Itulah mengapa di ayat ke dua di atas itu, dikatakan bahwa ajr atau upah Nabi saww itu hanya di sisi Allah. Ini bukan berarti dari Allah kepada Nabi saww di dunia hingga mewajibkan penyintaan pada beliau saww dan Ahlulbait beliau saww. Bukan seperti itu. Akan tetapi, karena memang Nabi saww dan Ahlulbait as itu, SAMA SEKALI, sudah tidak memiliki kesyirikan sedikitpun.

Karena itu, tidak ada manis selain manisNya, tidak ada kebahagiaan selain bersamaNya, tidak ada kerinduan selain padaNya, tidak ada kenikmatan selainNya, tidak ada impian selainNya, tidak ada kesukaan selainNya, tidak ada kelezatan selainNya....dan seterusnya.

Sementara orang-orang lain, anggap benar cinta Allah, tapi masih cinta juga selainNya.
Apalagi banyak yang berapologi karenaNya. Mana ada cinta pada makhlukNya karenaNya tapi
kalau makhluk itu jauh darinya ia sedih dan merasa pahit hidupnya, atau bagaimana bisa
menyintai karenaNya sementara ketika bersama dengan yang dicintainya itu sama sekali tidak
merasakan manisnya menyintaiNya. Begitu pula tentang kelezatan, idaman, kebahagiaan...
dan seterusnya...itu dimana semuanya dilakukan selain makshumin as itu, masih bercampur
dengan selainNya walau, diatasnamakan padaNya. Apalagi banyak sekali karena memang diri
dan kesukaannya, bukan karenaNya yang sekalipun palsu ini.

Nah, kedua hal ini, bercampur selainNya atau benar-benar bukan karenaNya, semua dan semua ini, adalah kesyirikan dan penyekutuan yang nyata sekalipun, dalam banyak hal, masih diampuni. Itulah yang dikatakan Allah bahwa “Tidak beriman kebanyakan dari orang-orang mukmin itu, kecuali mereka itu memiliki kesyirikan/penyekutuan.”

3- Nah, karena itulah maka kalau ada kewajiban menyintai dan menolong serta membantu
orang yang tidak makshum dalam ajaran Islam, seperti yang telah dicontohkan di atas itu,
maka ketahuilah bahwa hal itu bukan untuk mencapai jalanNya dan agamaNya, tapi karena
untuk memenuhi perintahNya supaya kita mendapat pahalaNya.

Karena itulah, ayah-ibu, suami, guru, alim ulama, yang berhak dibantu, orang shalih, saadaat...
dan seterusnya....itu, tidak bisa mengatakan bahwa pewajiban cinta dan menolong mereka-
mereka itu seperti pewajiban penyintaan dan pertolongan kepada Ahlulbait as yang makshum,
yaitu untuk mendapatkan jalan dan agamaNya. Bukan seperti itu sama sekali. Tapi demi
mendapat pahala dari tugas mereka-mereka itu dan demi pemenuhan masing-masing hak
dari pemilik hak yang ada dalam sosial manusia ini.

Artinya, jangan sesekali orang-orang yang menjadi obyek dari penyintaan dan penghormatan
serta pertolongan itu, merasa lebih afdhal dari yang lainnya dan sudah pasti masuk surga.
Karena keduanya tidak ada hubungannya sama sekali.

Penutup:
Saya tidak rela menjadikan tulisan ini, sebagai alat menyakiti siapapun, mengusik siapapun dan
mencela atau merendahkan siapapun. Karena di samping tulisan ini sangat global, juga karena
Islam mengajarkan kebenaran itu ia juga mengajarkan penyampaiannya bahwa Islam itu harus
disampaikan dengan cara yang benar pula dan demi menjadinya manusia yang diciptakan Allah
ini pada apa-apa yang sudah dicanangkanNya, hingga terbuktilah kebenaran firmanNya yang
mewajibkan seluruh malaikat bersujud padanya (manusia). Wassalam.

Adzar Alistany Kadzimi: Sahih.

Mata Jiwa: Pak ustadz, saya ikut nimbrung ya, saya berharap sekali pak ustad dapat menolong saya,
2 kakek saya berasal dari india, sampai meninggalnya masih WNA, jadi saya adalah keturunannya
yang ke-2. Satu kakek di belakang namanya Baalawy, berasal dari Kerala, Madras-india Selatan
yang ternyata pusatnya ahlul bayt di India. Yang satu lagi, seorang syech yang ber-fam alkatiri
dari Uttar Pradesh, India Utara.

Tentang yang ber-fam alkatiri tidak ada masalah, tapi ketika saya ditanya oleh jama’ah lalu saya sebut Baalawy, kenapa saya selalu mendapat reaksi yang sama: Baalawy sudah habis, tidak mungkin masih ada !! Saya bilang, kakek saya dari India, kami baru keturunan yang ke-2 di indonesia, orang-orang itu dengan serta merta berubah wajah lalu sejak saat itu pasti akan menghindar jika ketemu saya, pada hal mereka itu yang punya embel-embel assegaf, alatas, dan lain-lain dan mereka dari kalangan syiah...ke sana ke mari saya cari tau, tapi tidak ada jawaban, ada apa dengan Baalawy??

Saya sudah ke ustadz-ustadz ngetop orang arab sekalipun, bertanya ke Rabithah Alawiyin Int’l..
jawabannya sama : Baalawy sudah tidak tersisa...lha kami sisanya koq.

Suatu kali ketemu dengan orang Iran, setelah saya cerita, dia memeluk saya, lalu bilang : Baalawy keturunan Bany Hasyim yang diburu untuk dibunuh dahulunya, lalu mereka menyebar ke India dan Afrika, setelah saya sebut Kerala tempat kelahiran kakek saya, ia kembali memeluk saya, dan bilang : benar, kamu Baalawy, keturunan Bany Hasyim.

Nah, kenapa di Indonesia ini kami ditiadakan ya ? Dibilang sudah habis ! Orang Iran itu menyuruh saya untuk bertanya kepada kantor Rahbar karena masalah nashab ini ada catatannya dan bisa diselidiki sampai bertemu di Imam Ali as...mohon bantuan dan saran pak ustad ....

Sinar Agama: Mata: Dengan seksama kubaca tulisan antum dan saya akan mencoba membantunya,
tapi saya tidak janji karena saya bukan ahli syajarah (syajarah = silsilah-silsilah keturunan), tapi
barang kali dapat. Sementara ini ana dapatkan yang bernama Abu Bakar Baa ‘Alwi yang merupakan
salah satu wali yang konon bahkan dengan ijinNya, bisa menghidupkan orang mati dimana di
kubur di ‘Adn dan wafatnya tahun 914 H. Nama lengkapnya Syaikh Abu Bakar bin ‘Abdullah ‘Idruus Ba ‘Alwii. Kuburannya jadi tempat ziarahan di ‘Adn. Masih mau cari-cari lagi.

Mata Jiwa: Na’am pak ustadz, saya cuma mengantongi nama kakek Muhammad Mukri Baalawy
bin Abdullah bin Abdurrahman bin Husayn. InsyaALLAH beliau seorang syiah, dari India menetap
di Jambi, Sumatera...seluruh keluarga kami bernasib sama, jangan coba-coba sebut Baalawy jika
tidak mau dicibirkan atau disisihkan, akhirnya kalau ditanya sama orang-orang keturunan arab,
kita ngakunya orang India, semoga kami sekeluarga mendapat titik terangnya dari pak ustad...
hanya ALLAH, RasulNYA dan Ahlul Bayt yang bisa membalas kebaikan pak ustad...

Sinar Agama: Mata: Ana sudah cari ke beberapa puluh kitab, karena kebetulan ingin tahu, akhirnya kutemukan justru di kitab karangan sayyid al-kaaf yang orang Indonesia yang berjudul ‫‪"al-Islam fii Indunesia".



Intinya:
1- Baa ‘Alawii/’Alwi itu adalah keturunan yang dihubungankan kepada Sayyid ‘Alawi bin ‘Abdullah
bin Ahmad al-Muhaajir bin ‘Iisa bin Muhammad bin ‘Ali bin Ja’far al-Shaadiq.

2- Mereka tersebar di Indonesia, Thailand, Pilipin, Singapore, Arfika dan beranak pinak di masing-
masing tempat itu.

3- Mereka datang ke Indonesia pada abad ke 14 M dan menyebarkan agama Islam.

4- Semua Wali Songo selain sunan Kali Jaga, adalah keturunan Baa ‘Alwii yang menyambung
melalui jalur Sayyid Jamaalu al-Diin bin Ahmad bin ‘Abdullah dan ‘Abdu al-Malik bin ‘Alawii bin
Muhammad Shaahibu Mirbaath bin ‘Ali bin ‘Alawi bin Muhammad bin ‘Alawi bin ‘Abdullah bin
Ahmad al-Muhaajir.

Kesimpulan:
Sangat sulit mengatakan bahwa keturunan Baa ‘Alwii itu sudah putus, terlebih menyebarnya di
berbagai tempat dan beranak pinak serta ditambah lagi bahwa semua Wali Songo itu keturunan
Baa ‘Alwii dimana mereka masih punya ribuan keturunan yang mungkin lebih banyak sudah
berhidung pesek seperti ahwal. Ana sendiri banyak kenal sayyid yang model pribumi ini.
Semoga Allah menjaga kita semua di dunia dan akhirat dari kesalahan ilmu, sikap, perbuatan dan
niat, amin.

Ingat, tulisan-tulisan sebelumnya itu, bahwa hanya orang yang taqwa yang akan selamat di dunia
dan akhirat kelak. Jangan pernah lupa hal itu. Dan jangan lupa bahwa aturan sosial itu hanya taklif
di dunia ini, seperti istri yang wajib taat pada suami itu, seperti surga anak yang katakanlah ada di
kaki ibu itu. Kalau bisa jangan lupa menyelipkanku dalam doa-doamu, terimakasih.

Mata Jiwa: Ya ALLAH pak ustaaadz...baiknya sampai sudi membongkar puluhan kitab-kitab...
dengan apa saya membalas kebaikanmu pak ustad ? Syukurlah jika memang masih valid...suami
saya sendiri seorang ahwal yang Indonesia asli pak ustad, nashab anak saya sudah terputus...
saya tahu syiah dari suami, In'syaa ALLAH kami tidak fanatik dan bangga dengan nashab kecuali
mengejar taqwa, terus baca tulisan pak ustad siang malam dan buku-buku yang lain, hanya karena
ingin profesional dihadapanNYA seperti yang selalu pak ustad ingatkan terus menerus...dan pak
ustad In'syaa ALLAH slalu ada dalam rangkaian doa-doa kami, pak ustad lah guru kami dari balik
awan...jangan lupa doakan kami juga pak ustad......
Wassalam.


اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar