Jumat, 26 Juni 2020

Faktor Yang Membuat Malas Ibadah serta Solusinya


Oleh Ustad Sinar Agama http://www.facebook.com/groups/210570692321068/doc/241219732589497/ Oleh Anggelia Sulqani Zahra pada 31 Agustus 2011 pukul 4:18


Baim Upik: Assalamualaikum warokhmatulloohi wabarookaatuh. Aku datang dari tanah seberang, menepati janjiku, mengetuk pintu mu wahaisaudaraku... Baikalah, begini maksud kedatanganku, tak lain adalah hendak bertanya kepadamu tentang hal yang sangat mengganggu diriku. Sebentar, aku ambil napas dulu ya....bismillaah...begini saudaraku.. Aku ini, yang nama nya sholat itu lho... kok aras -arasen to ? Kadang-kadang males nya minta ampun....beh...aku sendiri mengutuk kemalesan ini...tapi...ya bagaimana ya... Oleh sebab itu, tolong beri analisa tentang hal itu? Setelah itu, mohon bantuannya, berikan aku SESUATU yang bisa merubah menjadi sebaliknya, sungguh aku sangat membutuhkan bantuan mu saudaraku... Dan dengan tidak mengurangi rasa sedih dan malu yang kurasa, aku ucapkan terima kasih yang setulus tulus nya.  Assalamualaikum warokhmatulloohi wabarokaatuh.


Sinar Agama: Wa alaikum salam wr wb dan terimakasih atas pertanyaannya, baik sangka dan kerpercayaannya: Secara umum, karena juga ada curhatan mirip seperti ini (seperti kurang konsen menapaki ilmu dan lain-lain), penyebab hal-hal seperti itu adalah tidak adanya tujuan hidup yang jelas.

Maksudnya tujuan tujuannya itu tidak jelas. Jadi, yang jelas hanyalah tujuan estafet-estafet awal saja, seperti ingin kawin, ingin punya rumah, ingin lulus kuliah, ingin kerja, ingin jadi ketua ini dan itu dan seterusnya. Itu saja yang jelas. Dalam keadaan seperti itu, kekerasan usahanya dan kekerasan tangisnya, secara otomatis, hanya kepada pencapaian tujuan-tujuan pendek yang bemata rantai itu. Terlebih kalau jatuh ke jurang cinta, maka bukan hanya tangisnya yang nyaring pada Tuhan (dalam benak dia), tetapi seringkali tidak enak makan dan semacamnyademi konsetrasinya pada tujuan pendek tersebut. Dengan demikian, hal-hal yang tidak menyangkut dalam tujuan pendeknya itu, jelas terbengkalai. Karena itu tidak aneh kalau untuk shalat saja malas, atau tidak khusyu' dan seterusnya. Hal itu, disebabkan oleh tidak adanya tujuan dalam dirinya yang bisa membawa serta shalat tersebut. Jalan keluarnya, tentu bisa banyak jalan, tetapi yang paling to the point dan serasa pendek tetapi sangat mendasar, adalah dengan mencari apa tujuan sebenarnya antum dalam kehidupan ini?

Kalau tujuan antum adalah lulus kuliah, dapat kerja, dapat istri yang molek yang diidamakaannya dan taat lagi, dapat ini dapat itu, dan seterusnya, terus apakah setelah itu antum benar-benar tidak punya tujuan lagi? Kalau tidak punya, maka memang seharusnya malas shalat.Dan caranya adalah mencari tujuan setelah itu. Kalau punya, maka apa tujuan itu? Kalau urusan-urusan yang masih berkisar di dunia ini, maka tanyakan juga pada diri antum, apakah setelah itu sudah tidak ada tujuannya lagi atau masih ada. Begitu seterusnya. Intinya, kita benar-benarharus mencari tujuan itu secara nyata. Katakanlah mencari sesutu yang hilang atau samar. Menurut saya, antum sebagai saudaraku yang muslim, sudah pasti menginginkan surga juga sebagai tujuan. Mungkin malah sebagai tujuan akhir. Akan tetapi tujuan itu, mungkin hilang karena kesibukan pada pencapaian tujuan-tujuan pendek tersebut, atau setidaknya menjadi samar karena kesibukan- kesibukan tersebut. Jadi, caranya adalah mendapatkan kembali yang hilang atau yang samar itu. Kalau tujuan akhir itu sudah didapat atau sudah menjadi jelas, maka in syaa Allah semuakesulitan shalat itu dan bahkan semua kesulitan hidup materi dan maknawi akan dapat dengan mudah teratasi. Dengan penjelasan di atas,dapat dipahami bahwa cara yang paling asas untuk mengatasi kesulitan antum dan hampir semua kesulitan hidup (materi dan maknawi), adalah mendapatkan tujuan sebenarnya antum itu. Dan tujuan sebenarnya, tidak mungkin ada di dunia ini dalam arti dapat langsung diambil dalamkehidupan ini secara kasat mata. Karena, setelah hidup ini jelas kita punya kehidupan lain lagi yang dikatakan akhirat. Jadi, tujuan itu harus bersifat ukhrawi seperti surga atau maknawi yang mencakup dunia akhirat seperti cinta atau ridha Tuhan. Masalahnya sekarang, bagaimana mendapatkan tujuan akhir tersebut? Untuk mendpatkannya bisa dengan berbagai cara diantranya:

  • a. Dengan ilmu. Ilmu adalah suatu informasi yang benar dan sesuai dengan kenyataan. Kalau tidak sesuai, maka bukan hanya tidak bisa dikatakan sebagai ilmu, akan tetapi justru dikatakan sebagai "ketidak tahuan ganda". Karena, pertama, tidak tahu akan obyek yang terinfokan dalam dirinya, dan tidak tahu bahwa yang dia tahu itu adalah salah. Disini, tugas secara akal dan agama, adalah selalu berusaha mendasarkan info-info yang ada dengan argumentasi yang jelas dan mudah serta gamblang. Inilah yang saya katakan bahwa mencari ilmu itu harus sabar, tidak emosi, berdoa dan menjauhi dosa. Karena, argument itu banyak sekali yang palsu yang sebenarnya tidak cocok dikatakan argument atau dalil. Ia sering lebih cocok dikatakan sebagai perasaan, kecocokan, kesetujuan dan lain-lain.

Misalnya, sebagian saudara-saudara sunni, kalau melihat perdebatan antara sunni dan syi'ah, dari awal sudah condong atau setuju ke sunninya. Karena itu sering tidak mampu melihat jurus gamblang kebanaran syi'ah. Bayangin saja, bagaimana bisa dimasukkan ke dalamakal, kalau seseorang itu mengaku berada di jalan yang lurus, yakni jalan Islam yang tidak salah sedikitpun, sementara itu tahu bahwadirinya dan semua yang ia ikuti dari guru-guru sampai ke shahabat Nabi saww-nya tidak maksum??!! Yakni dia tahu bahwa ilmu agama diadan yang ia ikuti, tidak lengkap 100 % dan yang ia tahu sedikit itupun sangat-sangat belum tentu benar 100 % juga !! Dimana lagi ada logikayang lebih mudah dari mengetahui kesalahan seperti ini? Tetapi nyatanya mereka sulit melihatnya dan, apalagi menerimanya.

Mereka tetap saja mengaku bahwa mereka di jalan lurus, tetapi juga tidak mengatakan bahwa mereka maksum dan, lebih parah lagi mengatakan bahwa maksum selain Rasul saww itu mustahil. Atau antum sendiri merasa kewalahan mamahami takdir. Bayangin saja, di jaman modern yang sudah ada bank spermapun, atau orang tidak mau kawin kalau tidak dengan pilihannya sendiri dan seterusnya, dan seorang suami istri yang jelas-jelas memiliki ikhtiar untuk buat anak atau pakai alat KB, dan seterusnya, masih saja susah memahamkan bahwa kita dan keberadaan kita serta rupa-rupa kita dan warna serta suku kita ini bukan ditakdirkan Tuhan.

Tetapi Tuhan hanya merestui pilihan-pilihan orang tua kita. Artinya, kita ini makhlukNya yang muncul dari hasil ikhtiar kedua orang tua kitadimana semua yang menyangkut dengan tatanan tubuh dan rupa-rupa serta kecenderungan-kecenderungan genetika (ingat semua ini tidak sampai membunuh akal dan ikhtiar kita sebagaimana maklum) atau makanan halal haram yang mempengaruhi kita, merupakan tanggunj jawab mereka (orang tua), sekalipun tidak sampai mendeterminis kita atau membunuh akal dan ikhtiar kita sebagaimana maklum. Kembali ke masalah kita tentang tujuan itu. Caranya adalah dengan membangun secara benar-benar dalil yang kuat dan gamblang dan jelas sejelas terangnya sinar matahari, bahwa antum harus memiliki tujuan hidupyang bahkan jauh lebih penting dari tujuan-tujuan pendek di atas itu. Ingat, dalilnya tidak boleh sepintas lalu saja. Karena kalau sepintas lalu saja, maka pengejarannya juga akan bersifat sepintas lalu.

Dimana ada muslim yang tidak percaya akhirat? Tetapi karena sepintas lalu dan tidak dianggap lebih penting dari tujuan-tujuan pendekanya itu, maka mengejar akhiratnya juga menjadi sepintas lalu dan, sering terabaikan karena bertentangan dengan tujuan-tujuan pendek tersebut. Karena itu, semua orang yang jatuh ke dalam jurang kehinaan, seperti pergaulan bebas, korupsi (uang atau agama, yang agamabaik sunni atau syi'ah), semua itu benar-benar disebabkan tujuan-tujuan pendek tersebut, seperti perempuan, kepuasan, jabatan, harga, kehormatan, keustadzan dan seterusnya.

Jadi, antum dan semua teman lainnya, perlu duduk secara fokus dan membangun dalil yang serius dan ilmiah gamblang, bahwa tujuan itu harus ada dan kalau bisa buktikanlah bahwa ia jauh lebih penting dari tujuan-tujuan pendek tersebut. Misalnya, yang pendek- pendek itu sering membosankan, akhirat itu kekal abadi, derita akhirat tidak bisa dibanding dengan dunia begitu pula tentang nikmatnya danseterusnya. Tetapi ingat, argumentatif dan gamblang. Ini penting demi melahirkan apa yang dikatakan orang dengan motivasi serius (bukan basa basi), hingga mampu menggerakkan diri kita dan menjadikannya bergairah.

  • b. Belajar dengan argumentatif tentang Tuhan. Dengan mengenalNya, maka antum akan menjadi bukan saja penyintaNya, tetapi bisa menjadi penggilaNya. Karena itu tidak heran kalau imam Ali as dalam Nahju al-Balaghah mengatakan bahwa awal mengenal agama itu adalah mengenalNya. Mengenal Tuhan ini, asal dengan akalnya yang argumentatif, sudah pasti akan membuat antum dan siapa saja, tercengan-cengang, kagum, hormat, sayang, tawadhu dan cinta. Kalau dikatakan tak kenal maka tak sayang, maka disini juga demikian. Karena, orang yang tak sayang pada Tuhan itu, sebenarnya tidak menganalNya atau kurang mengenalNya. Saya sedikit akan memberikan arahan, tetapi detail-detail argumentnya dibuat sendiri dan ingat, argumentnya tidak boleh basa basi dan sekilas pandang atau sekilas perhatian saja.

Tetapi harus benar-benar argumen yang gamblang dan diyakini hingga memotivasi. Arahan- arahannya, adalah membuktikan secara tertib dan berurut bahwa Tuhan itu ada: Tuhan itu tidak terbatas: Tuhan itu tidak terangkap: Tuhan itu satu; Tuhan itu segala-galanya; Tuhan itu Indah; Tuhan itu cahaya yang mutlak yang tidak memiliki kegelapan sedikitpun; Tuhan yang demikian itu jelas tidak dibandingkan dengan keindahan lainNya; Membandingkan Tuhan dengan lainNya bukan hanya tidak bisa, akan tetapi bahkan tidak pantas dan tidak hormat; Tuhan itu tidak pernah menarik hidayahNya; Tuhan itu tidak pernah bosan menunggu kita kembali; Tuhan itu kasihnya sangat jauh di atas kasih seorang ibu pada anaknya; dan seterusnya. Kalau semua itu sudah didapat dengan dalil yang gamblang, maka ia akan bisa menjadi pemotivasi diri kita dari dalam hingga tidak akan ada lagi rintangan yang perlu dicemaskan. Untuk hal ini, merujuk ke catatan alfakir yang berjudul "Pokok-pokok dan Ringkasan Ajaran Syi'ah" bagian pertama akan sangat membantu, in syaa Allah.

  • c. Mengenal Nabi saww dan para imam as (kalau syi'ah). Dengan mengenal mereka as, tentu juga dengan dalil yang argumentatif gamblang,akan sangat bisa memicu kita mengejar tujuan akhir itu dan, bisa tidak heran kalau membuat seseorang tidak terlalu perhatian pada tujuan- tujuan pendek tersebut manakala sudah mendapatkan indahnya dan harumnya mereka as. Hal itu tidak lain disebabkan karena mereka as itu, sebenarnya, adalah WajahNya yang paling agung di alam makhluk ini. Jadi, dengan mengenal mereka, maka akan lebih mudah mengenalNya. Ingat, di tulisan yang telah lalusudah saya katakan bahwa keagungan meraka as dan insan kamil lainnya itu, bukan terletak di ketersisian (bukan tersisih) mereka dengan Tuhan, akan tetapi karena selalu semakin hancurnya mereka dan selalu semakin meniadanya merka dan selalu semakin tersujudnya merekadi hadapanNya. Karena kemulian makhluk itu bukan disejajarnya dengan Tuhan atau ditersisiannya dengan Tuhan, akan tetapi semakin hancur dan fana'nya. Karena itu, kalaulah mereka as punya hak syafa'at dan sebagainya, bukan berarti terus begitu saja dibagi-bagi seperti membagi zakat fitarh, tetapi benar-benar setelah diperintah atau diijinkan Tuhan. Pendek kata setelah Allaah kerso/mau dan kersonya itudiberitahukan kepada mereka as. Nah, ketika kita mengenal mereka dengan mempelajari makam imamahnya atau kerasulannya dengan argument, dan mengenal kehidupan mereka lewat sejarah yang juga argumentatif, maka hal itu bisa dengan sangat membantu kita dalam memicu pengejaran akan tujuan akhir tersebut.

  • d. Mengenal akhirat. Maksud mengenal akhirat ini adalah mengenal keberadaannya dan liku-likunya. Semua itu harus argumentatif gamblang dan, sekali lagi bukan dogmatis dan sepintas lalu. Karena dengan mengerti dan mengenalnya, kita akan terpicu mengejar tujuan- tujuanakhir tersebut. Bagaiamana tidak, kita tahu bahwa kita akan mati dan akan memasuki alam akhirat yang abadi itu. Siksanya tidak bisa dibanding dengan siksa dunia ini. Menahan lapar dan nafsu sex hingga tidak mencuri dan berzina, tidak akan ada apa-apanya dibanding dengan disiram timah mendidik dan seterusnya. Apalagi sangat bisa menjadi abadi dalam siksa tersebut. Bayangin saja, ketika orang tahu dengan dalil, bahwa siksa itu benar-benar dimasukkan ke dalam api neraka yang panasnya jutaan api dunia dimana kita berada di dalamnya tidak dalam keadaan mati, tetapi hidup dan justru tidak bisa mati, maka apalah kita masih malas mengejar tujuan akhir itu, yakniselamat dari neraka dan masuk surga? Ada orang bergurau-gurau, katanya enak masuk neraka karena kumpul dengan bintang-bintang film yang cantik-cantik. Heh ....emangnya wajahnya akan tetap cantik sementara sudah berbau bangkai tetapi tidak mati dan wajhanya sudah silih berganti antara tengkorak dan daging (karena selalu berputar antara gosong terbakar dan kembali lagi seperti semua)? Lagi, pulaapakah kita yang juga disiksa masih sempat melirik ke lingkungan sekitar sementara kita terendam dalam timah mendidih?

  • e. Mengenal kematian. Mengenal kematian itu sangat ampuh dalam memotivasi kita mengejar tujuan akhir itu. Tetapi ingat, harus argumentatif dan gamblang serta tidak sepintas lalu. Siapa yang tidak tahu di dunia ini bahwa dirinya akan mati? Sejahat-jahat penjajah,koruptor, maling, pengkhianat, penzinah, pemabok, pemut'ah yang seperti zina karena menerapkan tidak belajar hukumnya dulu, penjudi, pebisnis, pejabat, pengustadz dan seterusnya, semua itu tahu kalau dirinya akan mati. Tetapi pengetahuannya ini bersifat perasaan dan sepintas lalu. Karena itu, ia lengah dan tahu-tahu setelah tua, baru nanti sadar. Karena itu sangat disarankan dalam agama, untuk sering pergi ke kuburan. Karena itu tidak heran kalau sebagian ulama membuat kuburan di kamarnya, dan kalau tidur ia tidur di dalamnya. Nah, antum coba saja lakukan ziarah kubur itu sesering mungkin. Kuburan siapa saja dan bukan dengan niat mau baca alfatihah ataumendoakan orang-orang yang ada di dalamnya. Memang mendoakan para muslimin yang sudah mendahului kita itu adalah kebaikan dan pahala. Tetapi setelah itu, duduklah sejenak di sana dan lakukan perenungan yang kuanjurkan disini ini. Renungan-renungan itu seperti, bahwa aku tidak lama lagi, tidak sampai seratus tahun lagi, atau tidak sapai 50 th lagi, atau tidak sampai 10 th lagi, atau bisa saja esok hari, akan memasuki tanah ini. Rengungkan dengan khusyuk dan jangan memikirkan hal lain. Lakukan sesering munkin. Kalau dalam diri antum sudah ada gejala, maka ia sudah mulai bereaksi. Tetapi jangan langsung merasa sudah dapat. Tetapi lihat, apakah gejolak itu terus ada atau sering dilupakan.

Antum bisa menghentikan ziarah kubur itu kalau sudah ada bau kematian dalam semua aktifitas antum sekalipun nikmat seperti makan, bersama istri, mendapat rejeki uang, beli mobil dan seterusnya. Mungkin di awal-awal bisa kebablasan, hingga antum tidak minat makan dan sebagainya, tetapi in syaa Allah lama-lama bisa distabilkan hingga ingat dan merasa mati itu tidak sampai membunuh aktifitas antumtetapi tidak pula aktifitas antum itu bisa membuat antum lupa akan kematian tersebut.

Sebenarnya, kalau kita mau menghindari hiruk pikuk yang mungkin lebih cenderung kepada riya', maka kita mungkin, tidak akan tertarikdengan diskusi-diskusi kampusan dan hiruk pikuk seminar dan training-training ilmiahnya. Karena kita kalau mau teliti, banyak diantaranya yang niatnya itu hanya benar-benar keasyikan membahas pluralisme lah, filsafat lah, filsafat ini dan itu lah, feminisme lah, partai lah, negaraIslam lah, dan seterusnya. Saya tidak menolak hikmah yang ada di diskusi-diskusi itu, tetapi saya sekrang sedang menyoroti niat pelakunya.

Nah, ketika pelaku-pelaku itu dimana tidak jarang juga sampai-sampai tidak tidur beberapa hari, atau mengeluarkan harta yang tidak sedikit, meniatkannya sebagai keasyikan, kenik- matan dan seterusnya, maka sudah tentu tidak akan memberikan hasil yang mengigit. Ia hanya akan memberikan hasil huru hara ilmiah yang, sebenarnya tidak ilmiah sama sekali karena kurangnya kesempurnaannya. Ilmiah itu kan bukan hanya dalam pembuktiannya, tetapi juga dalam aplikasinya. Kan tidak lucu kalau sudah membuktikan Islam hebat, tetapi tidak diamalkannya, atau ketika melaksanakan seminar-seminarnya itu dengan niat hanya kenikmatan ilmu? Semua itu tidak lain (tentu di samping kekurang ilmihannya karena kurangnya aplikasinya), disebabkan kurang perhatiannya kepada kematiannya. Justru sering kalilebih parah dari itu, yakni karena tenggelamnya kematian mereka dalam kehirukpikukan ilmiah semu atau tidak lengkap tadi.

Bagaimana mungkin syethan tidak tertawa terpingkal-pingkal melihat gaya hidup aktifis Islam, yang habis menangis karena brainwashing(cuci otak), atau tangisan doa, atau tangisan asyura, atau tangisan demo menentang kezhaliman, atau tangisan doa Kumail dan Jausyan Kabir, atau tangisan irfan (yang ini paling gendeng) dan seterusnya, tetapi setelah itu keluar dari majlisnya dengan pacarnya, bisnis mlm-nya, ambil uang di ATM yang campur riba/bunga, menyerang lawan politik atau aktifisnya, menyerang guru/ustadz lainnya, menjawab dengan tanpa pengetahuannya, senyam senyum sana sini dengan murahnya, boncengan dengan bukan muhrimnya, dan seambrek lagikebatilannya yang dilakukan dengan terang-terangan. Semua itu, tidak lain, karena telah melalaikan kematiannya atau memandang sepintas lalu saja akan kematiannya. Saudaraku Baim: Aku sudah lelah menulis, lagi pula yang lain-lainnya belum dijawab.

Jadi kucukupkan sekian saja dulu, semoga beberapa jalan di atas (walau tidak menyebut semua jalan), sudah dapat memberikan kunci penyelesaian antum. Tetapi saya juga mengharap teman- teman lainnya, benar-benar memperhatikannya dan tolong jangan meremehkannya (terutama dengan mengatakan "Aku sudah tahu"), karena mungkin yang antum pahami itu, bukan yang saya maksudkan. Dan kalau kita benar-benar telah memahaminya, maka in syaa Allah, bukan hanya malas shalat, tetapi problem apa saja bisa dengan mudah diatasinya (in syaa Allah). Wassalam.



Baim Upik: Saudaraku Sinar: aku sudah memperhatikan tulisan ini sejak engkau belum menulis sampai sepanjang ini, tepatnya baru sampai bagian pertengahan tapi sengaja aku belum meresponnya, hal itu karena : 1. aku yakin, masih ada yang akan engkau tulis lagi. 2. Di tempat dimana aku menyalakan laptop, mati lampu, baterai laptop ku tumpas, baterai hp pun mengalami nasib serupa. 3. Aku harus pelan-pelanmembacanya, biar paham. Buatku, butuh energi yang besar untuk berusaha memahami tiap kalimat yang engkau tuliskan, tentu saja disebabkan karena kebodohanku, dan kemiskinan ilmu ku. untuk sementara, ini dulu yang bisa ku sampaikan, aku akan meneruskan perjalananku menapaki tulisan di atas. Bagi teman-teman yang ingin menulis atau komentar, atau apa saja, saya persilahkan untuk duluan, asal sopan, tertib dan jangan rebutan... saya mau konsen dulu. terimakasih ya, sinar agama.


Sinar Agama: Baim: kahruanku mengiringi ketawadhuan dan semagatmu yang membara dan, aku selalu tidak jauh darimu. Tentu saja, semoga saja tulisanku itu tidak ada yang menyesatkan hingga membuatku repot nanti di akhirat karena tidak bisa kubuktikan kebenarannya. Semoga dalil-dalil itu merupakan tajalli dalil yang benar nanti di padang Makhsyar, amin.

Chi Sakuradandelion, Khommar Rudin, Irsavone Sabit dan 40 lainnya menyukai ini.


Khommar Rudin: llah humma shalli alla Muhammad wa alli Muhammad.

M Hadi Kurniadi Alamsyah: mantap, shalawat.

Ilham Cilbot: Terimakasih atas pencerahannya. semoga antum selalu dalam Rahmat-NYA.

Eman Sulaeman: Allahumma Sholli ‹Ala Muhammad Wa Ali Muhammad.

Ramdhan Romdhon: Allahumma shalli ‹alaa Muhammad wa aali Muhammad wa ‹ajjil farajaHum...

Semoga Ustadz dan keluarga selalu dalam Ampunan, Lindungan dan Kasih Sayang-Nya, wa shallallaaHu ‹alaa muhammad wa aalihith thaaHiriin...

Alihasan Habsyi: Allahummashali ala Muhammad wa ali Muhammad.. 


27 Oktober 2012 pukul 19:36 · Suka · 1



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar