Selasa, 09 Juni 2020

Bisakah Orang Biasa Menembus Hijab dan Bersih dari Dosa ?!



seri tanya jawab Irsavone Sabit dengan Sinar Agama 
by Sinar Agama (Notes) on Tuesday, March 19, 2013 at 12:09am


Irsavone Sabit: Apakah Bisa Kita Manusia Biasa yang penuh dosa Menembus Hijab yang tebal dalam sholat seperti para imam Makshum?


Sinar Agama: Salam dan terima kasih pertanyaannya:

1. Kalau manusia penuh dosa, sudah pasti tidak akan bisa menembus hijab. Jangankan hijab langit, atap gentengnya saja mungkin tidak bisa ditembusi.

2. Tetapi kalau sudah bertaubat dari dosa-dosanya itu, maka ia bisa menembus hijab yang tinggi sekalipun dan mencapai fana' sekalipun. Walau tidak akan pernah menyamai para makshum as. Karena mereka tidak pernah berdosa.

3. Antum tahu mengapa di syi'ah untuk jadi imam shalat saja harus adil, yakni tidak boleh memiliki dosa besar atau kecil? Salah satu hikmahnya adalah karena yang masih melakukan dosa itu tandanya shalatnya belum diterima. Karena belum diterima, maka ia tidak layak menjadi imam shalat. Karena imam shalat di syi'ah mewakili makmum dalam bacaan fatihah dan surat, pada dua rokaat pertamanya (karena itu makmum tidak membaca kedua surat tersebut dalam dua rokaat pertama tersebut).

4. Antum tahu mengapa yang masih melakukan dosa itu berarti shalatnya tidak diterima? Karena Tuhan berfirman:

"Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar"

Jadi, kalau orang masih melakukan kekejian dan kemungkaran seperti dosa itu, maka berarti shalat yang ia lakukan itu belum kabul secara penuh, atau mungkin mentah sama sekali.

5. Ayatullah Jawadi Omuli hf, pernah berkata, kalau kita ingin tahu apakah shalat kita sudah diterimaNya atau belum, maka lihatlah diri kita ini, apakah masih melakukan dosa atau tidak. Kalau masih melakukan, berarti shalat kita belum cocok dan kabul.

6. Terkabulnya shalat itu tergantung kepada daya makrifat dan khusyu'nya. Kalau ma'rifahnya bagus dan khusyu'nya juga bagus, maka itulah shalat yang dikatakan Nabi saww sebagai "Mi'rajnya mukmin." Tetapi kalau ada khusyu'nya dan ada tidaknya, dan/atau apalagi ma'rifahnya belum memadahi, maka diterimanya shalatnya itu tergantung pada daya khusyu' dan derajat makrifahnya itu. Jadi, persentasenya, tergantung kepada berapa khusyu'nya dan berapa tidaknya.

7. Dalam Islam dianjurkan shalat rawatib, yakni shalat sunnah yang mengiringi shalat wajib, karena diharapkan dari itu, dapat menutupi bolong-bolong kekhusyukannya. Yakni dapat menutupi nilai tidak khusyu'nya hingga dapat mengatrol shalat wajibnya yang kurang sempurna itu.

8. Sudah tentu shalat tidak kabul itu, asal sudah memenuhi syarat lahiriahnya, seperti kesucian dan wudhu' atau mandi wajibnya, maka sudah tidak perlu diqodho' lagi. Akan tetapi baik juga diulang lagi seperti di malam-malam Qadar, seperti yang dilakuakan ayatullah al-'uzhma -marja'- Mr'asyi al-Najafi ra.

9. Sudah tentu seseorang tidak akan tahu bahwa dirinya masih melakukan dosa apa tidak, kecuali dia sudah belajar fikih dengan baik. Karena itu belajar fikih keseharian itu di syi'ah, wajib hukumnya. Karena itu, usahakanlah membaca hukum-hukum fikih dari awal sampai akhir, supaya tahu tentang diri kita apakah masih ada dosanya atau tidak. Dan, jangan lupa, bahwa di Islam atau di Syi'ah, tidak ada istilah tidak tahu fikih, kecuali yang di gunung sendirian tidak punya teman yang tahu atau tidak ada buku atau tidak ada internet dan lain-lain. Karena, kesalahan di syi'ah tetap dosa sekalipun tidak tahu dan, kalau memang kesalahan yang mewajibkan qodho', maka harus mengqodho'nya juga.
Tambahan:

Kita tidak boleh putus asa mengejar yang paling tinggi. Karena putus asa itu adalah dosa yang lebih besar dari dosa yang membuat kita putus asa tersebut.


Yusran Amir: Hidup syiah...saluuut sama teman syiah.

Ichsan Palawa: Hore...ada lembaga sertifikasi shalat bagus juga, biar ditahu siapa yang shalatnya diterima atau tidak...hehe

Yusran Amir: Dimana alamatnya lembaga itu brother Ihsan??

Ichsan Palawa: Kayaknya dilauhil mahfudz broo.... hehe. Udah kenal pengurus lembaga tersebut?
hehe


Sinar Agama: Yusran dan Ichsan:

Allah berfirman:

- QS: 3: 32:

"Katakan -Muhammad: 'Taatilah Allah dan rasul!'."

- QS: 4: 64:
"Dan tidak Kami utus seorang rasulpun kecuali untuk ditaati dengan ijinNya (sesuai perintahNya)."


Ayat-ayat di atas itu, sangat menguatkan akal kita (kalau sehat akal tentunya) bahwa Allah dan para rasulNya itu, wajib ditaati. Jadi, agama diturunkan, adalah untuk ditaati, bukan untuk dijadikan lecehan seperti: "Kita tidak bisa melakukan semuanya hingga kita bisa bersih dari dosa", atau dengan kata-kata pelecehan dalam bentuk lain seperti: "Kita tidak bisa bersih dari dosa karena kita manusia biasa." Apalagi Tuhan mengatakan di tempat lain, QS: 2: 286:

"Allah tidak memerintah manusia kecuali sesuai kemampuannya."


Jadi, semua hukum atau fikih atau apapun kewajiban yang datang dari Allah melalui para rasulNya, sudah pasti sudah disesuaikan dengan kemampuan manusia. Karena itu, agama bisa dilakukan 100%. Karena itulah Tuhan mengatakan bahwa manusia wajib menaatiNya dan menaati semua rasulNya. Wajib tandanya, mesti dan tidak bisa ditinggalkan.

Nah, ketika agama itu sudah sesuai dengan kemampuan manusia hingga karenanya wajib diamalkan seluruhnya, maka ketika manusia melakukannya, ia akan bersih dari dosa. Itulah mengapa makshum dalam Islam itu adalah wajib bagi semua orang. Begitu pula karena itulah, maka kewajiban taat itu tidak hanya pada imam yang makshum.

Memang ada sekelompok atau bahkan mungkin mayoritas muslimin, yang mengimani bahwa agama itu tidak bisa dilakukan secara seratus persen kecuali oleh para nabi as. Orang-orang ini, bukan hanya telah keluar dari akal sehatnya, akan tetapi juga telah melecehkan dan membohongkan Tuhannya. Melecehkan Tuhan karena berarti Tuhan memberikan kewajiban kepada manusia dengan kewajiban-kewajiban yang tidak bisa dikerjakan oleh manusia secara 100%. Artinya, Tuhan itu tidak mengerti bahwa agamaNya itu tidak bisa diamalkan manusia dan/atau di luar dosis atau batas kemampuan manusia. Jadi, Tuhan tidak alim dan tidak bijak (ini makna pelecehan terhadapNya). Dan membohongkanNya, karena Ia sendiri mengatakan bahwa agama ini diturunkan sesuai dengan kemampuan manusia (QS: 2: 286) karena Dia tidak menurunkan perintah/agama kecuali sesuai dengan kemampuan manusia, akan tetapi orang- orang itu mengatakan bahwa agamaNya tidak bisa diamalkan seratus persen. Nah, ini artinya, mereka telah meyakini bahwa Tuhan telah berbohong, na'udzubillah.

Setelah semua itu jelas, bahwa agama ini bisa dilakukan dan karenanya manusia bisa bersih dari dosa dengan melaksanakan semua perintah-perintahNya, yakni melakukan semua kewajibanNya dan menjauhi semua laranganNya, maka coba perhatikan ayat berikut ini (QS: 75: 14):

"Bahkan manusia itu tahu benar tentang dirinya sendiri."


Artinya, setiap manusia itu pasti tahu apakah dirinya itu masih melakukan dosa atau tidak. Jadi, manusia itu tahu, apakah dirinya sudah mengetahui semua fikih kewajibannya atau tidak. Dan, tahu juga apakah ia sudah mengamalkan semua kewajibannya dan menjauhi semua larangannya atau tidak.

Jadi, kalau Tuhan mengatakan dalam QS: 29: 45:

"Sesungguhnya shalat itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan yang terlarang."


Maka sangat jelas bahwa orang yang shalatnya sudah diterima, sudah pasti akan bisa melakukan




semua perintahNya hingga terhindar dari yang mungkar atau yang terlarang hingga karenanya ia akan bersih dari dosa.

Ya Allah, sungguh tidak berlebihan ketika Engkau berfirman dalam QS: 56: 79:

"Tidak ada yang bisa menyentuhnya -Qur'an- kecuali orang-orang yang bersih."


Karena memang dengan ruh/jiwa, hati dan akal yang bersih dari dosa (suci), yang tidak menentang perintah-perintah dan larangan-laranganMu, yang bisa memahami dengan sebenar-benar pemahaman terhadap ayat-ayatMu dan kitabMu. Apalagi pahaman terhadap ayat-ayatMu adalah memahami maksudMu dan memahami pula bahwa maksudMu itu mesti ditaati demiMu, demi keAgunganMu, keMuliaanMu, keBijakanMu dan, keIndahanMu, keAgunganMu dan keMuliaanMu.

Jadi, kalaulah kita memahami maksud Allah tapi tidak memahami bahwa harus dilaksanakan secara seratus persen, berarti kita belum menjadi orang berakal dengan akal yang sehat dan sempurna dan, karenanya tidak akan pernah bisa dikatakan sebagai orang yang telah bisa menyentuh kitabNya.

Wassalam.


Irsavone Sabit: Pak Ichsan Palawa dan pak Yusran Amir, ayo dlanjut diskusinya, dan mungkin ada pertanyaan lebih lanjut, mumpung ada pakarnya di sini, hilangkan semua rasa penasarannya bro.

Wassalam.



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar