Minggu, 12 April 2020

Makna Syafaat dan Bagaimana Mendapatkannya


Oleh ustad Sinar Agama http://www.facebook.com/groups/210570692321068/doc/?id=224713860906751 Oleh Anggelia Sulqani Zahra pada 28 Juli 2011 pukul 13:08


Tony Kohar: Salam ustadz..,

1. Apa arti & makna Syafa'at itu.. ?

2. Usaha-usaha apa yang harus kita lakukan untuk bisa mendapatkan syafa'at kelak di hari akhir..?

3. Adakah syarat-syarat untuk bisa mendapatkan syafa'at..?

4. Siapa & apakah yang dapat memberikan syafa'at itu...?

5. Kalau yang bisa memberikan syafa'at itu beberapa hal (dugaan saya, A, B, C, dan D misalnya), mungkinkah seseorang mempunyai satu hal (hanya memiliki B misalnya) bisa mendapatkan syafa'at di hari akhir kelak...?

6. Sering saya dengar bahwa setiap orang yang melakukan kesalahan, berucap "yaa.. manusia tidak sempurna hanya Allah swt yangsempurna", apa maksud pernyataan itu dan bagaimana seharusnya..(kalau pernyataan itu salah) ?

7. Bolehkah mencari nafkah dengan cara berdakwah..?

8. Bagaimana hikmahnya tentang Waria atau perempuan kelaki-lakian, atau laki-laki ke perempuanan..?

9. Bagaimana hikmahnya kalau seorang yang seperti tersebut di atas (angka 8) menjadi seorang pendakwah..? af1..pertanyaannya saya borong.. mohon pencerahannya... syukron..

Sinar Agama : Salam dan terimakasih atas berondongan pertanyaannya. Jawaban berikut ini to the point saja, tidak perlu menjelaskan asal kata dan semacamnya:

(1). Syafaat maksudnya adalah penjodohan yang kurang dengan yang sempurna. Yakni kalau seseorang dengan usahanya yang gigih di dunia ternyata masih memiliki banyak kekurangan hingga harus masuk neraka dulu untuk disucikan sebelum dimasukkan ke surga, maka bisa dijodohkan dengan yang sempurnya yang memang sudah diberi jatah syafaat oleh Tuhan karena kesempurnaannya, seperti para nabi, imam, dan wali atau syahid atau bahkan syi'ah yang hakiki. Tentu saja semua dengan ijin Allah. Dan kadang kala tidak ada yang bisa mensyafaatinya kecuali Tuhan sendiri. Maka dalam kondisi seperti ini, maka kalau Tuhan berkenan maka Ia yang akan mensyafaatinya. Karena itulah salah satu namaNya adalah Aakhiru al-Syaafi'iin.

Semua jatah syafaat itu bukan kita-kita yang menentukan dan ngarang-ngarang, akan tetapi memang Tuhan yang menerangkannya lewat Qur'an atau hadits NabiNya saww.

(2). Banyak sekali usaha yang bisa memancing syafaat itu, diantara: Harus selalu berusaha menghindari dosa dan sedih kalau masih melakukannya, tidak menyombongkan diri di dunia, tidak meremehkan segala macam dosa, belajar agama dengan benar hingga tahu akidah yang benar dan fikih yang benar, mencintai Tuhan, Nabi saww dan Ahlulbait serta para pecintanya mereka seperti wali atau mukminin. Sering beramal baik, sering menghadiahi para nabi, imam, wali dan syahid amalan-amalan yang baik, seperti sedekah, bacaanQur'an, bacaan shalawat dan seterusnya. Cinta kebenaran dan membelanya walau harus sendirian. Senang dengan senangnya Ahlulbait, dan sedih dengan kesedihan mereka. Tidak membuat perpecahan dalam umat Islam. Sering membaca Qur'an dan terjemahannya (kalau tidak mengerti bahasa Arab). Sering shalawat, istighfar, dan seterusnya. Menyintai ulama dan mengikuti mereka (terutama marja'nya). Karena hanya ulama yang tahu agama dengan jauh lebih baik dari yang lainnya dan seterusnya.

(3). Syarat utama mendapat syafaat adalah iman, Islam dan tidak mengingkari adanya syafa'at ini. Dan lain-lainnya bisa dilihat di jawaban no. 2.

(4). Jawaban untuk no 4 ini sudah ditulis di atas. 

(5). Soalan lima saya tidak paham.

(6). Ucapan itu saya pikir ucapan syethan. Karena sempurnanya Tuhan dengan manusia jauh beda. Yang diinginkan dan diperintahkan Tuhan kepada manusia adalah taat, artinya tidak melakukan maksiat dan tidak meninggalkan kewajiban. Dan semua itu sudah disesuaikan dengan kemampuan manusia dimana manusia kalau mau maka ia akan bisa melakukannya dan mencapai derajat maksum itu. Maksudnya maksum kecil, yaitu maksum dari dosa. Tapi kalau Nabi saww dan para imam maksum besar. Karena harus bersih dari dosa dan lupa. Karena kalau lupa sangat berbahaya dimana membuat orang lain tidak bisa meyakini keotentikan ajaran mereka dari Allah.

Dan kalau manusia sudah sempurna, yakni bersih dari dosa atau dosa dan lupa, bukan berarti sudah menyaingi Tuhan, na’udzubillah. Karena masih banyak kekurangan yang dimilikinya. Jarak manusia paling sempurna dengan Tuhan adalah tidak terbatas, bukan berarti sudah dekat, tetapi tetap tidak terbatas.

Arti uraian di atas itu, adalah kata-kata yang antum nukil itu saya pikir cocok kalau keluar dari syethan. Karena jauhnya manusia sempurna dari kesempurnaanNya. Dan, sudah tentu kesempurnaan manusia itu wajib hukumnya dilakukan manusia. Tidak ada alasan untuk tidak melakukannya (maksum kecil). Dan alasan perbandingan dengan kesempurnaanNya itu adalah jebakan syethan atau setidaknya orang-orang yang tidak meyakini adanya maksum setelah Nabi saww.

(7). Mencari nafkah dengan berdakwah artinya ia mencari penghidupannya dengan ceramah- ceramah. Pekerjaan ini jelas boleh dan halal asal bukan mengajari fikih-fikih yang mengajarkan hukum wajib dan hukum haram. Uangnya juga halal. Akan tetapi ada kemungkinan tidak akan mendapatkan pahala dari dakwahnya itu. Mungkin dia hanya akan mendapatkan pahala dari usaha halalnya tersebut.

Akan tetapi kalau dia memang pandai agama dan diperlukan fokus pada agama dan masalah-masalah yang menyangkut masyarakat, hingga karena itu ia tawakkal kepadaNya tentang rejekinya, artinya ia berdakwah tidak dengan niat mencari uang, tetapi tidak kerja karena merasa harus fokus pada dirinya, ilmunya, agamanya, dakwahnya dan seterusnya, maka pahala dakwahnya insyaAllah akan tetap terjaga sekalipun ia menerima uang amplop yang diberikan kepadanya. Karena ia tidak meniati uang amplop itu.

Tapi ingat, dakwah bukan berarti pandai bicara. Tapi memang ia telah mempelajari agama dengan benar dan spesialis. Tapi kalau tidak, maka jangan sesekali melakukan dakwah. Karena dakwahnya akan mengacaukan kerja-kerja orang yang belajar agama secara spesifik. Tapi bukan berarti ia tidak boleh menyampaikan ia tahu secara argumentatif dan terbuka untuk didebat orang. Artinya lakukan amr maruf nahi mungkar itu sebatas yang ia tahu dan sebatas diskusi.

(8). Saya tidak paham pertanyaan ke 8. Karena orang banci kok ditanya hukumnya? Apakah benar kalau saya bertanya apa hukumnya laki-laki?

(9). Dakwah itu adalah tugas orang yang belajar agama dengan spesifik. Dan yang belajar ini tidak terbatas pada lelaki atau perempuan. Karena itu yang di luar keduanya itu juga bisa melakukannya.

Wassalam.

Chi Sakuradandelion, Heriyanto Binduni dan 2 orang lainnya menyukai ini.


اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar