Minggu, 12 Mei 2019

Filsafat Vs Fikih ?!


Seri tanya jawab Muhammad Dudi Hari Saputra dengan Sinar Agama
by Sinar Agama (Notes) on Thursday, April 11, 2013 at 9:40 pm


Muhammad Dudi Hari Saputra mengirim ke Sinar Agama: Senin (11-3-2013) sekitar Kota  Yogyakarta 

Salam ustad. Apa kabar ustad? Semoga ustad selalu dalam keadaan yang baik dan sehat. Ustad, dalam proses belajar filsafat saya, saya kadang mendapatkan cibiran bahkan tak jarang dari kalangan pencinta AB sendiri, seperti ungkapan: jangan belajar filsafat nanti fiqihnya tidak dijalankan, orang-orang yang belajar filsafat itu sombong-sombong, dan sebagainya. 

Sedangkan menurut pemahaman saya, belajar filsafat itu penting karena filsafat adalah salah satu solusi untuk memahami ajaran islam sebenar-benarnya islam. 

Mohon pendapatnya ustad, terkait: 

1. Apa yang mendasari beberapa ulama, sebut saja al-gazhali sangat anti-pati terhadap filsafat bahkan mengharamkannya? 

2. Sadra pernah menyindir akan adanya para filsuf yang palsu, mohon sekiranya dijelaskan ustad filsuf yang palsu dan filsuf yang sebenarnya itu seperti apa? 

Terimakasih.. ^_^ 

SangPencinta: Salam, 652. Ada Apa Dengan Filsafat??!! (Mengapa Sebagian Muslimin Anti Filsafat?), Oleh Ustad Sinar Agama = 
http://www.facebook.com/groups/210570692321068/doc/379026705475465/ 

Muhammad Dudi Hari Saputra: Terima kasih sang pencinta, anda memang luar biasa.. 

SangPencinta: Dalam file ‘PDF serba filsafat’ ust sinar sudah lengkap mas. 

Muhammad Dudi Hari Saputra: hhe,,, saya hanya ingin sekedar melepas rindu saja dengan ustad,, kalau merujuk ke semua catatan, maka saya tidak akan silaturahmi lagi,, karena catatan-catatan beliau sudah sangat lengkap. Tapi saya masih mencari-cari pertanyaan lagi ini,,hhe 

Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaannya yang dimaksudkan silaturrahim. Tapi untung ada Pencinta yang bisa menukil Kalau tidak, maka jemariku akan semakin kram mengulang-ulang topik yang sama, semoga Tuhan mengganjarnya dengan ganjaran yang tidak terbatas, amin. 

Filsafat kalau di Indonesia, yang biasa dikaji di kampus-kampus dalam istilah hauzah disebut dengan Falsafah, yakni belajar tentang sejarah pemikiran filsafat para filosof, bukan filsafat itu sendiri dimana mempelajari wujud dari kacamata wujud. Kalau tidak belajar filsafat, tentu tidak akan membahas fikih yang termasuk wujud itu dan, apalagi dari mana dan untuk apanya. Justru orang yang pandai filsafat yang akan mengerjakan fikih sepenuh hati karena ia mengerti dengan akal gamblangnya esensi fikih itu sendiri. Beda dengan orang yang belajar Falsafah yang hanya asyik dengan sejarah para pemikir dan tidak tahu ia dari mana, hidup dimana dan hendak kemana. 

Filosof palsu adalah yang tidak memperlajari filsafat dengan cermat dan sok tahu serta tidak aplikatif. Ghazali termasuk diantaranya. Karena ia gagal belajar filsafat dan meninggalkan di tengah jalan karena beratnya dan memutuskan untuk tidak meneruskan belajar dan melihat ketidakurgennya dan bahkan bertentangannnya dengan lahiriah agama. Karena itulah ia menulis kitab yang berjudul “Kerancuan Filsafat”. Tentu saja karena ia tidak tuntas belajar. Karena filsafat itu bukan hanya tidak bertentangan dengan syariat, akan tetapi justru tulang punggung bagi pemahaman syariat secara dalam. Karena itu Ibnu Rusyd menulis jawaban kita itu dengan judul 

“Kerancuannya Kerancuan”. 

Lain-lain simak nukilan Pencinta itu. 

Muhammad Dudi Hari Saputra: Syukron ustad sinar agama... amin semoga mas sang pencinta mendapat ganjaran yang tak terbatas dari Allah. Wassalam. 

Ammar Dalil Gisting: Salam. Afwan, mungkin yang di maksudkan ust adalah Ibnu Rusyd, yang menulis “Kerancuannya kerancuan”... 

Sinar Agama: Ammar: Benar yang antum katakan. Sudah diperbaiki. Terimakasih atas koreksinya.


اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

2 komentar:

  1. Maaf ustadz.. tp di buku biografi spiritual ayatullah bahjat Gozali itu di akhir hayatnya menjadi pengikut ahlul bait.apa benar ustadz

    BalasHapus
  2. Salam. Saya baca di sebuah situs dikatakan Ghazali masuk Syiah di akhir hayatnya setelah berdialog dengan Syaid Murtadha Razi (Semoga saya tidak salah sebut nama). Tetapi kalaupun berita itu benar bukan berarti Ghazali terus menerima dan tidak anti terhadap filsafat. Allahu A'lam. Kita serahkan kepada Tuhan.

    BalasHapus