Jumat, 05 Juni 2020

Makna "fiihaa" pada al Qadr: 4 dan ad Dukhan: 4


Oleh Ustad Sinar Agama http://www.facebook.com/groups/210570692321068/doc/236092616435542/ Oleh Anggelia Sulqani Zahra pada 20 Agustus 2011 pukul 21:47


Zainal Syam Arifin: Salam wa rahmah pak ustadz, ana mau tanyakan makna "fiihaa" pada al Qadr: 4 dan ad Dukhan: 4 serta siapa yang dimaksud dengan "haa" pada fiihaa tersebut?

Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaannya:

Fii-haa pada kedua ayat tersebut maknanya adalah Lailatu al-Qadr, yakni malam lailatu al-Qadr.

Zainal Syam Arifin: Pak ustadz tidak sependapat bahwa "haa" itu adalah shohibul amri dimana kepadanya dijelaskan segala urusan? Bagaimana dengan pemaknaan kalimat "yufroqu" pada ad dukhan:4 pak ustadz?

Sinar Agama: Saya sudah pasti sependapat dengan hakikat turunnya para malaikat yang membawa segala urusan terinci sesuai dengan tugas masing-masing yang diambil dari Ruh (urusan Tuhan atau ilmu Tuhan yang menyeluruh) yang dibawa kepada imam Zaman as untuk mendapatkan pengecekan dan mana-mana yang perlu pengesahan dan mana-mana yang tidak. Karena itulah malam itu disebut dengan malam lailatu al-Qadr dimana semua dirincikan.

Tetapi fii-haa itu adalah kata waktu bagi perincian-perincian di atas. Jadi, tidak menunjuk langsung kepada Pemeriksa dan Pemerinci dan Pengesah atau tidaknya (sesuai dengan ijinNya juga).

Zainal Syam Arifin: Kalau begitu, pada bagian mana dari ayat itu yang menunjukkan makna bahwa turunnya malaikat dan ruh itu kepada shohibul amri pak ustadz? Syukron sebelumnya

Sinar Agama: Yang menunjukkan adalah turunnya para malaikat dengan membawa segala urusan itu. Karena buat apa para malaikat turun ke bumi dengan membawa segala urusan itu? Tidak lain untuk dilaporkan kepada khalifah Tuhan yang hidup di bumi ini.

Zainal Syam Arifin: Kalau dijelaskan dengan cara begitu, saudara kita yang lain tidak bisa menerimanya pak ustadz dan ana sendiri pun akhirnya menerima secara dogmatis. Tadinya ana mengira haa pada fiihaa itulah maknanya shohibul amri pada ad dukhan ayat 4 yaitu pada "haa"

یـُْفَر ُق فِی َها  dijelaskan/diterangkan"

Tadinya ana mengira kalimat ُق یـُْفَر ini ditujukan pada "haa" dalam kalimat َها فِی

Tapi rupanya pak ustadz menyanggahnya. Sekarang ana blink dengan dalil. Secara keimanan ana menerima dan percaya bahwa urusan itu kepada shohibul amri, namun secara dalil akhirnya ana tidak punya dalil sama sekali kecuali jika betul bahwa "haa" di atas adalah shohibul amri, karena mana mungkin kepada malam dijelaskan segala urusan? Atau ada cara pemaknaan lain pak ustadz. Mohon dicerahkan. (Ini bukan debat loh pak ustadz, ana bertanya dan pak ustadz menjawab demi pencerahan). Syukron.

Pak Ustad Sinar Agama, apakah haa pada َها فِی di ayat 44:4 sama dengan hu pada أَنـَْزلْنَاهُ pada ayat 44:3 yaitu (املبنی الکتاب) pada ayat 44:2?

Ataukah berbeda sebagaimana komenku sebelumnya bahwa haa pada َها فِی sebenarnya adalah shohibul amri dengan berpedoman pada kalimat ُقیـُْفَر yang bermakna fi'il mudhari (terus menerus) yang artinya diterangkan/dijelaskan/dipisahkan, dan kalimat ُق یـُْفَر ini lebih tepat ditujukan kepada manusia yang bisa "menerima penjelasan"?

Mohon penjelasannya pak ustdaz, karena saya bukanlah orang mahir bahasa arab, apakah makna ُق یـُْفَر ditujukan kepada makhluk hidup (manusia)yang bisa menerima penjelasan ataukah ditujukan kepada benda mati sebagai misal al kitabul mubin?

Syukron jazakallaah, ana tunggu jawabannya, penting bagi ana.

Karena, bukankah pada ujung-ujungnya yang akan bisa menerima penjelasan adalah manusia (makhluk hidup)?


Sinar Agama: Mas Zainal:

(1). He he he dari dulu saya tidak melarang debat. Ingat kalau kita merasa bersaudara, maka kalau ingin bertengakar, bertengakar saja. Kalau ingin ngotot, maka ngotot saja. Tetapi yang harus selalu diingat, bahwa kita ini bersaudara. Karena itu jangan sampai saling melihat sebagai musuh.Jadi, bertengkarnya dan otot-ototannya itu seperti bertengkarnya saudara yang sudah tentu tidak diambil di hati.

Mas Zinal, siapa yang tidak suka dihormati dan disanjung? Tetapi kesukaan ini harus kita taruh di sampah, karena ia akan menghapus perbuatan baik kita. Dan saya memilih menutup nama itu diantaranya karena supaya tidak terganggu oleh suka tidak sukanya saya dalam berdialog.

Kemudian, saya itu lebih memilih tidak dihormati (dan sudah tentu saya akan memaafkannya) dari pada saudara saya tidak mengeluarkan unek-unek di hatinya. Karena saya menyintai semua ikhwan dan akhwat semuanya. Tetapi cinta saya ini atas dasar Allah dan kebenaranNya. Jadi, kalau hanya basa-basi, maka kita tidak akan bisa saling menolong.

Saya juga seperti yang lainnya, bisa salah dan sangat bisa salah. Karena itu, dialog atau bahkan debat dan bertengkar (dalam selimutpersaudaraan), lebih membuka peluang melihat kelemahan dan kekuatan argument masing-masing.

Memang, saya tidak memaksudkan harus betengkar. Yang saya sebutkan itu hanyalah kemungkinan terburuknya. Karena kita bisa saling debat tanpa harus bertengkar itu. Dialog- dialog agama yang sampai puncaknyapun malah bisa dilakukan dengan sambil menangis karena takut salah pada Allah. He he he jadi panjang nih mukaddimahnya. Afwan.


(2). Untuk fii haa itu memang malam qadar. Tetapi bukan berarti dijelaskan padanya. Maksudnya adalah pada malam itu terjadi perincian-perincian ketentuan dan keputusan Tuhan yang dilalukan kepada khalifahNya.

Antum ada baiknya membaca catatan saya tentang nabi Adam atau khalifah Tuhan. Disana secara akal dan naql, sudah dibuktikan bahwa yang dimaksud khalifah Tuhan itu dalam mengurusi semua makhluk Tuhan, bukan hanya mengelola bumi.

Alasannya diantaranya adalah karena para malaikat itu mengusulkan diri mereka yang menjadi khalifahNya dengan mengatakan secara halus (tetapi bagi kita tetap kasar tetapi setidaknya tidak seperti iblis yang kasar dan tidak taat): "Apakah Engkau akan menjadikan di atasnya -bumi- khalifah/manusia yang membuat kerusakan dan saling membunuh, sementara kami selalu bertasbih kepadaMu dan mensucikanMu?"

Coba perhatikan kalimat terakhirnya itu. Mereka dengan menunjukkan kelebihan mereka (dalam ilmu mereka) itu dari manusia/khalifah ini, dapat sangat dipahami bahwa mereka itu ingin menjadi khalifahNya tersebut. Dan karena seluruh malaikat menginginkannya dan malaikat sudah memiliki tugas dunia akhirat, begitu juga penjaga wahyu dan pemikul ‘arsy, maka dapat diketahui bahwa tugas khalifah ini melebihi semua itu dalam bentuk gabungan. Yakni kalau semua tugas malaikat-malaikat itu digabung, maka masih jauh dibawah tugas khalifah ini.

Karena itu, maka khalifah ini mengurusi semua, termasuk rejeki-rejeki para malaikat-malaikat itu sendiri. Untuk penjelasan filsafatnya, tolongantum rujuk ke catatan-catatan sebelumnya.

Nah, ketika kita sudah tahu tentang khalifah itu dan maqamnya, ditambah lagi dengan tidak mungkinnya para malaikat itu pada turun darilangit membawa semua urusan ke bumi hanya untuk jalan-jalan, yakni meninggalkan 'arsy hanya untuk jalan-jalan ke bumi melihat maksiat kita, dan seterusnya, maka jelas bahwa turunnya itu adalah demi menghadap khalifah yang dimaksudkan itu. Ini adalah dalil akli yang bisadikatakan sangat terang. Karena semua urusan yang ada di langit itu dibawa ke bumi pada malam lailatulqadar itu dan akan dibawa lagi ke langit bersamaan dengan fajar ketika mereka ke langit lagi. Nah, untuk apa dan apa hikmahnya membawanya itu kalau tidak untuk dihadapkan pada khalifahNya untuk ditanda tangani yang disetujui dan tidak bagi yang tidak disetujui sesuai dengan IjinNya yang disalurkan pada khalifahNya itu??????!!!

(3). Untuk pertanyaan hu dan haa itu saya tidak paham maksudnya. Karena kata ganti hu/dia-laki, itu adalah jelas Qur'an, dan haa/dia-wanita itu adalah malam lailatulqadr.

Bagi saya yang tidak tahu kecuali sedikit ini, adalah sangat jelas kemana kembalinya dhamir- dhamir atau kata-kata ganti di atas itu. Tetapi karena antum terus bertanya, sampai-sampai saya mengira, jangan sampai ada yang mengajari antum seperti itu, maka saya mencoba merujuk ke dua tafsir dimana yang satunya berasaskan Kalam (al-Amtsal, karya ayt 'uzhma Makarim Syirazi hf), dan yang satunya berasas filsafat (al-Miizaan, karya ayt Thaba Thabai ra). Tetapi di kedua tafsir itupun sama. Bahwa fiihaa itu adalah "di malam lailatu al-qadr". Jadi tidak kembali kemana-mana kecuali ke keterangan waktunya saja, yaitu malam qadr.

(4). Kalau ujung-ujungnya itu bukan hanya ujung-ujungnya, tetapi memang hanya manusia yang akan memahami keterangan-keterangan Tuhan itu. Karena itulah maka hal inilah yang akan menjadi salah satu dalilnya bahwa malaikat itu turun pada malam qadar tidak mungkin tidak turun pada manusia. Tetapi bukan berarti diterangkan pada manusia karena ada "fiihaa" yang diartkan "pada imam zaman/Mahdi as". Bukan begitu. Tetapi diterangkan "Di Malam Lailatulqadar".

Nah, ketika dari satu sisi khalifah itu adalah wakil Tuhan untuk semuanya, dan ditambah lagi bahwa penerangan di malam qadar itu tidak mungkin kecuali kepada manusia (baik secara hakiki atau secara ujung-ujungnya seperti yang antum katakan), maka sudah jelas bahwa para malaikat itu turun untuk imam yang ada di setiap jamannya dimana sekarang adalah imam Mahdi as. Wassalam.


Chi Sakuradandelion, Agoest Irawan dan 3 orang lainnya menyukai ini.


Agoest Irawan: Subhanallah, Inni kuntuminazhalimin. Allahumma shalli ala MUHAMMAD wa aali MUHAMMAD


20 Agustus 2011 pukul 22:34 · Suka



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar