Jumat, 17 Juli 2020

Penjelasan Irfan “Doa Ziarah Jamiah Kabir “dzikrukum fidz dzakirin, wa asmaa ukum fil asmaa, wa ajsaadukum fil ajsaad, wa Arwaahukum fil arwaah


Oleh Ustad Sinar Agama http://www.facebook.com/groups/210570692321068/doc/246248198753317/ Oleh Anggelia Sulqani Zahra pada 10 September 2011 pukul 12:28


Anandito Birowo: Salam, ustad saya mau tanya lagi boleh ya...,

Dalam Doa Ziarah Jamiah Kabir ada ungkapan “dzikrukum fidz dzakirin, wa asmaa ukum fil asmaa, wa ajsaadukum fil ajsaad, wa Arwaahukum fil arwaah dan seterusnya” maknanya apa ya ustad, mohon penjelasan. Terimakasih.

Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaannya:

(1). Arti leterleksnya +/-: “Mengenangi antum ada diantara orang-orang yang berdzikir. Dan nama-nama antum ada diantara semua nama. Dan badan-badan antum, ada diantara semua badan. Dan ruh-ruh antum, ada diantara semua ruh. Dan jiwa-jiwa antum ada diantara semua jiwa.”

(2). Maksudnya, kira-kira (secara rabaan):

(a). “Mengingati atau mengenangi antum ada diantara orang yang berdzikir.”:

  • (a-1). Karena mereka murid-murid hakiki dan pewaris hakiki imu Nabi saww dimana kepemuridan dan kepewarisan hakiki mereka itu disebebkan ketaatan dan potensi yang hakiki dari mereka (bc: sesuai dengan ketaatan mutlak mereka yang tidak pernah maksiat), maka sudah tentu mereka itu menempati posisi yang tinggi dan paling tinggi setelah maqam Nabi saww. Jadi, mereka as, baik dari sisi keilmuan yang merupakan pintu ilmu Nabi saww untuk umat manusia, atau dari sisi amalnya yang sampai ke tingkat maksum itu, membuat mereka akan selalu dikenang oleh para ahli dzikir.

Dan sudah tentu bahwa dzikir disini bukan hanya mengucap nama-nama Tuhan, akan tetapi mengingat hukum-hukum Tuhan (fikih) dan mengamalkannya. Karena itu dalam suatu riwayat dikatakan bahwa sebaik-baik dzikir adalah ketika orang mau melakukan dosa, lalu teringat Tuhan (hukum fikihnya) lalu tidak jadi melakukannya.

Jadi, mereka para imam maksum as itu adalah tauladan hakiki dalam ilmu dan amal. Karena itu, akan selalu diingat oleh para pendzikir nama-nama Tuhan dan pendzikir yang dalam arti penaat pada hukum-hukum Tuhan. Jadi, mereka akan selalu diingat sebagaimana Nabi saww juga diingat. Jadi, mengenangi mereka sama dengan mengenangi Nabi saww dan mengenangi Nabi saww sama dengan mengenangi Islam itu sendiri. Dan mengenang disini adalah dari sisi dzikir kata-kata (nama-nama Tuhan) dan juga dari sisi aplikasinya.

  • (a-2). Ada lagi point yang lebih tinggi dari tafsiran pertama itu. Yaitu, ketika Nabi saww dan para imam as itu hakikat hamba Tuhan, dimana telah menapaki semua estafet perjalanan dari Materi ke Barzakh, dan dari Barzakh ke Akal-akhir (bukan akal manusia), lalu dari Akal-akhir sampai ke Akal-pertama, lalu Fana’, lalu naik lagi ke Maqam-maqam Asma- asma (bc: hakikat Nama, bukan namanya nama sebagai yang sudah sering diterangkan), maka derajat mereka itu adalah derajat yang tidak bisa dicapai oleh siapapun. Dan, sudah tentu merupakan kehakikian, bukan derajat kesepakatan seperti pangkat presiden atau camat atau kepala desa.

Dan karena derajat itu tinggi dan hakiki, maka sudah tentu ada di atas semua makhluk. Dan, karena ada di atas semua makhluk, maka semua makhluk yang ingin menapaki derajat kesempurnaan (dimana sudah saya katakan derajat kehinaan kalau dilihat dari dalam dirinya sendiri, karena yang menghinakan diri kepada Allah tetapi untuk mendapatkan kesempurnaan dan bersanding di sisi Allah, maka ia telah menyimpang dari hakikat kehambaan tersebut. Jadi, menghinakan diri kepada Allah di dunia untuk menghinakan diri kepadaNya selama-lamanya), maka sudah tentu akan bertemu dan harus bertemu dengan mereka para imam maksum as tersebut.

Dan karena menapaki kesempurnaan adalah dengan menghinakan diri kepada Allah, dan menghinakan diri itu dengan ketaatan mutlak dimana harus dimulai dengan ilmu dan mengingatnya lalu mengamalkannya, maka orang seperti ini dapat dikatakan sebagai ahli dzikir.

Nah, nama-nama maksum as itu sudah tentu akan selalu ada dalam dzikir (bc: ingat ilmu tentang Tuhan dan agama dan juga mengamalkannya) para pendzikir. Karena mereka ada di atas pendzikir ini dan selalu menyejuki jalan-jalannya dan memberkahinya.
Kesimpulannya:

Para imam maksum as itu akan selalu diingat di samping Rasulullah saww, karena mereka di samping merupakan pintu bagi ilmu Nabi saww juga merupakan orang yang selalu ada di setiap tingkatan para pesuluk atau pendzikir (baca yang punya ilmu dan mengingatnya dan mengamalkannya).


(b). “Dan nama-nama antum ada diantara semua nama.”:

  • (b-1). Nama disini bisa bermakna lahiriahnya saja. Yakni nama imam itu sendiri. Kalau dimaknai seperti ini, maka kurang lebih maksudnya adalah, bahwa nama-nama mereka itu selalu ada di setiap nama apapun. Baik, nama-nama lahiriah Tuhan, atau makhluk. Baik makhluk baik atau makhluk jahat. Karena kalau baik, maka mereka adalah guru dan sumbernya (tawalli/wilayah/kepemimpinan), dan kalau nama-nama yang tidak baik, maka mereka adalah musuhnya (tabarri/berlepas diri/memusuhi). Dan kalau nama itu adalah nama Tuhan, maka nama-nama mereka as itu ada diantara nama-nama Tuhan, karena merekalah yang bisa memberikan makna sebenarnya terhadap nama-nama Tuhan tersebut.
  • (b-2). Tetapi bisa juga nama disini yang berarti maknanya. Kalau masih ingat tulisan-tulisan di Irfan atau wahdatu al-wujud, disana sudah diterangkan bahwa Nama-nama Tuhan itu bukan Allah, Rahman, Rahim dan seterusnya, tetapi makna dari Allah, Rahman, Rahim dan seterusnya itu. Jadi, kalau dalam Irfan, kata-kata Allah, Rahman dan Rahim itu adalah Namanya Nama, bukan Nama itu sendiri.

Nah, ketika Nabi saww dan para imam maksum as itu sudah sampai ke tingkat Asma- asma Tuhan, yaitu tingkatan setelah Fana’, maka mereka secara makna dan hakikat merupakan Nama-nama Tuhan tersebut.

Tetapi karena mereka tetap memiliki dimensi kemakhlukan, maka kesatuannya dengan Nama-nama Tuhan tersebut, bukan kesatuan yang sepenuhnya hingga mereka menjadi Tuhan (misalnya). Tidak seperti itu. Jadi, mereka hanya sampai kepada batas Tajalli paling sempurna dan paling dekat dan paling mirip dengan Nama-nama tersebut. Kita dan alam semesta ini juga tajalli dari Nama-nama Tuhan tersebut, tetapi sangat rendah dan jauh serta sangat tidak mirip dengan Nama-nama tersebut.

Nah, karena mereka para imam maksum as itu adalah hakikat (makna dari nama mereka as) yang paling dekat dengan Nama-nama Tuhan tersebut, maka sudah pasti nama- nama mereka, yakni hakikat-hakikat mereka as itu ada diantara Nama-nama Tuhan yang derajatnya dimulai dari katakanlah setingkat dibawah Nama-nama Tuhan tsb, lalu ke derajat Nama dan Asma setelahnya, lalu terus ke tajalli berikutnya yang berupa Akal- Satu, lalu Akal-dua dan begitu seterusnya sampai ke Akal-akhir, lalu ke Barzakh dan kemudian ke tajalli yang paling akhir, yaitu Materi.

Jadi, nama-nama mereka, yakni hakikat-hakikat mereka itu selalu ada diantara semua nama-nama, alias diantara semua hakikat-hakikat wujud sebagai tajalli dan hakikat makna dari Nama-nama Tuhan tersebut.


(c). “Dan badan-badan antum ada diantara semua badan.”:

  • (c-1). Badan disini juga bisa diartikan dengan badan materinya. Karena dalam suatu riwayat dikatakan bahwa bumi ini dicipta Tuhan dari cahaya imam Ali as. Sementara manusia yang dimulai dari nabi Adam as, dicipta Tuhan dari tanah/bumi. Karena itulah salah satu tafsiran dari penjulukan Nabi saww kepada imam Ali as sebagai Abu Turob (ayah tanah), karena tanah/bumi dicipta Allah melalui cahaya imam Ali as. Salah satu penyair Arab ada yang menangkap makna ini lalu membuat sya’irnya:

“Adam dicipta -Allah- dari tanah, dan engkau -Ali- adalah ayahnya”

Jadi, di badan semua manusia, dan badan apapun di bumi ini, memiliki bibit badan Ahlulbait as. Karena itu, mereka as, selalu ada di semua badan apapun, baik manusia atau lainnya.

Apalagi hadits yang mengatakan bahwa semua alam materi ini dicipta Tuhan dari nur atau cahaya maksumin, maka bukan hanya badan-badan di bumi yang mengandungi badan mereka, tetapi semua alam dan antariksa juga dari badan mereka.

  • (c-2). Tetapi bisa juga diartikan sebagai badan Barzakhi. Nabi saww pernah bersabda: “Aku dan Ali adalah ayah bagi umat ini”.

Artinya, orang yang beriman itu lahir dari Nabi saww dan imam Ali as. Dalam pelajaran- pelajaran yang telah lalu dan di catatan-catatan yang telah lau, telah dikatakan dan dibuktikan bahwa manusia itu memiliki dua badan, badan materi dan badan barzakhi. Badan Barzakhi ini terbentuk dari amal-amal dan niat-niat kita. Karena itulah, maka yang muslim badan barzakhinya akan berbentuk baik dan indah dimana diambil dari tanah yang juga baik dan indah, yaitu tanah Nabi saww dan imam Ali as (lihat catatan: Kisah Diskusiku Tentang The Genitic God) dimana riwayat ini dikenal dengan riwayat Thinat atau Tanah.

Karena itu mereka akan selalu ada diantara badan-badan. Tetapi disini dan dalam tafsiran ini, adalah badan-badan yang baiknya saja. Yakni badan barzakhi yang baik, muslim dan taat.

Jadi, sebagaimana kenangi atau dzikiri mereka ada diantara para pendzikir, maka badan mereka juga ada diantara badan-badan para muslim dan mukmin serta taat.


(d). Untuk masalah ruh, penjelasannya juga hampir sama dengan sebelumnya. Karena itu, disamping sudah lelah, karena memang senafas saja, maka saya cukupkan dengan yang sudah dijelaskan di atas tersebut.

Wassalam dan afwan.

Chi Sakuradandelion, Irsavone Sabit dan 8 orang lainnya menyukai ini.


اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar