Kamis, 23 Agustus 2018

Kisah Penciptaan Ruh Manusia Menurut Filsafat dan Qur'an



Seri tanya-jawab antara Fan Malaka dan Sinar Agama 
by Sinar Agama (Notes) on Thursday, April 7, 2011 at 3:22 am



Fan Malaka: Assalamu alaikum ustads, saya mau bertanya tentang jiwa, saya pernah dapat referensi yang mengatakan bahwa jiwa itu bermula secara material dan berkelanggengan secara spritual.

Apa maksudnya itu, apakah jiwa itu merupakan materi? Terus dimana batasan antara materi dengan non materi? Tolong penjelasannya. Terimakasih sebelumnya.

Gonzalo ’nanda’ Higuain Haeruddin Syam Deejay Gany

Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaannya: 



(1). Dalam bahasa Arab hal yang antum tanyakan itu dikenal dengan: ”Maadiyatu al-huduuts wa ruuhaaniyatu al-baqa’ ”, yakni bahwa ruh itu adalah materi secara keberadaannya dan ruhi secara kelanggenngannya. 

(2). Sebelum saya terangkan lebih jauh, perlu diketahui bahwa keyakinan para filosof sebelum Mulla Shadra ra, dan begitu pula para muslimin, meyakini bahwa ruh manusia itu sudah dicipta sebelum badan dan berada di alam ruh atau alam alastu (bukankah Aku Tuhan?). Mereka meyakini bahwa ruh itu ada sebelum badan dan baru setelah badan bayi di dalam perut sudah siap menerimanya, maka Tuhan melalui malaikatNya, meniupkan ruh itu ke dalam tubuh janin yang ada di dalam perut ibunya tsb, yakni sekitar kandungan berumur 4 bulan. 

(3). Dalil bagi para Filosof, adalah dari Plato yang telah membuktikan adanya ”alam mitsal” atau ”alam barzakh” atau ”alam mirip materi” atau ”alam khayal” atau ”alam ide” atau ”alam seperti mimpi” atau ”alam mirip materi selain materialnya atau matternya”. 

(4) Sedang dalil dari muslimin adalah QS: 7: 172, yang berbunyi: ”Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian dari jiwa mereka (seraya berfirman): ’Bukankah Aku ini Tuhan kalian?’ Mereka berkata ’Benar, kami menjadi saksi.’” 

(5) Karena itu, maka alam ruh itu dalam Islam dikenal dengan ”Alam Dzar” atau ”alam bibit” atau ”alam atom” atau ”alam ruh” atau ”alam alastu” (mengambil dari ayat di atas yang berbunyi ”alastu birobbikum”, yakni ”bukankah Aku Tuhan kalian”) karena itu muslimin juga mengistilahkan dengan nama ”alam alastu” yakni ”alam bukankah Aku” ...dst. 

(6). Sebelum saya meneruskan jawaban ini, saya perlu ingatkan Antum pada susunan tiga alam makhluk: Pertama makluk Akal dengan derajatnya yang banyak, yakni malaikat tinggi. Kedua, makhluk Barzakh yang disebut dengan malaikat tengah antara malakat tinggi dan alam materi. Ke tiga, alam materi. 

(7). Allah mencipta langsung hanya Akal-pertama, dan dari Akal-pertama itu, Allah mencipta Akal-ke dua, dan dari ke dua ke ke tiga, begitu seterusnya sampai ke Akal-akhir yang juga dikenal dengan ’Arsy dan Lauhu al-Mahfuzh. 

Dari Akal-akhir itu Allah mencipta malaikat tengah yang dikenal dalam Qur'an dengan ”mudabbiraati amran” atau ”pengatur semesta materi”, seperti malaikat Jibril, Mikail, malaikat hujan, bumi, langit, sungai, laut, angin, .... dan seterusnya dari semua makhluk materi. 

Kemudian dari malaikat Barzakh itu, Tuhan mencipta alam materi ini. 

Semua ini, sudah sering diterangkan di catatan-catatanku tentang filsafat dan irfan atau akidah dan Kalam. Jadi, kalau ingin tahu dalilnya, tentang megapa harus demikian, maka silahkan merujuk ke tempat-tempat itu. 

(8). Sebelum aku teruskan, orang seperti Moldiy (nama akun) itu pusing dengan keberasalan hadhrat Faathimah as bahwasannya beliau as dari jabaruut dan dikiranya hal itu sama dengan Kristen yang mengatakan bahwa Isa as dari titisan Tuhan, karena ketidakmengertiannya terhadap bahasa orang yang berbicara dan dimaknakannya dengan bahasanya sendiri dan ilmunya sendiri yang bak katak dalam tempurung. 

Ketahuilah, bahwa alam Akal itu disebut dengan Jabaruut. Jadi semua materi dari Barzakh yang juga disebut dengan Malaakut, dan Barzakh ini dari Jabaruut itu. Jadi, bukan hanya para nabi dan rasul atau makshumin atau hadhrat Faathimah yang dari jabaruut, tapi semua alam materi ini dari sana datangnya. Karena itulah Jabaruut itu juga disebut denga ”Gudang Tuhan”, atau ”Khazaain” (QS: 15: 21) yang kurang lebih bunyinya: ”Tidaklah setiap sesuatu apapun, kecuali dari gudang Kami, dan Kami menurunkannya sesuai ukurannya”. 

Jadi, kehebatan para makshum as itu bukan dari sananya, tapi ketika kembali dengan ikhtiar taqwanya itulah dimana mereka berhasil kembali lagi ke Jabaruut itulah yang dikatakan kehebatan. Karena manusia banyak mangkal di Barzakh bagian neraka (karena surga neraka bertempat di Barzakh itu), dan kalaulah agak hebat berada di Barzakh bagian surga. Tapi mereka melesat jauh sampai ke ’Arsy, dan di atasnya, sampai ke Akal-pertama dan Asma- asma HusnaNya. Nah, Ilmu Tuhan tentang keberhasilan mereka yang sampai ke tingkat tinggi itulah yang dikatakan bahwa mereka berasal dari sana. Karena Ilmu Tuhan sebelum kejadiannya, rinciannya lihat di Wahdatulwujud. Karena itulah Akal-satu itu dikatakan juga dengan Nur-Muhammad, yakni Ilmu Allah tentang keakan mencapainya Muhammad saww ke maqam itu. 

(9). Setelah kita ingat lagi akan susunan tiga alam itu, maka ketahuilah bahwa yang dimaksud dengan alam ruh bagi yang mengimaninya, adalah alam barzakh itu. Jadi ruh-ruh manusia sudah dicipta di sana dan setelah ada janin yang siap menerimanya, maka ditiupkan ke dalamnya hingga bayi itu menjadi hidup. Nah, pertanyaan Tuhan itu, terjadi di alam ruh yang disebut dengan berbagai nama itu yang, kedudukan alamnya adalah alam Barzakh tersebut. 

(10). Sesuai dengan yang mengimani alam ruh ini, baik karena dalil filsafati atau dalil Qur'ani, maka ruh adalah ruhaaniyyatu al-huduuts dan baqaa’, yaitu bahwa ruh manusia itu adalah non materi secara awal kejadiannya dan begitu pula kelanggenannya. Karena sebelum ditiupkan adalah non materi (ruhi) dan setelah matinya nanti kembali lagi menjadi ruhi atau non materi. Jadi, baik awal kejadiannya atau kelanggengannya, ruh itu adalah ruhi atau non materi.

(11). Akan tetapi bagi Mulla Shadra ra, semua dalil itu, tidak benar dan kurang pada tempatnya. Dengan alasan, bahwa kalau ruh itu dari awal sudah ada, berarti dia hebat dan penuh pengetahuan. Karena sewaktu keberadaannya non materi, maka tidak ada yang terhijabi baginya kecuali keberadaan yang ada di atasnya. Dan karena itulah, mereka yang mengimani itu juga mengiyakannya dan mengatakan bahwa ketika ruh itu menyatu dengan badan maka semua ilmunya sirna karena terhijabi dengan badan. Dan karena itulah, kata mereka, kadang kita ketika melihat sesuatu seperti pernah melihatnya sebelumnya, sebenarnya kejadian itu karena memang sudah dilihatnya sewaktu di alam ruh itu tapi sudah lupa karena hijab badannya. 

Nah, ketika ruh itu tahu segalanya, lalu mengapa Tuhan menurunkannya ke materi hingga menjadi bodoh kembali? Bukankah semua perbuatan Tuhan itu memiliki hikmah? Lalu apa hikmah penurunan ruh yang hebat ini ke alam materi dan kebodohan ditambah dengan syahwat yang nantinya bisa masuk neraka? 

Jadi, bagi MS (kependekan Mulla Shadra ra), hal seperti itu tdk masuk akal karena tidak adanya hikmah dari penurunan itu. Lalu bagiamana menurutnay tentang penciptaa ruh yang non materi ini? 

MS mengatakan: ruh itu memang ditiupkan kepada badan ketika badan bayi sudah siap menerimanya. Akan tetapi yang ditiupkan kepadanya bukan ruh yang sudah ada, tapi pengadaan baru yang dilakukan dengan peniupan itu yang dilakukan oleh malaikat yang mengurusi manusia. 

Artinya, malaikat ruh itu, adalah wujud yang satu. Dia adalah tuhan spesies manusia atau pengatur manusia yang selalu mengontrol perkembangan ruh lemah ke ruh kuat yang biasa dikenal dengan ruh manusia ini dan siap menjadikannya, alias membentuknya menjadi ruh manusia yang de fakto. Jadi, malaikat ruh bukan membuat ruh-ruh yang banyak dan setelah itu meniupkannya ke bayi di dalam perut, bukan begitu. Akan tetapi ia sendiri yang satu itulah yang meniupkan ke dalam badan bayi yang sudah siap itu. Artinya, mewujudkan dan merestui perkembangan ruh yang dikontrolnya itu untuk menjadi manusia. 

Dengan penjelasan yang lain: Ketika seorang ayah makan daging kambing atau biji-bijian yang mengandung hormon, maka benda mati yang disebut materi itu menjadi semakin halus di dalam perut karena menjadi gizi. Di dalam kaidah dan dalil yang lain di filsafat, tidak ada benda yang tidak memiliki ruh. Batu, tanah, biji-bijian, daging, ... semuanya, memiliki ruh. Dalilnya lihat di catatan-catatan sebelumnya. 

Nah, ketika daging atau biji-bijian yang memiliki ruh daya tambang itu (karena kerja ruhnya hanya semacam memutar-mutar atom badaniahnya) menjadi gizi, disini ruh tambangnya belum berubah ke ruh yang lebih tinggi, baik nabati atau hewani. 

Akan tetapi, ketika sudah menjadi mani di kandung mani seorang calon ayah, maka benda mati atau yang hanya ber-ruh dengan ruh tambang itu, kini memiliki ruh yang lebih tinggi, yaitu ruh nabati (berkembang) dan bahkan hewani karena bisa bergerak dengan kehendak. 

Ketika ia bertemu dengan ovum yang juga memliki ruh daya tambang, nabati dan hewani, maka pertemuan kedua benda itu membuat kedua ruhnya juga bertemu. 

Ruh yang bertemu itu semakin hari semakin menguat. Hingga pada sekitar umur 4 bulan, ruh itu sebegitu menguatnya hingga bisa dikatakan ruh manusia. Artinya sudah mulai melakukan gerakan-gerakan manusia walau dalam bentuk keterbatasannya di dalam perut.

Memang, manusia itu dikatakan manusia ketika sudah bisa memahami universal. Akan tetapi karena kepotensian dia di dalam perut dan begitu pula nanti setelah lahir, bisa dikatakan sudah sangat dekat pada de faktonya itu. Karena itu, bayi di dalam perut dan yang sudah lahir tapi belum memahmi universalpun dapat dikatakan manusia, karena kedekatakan potensinya pada de faktonya itu. 

Arti peniupannya itu adalah restu yang berupa pewujudan pada pencapaian ruh pada estafet manusia yang paling dasar itu. Karena semua proses itu tidak bisa terjadi kecuali dengan pengaturan Tuhan yang melalui para malaikataNya itu. Begitu seterusnya berkembang menjadi pandai dan taqwa, atau bodoh tan fasik, atau alim dan fasik .... dan semacamnya, maka pada akhirnya ia mati. Artinya ruhnya meninggalkan badannya. 

Nah, ketika ia mati itulah ia menjadi ruh yang mutlak atau non materi yang mutlak alias tanpa campuran materi lagi. Jadi, Ruh Manusia itu pada awal kejadiannya adalah materi, tapi dalam kesinambungan dan kelanggengannya adalah non materi atau ruhi. 

Inilah yang diaktakan bahwa Ruh Manusia itu materi di awal kejadiannya dan non materi di kelanggengannya. Berbeda dengan yang sebelumnya yang mengatakan non materi atau ruhi di awal dan kesinambungannya. 

Karena itulah yang mngingkari Tuhan dikatakan Kafir, karena ia tidak bisa mengingkarinya. Kafir yakni Coverer atau ”yang menutupi”. Yakni menutupi apa-apa yang ada di hatinya tentang kepercayaannya terhadap adanya Tuhan. Yakni menutupinya dengan kata-katanya yang dusta dengan berkata ”aku tidak percaya adanya Tuhan”. 

Wassalam. 

Bande Husein Kalisatti and 36 others like this

Fatimah Zahra: Ustad, mantap!! Cuma yang jadi pertanyaan saya, apa kah ruh dan jiwa itu sama? Mohon pencerahannya ustad. Syukran... 

Mata Hati: Ustad saya mau tanya, peristiwa Adam dan pohon larangan itu apakah ada di alam mitsal? Dan kalau memang benar demikian tampaknya penciptaan Adam pun berproses melalui materi yang berevolusi sehingga menjadi manusia yang sadar, mohon penjelasannya!

Sinar Agama: Salam dan terimakasih untuk semua jempol dan komentarnya. 

Sinar Agama: Fathimah: Ruh dan jiwa/nafsun itu sama saja. 

Ruh dikatakan ruh karena kecenderungannya pada kenonmaterian mutlak, yaitu Akal-akhir. Karena ruh dari dimensi daya akalnya (dari keempat daya ruh: tambang, nabati, hewani dan akli) bisa melesat sampai ke Akal-akhir dan bahkan Akal-pertama. 

Sedang Ruh dikatakan Nafsun atau Jiwa, karena kepengurusannya terhadap materi. Yakni karena dimensinya dalam mengatur materi atau badannya. Yaitu ruh yg dimensi daya tambangnya (mengatur putaran-putaran atom, darah dst), dimensi daya-nabatinya (mengatur pertumbuhan badannya dan beranak pinaknya) serta dimensi daya-hewaninya (yang mengatur gerak ikhtiari dari pada badannya).

Sinar Agama: Ricok, 

(1). Sebagian orang menafsirkan bahwa Ruh yang dimaksud itu adalah malaikat Jibril as. 

(2). Akan tetapi di tafsir al-Miizaan, dkatakan bahwa ia adalah yang dimaksud Tuhan dalam ayat yang lainnya yang berbunyi: 

“Katakan bahwa ruh itu adalah dari urusan Tuhan!” 

Jadi, Ruh disini adalah wujud non materi sebagaimana telah dijelaskan oleh pengarang tafsir tsb di tempat lain. 

(3). Dalam hadits yang diriwayatkan dalam tafsir di atas yang dinukil dari tafsir al-Burhaan, 

......
بإسناده عن أبي بصير قال∫ كنت مع أبي عبد الله عليه السلام فذكر شيئا من 
:أمرالإمام إذا ولد فقال 
استوجب زيادة الروح في ليلة القدر فقلت: جعلت فداك أ ليس الروح هو جبرئيل؟ فقال: جبرئيل من الملائكة
."و الروح أعظم من الملائكة أ ليس أن الله عز و جل يقول: "تنزل الملائكة و الروح

yang kurang lebih artinya: ...dari Abu Bashiir, berkata: Aku bersama Abu ‘Abdillah as. lalu beliau menerangkan tentang sesuatu yang berkenaan dengan imam dikala lahirnya. Beliaupun berkata: “Imam adalah yang wajib diziarahi oleh Ruh pada malam lailatu al-Qadr.” Aku berkata: “Maaf, bukankah Ruh itu adalah malaikat Jibril?” Beliau menjawab: “Jibril itu dari bangsa malaikat, sedangkan Ruh ini adalah lebih agung dari malaikat. Tidakkah Allah telah berfirman: ‘Turun malaikat dan Ruh. 



(4). Kalau boleh saya simpulkan dari penukilan di atas, maka Ruh yang dimaksud dalam surat al- Qadr yang turun bersama para malaikat dan ia lebih agung dari malaikat itu adalah Makhluk non materi yang mengurusi manusia yang biasa disebut dalam filsafat dengan tuhan spesies manusia. 



Alfakir juga sering mengatakan, terutama dalam menjelaskan tentang penciptaan nabi Adam as (lihat catatan berjudul: Peristiwa nabi Adam as. dalam Pandangan Filsafat -hadiah kecil hari ied al-Ghadiir), bahwa Malaikat yang mengatur manusia ini lebih tinggi dari malaikat-malaikat lainnya. Karena itu tingkatannya di alam Barzakh lebih tinggi dari yang lainnya. Yakni di atas neraka dan surga. Artinya makhluk Barzakh yang ada di kaki ’Arsy atau menjelang ke ’Arsy atau Lauhu al-Mahfuuzh. 



(5). Dalam pembahasan kita di atas, maka Ruh yang kita bahas adalah ruh yang ada pada manusia ini. Dan ruh yang dibahas di surat al-Qadr itu adalah peniup ruh yang ada di bahasan kita di atas itu. 

Semoga sudah jelas dan wassalam.

Sinar Agama: Anggelia, kamu sudah tidak perlu lagi meminta ijin, karena semua orang sudah dibolehkan menampilkan semua tulisanku selain yang berjudul “suluk ilallah” itu dimana saja dan dalam bentuk apa saja, asal untuk kebaikan dan tidak untuk bisnis. Ini dari sisi hukum halal- haramnya. Sedang dari sisi akhlaknya, yang tidak kuwajibkan juga dalam hal ini, maka memang meminta ijin itu adalah bagian dari akhlak. Jadi, jawabkanku, silahkan saja, he he he(.)

Sinar Agama: Abdul Hakim, aku sudah menjelaskan apa yang antum tanyakan itu di catatan- catatanku. Terutama di catatan yg berjudul ”Peristiwa nabi Adam as Dalam Pandangan Filsafat -hadiah kecil hari ied al-Ghadiir” itu. 

Intinya: Badan nabi Adam as dicipta dari tanah dan penciptaannya di bumi. Tentu saja karena dari tanah, maka pasti mengalami proses sesuai dengan hukum alam yang, mungkin kita sekarang belum bisa mengetahuinya. Proses yang tidak kita ketahui itu, yang pentingnya, adalah pengadaan calon badan nabi Adam as ini kepada badan yang layak mendapatkan ruh manusia. Karena itu, sudah pasti dari tanah itu terproses menjadi daging dulu, jantung dulu, darah dulu, mata dulu, paru-paru dulu ....dan seterusnya. 

Nah, setelah badan itu siap, maka ditiupkanlah ruh individu manusia oleh pengurus manusia itu yang juga disebut dengan Ruh A’zham atau Ruh Agung atau juga Ruh Universal dimana lawannya adalah Ruh Individu kita-kita ini. Namun, walaupun nabi Adam as sudah mulai bernafas dan hidup setelah peniupan ruh itu (dimana peniupannya ini juga dari dalam diri seperti yang sudah diterangkan di atas), akan tetapi karena ia adalah manusia pertama, maka Alah mengajarinya dalam wahyu mimpinya. 

Di atas telah dikatakan bahwa makhluk agung non materi yang mengurusi manusia ini menempati tempat atau maqam yang paling tinggi di alam barzakh. Artinya ada di atas surga. Karena itulah, maka nabi Adam as dapat melihat surga kalau Allah mengijinkannya. Dan begitulah yang terjadi. Demi pengajarannya itu. Maka terjadilah apa yang terjadi yang dimuat dalam kitab suci Al-Qur'an itu, sampai beliau dikeluarkan darinya. Yakni bangun dari tidurnya karena sudah lapar yang tidak tertahan dimana dalam Qur'an dikatakan dengan memakan buah terlarang itu. Yakni terlarang karena kalau memakannya menjadi bangun. Yakni terlarang makan buah itu, karena maksudnya adalah perutnya merasa lapar dan ingin makan serta memutusi makan. 

Nah, ketika nabi Adam as memutusi makan karena sudah lapar sekali secara fisik yang ia juga tidak tahu hal itu sebelumnya karena merupakan lapar pertama kalinya, yang telah digambarkan dengan tergiurnya pada buah terlarang itu, maka ia-pun makan buah terlarang tersebut. Tapi dalam mimpi wahyunya itu tergambar dengan tergiurnya yang teramat sangat (yakni gambaran lapar yang sangat) pada buah tsb. Maka terjadilah yang sudah terjadi itu. Yakni harus makan dan memakannya. Akhirnya, beliau as dikeluarkan dari surga, ALIAS bangun dari tidur dan mimpi wahyu pertamannya itu. Dan seterusnya. Wassalam.

Bande Husein Kalisatti: @Ustad SA : kalau boleh ana memahami dari penjelasan antum tentang makan buah khuldinya nabi Adam as, adalah saat Allah swt meniupkan ruh individu manusia (Ruh A’zham) maka metabolisme tubuh (jasad) Adam bekerja.. karena bekerja inilah maka muncul hawa lapar, haus dalam jasad Adam as.. nah karena utulah maka Adam as makan buah khuldi untuk menghilangkan rasa lapar tesebut.. afwan ustad..kalau salah tolong dioreksi.

Sinar Agama: Bande: Tuhan meniupkan ruh individu, yakni ruh Adam as itu melalui Ruh A’zham/ agung. Yang lainnya sudah benar. Karena perutnya lapar, maka nabi Adam as sudah tidak tahan untuk tidak makan buah Khuldi yang dilihatnya dalam mimpinya itu yang ada di dalam surga itu, tanpa ia pahami mengapa tidak bisa mengekang dirinya untuk tidak makan. 

Sedang waswas syethan itu hanyalah keinginan syethan untuk mempercepat bangunnya nabi Adam as supaya bisa cepat diganggunya dan anak keturunannya seperti ia dapat membuktikan kepada Tuhan bahwa ia benar tentang pandangannya bahwa ia lebih afdhal dari manusia.

Muhammad Nawawi Markarma: Dan setelah terbangun dari tidurnya yg pertama, ia melihat dirinya dlm keadaan tidak berpakaian, maka diambillah dedaunan untuk menutupi auratnya, bukan begitu ustad Sinar Agama?

Sinar Agama : Muhammad, benarlah begitu wahai saudaraku...... dan karena seluruh kebaikan atau kesesuaiannya dengan manusia yang ada di alam materi ini berasal dari surga (yang sesuai seperti api dari neraka), maka dedaunan duniapun bisa dikatakan dedauanan surga.



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Rabu, 22 Agustus 2018

Tujuan atau Hikmah Penciptaan ?



by Sinar Agama (Notes) on Wednesday, December 8, 2010 at 12:35 am


Sebelum saya menjawab pertanyaan tentang tujuan penciptaan oleh al-Akh Abu Humairoh, ijinkan saya mengenang musibah Karbala terlebih dahulu. 


Pada hari ini, yaitu hari ke dua Muharram ini, adalah hari dimana imam Husain as sampai ke padang sahara Karbala. Kala itu, karena imam as dengan rombongan kecilnya yang sedang menuju Kufah Iraq, dihadang setidaknya oleh seribu tentara yang dipimpin oleh Hur bin Ziyad, dan Hur mengancamnya kalau terus ke Kufah dan begitu pula melarangnya untuk kembali ke Madinah, maka imam Husain as mengambil jalan yang tidak ke Kufah dan tidak pula ke Madinah. 

Suatu ketika, kuda imam Husain as tidak mau jalan lagi, sekalipun sudah mengganti kuda. Imam Husain as bertanya: Apa nama tempat ini?, dijawab: Ghadiriyyah. Imam bertanya lagi: Apa ada nama lainnya?, dijawab: Syathiu al-Furat. Imam bertanya lagi: Apa ada nama lainnya:, dijawab: Karbala. lalu imam as bernafas dalam-dalam, sambil menge-oh ... dan berkata: 

“Ya Allah, aku berlindung padaMu dari Karbun (bencana) dan Bala (petaka). Demi Allah tanah Karbala adalah tanah ini. Demi Allah disinilah tempat para lelaki kita dibantai. Demi Tuhan disinilah wanita-wanita dan anak-anak kecil kita ditawan. Demi Tuhan disinilah kehormatan kita dihinakan. Wahai para pendekar perkasa, turunlah disini, karena disinilah tempat kubur kita semua”. 

Ya Husain...kami semua ikut menderita bersamamu, sungguh ingin rasanya kami semua berada di sampingmu, menjadi tameng dari sabetan-sabetan pedang yang liar dan brutal. Ingin rasanya kami semua berada di depanmu menjadi benteng bagi datangnya hujan panah dan tombak- tombak yang beringas. 

Ya Husain ...sejelek apapun kami ini, setidak pantas apapun kami ini untuk menjadi Syi’ahmu, tapi kami sungguh tidak akan sanggup membiarkanmu sendirian dirajang-rajang para perampok wilayah kenabian yang tersalur dalam wilayah ke-imamahan, tidak akan sanggup membiarkan dada sucimu diduduki Syimr (La’natu ’alaihi) yang sembari menyembelihmu dengan beringas dan kasar. 

Shallalahu ‘alaika ya Aba Abdillah wa ‘ala al-arwahi al-ladzi istushidat ma’aka, tsumma al-la’natu ‘ala a’daika ajma’in. 

‘Azhzhamallahu ujurana wa ujurakum bi al-Husain wa ahli baitihi wa ashhabihi al-maqtulina fi Karbala. Semua Allah mengagungkan pahala kita semua atas kesedihan dan simpatik kita kepada imam Husain dan keluarga serta shahabatnya yang dibantai dan dijagal di Karbala, amin. 

Baiklah, karena tujuan imam Husain as adalah membela Islam secara keseluruhan, baik dari ajarannya atau contoh aplikasinya, maka ilmu-ilmu ke-Islaman juga merupakan salah satu tujuan dan sekaligus alat bagi tercapainya semua tujuan beliau as secara kaffah/menyeluruh. Oleh karena itu maka saya akan menjawab pertanyaan al-Akh Abu Humairoh sebagai berikut: 

Abu Humairoh bertanya : Salam tad : bagaimana pandangan ustad tentang ”MENGAPA ALLAH MENGADAKAN KEHIDUPAN?” TOLONG DIPERKUAT DENGAN AYAT ALQURAN DAN HADITS...TAD.

Sinar Agama: menjawab: 
Tujuan atau Hikmah Penciptaan? 

Banyak juga orang yang memikirkan ciptaan dari sisi tujuannya. Biasanya dengan menanyakan: 

“Mengapa Tuhan mencipta makhluk? Kalau Tuhan tidak punya tujuan, maka Tuhan telah melakukan perbuatan sia-sia dimana hal ini tidak sesuai dengan ke-Hakiman dan ke-Bijakan serta ke-Pandai-anNya, dan kalau punya tujuan, berarti Tuhan menyempurna dimana hal ini tidak sesuai dengan ke-Tidak TerbatasanNya?”

Jawaban terhadap hal ini, sebenarnya, sudah banyak dibahas dalam buku-buku ilmu Kalam (Teologi) dan fisafat. Tapi untuk mengurut dari yang terendah sekalipun, yakni dari yang pikiran awam, maka saya akan paparkan dalam beberapa kriteria yang ada pada umumnya muslimin sebagaimana di bawah ini:

(1). Kriteria awam/umum: 

Yang saya maksudkan dengan kreteria awam ini adalah orang yang tidak pernah memikirkan hal ini. Jadi, pandangannya selalu pada kebesaran Tuhan saja. Mereka tidak pernah memi- kirkan hal ini kecuali pada beberapa kejadian, misalnya ketika menghadapi malapetaka atau kesedihan serta kegagalan. Atau ketika ia telah banyak melakukan kesalahan dan dosa. Yakni ketika mereka gagal dan/atau banyak dosa, lalu biasanya terbetik di dalam hatinya, “Mengapa Tuhan menciptaku padahal aku tidak memintanya dan bahkan tidak mau”. Tentu saja kata- kata seperti ini adalah untuk menutupi kesalahannya atau karena sudah mencapai titik keputusasaan yang tertinggi. 

Mereka tidak menyadarinya, bahwa pertanyaan itu adalah langkah berikut-syetan dalam mempersesat manusia. Yakni mau membawa manusia ke tempat yang kekal abadi dalam dosa dan neraka. Yakni “bunuh diri”, atau “tidak bangkit lagi dalam usaha”, na’udzubillah. 

Padahal, dalam kegagalan dan dosa sekalipun, masih terdapat banyak jalan yang diberikan Tuhan melalui Islam. Kegagalan yang tidak bersumber dari kesalahannya sendiri, pasti akan membuahkan pahala akhirat dan hal-hal baik di dunia yang kita sendiri tidak mengetahuinya. Dan kalaulah kegagalan itu bersumber dari diri kita sendiri juga sebagaimana dosa itu, maka hal itupun masih ada jalan untuk merubahnya menjadi kebaikan dan pahala. Misalnya dengan mengakui, menyesali dan tekun merubah keadaan dan/atau menjauhi dosa dan kesalahannya, maka kegagalan dan dosa tadi, akan berubah menjadi kebaikan dan pahala. Kurang murah apa Tuhan kepada kita manusia? Allah berfirman dalam QS: 25: 70 +/-: 

“Kecuali bagi yang bertaubat dan beriman serta melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, maka Allah akan merubah keburukan-keburukan mereka menjadi kebaikan-kebaikan..” 

Jadi, Tuhan bukan hanya mengampuni dosa, tapi dosa dan keburukan itu sendiri akan dirubahNya menjadi kebaikan dan pahala, ketika manusia sudah melakukan perubahan dan taubat. 

Dalam pandangan Filsafat, keburukan yang telah mempengaruhi jiwa manusia dan katakanlah sudah menjadi bagian dirinyapun, tapi selama masih memiliki rangka badani, maka masih pula bisa dirubah, walaupun berat ringannya tergantung sejauh mana ia telah menjadi bagian ruh kita. Artinya kalau ia masih menjadi bagian aksidental atau sifat, maka masih bisa dirubah.

Walaupun tingkatan inipun tergantung pula pada sejauh mana ia telah menjadi aksidental/ sifat itu. Kalau ia semakin kuat, maka semakin sulit pula merubahnya. Oleh karenanya yang cepat bertaubat, akan lebih ringan menghadapi tantangan dari dalam dirinya ketimbang orang yang sering menunda taubatnya. 

Memang, kalau bagian keburukan itu sudah menjadi bagian zat atau substansi jiwa kita, maka hal ini sudah mustahil dirubahnya. Oleh karena itulah kadang Tuhan dalam mengumumkan keadaan mereka itu, memakai kata-kata seperti QS: 2: 18 +/-: 

“Tuli, bisu dan buta, maka mereka tidak akan pernah kembali” 

Atau seperti QS: 2: 7 +/-: 

“Allah telah mengunci mati akal/hati dan pendengaran mereka, dan pendengaran mereka ditutupi, dan bagi mereka siksa yang pedih” 

Catatan 1 : Allah dalam kedua ayat di atas, tidak melakukan penutupan dan penguncian. Karena kalau Tuhan melakukan hal itu, berarti Dia-lah yang harus bertanggung jawab terhadap keburukan mereka setelah ditutup itu. Jadi, ayat di atas hanya mengabarkan kepada kita, bahwa keburukan (begitu pula kebaikan) yang dilakukan berulang-ulang, lama kelamaan akan membuat kita kecanduan. Dan kalau kecanduannya itu menguat hingga membuat kita tidak lagi bisa merubahnya, maka itulah yang disebut telah menjadi bagian zat kita atau substansi kita. Jadi, karena ia telah menjadi zat dan substansi kita, maka sebagaimana sesuatu itu tidak akan berpisah dari zat dan substansinya sendiri, maka perbuatan yang telah mensubstansi itupun tidak akan bisa kita hilangkan dari zat kita. Jadi, kita sendirilah yang telah membuat mata, telinga dan akal/hati kita menjadi buta, tuli dan membatu-hitam. 

Namun, karena semua itu terjadi dalam sistem yang Allah atur sesuai dengan keBijakkanNya, maka sebagaimana sering saya tulis bahwa akibatnya akibat adalah akibat pula bagi sebabnya, yakni pentulian, pembutaan dan pembatuan, merupakan akibat dari manusia dimana manusia merupakan akibat dari Tuhan, maka pembutaan, pentulian dan pembatuan itupun merupakan akibatNya. 

Walaupun begitu, sebagaimana sudah saya terangkan di Pokok-pokok dan Ringkasan Ajaran Syi’ah di bagian ke-Adilan, bahwa yang bertanggung jawab adalah manusia itu sendiri, karena dia adalah sebab dekat dengan perbuatannya itu dimana ia memiliki apa yang kita sebut dengan Ikhtiar. 

Catatan 2 : walaupun mungkin kita mengira bahwa sesuatu itu sudah menjadi substansi hingga terasa tidak lagi bisa dirubah, tetap saja kita tidak bisa memastikannya. Oleh karena itu tidak ada hak bagi siapapun untuk berputus asa merubah keburukannya, dan tidak ada hak pula bagi siapapun untuk merasa aman dalam kebaikannya. Jadi, yang buruk harus tetap berusaha taubat, dan yang baik tetap harus waspada supaya kebaikannya itu tidak berubah. 

Golongan pertama ini, jelas tidak termasuk orang yang mengamalkan ayat perenungan terhadap ciptaan Allah yang dalam Qur'an telah diwajibkan, QS: 3: 190-191 +/-: 

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (190) yaitu, orang-orang yang mengingati Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau mencipta ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. 

(2). Kriteria Kalam:

Ilmu Kalam, sejauh yang saya tahu, menjawab bahwa Tuhan dalam mencipta ini pasti memiliki tujuan, karena kalau tanpa tujuan, berarti sia-sia, seperti orang yang membuat baju lalu dirobeknya, lalu membuat dan merobeknya lagi, dan begitu seterusnya. Artinya, kalau kita sebagaimana manusia yang sangat terbatas ini saja, tidak boleh dan tidak mungkin melakukan perbuatan tidak bertujuan, maka apalagi Tuhan Yang Maha Pandai dan Bijaksana. 

Namun demikian, karena Tuhan itu tidak terbatas, maka sudah pasti tujuanNya itu tidak untuk DiriNya. Karena kalau untuk DiriNya, maka Dia masih pula memiliki kekurangan hingga perlu dicapainya. Dan kalau demikian halNya, berarti Dia masih memiliki batasan dan, kalau demikian berarti Dia perlu pencipta untuk mengadakanNya. Karena yang terbatas pasti memiliki awal-akhir, dan yang memiliki awal maka pasti sebelumnya tidak ada, dan kalau ada setelah awal itu, maka pasti diadakan oleh yang lainnya. 

Dengan demikian maka tujuan penciptaan Tuhan dalam mencipta makhluk adalah untuk makhluk itu sendiri, bukan untuk DiriNya. 

Dan karena kalau tujuanNya berupa keburukan maka juga akan menjadi tanda bagi keter- batasanNya, maka tujuanNya pastilah kebaikan untuk makhlukNya. Karena yang punya tujuan jelek itu bisa terjadi karena tidak tahu, lupa, tidak sengaja, ngantuk, mabok, buruk akhlak....dst dimana semua sebab-sebab itu adalah tanda bagi kekurangan dan keterbatasan sesuatu. Dan karena Tuhan tidak terbatas, maka berarti tujuanNya adalah kebaikan. Artinya kebaikan untuk makhluk. Yakni “Mencapaikan Makhluk Kepada Kesempurnaan”. 

Dan karena DiriNya adalah Kesempurnaan Tidak Terbatas dan Sumber Bagi Seluruh Kebaik- kan dan Kesempurnaan, karena itulah maka arti menyempurnakan makhluk adalah Men- dekatkannya (makhluk) Kepada DiriNya Sendiri. Jadi, rukuk-sujud kita, puasa kita, tawaf kita, jihad kita ... dan seterusnya adalah untuk kita sendiri. Yakni untuk mendekatkan diri kepadaNya supaya kita menjadi lebih baik, lebih sempurna dari sebelumnya dimana hanya bisa dicapai dengan mendekatkan diri kepadaNya. 

Jadi menurut ilmu Kalam, Tuhan mencipta kehidupan dan makhluk adalah untuk mencapaikan mereka kepada kebaikan dan kesempurnaan. 

Jadi hadits Qudsi yang mengatakan: 

“Aku adalah pusaka (harta karun) tersembunyi, maka Aku mencipta supaya Aku dikenali”, 

maksudnya adalah, Aku mencipta supaya Diri dan Ke-HebatanKu dikenali makhlukKu karena dengan kenal dan mengabdiKu berarti mereka telah menyempurnakan diri karena Aku adalah Kesempurnaan tidak terbatas dan sumber bagi seluruh kesempurnaan. 

Inilah yang dalam banyak ayat dikatakan bahwa Tuhan tidak main-main dalam mencipta, seperti QS: 23: 115 +/-: 

“Apakah kalian mengira bahwa Kami mencipta kalian dalam rangka main-main...?”

(3). Kriteria Filsafat: 

Filosof, melihat bahwa mencapaikan makhluk kepada kesempurnaan, tidak beda dengan penciptaan itu sendiri. Artinya, keduanya adalah sama-sama perbuatanNya. Dengan demikian, maka layak dipertanyakan sebagaimana penciptaanNya itu. Yakni sebagaimana kita bisa menanyakan “Mengapa Tuhan Mencipta Makhluk?”, kita juga bisa bertanya “Mengapa Tuhan Mencapaikan Makhluk Kepada Kebaikan?”. 

Dengan demikian, maka jawabannya ada dua sebagaimana sebelumnya. Yakni kalau tidak punya tujuan, berarti telah melakukan perbuatan sia-sia, dan kalau memiliki tujuan berarti Tuhan menyempurna dimana hal ini tidak sesuai dengan Ke-Tidak TerbatasanNya. 

Filosof mengatakan bahwa Tuhan memiliki tujuan dalam mencipta. Dan tujuanNya itu adalah untuk DiriNya Sendiri, bukan untuk makhlukNya. Mungkin Anda bertanya, “Kalau begitu berarti Tuhan menyempurna dan karenanya Dia adalah terbatas dan akhirnya Dia adalah dicipta sebagaimana maklum?”

Jawabnya adalah tidak demikian. Memang, bahwa Tuhan itu memiliki tujuan dan tujuanNya untuk DiriNya sendiri, akan tetapi tujuan itu tidak mesti membuatNya menyempurna. 

Ketika kita sudah mengetahui bahwa Tuhan tidak terbatas, maka sudah pasti tidak ada kekurangan bagiNya dan tidak ada sesuatu yang tidak dalam cakupan dan kekayaanNya. Kalau demikian halnya, maka tujuan Tuhan itu adalah tidak lain dan tidak bukan, kecuali DiriNya Sendiri. Yakni dengan kata yang lebih ekstrim dapat dikatakan bahwa “Tuhan Mencipta Demi DiriNya sendiri”.

Penjelasan: Tuhan dalam maqam Zat dan IlmuNya terhadap DiriNya sendiri, mengetahui semua Kemampuan dan KuasaNya. Yakni Tuhan Tahu bahwa DiriNya Kuasa Mencipta, Mengampuni, Menghidayahi, Memberi rejeki, Mangadili, Menyantuni, Menyiksa ....dan seterusnya dari sifat-sifatNya. Oleh karena itu Diapun berkeinginan untuk melihat semua Kemampuan dan KuasaNya itu. Oleh karena itu Dia mencipta. 

Jadi tujuan penciptaan Tuhan adalah bahwa “Tuhan Ingin Melihat Kemampuan dan KuasaNya Sendiri”. Inilah yang dikenal dalam Filsafat sebagai “al-Bahjatu al-Dzatiyyah”, yakni “Kesenangan Pada Diri Sendiri”. Jadi, senangnya Tuhan atau bertujuanNya, tidak akan membuatNya berkurang dan menjadi terbatas. Karena yang disenangiNya dan ditujuNya adalah DiriNya sendiri. 

Dengan demikian, hadits Qudsi di atas akan bermakna +/-: “Aku adalah KeMaha Mampuan dan KeMaha Kuasaan dan Kekayaan yang tersembunyi, maka Aku mencipta agar Aku bisa melihat Kehebatan, KeKuasaan dan KeKayaanKu itu sendiri”. 

Namun demkian, karena Tuhan itu tidak terbatas, maka sudah pasti Dia tidak akan pernah memiliki kekurangan apapun. Oleh karenanya semua yang akan keluar dari DiriNya adalah pasti baik, karena Dia adalah Kebaikan Tak Terbatas. Dan KebaikanNya itulah yang akan menyirami semua makhlukNYa walau tanpa ditujuNya dalam tujuan penciptaanNya. 

Artinya, sekalipun Tuhan tidak memiliki tujuan untuk makhlukNya dalam menciptakan mereka, namun, karena Tuhan Maha Baik Tak Terbatas, maka kebaikanNya itu akan mendasari keterdiciptaan makhlukNya tersebut. Oleh karena itulah, pada makhluk itu sendiri terdapat tujuan kebaikan untuk dirinya sendiri. Inilah yang dalam Filsafat dikenal dengan Hikmah Penciptaan, bukan Tujuan Penciptaan. 

Artinya, sekalipun Tuhan tidak memaksudi apapun kecuali DiriNya sendiri dalam mencipta makhluk, namun HikmahNya itu tetap akan menyelimuti makhlukNya. Dengan demikian, apa-apa yang dikategorikan sebagai tujuan pencipataan dalam Kriteria Kalam, akan menjadi Hikmah Penciptaan dalam Kriteria Filsafat. 

Jadi, kalau dalam ayat-ayat di atas yang menyatakan tentang ketidak bermain-mainan Tuhan dalam mencipta makhluk, di dalam Kriteria Kalam dimaknai dengan kepastian adanya tujuan kebaikan untuk makhluk, hingga kalau tanpa tujuan tersebut dikatakan main-main dan sia-sia, maka dalam Kriteria Filsafat, ketidak bermain-mainan dan ketidak sia-siaan di sini dimaknai dengan kepastian adanya hikmah dalam kepenciptaan makhluk. Yakni dalam penciptaan ini pasti ada hikmahnya, yaitu kebaikan untuk makhluk. Karena kalau tanpa hikmah tersebut maka ciptaan ini akan menjadi sia-sia dan main-main. 

(4). Kriteria Irfan: 

Kriteria ini sangat tidak dianjurkan untuk dibaca dan dipikirkan. Jadi, kalau tidak paham, maka tidak usah diresahkan, karena yang tidak percaya hal ini tidak dosa dan tidak masuk neraka. Dia hanya kesempurnaan di atas surga. Yakni, secara praktiknya, hanya milik Insan Kamil yang tidak memperdulikan apapun kecuali Tuhan. Jadi, yang tidak percaya Irfan, tetap muslim dan mukmin serta masuk surga, sekalipun tidak bisa menjadi Insan Kamil dan Fanaa’. 

Dalam Irfan, karena penciptaan itu tidak ada, maka khalaqa yang bermakna dasar pengqadaran dan pembatasan, dimaknai dengan pembatasan Tajalli dan Manifestasi. Tidak seperti Kalam dan Filsafat yang memaknainya dengan pengqadaran dan pembatasan wujud hingga menjadi yang namanya makhluk. 

Tentu saja, Kalam ortodok dan orang awam, lebih parah keadaannya. Karena mereka mengatakan bahwa Tuhan mencipta makhluk ini dari Tiada menjadi Ada/wujud. Padahal, Tiada, jangankan dibuat sesuatu hingga menjadi ada, diberitakan saja tidak bisa. Yakni kalau yang dimaksudkan itu adalah Tiada yang nyata, bukan pahamannya. Jadi, Tiada tidak bisa dikatakan “dibuat”, “membuat dirinya”, “dirinya”, “dari tiada”, “ke tiada”, “dalam tiada” ...dst. Akan tetapi karena dalam pahaman kita Tiada itu dapat dipahami, maka kita bisa memberikan predikat dan sifat-sifat kepadanya, seperti tulisan di atas, yakni “Tiada tidak bisa dikatakan....” 

Rahasia pertama ketidak adaan penciptaan dalam Irfan adalah karena yang selain Tuhan ada- lah tidak ada. Karena Dia tidak terbatas, oleh karenanya tidak mungkin ada wujud lain sekalipun terbatas karena ia akan membatasi ke-BeradaanNya. Lihat catatan Wahdatul Wujud 1-6. 

Rahasia ke dua, ketika Ada itu hanya Tuhan, maka apapun yang nampak ada ini adalah tidak ada. Dan kalau tidak ada, maka apanya yang dicipta? 

Yang bisa kita perkirakan dalam Kriteria Irfan ini adalah semua hikmah yang ada pada makhluk itu diganti menjadi hikmah pada Tajalli. Jadi, semua alasan dan dalilnya, adalah sama, dan yang beda hanyalah pada wujud makhluk –dalam Awam dan Kalam serta Filsafat- atau pada Tajallinya –dalam Irfan.

Sekian dan wassalam semoga bermamfaat bagi kita semua, amin. Assalamu alaika ya Aba ‘Abdilah wa ‘ala ahli baitika wa ‘ala ashhabika al-maktuliina fi Karbala. Duhai betapa inginnya kami bersamamu hingga kami ikut meraup kemenangan agung bersamamu. 



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Lensa (Bgn 20): Mengartikan Mimpi



Oleh Ustad Sinar Agama 
Oleh Anggelia Sulqani Zahra pada 28 Juni 2011 pukul 19:26


Shifa Albar: Salam alaikum, saya mau bertanya apakah semua orang mempunyai kemampuan untuk mengartikan mimpi kalo dipelajari atau kemampuan ini hanya dimiliki oleh nabi dan imam?

Sinar Agama: Salam dan terima kasih pertanyaannya, 

Mimpi itu bisa diketahui dengan kebiasaan. Tetapi masalahnya, jangan dipastikan. Karena itu kalau mimpi jelek jangan dipastikan, tetapi banyak sedekah, shalawat dan semacamnya. Jangan ditakuti sebegitu rupa hingga memberikan energi negatif yang dalam Islam dikatakan berburuk sangka pada Tuhan. 

Begitu pula kalau mimpi baik. Jangan dipastikan, supaya kalau tidak mendapatkannya, tidak menjadi kecewa. Terutama kalau berurusan dengan akhlak, misalnya sudah diterima Tuhan, sudah tinggi derajat dan seterusnya. Karena bisa saja tampilan itu dari syethan untuk mengibuli kita. 

Biasanya mimpi itu bisa dirasakan maknanya oleh si pemimpi tadi. Tetapi ingat, hal itu tidak pasti, dan hadapilah kedua jenis mimpinya dengan cara-cara di atas itu. 

Ada lagi megetahui mimpi lewat tafsir mimpi yang biasa atau ditulis oleh para ulama yang ahli dalam hal ini. Akan tetapi, tetap tidak boleh dipastikan. Karena hakikat mimpi, memiliki makna yang sesuai dengan keadaan masing-masing orang. Terutama kondisi batinnya. Jadi, bermimpi melihat api, bagi dua orang yang berbeda, bisa memiliki makna yang berbeda. 

Untuk tafsir mimpi yang dibukukan itu, bisa diambil contoh tafsir mimpinya Ibnu Syiriin. 

Setelah itu, mimpi itu bisa diketahui dengan kasyaf. Akan tetapi, walaupun ia sudah bisa dipastikan, tetap tidak bisa dipastikan. Karena bisa saja terjadi bada’ pada keputusan Tuhan yang disebabkan perubahan pada makhluk atau kebijakanNya. Bada’ adalah perubahan keputusanNya. Misalnya, ketika kita berdosa, maka keputusanNya terhadap kita adalah dosa dan siksa. Akan tetapi setelah Ia melihat kita bertaubat dan Ia menerimanya, maka keputusanNya tadi menjadi berubah hingga menjadi memaafkan kita dan memasukkan kita ke surga. 

Jadi, dengan apapun mimpi itu dijangkau maknanya, tetap pintu ikhtiar dan perubahan itu terbuka bagi kita. Hal itu karena Tuhan Maha Kasih dan Tidak Terburu-buru menyiksa manusia. Wassalam. 

Tika Chi Sakuradandelion dan 2 orang lainnya menyukai ini.


اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Lensa (Bgn 19) : Filsafat Penciptaan



Oleh : Ustad Sinar Agama 
Oleh Anggelia Sulqani Zahra pada 28 Juni 2011 pukul 19:24


Socrates Mautauaja : Ass.wr.wb. ustad Sinar saya ingin tanya, sering kali saya merenung kenapa saya diciptakan oleh Tuhan sehingga saya ada di dunia ini, padahal saya tidak meminta untuk diciptakan.

Sinar Agama: Salam dan terima kasih pertanyaannya:

Tuhan mencipta itu karena Ia Maha Kasih. Karena itu, apa saja yang bisa dicipta, apakah kebaikannya tidak dicampuri dengan efek samping atau dicampurinya secara tidak mayoritas, maka Ia pasti ciptakan. Karena kalau tidak dicipta berarti Ia kikir dan bakhil. 

Aresto membagi keberadaan terbatas itu pada 5 keadaan: 

1. Kebaikannya murni 

2. Kebaikannya mayoritas 

3. Kebaikannya sama dengan keburukannya 

4. Keburukannya mayoritas 

5. Keburukannya murni 

Bagi yang pertama, seyogyanya dicipta. Yang ke dua juga demikian, karena kalau tidak mencipta- kannya, berarti meninggalkan kebaikan yang lebih banyak. Dan meninggalkan kebaikan lebih banyak, demi keburukan yang lebih sedikit, adalah keburukan yang nyata. Sedang yang ke tiga, empat dan lima, sudah pasti tidak akan diciptakannya, karena berarti Tuhan melakukan keburukan. Dan hal itu, mustahil, karena pelaku keburukan disebabkan kekurangannya, seperti tidak tahu, lupa, lengah, sakit jiwa.... dan seterusnya. 

Yang bagian pertama itu, adalah wujud-wujud non materi. Karena mereka tidak terikat dengan ruang dan waktu, maka mereka tidak memiliki keburukan atau efek samping. Sedang yang ke dua, adalah alam materi ini. 

Sedang Anda, bukan Tuhan yang menghendaki keberadaannya, tetapi orang tua Anda. Dan Tuhan hanya merestuinya, karena itu Anda menjadi ada. 

Dengan demikian, kalau Anda mau protes, maka proteslah kepada kedua orang tua Anda yang telah mendekatkan sebab hakiki bagi badan Anda (mani dan ovum) yang, keberadaan badan Anda itu menjadi sebab (sebab potensi) bagi keberadaan ruh Anda. 

Irsavone Sabit : Mungkin ada pertanyaan selanjutnya SN, kenapa dilahirkan dari orang ini dan bukan orang yang itu.

Sinar Agama : Alam ini, walau terjadinya disebabkan oleh materi yang lainnya, seperti kita yang disebabkan mani-ovum, akan tetapi, karena akibatnya akibat itu juga akibat bagi sebab dari sebabnya, maka semua alam materi ini, adalah akibat dari Tuhan juga. Karena itu bisa dikatakan bahwa alam ini adalah ciptaanNya. 

Dan karena sebab hakiki itu adalah sebabnya para sebab, maka pencipta hakiki dari alam materi ini, adalah Tuhan Yang Maha Perkasa.

Irsavone Sabit : Bila dilahirkan dari orang itu, akidahnya baik serta kaya, kalau dilahirkan dari orang ini, buruk ahlaknya dan miskin. 

Akan tetapi, karena kita dari ikhtiar ayah bunda kita, maka penghendak pertama kedatangan kita, adalah ikhtiar orang tua kita, bukan Tuhan. Setelah itulah baru Tuhan dengan ijinNya, mengijinkan kita untuk ada dengan sistem yang telah dibuatNya dan telah dipilih oleh orang tua kita.

Sinar Agama : Irsavone: Jawabannya sama saja, karena ikhtiar orang tua kita. 

Walhasil, semua yang lahir ke dunia atau terjadi di dunia ini, kalau bersumber dari sebuah ikhtiar, maka ikhtiar itulah yang telah menyebabkannya, bukan Tuhan secara langsung. 

Misalnya, anak-anak manusia, banjir yang diakibatkan sampah manusia yang menyumbat saluran sungai, longsor yang diakibatkan ditumbangnya pohon-pohon penguat oleh manusia, penyakit- penyakit kelamin yang diakibatkan oleh pergaulan bebas manusia, dan seterusnya. Semua keberadaan itu, datangnya dari Tuhan tidak secara langsung dan tidak dikehendakiNya secara langsung. 

Jadi, yang menghendakinya langsung adalah yang memilih ikhtiarnya itu.

Irsavone Sabit : Dan pertanyaan kemudian, apakah setiap orang dimintai pertanggung jawaban dan beban yang sama atas tindakannya yang karena latar belakang mereka berbeda?

Sinar Agama : Sabit: Sungguh aku simpatik pada antum, karena Allah telah memberikan cara berfikir sistematis, setidaknya dalam hal ini. Dari awal saya perhatikan koment antum, rapi dan selangkah demi selangkah. Semoga Tuhan menyayangi kita semua dengan akal gamblang dan sistematis, biarlah harta dan semacamnya itu dimiliki penggebunya. 

Semua pertanyaan yang diajukan Tuhan kepada kita semua, adalah sama. Dalam arti akan dimintai tanggung jawab dan tidak ada toleransi di dalamnya. 

Jadi, semua fasilitas dan kondisi yang ada yang dicipta orang lain, itu hanya membuat kadar pertanggungjawabannya yang akan sedikit berbeda. Katakanlah kadar dosa dan pahalanya. 

Misalnya, kalau anak kiyai atau ulama atau ustadz, maka shalat dia hanya akan menghasilkan satu pahala saja yang sesuai dengan yang dijanjikan Tuhan. Karena bagi dia atau si anak ini, sejak kecil sudah dididik sedemikian rupa.

Akan tetapi, bagi anak orang kafir yang masuk Islam, atau anak perampok yang taat, atau anak penjudi yang taat, atau anak koruptor yang taat, maka pahala shalat dia tentu akan lebih tinggi dari pahala shalat anak kiyai di atas itu. 

Perbedaan pahala itu, karena perbedaan kondisi. Artinya, pahala lebih yang dimiliki oleh anaknya orang yang tidak taat itu (tapi anaknya taat), diperoleh dari hasil juang terhadap lingkungan yang dihadapinya. Karena itu, ia layak mendapatkan pahala ekstra. Beda dengan anak kiyai itu yang tidak memiliki unsur juang lingkungan yang memang karena lingkungannya sudah bagus. 

Akan tetapi sebaliknya. Kalau anak kiyai itu tidak shalat dan anak yang tidak taat itu juga tidak shalat, maka dosa yang akan didapat oleh keduanya akan berbeda pula. 

Yakni dosa anak kiyai melebihi dosa anak orang yang tidak taat itu. Hal itu karena lingkungannya yang diingkari pada anak kiyai telah menyebabkannya memiliki dosa ekstra. 

Dari penjelasan di atas, maka asal pahala dan dosanya, adalah sama. Nah, disinilah yang saya katakan bahwa semua orang akan menghadapi hisab dan perhitungan Tuhan yang sama nanti di akhirat. 

Sedang perbedaan lingkungannya, tidak menyapu tanggung jawab di atas itu. Dan dia hanya membedakan kadar dan jumlah pahala dan dosanya saja. 

Kalau antum ingin tahu secara lebih rinci dan mendasar, walau iapuan tetap tertulis dalam tulisan yang sangat ringkas, maka kunjungilah catataanku yang berjudul Poko-pokok dan Ringkasan Ajaran Syi’ah, bagian ke duanya. 

Wassalam. 

Tika Chi Sakuradandelion, Khommar Rudin dan 2 orang lainnya menyukai ini. 

Khommar Rudin: Allah humma shalli alla Muhammad wa alli Muhammad.


27 Mei 2012 pukul 23:39 · Suka



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Lensa (Bgn 18): Ruh Para Nabi, Wali



Oleh Ustad Sinar Agama 

Oleh Anggelia Sulqani Zahra pada 28 Juni 2011 pukul 19:22



Imam Ja’far shadiq as berkata :

“Pada para nabi dan para wali terdapat lima ruh, yaitu Ruh Badan (kehidupan), Ruh Kudus, Ruh kekuatan, Ruh Syahwat, Ruh Keimanan sementara pada kaum mukminin terdapat 4 Ruh yakni Ruh Badan, Ruh Syahwat, Ruh Kekuatan, Ruh Keimanan. Dan pada kaum kafir terdapat tiga Ruh yakni Ruh badan, Ruh Syahwat dan ruh kekuatan Ruh Keimanan menyertai jasad kaum mukminin selama jasad itu tak melakukan dosa besar, bila dosa besar dilakukan maka ruh Keimanan meninggalkan jasadnya. Sementara orang yang padanya menetap ruh Kudus tidak akan melakukan dosa besar untuk selama- lamanya.“ ( Biharul Anwar, jil.25 hal 53 )


Sinar Agama: Maksud hadits itu adalah ruh-ruh yang ada itu sebagiannya dari Tuhan tanpa melalui ikhtiar manusia, seperti ruh badan (artinya daya tambang), dan ruh kekuatan (daya nabati dan gerak ikhtiari) serta ruh akal yang berarti kemampuan berfikir.

Tetapi sebagian ruhnya, yakni sebagian daya ruhnya, ada yang dari Tuhan tetapi melalui ikhtiar dan usaha manusia, seperti ruh Qudus atau ruh suci itu.

Jadi, ruh itu hanya satu, akan tetapi memiliki berbagai daya yang fitrawi atau naturalis, ada yang timbul setelah baiknya ikhtiar dan usahanya seperti ruh Qudus atau kesucian itu.

Dan ruh qudus itu dicapai dengan ruh daya akal yang akal secara hakiki. Yakni mengetahui dengan benar dan diikuti dengan benar pula. Karena itu, sangat diwajibkan dalam Islam untuk berdalil dalam segala kepercayaan kita dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Kalau semua itu sudah dilakukan, maka ruh daya qudus itu akan dicapai semua orang. Yakni bukan hanya nabi dan wali.

Jadi hadits di atas itu, hanya berfungsi memberikan kabar kepada kita bahwa kalau sudah jadi nabi artinya sudah mencapai derajat kenabian itu dengan ikhtiarnya, maka ia pasti sudah mencapaikan ruh daya akal natulisnya itu ke maqam akal suci atau qudus karena kebenaran ilmu dan amalnya.

Karena itu, maka ruh ikhtiari itu, yakni ruh yang berdaya dengan daya yang dicapai dengan ikhtiari itu, seperti iman dan qudus, bisa hilang dan pergi sesuai dengan apa yang dilakukan oleh pembawanya.

Tentu saja, bagi yang sudah sampai ke tingkat sangat tinggi seperti kenabian, bukan kewalian, maka biasa sudah tidak akan jatuh lagi. Karena syethan sudah tidak menjangkau keinginan mereka hingga dapat menipunya.

Tetapi kalau sekedar ruh daya ikhtiari yang sampai ke tingkat wali, maka ia masih bisa berubah menjadi rendah kalau perbuatannya berubah menjadi rendah.

Sebaliknya juga, ruh yang berada di tingkat bawah, ia juga bisa naik dengan ilmu dan aplikasinya. Karena itu tidak ada jalan untuk putus asa dan bangga bagi kita semua.

Jab Gamal Gamal : Berapa daya fitrawi ruhnya imam??? Kenapa yang disebuti cuma nabi dan wali???

Sinar Agama : Entah pertanyaan mas Jab ini ke siapa? Saya akan menjawabnya bahwa penjelasan yang datang dari para nabi dan imam, tidak mesti mencakup segala dimensi. Karena bisa saja dijelaskan di tempat lain. Ayat-ayat Tuhan juga seperti itu. Karena itulah memahami sebuah ayat atau hadits, tidak bisa hanya dengan dirinya sendiri tanpa dikomperasikan dengan ayat-ayat dan hadits-hadits lainnya. Karena itu, maka dapat dikatakan bahwa ruh imam itu adalah ruh yang termasuk daya ikhtiari seperti nabi dan wali. Dan pangkat imam ini, karena ia merupakan maqam di atas maqam kenabian, maka sudah tentu ruhmya memiliki maqam lebih tinggi.

Namun demikian kelebihtinggiannya itu tidak mesti dengan nama lain dari qudus itu. Jadi ruh mereka adalah ruh suci dan qudus akan tetapi lebih tinggi dari maqam ruh kenabian.

Sudah tentu banyak sekali ruh nabi itu yang juga mencapi ruh imam ini. Seperti nabi Nabi Muhammad saww, atau nabi Ibrahim yang diangkat ke maqam imam ini setelah beliau sepuh (tua) dalam kenabian dan kerasulan.

Yang perlu diingat adalah bahwa semua ruh-ruh itu, yakni daya-daya itu adalah daya yang ada setelah ikhtiar. Maksudnya ruh kenabian dan keimamahan itu. Sebagaimana ruh wali juga demikian.



Wassalam.


Tika Chi Sakuradandelion dan 2 orang lainnya menyukai ini.



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ



Lensa (Bgn 17): Ritual Pemanggilan Ruh dan Sesajen



Oleh Ustad Sinar Agama 
Oleh Anggelia Sulqani Zahra pada 28 Juni 2011 pukul 19:20


Farel Abdl : Assalamu alaikum Ustad. Apakah kesenian kuda lumping itu perbuatan syirik mengingat memuja/memanggil arwah dengan memberikan sesajen dan memberi makan orang yang dirasuki setan kalap...

Sinar Agama : Salam dan terima kasih pertanyaannya:

Memanggil syethan, ruh, jin, malaikat dan manusia, semua itu adalah sama saja. Artinya tidak ada yang syirik. Akan tetapi kalau untuk disembah dan dituhankan, maka itu baru dikatakan syirik. Tetapi kalau hanya meminta bantuan, maka hal itu tidak syirik. Dan permasalahannya menjadi masalah fikih, bukan akidah.

Jadi, kalau memanggil syethan dan meminta tolong padanya, maka hal itu haram hukumnya, termasuk juga meminta tolong kepada ruh. Semuanya itu bisa terjadi, akan tetapi hukumnya haram.

Farel Abdl : Apa itu termasuk perbuatan dosa memberi sesajen membakar dupa dan bagaimana hukum orang yang kalap tersebut?

Sinar Agama : Kalau meminta tolong pada ruh sesuai dengan anjuran agama, yakni memintanya untuk mensyafaatinya, mendoakannya, maka hal itu tidak haram. Sudah tentu kelau memintanya kepada ruh pada nabi, imam dan wali serta orang-orang shalih.

Kalau memanggil malaikat dan meminta tolong untuk tujuan-tujuan dunia, seperti tenaga dalam dan sebagainya, ada ulama seperti imam Khumaini ra yang mengharamkannya.

Tetapi katanya ada yang menghalalkannya. Tentu saja kekuatan tenaga dalam atau batinnya itu atau supra naturalnya itu kalau digunakan kepada kebaikan.

Catatan: Kita tidak bisa seperti wahhabi yang menjual syirik dimana-mana. Syirik itu adalah menuhankan selain Tuhan atau menyembahnya. Tetapi kalau tidak sampai ke situ, maka biasanya tidak sampai ke tingkat syirik sekalipun terhukumi dengan haram. Wassalam.


Tika Chi Sakuradandelion, Khommar Rudin, Irsavone Sabit dan 27 lainnya menyukai ini.


Khommar Rudin: Allah humma sholli alla Muhammad wa alli Muhammad.

Juliant Very: Salam, udah lama ana agak bingung mengenai hal ini, dan kali ini keraguan itu hilang sudah! Ini adalah jawaban terlengkap & terkeren bagiku, syukron katsir!!

Siti Purwanti: Terima kasih atas penjelasan dari ustadz, akhirnya pertanyaan saya mengenai hal ini terjawab.

Razman Abdullah Chokrowinoto: Gimana untuk mnghubungi ustad Sinar Agama?

Sang Pencinta: Razman Abdullah Chokrowinoto, Bisa lewat inbox di sini. http://www.facebook.com/sinar.agama atau di page ustad. http://www.facebook.com/pages/Sinar-Agama/207119789401486

Razman Abdullah Chokrowinoto: Makasih Angelia..salam alaikum. 


13 November 2012 pukul 8:30 · Suka


اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Selasa, 21 Agustus 2018

Lensa (Bgn 16): Ke Ma’suman Para Nabi



Oleh Ustad Sinar Agama 

Oleh Anggelia Sulqani Zahra pada 28 Juni 2011 pukul 19:19


Bintang Ali: Salam Ustad, pengen bertanya soal kema’suman para nabi as dan nabi saww. “Wahai bani Adam, jangan sampai kalian difitnah oleh setan sebagaimana ia dapat mengeluarkan ayah ibumu (Adam dan Hawa) dari surga” (al araf:27). 

Bagaimana menjelaskan kemaksuman pada nabi adam as yang dikeluarkan dari surga karena kesalahannya? 

Lalu bagaimana menjelaskan kemaksuman pada nabi Musa as dalam ayat asyu’ara: 14, “sesung- guhnya aku mempunyai dosa kepada mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku”. 

Kemudian terhadap kisah nabi Musa as yang membunuh qibti, seseorg yang bertengkar dengan bani Israel. Dan karena perbuatannya itu (membunuh) maka nabi Musa kabur dan meninggalkan kota Mesir. Namun saya menemukan jawaban pada buku iman semesta bahwa nabi Musa melakukannya karena tidak sengaja. Padahal pada lembaran sebelumnya (dalam buku iman semesta) telah dijelaskan bahwa definisi kemaksuman adalah terjaga dari dosa dan salah (yang disengaja atau tidak)..mohon penjelasannya ustad.

Sinar Agama: Salam dan terima kasih pertanyaannya: 

Syethan sebelum menggoda nabi Adam as. sudah dikeluarkan dari surga. Karena itu bagaimana mungkin menggodanya di dalam surga? Nabi Adam as. juga dicipta dari tanah di bumi lalu bagaimana bisa di surga? 

Dalam penjelasan filsafat telah dijelaskan bahwa nabi Adam as. ada di bumi. Akan tetapi sebelum bangkit dari tidur pertamanya itu, beliau diperlihatkan tentang surga dan peristiwa sujudnya malaikat dan tidak sujudnya syaithan dan diusirnya syaithan dari surga, dan seterusnya. Semua itu demi pengajarannya sebagai manusia pertama di bumi. Artinya wahyu Tuhan yang berupa mimpi. 

Dalam filsafat juga dijelaskan bahwa manusia memiliki beberapa derajat dalam ruhnya, seperti nabati, hewani dan akli. Nabati mengatur pertumbuhan badannya, hewani mengatur gerak ikhtiari dan perasaannya serta akli mengatur pemikiran dan kedekatannya dengan Tuhan. Karena itu yang bisa masuk ke tingkatan surga dikala masih di dunia (masih hidup) adalah tingkatan akalnya. 

Karena itu maka dalam tidur nabi Adam as. itu, akalnya ada di surga dan hewani serta nabatinya ada di luar surga. Karena itulah maka nabi Adam as. diganggu Syethan dari arah hewaniahnya itu dimana ruh daya hewani inilah tempatnya hawa nafsu. 

Jadi, nabi Adam as. dibisiki syaithan dari luar surga yakni dari tingkatan ruh hewani nabi Adam as. Nabi Adam as. ketika sudah mulai hidup, walaupun masih dalam keadaan tidur, lama kelamaan akan merasakan lapar. Nah, lapar itulah yang diibaratkan dengan keputusan makan yang, dalam Qur'an dikatakan memakan buah khuldi, yakni keputusan makan. Karena nabi Adam as, sudah memutusi makan buah yang dilarang itu, maka ia pasti terbangun dari tidur pertamanya itu. Karena itu ia as. keluar dari surga. 

Yang perlu dicatat adalah, ketika nabi Adam makan buah dalam mimpi maka hal itu bukan dosa. Yang ke dua, ketika yang dimakan itu barang yang ada di surga, maka dapat diketahui bahwa larangan itu bukan larangan haram, tetapi anjuran saja (irsyaadii). 

Tambahan: Untuk lebih mengerti hal ini, maka pelajari tentang tiga alam dalam filsafat. Seingat saya, saya sudah membahas hal ini, tetapi belum ketemu dimana. Coba kunjungi tulisan saya yang berjudul Kedudukan Fantastis Imam. 

Tentang nabi Musa as: 

Dosa yang dimaksud beliau as. bukan dosa dalam syariat. Dosa yang dalam bahasa arabnya dikatakan Dzanbun itu asal maknanya adalah “buntut” alias “akibat”. Jadi, maksud nabi Musa as adalah bahwa beliau as. pernah membunuh salah satu dari musyrikin dan pengikut Fir’un dimana pasti berbuntut kepada penghukuman matinya beliau as. Yakni kalau datang lagi ke mereka, maka mereka akan menuntutnya dengan hukuman mati karena telah membunuh salah satu dari mereka. Jadi, dosa disini bukan dosa dalam syariat, tetapi dosa pada mereka para musyrikin dan musuh-musuh Tuhan itu. 

Sekarang apakah membunuh tentara Fir’un itu dosa dalam syariat apa tidak? 

Jawabannya jelas tidak dosa, terlebih dia yang terbunuh itu terlibat perkelahian dengan seorang mukmin. Jadi, perbuatan nabi Musa as itu bukan dosa sama sekali. Jangankan tidak sengaja, yakni dengan mendorongnya tapi jatuh dan mati, sengaja sekalipun tidak dosa di hadapan Tuhan. Namun demikian nabi Musa as. tetap mengatakan bahwa hal itu adalah perbuatan syethan. Hal itu, karena syethan tidak ingin melihat satu orang pun yang bisa masuk surga. Sementara para nabi, seperti nabi Musa as. adalah bertugas menyelamatkan dan menghidayahi semua manusia, termasuk musyrikin. 

Jadi, para nabi, biasanya tidak membunuh kecuali sangat terpaksa. Karena mereka bertugas menghidayahi musyrikin. Jadi, walaupun orang yang mati itu layak dibunuh, tetapi seandainya bisa dihindari maka dihindari supaya bisa menerima hidayah di lain waktu. Tetapi apa boleh buat, nabi Musa as.pun sudah berusaha untuk itu, yakni mendorongnya saja, tetapi orang itu jatuh dan mati.

Bintang Ali : Syukron ustad, dalam penjelasan tentang nabi adam as dikatakan karena keputusan makan dari nabi Adam maka beliau bangun dari tidurnya, artinya alam akalnya kembali ke dunia (keluar surga) untuk makan buah khuldi. Namun ustad juga menjelaskan bahwa tidak berdosa karena makan buah dalam mimpi adalah tidak dosa. Padahal nabi Adam sudah tidak dalam keadaan mimpi, mohon dijelaskn lagi ustad, afwan.

Sinar Agama : Arti yang antum berikan itu tidak benar, karena keputusan Dimensi akal nabi Adam as. itu adalah tetap dalam mimpi wahyunya. Kalau ingin lebih jelas, bisa dibaca catatanku yang berjudul “Peristiwa nabi Adam as dalam Pandangan Filsafat (hadiah kecil ied Ghadir Khum) 

Oleh Sinar Agama • 25 November 2010. Wassalam. 

Tika Chi Sakuradandelion, Bande Husein Kalisatti, Ammar Dalil Gisting dan 2 lainnya menyukai ini.  


اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ


Artikel terkait:

Peristiwa Nabi Adam as dalam Pandangan Filsafat (Hadiah Kecil Ied Ghadir Khum)