Jumat, 25 Oktober 2019

Penjelasan Kata ‘Sesat dan Menyesatkan’

7. Penjelasan Kata ‘Sesat dan Menyesatkan’

https://www.facebook.com/notes/sang- pencinta/penjelasan- kata- sesat- dan- menyesatkan/790002737716301

Sang Pencinta: Salam, sebagian orang tampaknya masih alergi dengan kata ‘sesat dan menyesatkan’. Apakah yang dimaksud ‘sesat dan menyesatkan’dalam fatwa dan dalam hal apa saja ini bisa diterapkan? Mohon tukilkan fatwanya. Terimakasih ustadz Sinar Agama

Meyo Yogurt: Al Qur’an sendiri bisa dianggap buku menyesatkan kalau pembacanya hanya baca al fatihah tanpa ayat ayat lainnnya, disangkanya meminta tolong pada makhluk itu tidak boleh.

Rohman Suparman: Ya Robb...andai sayap-sayap mahabbah ini tak mampu lagi mengepak menjangkau mihrobMu...mestikah aku takut terjatuh padahal ruang dan waktu sesungguhnya milikMu...

Ali Zayn Al-Abidin: Jika buku SMS boleh dikata sesat menyesatkan, bolehkah buku milik Syaikh As- Shoduq dikata lebih bahaya, sesat dan menyesatkan??

Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaannya:

Sesat adalah menyimpang dari agama. Kata ini, jelas boleh dan harus dikatakan manakala obyeknya sudah tepat. Karena tidak mengatakannya, merupakan kekaburan. Akan tetapi, tidak boleh adanya pemaksaan.

Penyimpangan dari agama ini bermacam bentuknya. Misalnya kalau yang benar adalah Syi’ah, maka Sunni, bagi orang Syi’ah adalah menyesatkan. Begitu pula sebaliknya. Akan tetapi, bagi pemeluk masing-masingnya, tidak bisa dikatakan menyesatkan.

Artinya, orang Syi’ah yang bersunni adalah sesat, tapi Sunni yang bersunni, tidaklah sesat. Karena sesat, adalah penyimpangan yang bernuansa sengaja.

Kalau saya keras pada SMS, karena ia telah menggunakan nama Syi’ah. Nah, Syi’ah yang seperti itu, jelas sesat dan menyesatkan.

Sesat ini, bisa sengaja dan bisa saja tidak. Dan yang dikatakan sesat, hampir selalu yang disengaja.

Kalaulah pada yang tidak disengaja juga dikatakan sesat, maka maksudnya adalah dilihat dari sisi ketidakbenarannya atau dari sisi penyimpangannya, bukan dari sisi diampuni atau tidaknya. Karena itu, jangankan muslim yang beda madzhab dengan Syi’ah, orang kafirpun, dalam keyakinan Syi’ah (sebagaimana diajarkan dalam Qur an, tafsir Syi’ah, hadits Syi’ah dan kitab-kitab Syi’ah, bukan pengakuan dari kocekku) bisa masuk surga kalau belumdidatangi Islam yang benar, belum memahmi dengan benar. Jadi, yang dipastikan masuk neraka itu, adalah sesat yang disengaja. Artinya, sudah tahu kebenaran dan tahu kesalahan, akan tetapi masih mengikuti yang salah.

Dalam surat al-Faatihah saja kita disuruh berlindung dari dhaal, yakni sesat atau menyimpang. Tidak tanggung-tanggung, melainkan dari segala dhaal. Itulah mengapa memakai jamak dan dibubuhi alif laam lagi, yakni al-dhaalliin.

Kita tidak bisa mengatakan buku Sunni menyesatkan. Tapi kalau yang tidak sama dengan Syi’ah dipakai oleh orang Syi’ah, maka ia bisa dikatakan telah sesat.

Ali Zayn Al-Abidin: Seperti syaikh as-shoduq, syaikh al-mufid, syaikh al-kulayni dan banyak ulama- ulama Syi’ah terdahulu yang aqidahnya juga masih belum benar dalam pandangan Syi’ah sekarang juga sesat menyesatkan??

Anwar Mashadi: Tampaknya cukup jelas [mudah dimengerti], tetapi sulit dipraktikkan [kebenarannya]. Jadi teringat penjelasan seorang ulama [penulis Tafsir Tasnim] di youtube, tentang ‘kebebasan’/’’kemerdekaan’ dan ‘keadilan’, katanya, kedua maknanya begitu jelas tetapi realitasnya sangat tersembunyi..

Sinar Agama: Anwar, ketika orang sudah membawa yang diprediksikannya dari awal dalam pemahaman salahnya itu tidak dikontrol dan dikonfirmasi lagi, dan merasa yakin kebenaran adalah yang ia pahami tersebut, maka semua penjelasan segamblang apapun, tetap mumet tidak dipahami.

Kata ayatullah Jawadi Omuli hf, kalau manusia memang tidak mau mendengarkan (apapun alasannya, sa), maka sekalipun malaikat Jibril as yang datang,tetap tidak akan didengarkannya.

Itulah mengapa yang diperangi pertama kali oleh imam Mahdi as, adalah muslimin yang menentang beliau as. Karena penghalang terwujudnya persatuan hingga menang ke atas kafirin. Lagi pula, ketika mereka menolak, berarti sudah mematri diri dengan pahamannya sendiri, sementara para ulama, imam Makshum as, Nabi saww dan Tuhan sendiri, sudah sangat gamblang menjelaskannya.

Kalau orang sudah mematri diri dengan pahamannya, maka biar dijejeli argumentasi yang lebih jelas dari matahari di siang bolong, tetap tidak bisa melihatnya.

Itulah mengapa dari awal maunya mendebat, bukan bertanya. Hal itu, karena sudah diyakini benar dari awal. Padahal dari mana dapat ilmu, sungguh dia sendiri yang tahu. Mending kalau dapat dari Makshum as yang barangkali pemahamannya dia yang keliru. Lah, ini sudah dapat ilmu dari orang yang tidak Makshum, tidak alim lagi.

Saya tidak mau mengatakan bahwa yang alim pasti benar dan yang awam pasti salah. Akan tetapi, kalau belajar itu tidak memberikan pengaruh pada manusia, lah...terus buat apa belajar tak iya? Jadi, kalau tidak tahu bertanya, maka ia akan lebih melicinkan penerimaan pada yang jelas.



Bersambung ... 
=================

Tidak ada komentar:

Posting Komentar