Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Akal satu. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Akal satu. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 April 2020

Tauhid (bgn 3) : Setiap Satu Sebab Melahirkan Satu Akibat


Oleh Ustad Sinar Agama http://www.facebook.com/groups/210570692321068/doc/?id=224761994235271 Oleh Anggelia Sulqani Zahra pada 28 Juli 2011 pukul 16:23


Muna Zahro: Setiap satu sebab menghasilkan satu akibat, tapi pada realitasnya kok beragam ya? Jadi bingung sungguh? Gimana penyebab satu menghasilkan hal yang beragam.

Kamis, 02 Agustus 2018

Wahdatu Al-Wujud (Bagian: 10)






Seri Tanya Jawab : Oman Picisan dan Ustad Sinar Agama Oleh Anggelia Sulqani Zahra 
by Sinar Agama (Notes) on Wednesday, January 26, 2011 at 7:13 am



Oman Picisan : Assalamu ’alaikum. Ustadz tolong jelasin maksud Amr dalam Innama amruhu idza arada Allah syai-an an yaquula lahu kun fayakun, apakah Amr di situ Khusus Amr-nya Allah ataukah manusia jua mampu memiliki amr tersebut? 

Sinar Agama : Bismillaah. Setidaknya ada dua macam makna yang saling bergesekan dan bersentuhan yang dapat diartikan dari Amr di ayat yang Anda tanyakan itu. Yang jelas amr di sini bermakna ”Urusan”, bukan perintah. Jadi, jamaknya adalah ”Umur”, bukan ”Awamir” yang berarti ”perintah-perintah”. 

Setelah kita tahu bahwa ”Amr” di sini adalah yang berjamak ”Umur” atau ”Urusan-urusan”, maka kita bisa meraba dua hal: 

1. Umur adalah Dimensi Keberhubungan dan Keterikatan serta Ketergantungan dan Kepencip- taan. Dimensi ini berhadapan dengan Dimensi ”Keterciptaan”. ”Keterprosesan”, ”Keterukuran” ”Keterjadian” dan ”Kemakhlukan”. Hal ini dapat diambil dari pahaman ayat QS:7:54 yang berbunyi -/+ : ”Sesungguhnya Tuhan kalian adalah Allah yang mencipta langit dan bumi dalam 6 hari yang kemudian Dia menempati ’arsy, Dia menutupi siang dengan malam yang mengikutinya dengan cepat, dan matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada Amru- Nya/UrusanNya. Ingatlah, sesungguhnya Penciptaan dan Pengurusan adalah hanya milikNya. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”. 

Dengan penjelasan ringkas di atas, dapat dipahami bahwa makhluk ini memiliki dua di- mensi, pertama kejadiannya atau keterciptaannya, ke dua dimensi kepengurusan dan keterhubungannya dengan Khaliknya. Ini makna pertama yang bisa kita raba atau mengerti dengan kata Urusan atau Amru di ayat tersebut. 

2. Amru-Umur adalah Non Materi. Makna ini juga berhadapan dengan Khalaqa. Kata ”Khalaqa” makna asalnya adalah ”Ketentuan”, ”Keterkadaran”, ”Keterukuran” dan”Ketakaran”. Karena, ”Keterkadaran” ini memiliki pengertian menambahkan sesuatu ke atas sesuatu, yakni menam- bahkan ukuran ke atas yang terukur, atau bahkan menambhakan sesuatu yang terlihat asing, seperti Darah ke atas Mani dan Daging ke atas Darah sebelum kemudian ditambahkannya Janin sebagai proses berikutnya, maka ”Khalaqa” ini memiliki makna ”Materi”. Sedang ”Amru” sebaliknya sebagaimana di ayat yang ditanyakan tersebut ”Sesungguhnya UrusanNya adalah, ketika Dia menginginkan sesuatu, maka berkatalah kepadanya ”Jadilah”, maka ”Jadilah” ia”. 

Dengan penjelasan ringkas ke dua ini, dapat dipahami bahwa penciptaan itu ada dua macam dan model. Pertama penciptaan yang melalui proses atau waktu (walupun secepat kilat dan sinar atau lebih cepat lagi), seperti langit-bumi dan isi keduanya serta dintara keduanya. Inilah yang dikenal dengan Alam Materi. Ke dua, penciptaan yang tidak melalui proses jadi, atau waktu. 

Makhluk- Makhluk ini dikenal dengan Non Materi atau Sekali Jadi atau Kun Fayakuni atau Kejadian Mendadak dan semacamnya. Oleh karena itu Alam Nasut atau Materi ini disebut Makhluk, sedang Alam Malakut dan Jabaruut atau Alam Barzakh dan Akal (bukan akal manusia) disebut dengan Alam Amr dan tidak disebut Makhluk atau Keterangkapan. Tambahan: Ruh manusia juga termasuk Non Materi. Karena ketika orang-orang bertanya kepada Rasul saww tentangnya, Allah mengatakan ”katakan bahwa Ruh itu adalah dari Urusan Tuhanku”. 

Sementara Allah sendiri menerangkan UrusanNya ini dalam ayat yang Anda tanyakan itu. Dengan penjelasan di atas, dapat diterapkan kepada pertanyaan Anda. Yaitu, apakah Amr itu hanya milik Allah atau juga selainNya? Jawabnya adalah, kalau makna pertama, yakni ketergantungan, keterikatan, kepengurusan, kepemilikan, keterhubungan, keterurusan dan semacamnya, maka dalam hal ini pastilah hanya Allah pemilikinya. 

Karena semua tergantung dan terurus olehNya. Sedang dengan makna ke dua, maka bukan hanya Allah yang non materi. Sebab makhluk-makhluk Akal (malaikat tinggi) dan Barzakh (malaikat di bawah yang tinggi itu) adalah juga wujud-wujud Non Materi. Tetapi dari sisi kepemilikan dan kepengurusannya tetap hanya milik Allah. 

Pelengkap

Karena makhluk Tuhan itu bertingkat, dari Akal-satu ke Akal-dua begitu serterusnya sampai ke Akal-akhir dan Akal-akhir ke Barzakh sebelum kemudian ke Alam Materi, maka kepengurusan Allah itu ada dua macam. Ada yang langsung, yakni manakala mengurusi Akal-satu. Dan ada yang tidak langsung, yaitu manakala mengurusi makhluk-makhluk dari Akal-dua sampai dengan Materi. 

Oleh karenanya ada perantara dalam KepengurusanNya itu. Dan Perantara ini, banyak sedikitnya, tergantung pada sejauh mana yang diurus tadi memiliki jarak kesempurnaan denganNya. Kalau berjarak satu, seperti Akal-dua, maka perantaranya hanya satu, yaitu akal-satu. Tetapi kalau banyak, seperti Materi, maka banyak pula perantaranya, mulai dari Akal-satu sampai dengan Barzakh. 

Oleh karenanya Malaikat Barzakh (barzakh yakni antara makhluk Akal dan alam materi) disebutNya dalam Qur'an sebagai ”Mudabbirati Amra” yakni ”Pengurus Segala Urusan” (QS: 79:5). Dengan penjelasan ini dapat dipahami bahwa ada makhluk yang hanya diurus Allah dan ada pula yang diurus oleh Allah tetapi melalui makhlukNya. Begitu pula ada makhluk yang di samping Diurus, dia juga Mengurus. 

Kemudian, yang Mengurus ini, ada yang Sederhana dalam arti tidak terlalu tinggi, dan ada pula yang tinggi seperti Akal-akal itu. Kemudian, karena manusia dicipta sedemikian rupa hingga bisa melampaui Akal-satu (dengan fanaa’ dan 3 perjalanan lainnya, lihat 4 perjalanan manusia dalam Wahdatul wujud 1-6), maka Insan Kamil, sudah pasti akan memandati Kepengurusan ini secara otomatis. 

Oleh karena itulah, sebenarnya hanya manusia Kamil inilah yang bisa menjadi ”Khalifatullah”. Yakni ”Mengurusi Semua Makhluk”. Karena dengan memanjangnya Jati Diri Manusia Kamil, dari Materi sampai ke Akal-satu, maka ia akan menjadi KhalifahNya dan WakilNya serta TanganNya dalam mengurusi semua makhluk secara langsung. 

Tingkatan Barzakhnya manusia Kamil ini akan mengurusi Malaikat Barzakh dan tingkatan Akal- nya akan mengurusi malaikat Akal/tinggi (QS: 38:75). Sementara seperti Akal-satu, hanya bisa mengurusi Akal-dua, Akal-dua hanya mengurusi Akal-tiga dan seterusnya. 

Jadi, semua makhluk hanya bisa mengurusi satu tingkat di bawahnya, tetapi kalau Manusia Kamil dapat mengurusi semua makhluk dalam semua tingkatannya. Inilah Maqam Khalifatullah yang semua malaikat menginginkannya dengan mengajukan diri mereka dengan berkata ”Sementara Kami Selalu Memujamu Dan Mensucikanmu”. Yakni mengapa Kamu akan jadikan Khalifahmu itu dari manusia yang akan membuat kerusakan dan saling bunuh, sementara kamilah yang lebih cocok karena kami selalu mensucikan dan memujaMu, yakni kami lebih cocok untuk menjadi Khalifahmu Karena Kami Selalu Taat Kepadamu. Dan Allah pun tidak menerangkan kepada mereka sebab tidak dipilihnya malaikat jadi KhalifahNya itu, dengan sebab-sebab tertentu, dan hanya mengatakan bahwa ”Aku tahu apa-apa yang kalian tidak tahu”. Salah satu sebabnya adalah yang sudah diterangkan itu, bahwa malaikat hanya bisa mengatur satu tingkatan makhluk yang ada dibawahnya saja. 

Tentu, malaikat juga tidak bisa mengurusi malaikat atau makhluk yang ada di atasnya. Tetapi manusia, sekalipun dari tanah, tetapi dengan ruhnya, ia bisa mengoptimalkan safar dan pelanglangan kesempurnaannya sampai ke tingkat Akal-satu, hingga ruhnya menalari semua derajat-derajat itu dan kemudia mengurusinya dengan ijin dan perintahNya. 

Dan Maqam Kepengurusan Secara Otomatis Itulah Yang Dikatakan Maqam Wilayah Atau Kekuasaan Atau Kepengurusan, sementara kalau dibarengi dengan pangkat sosialnya akan menjadi RASUL, NABI atau IMAM. Tetapi bisa saja tidak dibarengi dengan pangkat sosialnya, sekalipun tetap memiliki ke-wilayahannya. 

Sekian. Terima kasih. Al-fatihah- sholawat. Wassalam. 

In this note: Sinar Agama, Haerul Fikri, Gusti Zulkifli Halim 

Bande Huseini dan 15 orang lainnya menyukai ini. 

Hafiz Pewee: Hmmm..




اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Sabtu, 25 Juli 2020

Akal Konvensional dan Akal Universal ??!!!


Seri tanya-jawab: Dedy Hadi dan Sinar Agama http://www.facebook.com/groups/210570692321068/doc/250778364966967/ by Sinar Agama (Notes) on Friday, September 16, 2011 at 9:49pm


Dedy Hadi: Apa bedanya akal konvensional dengan akal universal ?

Al Louna dan Paidi Bergitar menyukai ini.

Selasa, 31 Juli 2018

Wahdatul Al-Wujud (Bagian: 4)





Seri Tanya – Jawab: Anggelia Sulqani Zahra, Haerul Fikri dan Sinar Agama 
by Sinar Agama (Notes) on Tuesday, December 14, 2010 at 8:57 pm



"Anggelia Sulqani Zahra” Haerul Fikri dan Ustad’ Sinar Agama


Anggelia Sulqani Zahra : Assalamu‘alaikum..Ustad. Mohon Dijelaskan Tentang Kitab Lauhmahfud dan Pandangan Mulla Shadra tentang Konsep Empat Tahapan Perjalanan Manusia (Dalam Kajian Filsafat dan Irfan). 

Haerul Fikri : Bisakah ustad menguraikan tingkatan-tingkatan wujud dalam keber”ada”annya, sebagimana yang dimaksud Mulla Shadra?, Apakah tingkatan-tingkatan wujud tersebut bersifat kekal sejak adanya atau mengalami evolusi, perubahan, perombakan, atau bahkan pemusnahan? Apakah alam materi yang sekarang ini merupakan alam materi pertama.. Lalu, apakah ada penciptaan makhluk dialam materi setelah hari pembalasan? 

Sinar Agama : Bismillaah.

Mukaddimah 

1. Dua pertanyaanmu ini juga berhubungan dengan satu pertanyaan dari Heirul Fikri yang menanyakan tentang Gradasi Wujud, tetapi yang ia maksudkan Gradasi keberadaan, yakni bentangan wujud ini yang dimulai dari Sang Pencipta sampai dengan Alam Materi. 

2. Untuk menjelaskan Lauhu al-Mahfuzh dan 4 Perjalanan Irfan/Sufi-sungguhan, perlu kepada Penjelasan Tentang Bentangan Wujud yang ditanyakan oleh mas Heirul Fikri itu. Oleh karenanya saya akan mengurainya terlebih dahulu. 

3. Jadikanlah jawabanku ini sebagai bahasan Wahdatulwujud ke 4. Oleh karenanya saya harapkan dari teman-teman yang tertarik dengan bahasan ini, usahakan untuk membaca WAHDATUL WUJUD bag 1-3. 

4. Karena saya sudah menjelaskan se-jelas-jelasnya tentang wahdatulwujud itu, walau tetap global, dan bedanya dengan filsafat, maka saya mungkin tidak akan lagi menjelaskan hal-hal yang mengenai keduanya di dalam tulisan ini. 

5. Semua dalil terhadap setiap pernyataan yang pelik sekalipun, harus memiliki pondasi atau dalil dari Ilmu-Mudah, yakni yang tidak perlu dipikir karena mudahnya (jelas, gamblang bagi setiap orang), sebagaimana sudah dijelaskan di Wahdatul Wujud bag 3 yang saya tulis dalam komentar. Yaitu ketika mempertemukan akal dan Qur'an dan jalan keluarnya 

Maksudnya saya mengharap bahwa peminat sendirilah yang harus bisa membedakan bahasa mana yang bernafas filsafat dan tulisan mana yang bernafas irfan. Jadi, kalau memang minat, usahakan konsen dan kalau perlu wudhu dulu. 

Pembahasan Pertama Tentang Pembuktian Wujud Tuhan: 

Dalam bahasan ini saya tidak akan menjelasakannya secara rinci, karena ianya pembahasan Tauhid (saya sudah menulis dalam tajuk Pokok-pokok Ajaran Syi’ah, yang akan segera selesai in syaa-a Allah). Tetapi karena Hakikat Tuhan diperlukan di sini, maka harus dibahas walau secara ringkas. 

Diri kita, pohon, batu, bumi, angin, air, binatang, bintang gemintang dan seterusnya adalah wujud- wujud terbatas. Artinya dibatasi dengan esensi dan eksistensi. 

Karena masing-masing esensi dan eksistensi mereka bukan yang lainnya dan karena alam ini merupakan gabungan dari mereka-mereka itu, yakni gabungan yang terbatas itu, maka alam ini juga pasti terbatas. Karena gabungan keterbatasan hasilnya juga pasti keterbatasan pula, walaupun lebih luas. Tetapi tetap tidak akan keluar dari keterbatasan menjadi tidak terbatas. Nah, ketika kita dan alam ini terbatas, secara pasti memiliki batasan. 

Katakanlah ujung pangkal atau awal dan akhir. Kalau demikian halnya, maka pastilah alam ini, sebelum awalnya, ia tidak ada. Begitu pula setelah akhirnya. Dan kalau alam ini sebelum awalnya tidak ada, lalu setelah awal itu ia menjadi ada, maka pastilah ia diadakan. Karena ”yang tak ada” tak mungkin ”Terjadi” hingga dikatakan ”Alam Terjadi dengan Sendirinya”. Atau begitu pula ”yang tak ada” tak mungkin ”Menjadikan” hingga dikatakan ”Ia Menjadikan Dirinya sendiri”. Atau bahkan ”yang tak ada” tak mungkin ”Dijadikan” hingga dikatakan bahwa ”Alam Ini Dijadikan oleh Penjadi dari Tiada”. 

Ketidakmungkinan tiga hal itu, yakni ”Terjadi:, Menjadikan dan Dijadikan”, tidak lain karena ”Tiada” adalah ”Tiada” dimana jelas tidak bisa menjadi obyek atau subyek, yakni tidak bisa jadi pemberi dan/atau pelaku. Karena, tidak ada. 

Mungkin ada yang bertanya, apa mungkin Tuhanpun tidak bisa menjadikan ”Tiada” sebagai obyek dalam penciptaannya?. Jawabannya ”Tetap tidak bisa”. Dan yang tidak bisa itu sebenarnya bukan Tuhannya, tetapi ”Tiadanya” itu. Yakni karena ”Tiada” itu adalah ”Tiada” sedangkan ”Obyek pemberi” adalah ”Ada”.. 

Dengan demikian sebenarnya yang salah adalah pertanyaannya yang menanyakan ”Apa Bisa Tiada itu Dijadikan Makhluk Oleh Tuhan?”. Karena dalam pertanyaan ini jelas sekali mengandungi kontradiksi yang nyata. Yakni antara ”Tiada” dan ”Dijadikan atau Dicipta”. 

Dengan bahasa lain, ”Tiada” memiliki ”Zat Ketiadaan”, yaitu ”Tiada” itu, hingga kalau dia keluar darinya maka ia bukan lagi ”Tiada”, tetapi sudah menjadi ”Ada”. Jadi, ”Tiada” itu secara zati tidak bisa keluar dari ketiadaan. Dan kita tahu bahwa setiap zat sesuatu, maka tidak bisa ditinggalkannya. Seperti kalau manusia keluar dari kebendaan, keberkembangan, kebergerakan dengan ikhtiar dan kerasionalan, maka ia bukan lagi manusia. 

Mungkin Anda bertanya ”Kalau Tiada itu Tiada, mengapa ia bisa memiliki zat dan tidak bisa keluar dari zatnya, bukankah Memiliki itu tandanya ada?”

Jawab: Esensi atau hakikat sesuatu itu, tidak mesti ada. Hakikat sesuatu, bisa dipahamakaan dalam akal kita. Seperti Gunung Emas. Kita bisa memahami esensi Gunung Emas, sekalipun ia tidak pernah wujud dan eksis.

Jadi, batasan sesuatu dan sesuatu itu sendiri, bisa berupa wujud akal dan pahaman saja. Bisa juga pahaman dan eksistensi. Bisa juga pahaman dulu baru eksistensi. Seperti Ilmu Tuhan terhadap esensi setiap makhluk sebelum menciptakan makhluk. Atau seperti Ilmu dokter tentang operasi yang akan dilakuannya kemudian. 


Jadi, batasan sesuatu dan sesuatu itu sendiri, bisa berupa wujud akal dan pahaman saja. Bisa juga pahaman dan eksistensi. Bisa juga pahaman dulu baru eksistensi. 

Seperti Ilmu Tuhan terhadap esensi setiap makhluk sebelum menciptakan makhluk. Atau seperti Ilmu dokter tentang operasi yang akan dilakuannya kemudian. 

Banyak sekali sesuatu atau esensi yang kita pahami hakikatnya, tetapi tidak ada wujudnya di alam nyata. Seperti ”Tiada”, ”Sekutu Tuhan”, ”Ayah Tuhan”, ”Anak Tuhan”, ”tuhan yang dicipta”, ”Makhluk yang mengalahkan Khalik”, Ayah Nabi Isa”, ”Bumi Emas”, ”Masuknya Bumi ke Telur tanpa merubah keduanya”, dan seterusnya. Semua itu dapat kita pahami, tetapi tidak ada wujudnya. Artinya mereka itu hanya ada di dalam akal hingga dalam filsafat disebut dengan ”Keberadaan Akal Belaka”. 

Dan bukti keberadaan akalnya itu adalah bahwa kita saling berkomunikasi tentang mereka itu, dan menolaknya. Misalnya kita berkata ”Ayah Tuhan itu tidak ada”, ”Ayah Nabi Isa itu tidak ada”, dan seterusnya. 

Dengan uraian ini dapat diyakini dengan ilmu mudah bahwa ”Tiada” tidak mungkin menjadi subyek pelaku seperti ”Terjadi dan Menjadikan” dan juga tidak pula bisa menjadi obyek pelaku ”Dijadikan”. 

Kembali ke masalah kita. Sampai di sini, kita sudah tahu bahwa alam ini terbatas, dan karenanya ia diadakan oleh yang lain, karena ia tidak bisa menjadi subyek pelaku terhadap dirinya sendiri, dan begitu pula ia diadakan dari ”Keberadaan”, bukan dari ”Ketiadaan”. 

Selanjutnya. Ketika alam ini diadakan/diciptakan oleh yang wujud lain, maka kalau wujud lain itu terbatas pula, sudah pasti sang pengada ini juga diadakan oleh yang lain dengan alasan yang sama. dan kalau pengadanya pengada itu juga terbatas, maka sudah pasti juga diadakan oleh yang lain pula dengan alasan yang sama. Begitu seterusnya. Sekarang tinggal dua pilihan, apakah semua pengada-pengada itu terbatas semua atau ada yang tidak terbatas? 

Kalau kita pilih bahwa semua pengada-pengada itu terbatas semuanya, berarti semuanya pernah tiada. Nah, kalau semuanya pernah tiada, terus dari mana keberadaan kita dan alam ini? 

Karena kalau semuanya tiada, berati tiada yang bisa mengadakan ”ada” karena yang tak punya tak mungkin memberi, dan karena ”Tiada” tidak bisa menjadi ”pelaku”, apalagi terhadap ”ada”. 

Dengan demikian maka sudah pasti dan dengan dalil yang gamblang, kita katakan bahwa pengada-pengada itu harus berhenti pada ”Pengada Yang Tidak Terbatas”. dan ”Pengada Yang Tidak Terbatas” inilah yang kita katakan ”Tuhan”. Karena salah satu makna Tuhan adalah ”Tidak Dicipta”, ”Tidak Bermula”. 

Dengan demikian maka kita sudah mendapatkan apa yang dikatakan sebagai Tuhan yang, memiliki Zat Tidak Terbatas. 

Banyak hal yang dapat ditarik pahaman dari ”Ketidak TerbatasanNya” ini, tetapi karena takut kepanjangan maka kita teruskan saja kepada inti pembahasan kita. Salah satu yang berkenaan dengan bahasan kita, adalah bahwa kalau kita sudah tahu bahwa Tuhan itu Tidak Terbatas, berarti tidak mungkin ada duaNya. Karena kalau ada duaNya, berarti ke-dua-duanya akan menjadi terbatas, karena masing-masing keduanya akan menjadi pembatas bagi yang lainnya. 

Yang terpenting dari kekonsekwenan dari Ketidak TerbatasanNya di sini adalah, ”Ketidak Berang- kapanNya”. Yakni, kalau Dia Tidak Terbatas, maka sudah pasti ”Tidak Mungkin Terangkap”. 

Karena, kalau terangkap, berarti masing-masing rangkapannya terbatas, karena masing-masingnya membatasi yang lainnya. Dan kalau masing-masing rangkapannya terbatas, berarti gabungannya dimana di sini adalah Tuhan, juga akan terbatas, karena gabungan keterbatasan adalah keterbatasan pula (sekalipun lebih luas). 

Dengan semua penjelasan-penjelasan di atas, maka Pembahasan Pertama, yakni Tentang Pem- buktian Wujud Tuhan sudah dapat disimpulkan dengan mudah. Bahwasannya Tuhan itu ”Ada”, ”Tidak Terbatas”, ”Satu” dan ”Tidak Terangkap”. 

Pembahasan Ke Dua Tentang Pengadaan/Penciptaan Tuhan

Dalam pembahasan ini kita akan berusaha menguak dengan dalil-gamblang terhadap ada dan macam-macamnya makhluk. 

Modal utamanya adalah ”Ketidak Berangkapan Tuhan” sebagaimana telah dibuktikan dalam Pembahasan Pertama. Namun, sebelum itu, kita akan melihat sekelumit saja tentang aturan ”Sebab-Akibat”. Salah satu peraturan dan kaidah penting dalam sebab-akibat, adalah keharusan adanya ”Kemiripan” atau ”Kesenafasan” atau ”Keterhubungan” atau ”Kesejenisan” antara sebab dan akibatnya. 

Artinya antara keduanya tidak boleh asing sama sekali. Maka dari itu selalu buah padi menumbuhkan pohon padi, manusia melahirkan manusia, kucing melahirkan kucing.... dan seterusnya. 

Kita tidak pernah menemukan dan tidak akan pernah menemukannya, bahwa biji padi menumbuhkan pohon kelapa atau durian, atau lebih parah lagi mengeluarkan binatang. Begitu pula sebaliknya. 

Semua itu, tidak lain, karena adanya atau keharusan adanya kesenafasan antara sebab dan akibatnya. Nah, sekarang bagaimana dengan Tuhan ketika akan mencipta (”Ketika ini bahasa pinjaman karena sebelum dicipta waktu maka tidak ada ”ketika”). 

Pertanyaan itu sebenarnya berfokus pada, bisakah alam yang banyak ini tercipta langsung dari Tuhan tanpa perantara? Kalau dijawab bisa berarti Tuhan memiliki banyak sekali rangkapan, yakni sebanyak makhluk yang diciptakanNya. 

Karena, dengan adanya keharusan adanya kesenafasan antara sebab dan akibatnya, maka setiap makhluk Tuhan menuntut adanya kesenafasan itu. Dan kalau itu terjadi, berarti dalam Diri Tuhan terdapat nafas-nafas yang banyak dan berwarna-warni atau bermacam-macam. Dan kalau dalam Diri Tuhan terjadi mecam-macam itu, maka berarti masing-masing macamnya membatasi yang lainnya, dan berarti Tuhan merupakan rangkapan dari macam-macam yang terbatas tadi. Dan kalau demikian, berarti Tuhan akan menjadi terbatas dimana sudah pasti makhluk, bukan Tuhan. 

Contoh: Kalau Tuhan mencipta manusia dan kucing secara langsung, berarti dalam diri Tuhan ada dua kuasa yang berbeda. Hal itu karena keharusan adanya kesenafasan antara sebab dan akibatnya. Kuasa Tuhan terhadap Penciptaan Manusia, tidak mungkin dijadikan AlatNya untuk mencipta Kucing. 

Dengan demikian berarti dalam Diri Tuhan ada Dua Kuasa yang berbeda, yaitu Kuasa Mencipta Manusia dan Kuasa Mencipta Kucing. Dan kalau dalam DiriNya ada dua kuasa saja, apa lagi kalau banyak dan ber-juta-juta, maka sudah pasti KuasaNya terangkap dari Dua Kuasa atau Banyak Kuasa, dan kalau KuasaNya memiliki rangkapan dua atau banyak itu, berarti Kuasanya terangkap dari Kuasa-kuasa yang terbatas, karena masing-masingnya membatasi yang lainnya sebagaimana makalauum, dan kalau Kuasa Tuhan rangkapan dari Kuasa-kuasa yang terbatas, maka hasilnya juga akan menjadi terbatas. 

Karena gabungan keterbatasan juga keterbatasan, walaupun lebih luas. Dan kalau Kuasa Tuhan menjadi terbatas, berarti memiliki awal dan akhir, dan kalau memiliki awal, berarti sebelum awal itu Kuasa itu tidak ada, alias Tidak Kuasa. dan kalau Tuhan Tidak Kuasa, berarti Dia Terbatas yang, berarti bukan Tuhan lagi karena pasti Kuasa dan DiriNya itu diadakan oleh yang lainnya. 

Dengan penjelasan ini, dapat disimpulkan dengan mudah bahwa sangatlah mustahil makhluk yang banyak ini dicipta langsung olehNya. Tetapi ingat, ini bukan berarti ”Ketidak BisaanNya”, tetapi karena ”Ketidak Mungkinan Wujud Rangkap dan Banyak Menyentuh DiriNya yang Maha Tidak Terangkap” itu. Persis seperti ”Tidak Bisanya Diciptakan Tiada” di atas. 

Dengan warna bahasa agama, kita mengatakan ”Tuhan Maha Suci dari Segala Macam Kekurangan dan Keterbatasan dan dari Kebersentuhan atau KebernafasanNya dengan Wujud Hina alias Terangkap” 

Dengan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ciptaan Tuhan yang pertama haruslah mende- katiNya, setidaknya lebih dekat dari yang lainnya, atau harus dekat dan mirip sejauh yang memungkinkan bagi makhlukNya. 

Tetapi ingat, karena jarak antara makhluk atau ”Yang Terbatas” dengan ”Yang Tidak Terbatas” itu dijaraki dengan ”Batasan” dan ”Ketidak Terbatasan”, maka sudah pasti, jaraknya juga ”Tidak Terbatas”. Oleh karenanya, walau kita katakan bahwa makhluk pertama ini mirip dan dekat dengan Tuhan, itu sekedar perbandingan dengan makhluk-makhluk lain yang akan datang kemudian, bukan hakikat dekat dan mirip. 

Dengan demikian, maka kita dapat pastikan, bahwa makhluk pertama ini mendekati kesempurnaanNya (ingat ya.... ini bukan dekat betulan, tetapi sejauh yang memungkinkan bagi makhluk). 

Oleh karenanya, maka makhluk pertama ini adalah non materi mutlak juga, tidak memiliki rangkapan juga, dan hampir tidak memiliki batasan juga selain bahwa dia Bukan Tuhan. Tetapi keberlainannya dari Yang Tidak Terbatas itu, maka ia pasti Terbatas juga dan sudah tentu jaraknya denganNya juga Tidak Terbatas, karena Dia Tidak Terbatas. Kalau makhluk lain, selain memiliki batasan ”SelainTuhan”, juga pasti memiliki banyak batasannya, misalnya malaikat Jibril . 

Dengan demikian makhluk pertama Tuhan adalah makhluk yang paling afdhal dan paling tinggi dari makhluk lain kepadanya. Dan ingat, bahwa paling dekat di sini bukan berarti tempat, karena belum dicipta tempat karena tempat/volume milik materi yang sangat berangkap yang tidak mungkin keluar dariNya secara langsung. Tetapi dekat dalam artian Maqam Zat atau Wujud yang dimilikinya. Yaitu Non Materi Mutlak, Tidak Berangkap dalam Nyata dan Ketidak Terbatasannya hanyalah bahwa dia bukan Tuhan, itu saja. 

Jadi, makhluk pertama ini sangat hebat kalau dibanding dengan yang lainnya, tetapi tetap sangat rendah kalau dibanding denganNya, karena Ketidak TerbatasanNya itu. 

Tadi dikatakan bahwa makhluk pertama ini ”Tidak Berangkap dalam Nyata”. Maksudnya adalah tidak memiliki rangkapan dalam hakikat nyatanya, karena kalau memilikinya akan membuat Tuhan yang menciptakannya juga akan menjadi terangkap sebagaimana maklum, tetapi dia memiliki rangkapan itu dalam akal kita sebagai ilmu, yaitu bahwasannya dia terangkap dari ”Dirinya adalah dirinya” dan ”Dirinya bukanlah Tuhannya”. 

Nah, dari sinilah muncul makhluk ke dua, dari ke dua muncul ke tiga dan seterusnya, hingga mencapai ”Non Materi Mutlak Terakhir”. 

Dalam Filsafat, Non Materi Mutlak Pertama itu disebut sebagai Akal-Pertama, begitu seterusnya sampa pada Akal-Terakhir. Dan dalam agama dikatakan sebagai Malaikat-Tinggi (’Aaliin lht QS:38:75) 

Dalam Filsafat, Irfan dan Akhlak juga disebut dengan Jabaruut. Yaitu Non Materi Mutlak yang tidak memiliki matter/bendawiyah dan juga tidak memiliki sifat-sifat lainnya materi. Karena jasmaniah dan sifat-sifat lain dari materi itu adalah suatu kerendahan dikarenakan mereka adalah ”Keberangkapan Nyata”. 

Maaf ada gangguan signal/sinyal, bagus karena tidak ada yang masuk sebelum roger. Kita terusin lagi, 

Bismillaah

Nah, silsilah wujud itu kini sudah mencapai kepada Akal-Terakhir, dimana rangkapan akal auliahnya, bukan nyatanya, sudah mendekati kepada makhluk atau wujud setelahnya. Secara profesional filosofinya, memanglah makhluk Akal dan makhluk setelahnya (selain materi), tidak disebut makhluk, karena makhluk sama dengan ”Bentukan” atau ”Kadaran/Takaran/Ukuran”.dan disebut dengan Amrun/Urusan/Kunfayakun/Sekal-ijadi, tetapi karena tidak terlalu menyangkut masalah kita sekarang, maka kita tinggalkan saja dulu (masalah penamaan ini, dan cukup diketahui bahwa semua non materi disebut sekali-jadi karena tidak memerlukan proses waktu. 

Jadi, dalam tulisan saya tentang Akal dan setelahnya itu (tetapi sebelum sampai materi), mungkin akan sering ditulis sebagai Makhluk, anggap saja maksudnya adalah ciptaan secara umum. Hal ini untuk memudahkan pemahaman saja. 

Setelah silsilah wujud itu sudah sampai pada Non Materi Mutlak Terakhir, maka barulah lahir makhluk lain yang juga non materi, tetapi tidak mutlak. Makhluk inilah yang dikatakan sebagai Makhluk-Barzakh/Antara/Idea/Mitsal/Malakut. Hakikat makhluk ini adalah Non Materi Yang Tidak Mutlak. Artinya, Non Matter/materi dalam ke-Matter-annya saja, yakni Ketidak Bendawiyahannya saja, atau Ketidak Volumean Dirinya saja, atau Ketidak Panjangan, Lebaran dan Tebalan Dirinya saja. Tetapi sifat-sifat lainnya (atau aksidentnya), seperti warna, rasa, bentuk dimiliki olehnya. 

Oleh karenanyalah mereka dikatakan sebagai Non Materi Yang Tidak Mutlak. Hal itu dikarenakan oleh kepemilikannya terhadap sifat-sifat materi tersebut. Pewujudan dari makhluk ini, sering kita dalam alam mimpi atau dalam renungan kita manakala kita membayangkannya, seperti membayangkan ular, kucing, begitu pula kala kita memimpikannya, membayangkannya, seperti membayangkan ular, kucing dan sebagainya. Begitu pula kala kita memimpikannya. Semua ciri materi, ada pada bayangan akal atau mimpi, kecuali ke-matter-an atau kejasmaniahannya. Wujud Barzakh itu juga demikian. 

Mereka itu dalam agama disebut dengan Malaikat-Pengatur-Alam-Materi, seperti dinyatakan dalam QS: 79:5, yakni mengatur pohon, air, hujan, binatang , dan dalam agama lain seperti Hindu dikenal sebagai Dewa-dewa, dan dalam Filsafat disebut sebagai tuhan-spesies. 

Tugas dari tuhan-Species/spesies ini adalah melahirkan/mewujudkan species-species atau esensi- esensi materi dan mengaturnya dengan ijin dan perintah Allah melalui Akal-Satu yang diteruskan kepada Akal-akal yang lain sampai ke Akal-Terakhir. Jadi, yang memerintah langsung Malaikat- malaikat Pengatur Alam Semesta ini adalah Akal-Terakhir . 

Kalau pembaca teliti maka ada beda yang mencolok antara kedua jenis makhluk, yakni Akal dan Barzakh selain dari beda jati diri sebagaimana sudah diterangkan di atas. Yaitu, pada makhluk jenis Akal, masing-masing derajat wujudnya hanya dimiliki oleh satu Akal. Yakni, satu posisi dan maqam satu wujud makhluk Akal. Tetapi dalam makhluk Barzakh, dalam satu maqamnya ini, memiliki banyak makhluk atau banyak Malaikat/Barzakh. Karena alam atau tingkatan Barzakh ini dipenuhi oleh para malaikat yang mengatur segala macam esensi atau speciess yang ada di alam materi dengan ijin dan perintahNya. 

Dengan demikian, keberadaan ”jumlah” atau ”Banyak” (lebih dari satu esensi), dimulai alam atau makhluk Barzakh ini, sekalipun belum berupa ”Jumlah Volume/matter”. 

Tetapi keberbedaan masing-masingnya dan saling membatasinya, sudah terwujud di tingkatan ini. Mereka ini memiliki rangkapan dan sifat-sifat paling dekat dengan materi, yakni paling mirip dengan materi ketimbang makhluk-makhluk Akal. Oleh karenanya sudah layak dan pantaslah kalau alam materi ini keluar atau terlahir dari pada mereka itu, karena beda mereka dengan alam materi hanya di kebendaannya. Maka dari itu mereka bisa dikatakan setingkat di atas materi. 

Maka dengan demikian mereka layak dan wajar melahirkan alam materi ini. Artinya antara mereka dan alam materi ini memiliki kesenafasan dan dan kemiripan sebagaimana dituntut dalam syarat- syarat sebab-akibat sebagaimana telah dijelaskan di atas. Dan, dengan terlahirnya makhluk- makhluk Barzakh ini, maka terlahirlah alam materi. Dengan demikian kita telah mengetahui bahwa makhluk memiliki tiga tingkatan global, Akal, Barzakh dan Materi (Jabaruut, Malakut dan Nasut). Atau Non Materi Mutlak, Non Materi Tidak Mutlak dan Materi. Dan ketiganya disebut dengan ”Alam Besar”. 

Sampai di sini pertanyaan saudara Haerul fikri sudah terjawab. Yakni tentang susunan Alam/ Wujud. 

Pembahasan Ke Tiga, Tentang Lauhu al-Mahfuzh

Sebenarnya, seingat saya, saya sudah menulisnya di Kedudukan Fantastis Imam. Tetapi untuk mengingatkan, saya akan memberikan isyarat di sini in syaaAllah. 

Dengan penjelasan terdahulu, dapat dipahami bahwa Wujud, terbentang sejak dari yang tidak memiliki sejak, awal dan akhir, yakni Yang Tidak Terbatas, sampai pada wujad materi. Dari Tuhan ke Akal-Satu, ke Akal-Dua dan seterusnya sampai ke Akal-Akhir, ada yang mengatakan bahwa mereka berjumlah 10 tingkatan Akal (tetapi tidak kuat dalilnya), lalu dari Akal-Terakhir ke Barzakh dan kemudian dari Barzakh ke Materi. 

Dan karena setiap sebab memiliki kesempurnaan akibatnya secara lebih (karena sebab pasti lebih sempurna), maka makhluk Barzakh memiliki kesempurnaan Materi, dan Akal-Akhir memiliki kesempurnaan Barzakh dan Materi, Akal-Sebelum-Akhir memiliki kesempurnaa yang dibawahnya. Begitu seterusnya ke atas sampai kepada Allah. 

Tetapi kesempurnaan yang dimiliki sebab, sudah tentu lebih baik dari yang dimiliki akibat. Oleh karenanya semakin ke atas atau ke sebab, maka semakin berkurang rangkapannya. Dan kekurangan rangkapan ini menjadikannya, lebih sempurna karena lebih sedikit keterikatannya, yaitu pada masing-masing rangkapannya tersebut, atau semakin me-non-materi, maka kesempurnaan tersebut semakin tinggi lantaran, rangkapannya semakin sedikit (seperti Barzakh) atau bahkan tidak terangkap (seperti Akal). 

Dengan kata lain, kesempurnaan Alam Materi ada di dalam Barzakh, Barzakh ada di dalam Akal dan Akal di dalam Tuhan. 

Tetapi ingat, kata ”Dalam” di sini bukan sebagai tempat, karena Barzakh ke atas Non Materi, dan begitu pula semakin ke atas semakin ”Sederhana” atau semakin sedikit rangkapannya dan ketika sampai ke Akal-Terakhir, maka ”Rangkapan Nyata” itu jadi hilang, apalagi ketika sampai ke Akal berikutnya, sampai ke Akal-Satu dan ke Tuhan. 

Misalnya, Qur'an yang ada di materi, memiliki tulisan dan ucapan yang materi, tetapi di Bar- zakh hanya berupa ayat-ayat yang tidak tertulis dan terbaca secara materi. Dan begitu sampai ke-Akal atau malaikat tinggi ini, maka rangkapan ayat-ayat dan huruf-huruf itu menjadi sirna. Akal atau malaikat tinggi ini, maka rangkapan ayat-ayat dan huruf-huruf itu menjadi sirna. Begitu pula ketika sampai pada Akal-Satu dan Tuhan. Semua rangkapan ayat-ayat dan huruf-huruf itu tidak mungkin terwujud secara rangkapan ayat-ayat dan huruf, karena kalau terwujud, maka Akal dan Tuhan akan memiliki rangkapan yang akan menjadikan mereka terbatas sebagaimana makalaum. 

Memang, Akal tidak sama dengan Tuhan, karena Akal terbatas. Akan tetapi keterbatasannya bukan karena rangkapan yang ada di dalam dirinya, karena mereka tidak memiliki rangkapan sebagaimana maklum. Jadi, keterbatasan mereka, karena mereka bukan Tuhan. Begitu juga wujud-wujud materi lainnya seperti manusia, batu, tanah . Mereka ini semakin ke atas maka semakin sederhana dari rangkapan dan bahkan sampai tidak memiliki rangkapan sama sekali seperti Akal-akal dan Tuhan. 

Di samping rangkapan, gerak dan proses materi juga demikian. Maka semakin ke atas perubahan- perubahan yang ada, terjadi di luar waktu dan jaman, seperti kita bermimpi berjalan, makan dan sebagainya dan bahkan, ketika sampai ke Akal dan, apalagi Tuhan, maka perubahan-perubahan itu sudah tidak terjadi lagi. Yang, jangankan perubahan-perubahan dalam waktu, perubahan- perubahan di luar waktu juga tidak terjadi lagi, karena Akal dan Tuhan, sama-sama Non Materi Mutlak yang tidak memiliki rangkapan sedikitpun dan ketika wujud itu tidak memiliki rangkapan, maka sudah pasti mustahil berubah. 

Karena perubahan adalah dari satu keadaan ke keadaan yang lain. Sementara yang tidak punya tidak mungkin memiliki ”Keadaan”, karena ”Keadaan” adalah susunan tertentu dari bagian-bagian yang dimilikinya. 

Dan ”Perubahan Keadaan ke Keadaan Yang Lain” artinya dari susunan tertentu ke susunan yang lain. Sementara yang tidak memiliki rangkapan, tidak mungkin memliki susunan-susunan itu hingga berubah ke susunan yang lainnya. 

Dengan penjelasan di atas itu, dapat dipahami bahwa ”Jumlah dalam Volume” dan Perubahan dalam Waktu” itu, terjadi hanya pada Materi. Sementara ”Jumlah bukan Volume/jasmaniyah” dan ”Perubahan tidak dalam Waktu” atau Perubahan Kunfayakuni”, terjadi pada Barzakh. Sedang yang ”Satu”, ”Tidak Terangkap” dan ”Tetap/Tsabit” terjadi sejak dari Akal-Terakhir sampai dengan Akal- Satu dan Tuhan. Jadi, kehirukpikukan itu, hanya terjadi di malaikat Barzakh dan terlebih di alam Materi. 

Begitu pula perubahan-perubahan, baik dalam waktu atau tidak, hanya terjadi di Alam Materi sampai Barzakh saja. 

Dengan penjelasan ini, maka dapat ditarik kesimpulan pasti, bahwa Lauhu al-Mahfuzh itu tidak mungkin ada di alam Materi dan Barzakhi. Dan karena ia adalah kitab setingkat di atas kitab Qada dan Qadar, maka ia adalah Akal-Terakhir itu. Ingat, Qada dan Qadar di sini tidak seperti yang diyakni agama Hindu bahwa semuanya sudah ditentukan oleh Tuhan dan dalam filsafat, Akal- Terakhir itu juga dikenal dengan ’Arsy Allah. 

Karena ’Arsy adalah Kursi Singgasana yang diduduki oleh seorang raja ketika sedang memerintah rakyatnya melalui menteri-menterinya. Dan karena malaikat Barzakh itu adalah ”Malaikat Penga- tur Alam Materi” dan karena kepengaturan mereka itu sebagai kepanjangan tangan Tuhan, maka sudah selayaknya kalau Tuhan ”duduk” di kursi singga sanaNya itu. Dan karena ”Duduk” di sini adalah Tuhan yang bukan materi dimana kursinya juga pasti bukan materi, maka yang dimaksudkan duduk di atas ’Arsy adalah ”Maqam Allah yang ada di derajat Akal-Akhir tersebut”. Katakanlah Tangan Allah yang ada di Akal-Akhir tersebut, yakni dengan kata lain, adalah Akal- Akhir itu sendiri. 

Jadi, Allah duduk di atas ’Arsy (QS: 7:54), maksudnya adalah Allah menduduki dan mengontrol serta menguasai Akal-Akhir tersebut. Yakni dengan bahasa gamblangnya, Allah memakai Akal- Akhir itu untuk mengatur alam Materi melalui para mentriNya, alias malaikat pengatur tersebut
Pembahasan ke Empat Tentang Empat Perjalanan: 



Empat Perjalanan ini ada yang Irfanis dan ada yang Mulla Shadrais. Dan sudah tentu Mulla Shadra mengambil dari Irfan. Akan tetapi, sebelum saya terangkan mengenainya, perlu terlebih dahulu untuk menerangkan tentang ”Alam-Kecil”, yaitu ”Manusia”. 

Manusia adalah paling sempurnanya wujud Materi, karena Ruhnya paling afdhalnya ruh yang ada di alam materi. Perlu diketahui bahwa setiap benda memiliki Ruh atau unsur non materi yang mengelola materinya secara langsung. Yakni Tuhan melalui malaikat-malaikat species/ spesies itu membuat materi dan meniupkan ruh ke dalam masing-masingnya, untuk mengelola badaniahnya. Batu, tanah, air, tumbuhan, hewan dan manusia memiliki unsur non materi yang mengatur badannya sesuai dengan kesempurnaan yang dimilikinya. Adanya ruh pada setiap materi ini, sudah dibuktikan di Wahdatul Wujud bagian: 2. 

Pengelolaan ruh terhadap badan materi ini sesuai dengan aktifitas yang dimilikinya. Kalau benda- benda yang kelihatan mati, berarti ruhnya pula rendah. Karena hanya mengatur putaran-putaran atomnya dan yang semacam itu. Tentu saja selain dzikir setiap makhluk untuk Tuhannya sesuai dengan derajatnya masing-masing. Dalam QS: 64:1 Allah berfirman bahwa semua apa-apa yang ada di langit dan bumi bertasbih kepadanya. 

Akan tetapi Tumbuhan, dia lebih sempurna sedikit dari bebatuan. Karena di dalam terdapat kehidupan dan perkembangan. Ruh-batu dan semacamnya, kita namai dengan ”Ruh-Tambang”, dan ruh tumbuhan kita namai dengan ”Ruh Tumbuhan”. Dan kerja Ruh-Tumbuhan ini adalah selain mengatur putaran-putaran atom badannya sebagaimana ruh-batu, ia juga mengatur pertumbuhannya. 

Dan kalau Ruh-Binatang, maka di samping mengatur dua hal itu, juga mengatur gerak-gerak ikhtiarnya. Sementara Ruh-Manusia, disamping yang tiga itu, juga mengatur pikirannya atau akalnya. Dan karena akal manusia ini sangat dekat (dibanding yang lainnya) dengan makhluk Akal-Akhir, maka ia adalah materi yang paling afdhal dan utama. 

Bukti kedekatan manusia dengan Akal, adalah bahwa manusia memiliki akal atau rasio hingga dikatakan Rasional. Ingat, akal manusia bukan makhluk Akal. Akal manusia ini adalah alat untuk memahami universal. Sedangkan universal adalah ”Pahaman Yang Memiliki Lebih dari Satu keberadaan nyata atau ekstensi”. Atau ”Pahaman yang Bisa Diterapkan pada lebih dari satu keberadaan”. Sedangkan mengapa satu pahaman seperti manusia atau pohon bisa diterapkan ke banyak atau lebih dari satu keberdaan? Misalnya Ahmad, Hasan, Husain...dan seterusnya, atau pohon ini, pohon itu, pohon di sini, pohon di sana dan seterusnya? 

Jawabannya adalah karena pada ”Pahaman Pohon” itu kita telah meniadakan ciri-ciri tertentunya. Misalnya ukurannya, warnanya, jumlah ranting dan daunnya dan seterusnya. Oleh karena ketiadaan ukuran dan sifat-sifat tertentunya itulah, maka pahaman tersebut bisa diterapkan ke semua pohon yang ada di alam nyata. Dan ini, mirip sekali dengan keadaan Akal-Akhir yang meliputi semua kesempurnaan di bawahnya. 

Karena kalau pahaman pohon itu sudah diidentikkan dengan keadaan tertentu, begitu pula kalau Akal-Akhir itu juga diidentikkan dengan Barzakh tertentu, maka pahaman pohon itu hanyak bisa diterapkan pada satu pohon, dan tidak akan mencakup yang lainnya. Begitu pula tentang Akal- Akhir kalau hanya meliputi satu Barzakh, maka dia tidak lagi akan bisa meliputi malaikat-malaikat lain yang ada di Barzakh itu. Kalau sudah demikian, maka pahaman pohon tadi tidak lagi universal, dan Akal-Akhir tadi tidak lagi sebagai sebab bagi Barzakh. 

Padahal pahaman pohon itu adalah universal dan Akal-Akhir adalah sebab bagi semua Barzakh dimana menuntut kepemilikannya terhadap semua makhluk Barzakh dimana membuatnya juga mencakupi semua makhluk Barzakh tersebut. 

Dengan penjelasan ini, dapat dipahami bahwa manusia memiliki unsur badani atau materi, dan memiliki unsur ruh. Dan ruhnya ini terbentang dari ruh-tambang ke ruh-tumbuhan, lalu ke ruh- hewan sebelum kemudian ke ruh-akal auliahnya. Ingat, ruh manusia dan ruh apa saja, adalah satu dan non materi. Tetapi ada yang memiliki satu kekuatan saja dan ada pula yang memiliki lebih dari satu kekuatan. Seperti ruh manusia ini memiliki empat kekuatan, tambang, tumbuhan, hewaniah dan akal auliah. 

Dengan demikian manusia memiliki unsur badani, ruhi barzakhi (karenanya semua ilmunya tidak berbadaniah, karena kalau ilmunya berbadan, maka otaknya akan hangus manakala mem- bayangkan dan mengetahui api), dan ruhi akli/aqli. Dan semua ini, mirip sekali dengan Alam- Besar/semesta itu. Oleh karenanya manusia dikatakan Alam-Kecil. Katakanlah ”Miniatur dari alam semesta dan ketiga tingkatannya itu”. Empat Perjalanan yang dimaksud dalam Irfan adalah dari Makhluk ke Khaliq, dan Dari Khaliq ke Kahliq, lalu dari Khaliq ke Makhluq bersama Khaliq, sebelum kemudian dari Makhluk ke Khaliq bersama Makhluk. 

Perjalanan manusia yang pertama itu dimulai dari materi ke barzakhi, lalu ke Akal dan ke Allah. 

Maksud ke Allah, bukan menjadi Allah, tetapi mengembalikan khayalan ”Kepemilikan Ada” yang ada pada kita. 

Sebagaimana sudah dibuktikan dalam Wahdatul Wujud, bahwa yang Ada hanya Allah, maka kita dan alam sekitar ini adalah bukan ada, dan hanya sebagai bayangan atau hikayat tentang Ada itu. Oleh karenanya perasaan memiliki ini harus ditiadakan hingga ”ada” itu dalam tatapan kita menjadi milikNya semata. Kenapa dalam tatapan kita? Karena dari awal memang milikNya dan tak pernah dimiliki selainNya. Maqam pengembalian ”Ada” inilah yang dikenal dengan ”Fanaa’’ ”. 

Caranya secara global adalah, melakukan semua kewajiban dengan baik, meninggalkan seluruh yang diharamakaan, dimakruhkan, karamat, fadhilah, surga, ’Arsy dan seterusnya dari apa-apa selain Allah. 

Perjalanan Pertama ini akan berhenti manakala sampai pada Akal-Pertama. 

Akan tetapi manusia tidak boleh menyukainya kalau ingin meneruskan perjalannya. Yakni kalau ingin menyempurnakan Perjalanan Pertamannya. Nah, ketika ia tidak suka pada diri dan maqamnya yang sudah sampai di tingkat Akal-Satu itulah, hingga ia hanya melihat Adanya saja, maka itulah yang dikatakan ”Akhir Dari Perjalan Pertama” yang disebut pula dengan ”Fanaa’ ”. 

Setelah Perjalan Pertamanya selesai dan dia sekarang hanya melihat Allah, dan tidak lagi melihat lainnya karena memang tidak ada, maka mulailah ia berjalan di antara sifat-sifatNya. Dengan kata lain : mulailah tersingkap satu persatu sifat Tuhannya, dimulai dari yang sifat paling bawah, yaitu Sifat-sifat Perbuatan atau A’mal, sampai ke Sifat-sifat Zati. 

Itulah yang dikatakan Perjalan Ke Dua. Yaitu perjalanan dari Khaliq ke Khaliq. Setelah itu, dengan ijinNya, dia kembali lagi ke Makhluk, tetapi bukan berarti menganggapnya makhluk ini ada dan disukainya lagi. Karena dia kembali sudah dengan kefanaa’annya itu. 

Yakni kembali dengan Tuhannya. Artinya dia yang tadinya hanya hakikat tajalli Tuhan tanpa melihatnya, kini dia telah melihat tajalli itu. Oleh karenanya dia tidak pernah lagi keluar ke merasa wujudnya lagi sebagaimana sebelum fanaa’. 

Ketika ia kembali dengan Khaliqnya yakni dengan ketiada beradaannya dan keberadaan Khaliq- nya, maka ia telah benar-benar merasakan tajalli itu. Oleh karenanya ia telah menjadi Mata Tuhan untuk melihat dan seterusnya sebagaimana yang diriwayatkan di hadits Qudtsi. Oleh karena itulah Allah dalam QS: 53:4, mengatakan bahwa Nabi saww itu tidak bicara apapun kecuali wahyu yang diwahyukan padanya. Ini bukan berarti wahyu yang berupa Qur'an saja, karena Allah mengatakan ”Tidak mengatakan apapun” dimana kalimat ini mencakupi selain Qur'an, yaitu pembicaraan sehari-hari. 

Setelah ia kembali di antara makhluk bersama Khaliknya dengan makna di atas tadi itu, maka ia mulai meneruskan perjalannya dengan mengajak makhluk kepada Kahliq. 

Inilah sekelumit tentang Empat Perjanan Irfani itu. 

Tambahan

pembaca bisa merujuk ke catatanku tentang Kedudukanfantastis Imam, dimana saya membuktikan kelayakan manusia sebagai khalifah dan ketidaklayakan yang lainnya. Hal itu karena, manusia memiliki semua unsur makhluk, dari materi sampai mendekati Akal, dan mencapainya manakala melakukan perjalanan seperti yang diterangkan di sini ini. 

Oleh karena itulah, yakni karena manusia sempurna memiliki semua unsur, maka bisa menjadi Khalifah Tuhan untuk meminpin semua makhluk secara langsung sesuai dengan derajat masing- masing makhluk. Yang mahkluk materi dipimpinnya dengan ruh-materinya, yang tumbuhan dengan ruh-tumbuhannya, yang binatang dengan ruh kehewanannya, yang Barzakhi dengan ruh- barzakhnya dan yang Akal dengan ruh-akal auliahnya yang sudah mencapai Fanaa’, perjalanan dua dan tiga itu. Maka itulah Nabi saww disebut sebagai Rahmatan Li al-’Alamin atau rahmat bagi segenap alam-alam, yakni materi, barzakhi dan akal auliah. 

Sedang Empat Perjalanannya Mulla Shadra ada dua macam, ada yang Irfani dimana sama dengan penjelasan di atas, ada juga yang Filosofi sebagaiamana yang akan saya terangkan sekarang. Mulla Shadra, ketika menulis Filsafat meniru cara perjalannya Irfan. Yakni filsafat yang memberjalankan akal dan pikiran dianalogikan dengan pemberjalanan Ruh manusia. 

Oleh karena itu pembahasan filsafatnya dibagi atas 4 bagian itu. Yakni dari Makhluk ke Khalik, Perjalanan filsafat dari Makhluk ke Khalik adalah Mempelajari Wujud-wujud Terbatas Seperti pembahasan tentang ada, esensi, substansi, aksiden, gerak dan semacamnya. Dan pembahasan pertama tersebut diakhiri dengan pembahasan pembuktian Tuhan. Maka perjalanan pemikiran dan ilmu itu sudah layak dikatakan dari makhluk ke Khalik. 

Setelah Pembahasan Pertamanya selesai, maka Mulla Shadra membahas tentang Tuhan itu sendiri. Baik dari Zat atau Sifat-sifatNya. Setalah itu Mulla Shadra membuktikan keberadaan makhluk dengan keberadaan Khalik. Persis sebagai oposan dari perjalanan pertama. Karena yang pertama membuktikan Tuhan dengan makhluk. Tetapi pada pembahasan ke tiga ini sebaliknya, yakni membuktikan keberadaan makhluk dengan keberadaan Khaliknya. Baru setelah itu Mulla Shadra membahas jiwa atau ruh manusia sebagai wujud yang bisa kembali ke sumber awalnya. 

Di pembahasan akhir ini beliau membahas hakikat ruh manusia, potensinya, bisa-tidaknya kembali pada Khaliknya, apa arti kembali di sini. 

Dengan uraian ringkas ini maka selesailah pembahasan kita kali ini. Semoga penulisan yang memakan waktu 11 jam ber-turut-turut ini (dipotong makan, shalat dan ke kamar kecil, begitu pula ditambah ngadat-ngadatnya signal/sinyal, menjadi bermamfaat dunia-akhirat untuk saya pribadi dan para pembaca sekalian. Semoga juga tidak lupa do’akan alfakir. 

Ali Petra, Ahmad Muhammad Yunus, Miftah Fadhlullah dan 23 lainnya menyukai ini. 

Noer Aliya Agatha: Salam kalau ada notes ajib ditag dong say. Afwan, Makasih .. :) 

Terter Jerry: Ya dunk say bagi-bagi ma kita-kita..afwan wa sukron. 

Haerul Fikri: Subhanallah..! 

Layla Kareem: Tag me. 

Ardi Shushelo: Merupakan kesalahan Al Hallaj yang mengucapkan dan mengajarkan konsep wahdatul wujud (ANA AL-HAQQ) kepada murid-muridnya. Bahwa hal tersebut adalah ilmu yang sangat pribadi dan hanya dimengerti oleh orang-orang yang menerimanya. Selain itu, al haqq merupakan sifat” Allah...” belum terlambat, jangan sampai ilmu ini membuat pikiran temen ”SUTRIIIEEES” dibuatnya. 

Khana Putra: Saya mengumpamakan wahdatul wujud seperti kayu dan api, ketika api dan kayu menyatu dan sudah menjadi bara kita tak kan bisa membedakan mana api dan mana kayu, tapi api tetaplah api dan kayu tak akan bisa berubah menjadi api. 

Don Flores: Saudarii Anggelia, terimakasih atas tautan-tautannya yang sangat berguna buat Aku...salam untuk Haerul Fikri dan Ustadz Sinar Agama. “Semoga kita termasuk golongan orang- orang yg beruntung di dunia dan akhirat dan kepada-Nyalah kita berserah diri“.....amin ya Rabbal alamin. Allahumma shalli ala Muhammad wa Aali Muhammad. Allahumma shalli ala Muhammad wa Aali Muhammad. Allahumma shalli ala Muhammad wa Aali Muhammad...Lihat Selengkapnya 

Adil Irfandi: Tidak ada satu pun dalil dari alquran dan hadist yang membenarkan uraian yang panjang membosankan dan membingungkan ini. Dapat darimana hasil pemikiran ini mimpi kali yeee, ...... 

Sunan Mahakam: Maaf nei> koment antum terakhir termasuk gradasi juga ya...(dipotong makan, shalat dan ke kamar kecil, begitu pula ditambah ngadat-ngadatnya signal) hehehe.. 

Eydzar Ali Stany: @ardi ana Al-Haqq oleh Al-Hallaj berbeda dengan wahdatul wujud yang sedang didiskusikan di atas, mempunyai thema yang sama namun pemikiran yang jauh berbeda :) @ Irfandi Al-Fathihah ayat 1 dan Al-Ikhlas ayat 1-2 sudah cukup menjelaskan uraian... ini ^_^ Al- Qur’an bukanlah buku Komik ^_^ 

Eydzar Ali Stany: @ardi tambahan,,,, kalau diskusi ini mempunyai pemikiran yang sama dengan al-hallaj tentu umat Syi’ah di masa Al-Hallaj tidak akan mendukung hukuman mati atas Al-Hallaj :) 

Muntazar Zaidi: Apakah pada awal Islam, pengikut pertama nabi dari kalangan mustadhafiin seperi Ammar bin Yasir, Bilal, yakni orang-orang yang dalam tanda kutip tidak memperoleh pendidikan formal tinggi-tinggi amat harus memahami filsafat tingkat tinggi untuk jadi orang beriman? 

Nimas Samin Al-asy’ary: Bagaikan AIR dan ES BATU,,, berbeda tapi hakekatnya SAMA,,, air,,,, perumpamaan wahdatul wujud buatku,,,,jadi pendapat alhallaj juga gak salah ni menurutku,,,gak perlu SUTRIS X.....om adi,,, 

Sinar Agama: Salam, Terimakasih untuk mbak Anggelia yang tidak melelahkan dirinya untuk memuat tulisanku yang cerai berai dalam satu tulisan yang ternyata cukup panjang. Terimakasih juga bagi yang lainnya karena telah bersimpati, baik suka atau tidak. 

Sinar Agama: Ali, Antum mengatakan yang benar bahwa pembahasan kita ini sangat beda dengan yang lainnya. Tolong teman-teman kalau memang minat, bacalah tulisan-tulisan di atas dengan seksama, dan kalau bisa baca jg bagian sebelumnya, dan begitu pula nanti yang bagian limanya. 

Anggelia Sulqani Zahra: Salam terima kasih banyak ustad Sinar ...semoga Allah memuliakan jiwamu....ustad. Merangkai tulisan ustad hanya membutuhkan waktu beberapa jam.. tetapi untuk merenungi tulisan ustad, membutuhkan waktu berhari-hari. Jika saya telah mengalami hal itu tentunya saya juga dapat memahami pengorbanan waktu pikiran tenaga serta segala sesuatu yang ada pada diri ustad dalam mengarungi lautan ilmu,,,sehingga hari ini saya mendapatkan mutiara hikmah dari para guru-guru suci yang terdahulu maupun yang sekarang...ustad.. Jika ada komentar-komentar ustad di dinding teman-teman lainnya yang dipandang perlu dijadikan rujukan dalam kelas filsafat ini maka insya Allah saya akan mengumpulnya menjadi satu catatan, tentunya melalui petunjuk ustad.. 

Sinar Agama: Mbak Anggelia: Terimakasih atas semua kerja dan perhatiannya. Kayaknya baha- san ini akan tersusuli dengan contoh ayat-ayat dan riwayat irfan atau wahdatulwujud, karena sepertinya akan ada yang)menanyakan ayat tentang itu. 

Sinar Agama: Tak lupa kumohon do’anya dari mbak Anggelia dan yang lain supaya kita selalu membajui diri yang kumuh ini dengan cahayaNya(.) 

Komar Komarudin: Salam, sebagai sumbang saran saja, itu kalau diterima, sebaiknya teman- teman yang mengikuti kajian ini, da baiknya memiliki buku Tauhid karya : Hujatul Islam, Hasan Abu Ammar terbitan yayasan Mullah Shadra, cukup baik sebagai referensi sebagai pengimbang dengan Istilah-istilah yang hampir sama cara penyampaiannya, kalau ada yang berminat memiliki buku ini tolong kirim pesan by inbox, .... untuk Mba Anggelia salam kenal, mohon kalau ada tulisan-tulisan atau apalah tentang keilmuan di tag ke saya. Sukron kasir. Semoga Allah SWT membantu kita semua dalam mengarungi samudranya ilmu, membuka tabir-tabir Hikmah-himah Tuhan yang selama ini hilang dan nyaris tak pernah kita sentuh...Ilahi Amin. 

Hati Kecilku: Pak Komar,,,af1 dimana ana bisa beli,,,ana di Papua,,mungkin antum tau toko yang bisa jual pesanan? 

Komar Komarudin: Akhi.....Antum bisa pesan ke ana, atau kontak ke yayasan.. Tulis aja alamat dan Hp antum By Inbox ana...Insya Allah Kita Kirim. Tapi Kalau bisa teman-teman di sana ditawarin juga .. biar biaya kirimnya murah.. 

Aat Laparuki: Jangankan manusia, api di bukit Tursina di hadapan Musa AS juga pernah mengucapkan dan mengaku seperti pengakuan al Hallaj. Dan diabadikan dalam Alquran, cuman saya lupa surah dan ayatnya -tolong dingatkan dong bagi yg tahu. Hehehehe 

Anggelia Sulqani Zahra: Ustad, Sinar Agama dan teman-teman..maaf catatannya baru selesai diperbaiki kalimat-kalimatnya’ tentunya tidak merubah maksud kalimat aslinya ’’’silahkan baca kembali.... 

Sinar Agama: Salam Anggelia, maaf terpaksa kuterbitkan lagi, karena berbagai hal, yakni banyak yang minta dan selalu tanya balik karena kadang tidak terlalu mudah mendapatkan di tempatmu karena harus add dulu dan sebagainya, jadi dari pada aku jawabin orang-orang terus-terusan, jadi kuterbitin saja di catatanku, semoga kamu memaafkanku. 

Sinar Agama: Aat, sepertinya antum belum teliti membaca tulisanku, afwan.



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Selasa, 09 Oktober 2018

Isra’ Mi’raj Dalam Tinjauan Naql dan Akal

Isra’ Mi’raj Dalam Tinjauan Naql dan Akal 

(Perjalanan dengan Badan dan Ruh, atau Ruh saja atau terinci dari keduanya?!!)



by Sinar Agama (Notes) on Sunday, July 3, 2011 at 7:08 pm



Isra’ Mi’raj dalam Tinjauan Naql dan Akal (perjalanan dengan badan dan ruh, atau ruh saja atau terinci dari keduanya?!!) 


Banyak pertanyaan dari teman-teman tentang hakikat Isra’ Mi’raj ini. Saya sendiri kurang tertarik membahasnya. Karena terkadang sebagian orang hanya ingin tahu saja, atau bahkan ada yang bertanya karena mau menulis di sebuah buletin. Belajar yang model ini –model ingin tahu apa ceritanya atau ingin menuliskannya ke orang lain- sulit melahirkan ketaqwaan. Karena itu saya kurang tertarik menuliskannya. Terlebih lagi, karena untuk menguak hakikatnya perlu kepada pembahasan filsafat, maka saya semakin tidak tertarik. Karena disamping hakikat ini tidak wajib diketahui secara detail, bisa-bisa pembahasan filosofisnya ini bahkan menjadikan diri kita bangga saja. Sementara kebanggaan seperti ini (hanya tahu, yakni tidak untuk diimani dan diamalkan) adalah kebanggaan yang kering dan kosong. Karena jelas, setinggi apapun argumentasinya, maka ia tetap merupakan Ilmu Hushuli yang akan hilang dikala kita mati. Tapi kalau untuk diimani dan diamalkan, maka ia jelas akan menjadi Ilmu Hudhuri yang akan dibawa mati. 

Baiklah saya akan coba memberikan sedikit penjelasan tentang Isra’ Mi’raj itu sesuai kemampuan, ruang dan waktunya. 

Namun, sebagai anjuran, hendaknya kita membuat sistematika pembelajaran Islam. Setidaknya supaya kita tidak mempelajari Islam tergantung dengan situasi dan kondisi. Ini yang pertama. 

Yang ke dua, hendaknya pandai-pandai memilih obyek pengetahuan Islam yang mau dipelajari, hingga bisa mendahulukan yang memang perlu didahulukan, dan dan mengenyampingkan yang tidak darurat atau setidaknya kurang emergency. 

Ke tiga, penjelasan Isra’ Mi’raj ini, akan sangat tergantung pada penjelasan-penjelasan saya sebelumnya tentang makhluk sesuai dengan pandangan filsafat. Karema itu saya akan memberikan ulasan ulang sedikit tentang hal tersebut: 

Tatanan Wujud Ciptaan atau Gradasi Ciptaan 


Sebelum ini, sudah sering saya jelaskan tentang gradasi alam semesta (bukan gradasi wujud) atau makhluk Tuhan. 

Ringkasnya sebagai berikut: 

(1-a). Golongan pertama, makhluk Tuhan yang dikenal dengan Akal. Makhluk Akal ini dimulai dari Akal-pertama, ke dua, ke tiga ...dan seterusnya sampai pada Akal-akhir. 

Definisi makhluk Akal ini adalah keberadaan non materi mutlak dengan makna pertama, yaitu yang tidak mengandungi apapun kehinaan rangkapan materi, baik rangkapan materialnya atau sifat-sifatnya. 

Rangkapan, merupakan kehinaan bagi wujud, karena menkonsekwensi-i keterikatan pada masing-masing rangkapannya itu. Karenanyalah maka semakin banyaknya rangkapan yang dikandungi sesuatu itu, akan membuatnya semakin terikat. Sedang wujud yang semakin terikat, dalam hakikat dan filsafat, dikatakan semakin hina dalam gradasi wujudnya. Karena semakin banyaknya keterikatan dalam wujudnya, walau hanya pada bagian-bagian dirinya, akan membuatnya semakin tergantung pada bagian-bagiannya tersebut. Inilah makna hina dalam wujud dan filsafat, bukan dalam akhlak. 

Jadi, ketergantungan sesuatu pada bagian-bagiannya, sama dengan ketergantungannya pada sebab pewujudnya. Karena bagian-bagiannya itu juga sebab bagi keberadaannya dimana kalau tidak ada bagiannya, pasti tidak akan penah ada keseluruhannya. Jadi, disamping sesuatu itu tergantung pada sebab adanya, ia juga tergantung pada sebab bagiannya. Dan semakin sesuatu itu memiliki banyak ketergantungan ini, maka hal itu akan menyebabkannya semakin rendah dalam derajat wujudnya. 

Sedang Wujud Akal yang tidak memeiliki rangkapan itu, sudah pasti merupakan wujud yang barada di maqam yang paling tinggi di antara makhluk-makhluk lainnya. Dan karena ketinggian mereka itulah maka mereka juga disebut dengan surganya orang-orang yang didekatkan (muqarrabun yang jauh di atas surganya mukminin). Dan, hanya yang paling tinggi diantara merekalah, yakni Akal-pertama yang hanya layak disentuh tangan Tuhan dan menjadi makhlukNya secara langsung. Karena itu, yang lainnya, seperti Akal-dua, tiga, empat ... dan seterusnya diciptaNya melalui yang sekelas di atasnya. Misalnya Akal-dua, diciptaNya dengan perantaraan Akal-satu. Akal-tiga dengan perantaan Akal-dua ...dan seterusnya. 

Beda antara Tuhan yang tidak berangkap wujud-wujud Akal yang juga tidak berangkap itu adalah pada keterbatasan mereka dan ketidak terbatasanNya (dan jarak ini tidak sedikit, bahkan juga tidak terbatas). Yang ke dua, mereka terikat padaNya dan pada sebab-sebab perantaranya (bagi selain Akal-pertama) sekalipun tidak terikat pada bagian-bagian diri mereka yang dikarenakan ketidak punyaan mereka terhadap rangkapan-rangkapan diri tersebut. 

Sebagai tambahan: 

Akal-pertama juga dikenal dengan Nur Muhammad; Akal-akal itu dikenal dengan Jabaruut atau Jannatulmuqarrabiin atau Surga yang didekatkan padaNya; Akal-akhir juga disebut ‘Arsy atau Maqam pertama di atas surga atau Lauhu al-Mahfuzh. Dan dalam Qur'an juga biasa dikenal dengan Malaikat ‘Aaliin/tinggi: 


قَال يَا إِبْلِيسُ مَا منَعَكَ أَنْ تَسْجُد لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ



“Berkata –Allah: ‘Wahai iblis, apa yang membuatmu tidak bersujud kepada –Adam- yang telah Kubuat dengan kedua tanganKu sendiri. Apakah karena kamu sombong atau karena kamu tergolong dari yang tinggi?’” (QS: 38: 75) 

Ayatullah Jawadi Omuli, walau tidak terlalu memastikan dalam pelajaran Filsafat dan Irfannya, mengatakan bahwa memang ada kemungkian terhadap adanya malaikat tinggi yang tidak diperintah sujud kepada nabi Adam as. Karena itu Allah berfirman: 

“Apakah karena engkau sombong atau karena kamu tergolong dari yang tinggi kedudukan- nya? 

Dalam hadits juga banyak diriwayatkan yang secara lahiriahnya berbeda akan tetapi bisa dipadukan setelah kita mengenali kaidah akal. Hadits-hadits yang dimaksud seperti berikut: 

في سئواالت الشامي عن أميرالمؤمنين أخبرني عن أول ما خلق اهلل تبارك وتعالى فقال: النور 

“Yang termasuk pertanyaan orang Syam (Suriah) kepada imam Ali as adalah: ‘Beritahukan padaku tentang apa yang pertama kali dicipta Allah?’ Beliau menjawab: ‘Cahaya.’.” (Biharu al- Anwaaar, jld. 1, hlm. 96) 

قال النبي) صلى الله عليه وآله: (أول ما خلق الله نوري

“Nabi saww bersabda: ‘Pertama kali yang dicipta Allah adalah cahayaku.’.” (Bihaaru al-Anwaar, jld 1, hal. 97) 

وفي حديث آخرأنه ) صلى اهلل عليه وآله (قال: أول ما خلق اهلل العقل 

Dalam hadits yang lain Nabi saww bersabda: “Pertama kali yang dicipta Allah adalah Akal.”  (Biharu al-Anwaar, jld 1, hal. 97) 

Saya tidak akan menjelaskan tentang masalah Akal-pertama dan mengapa bisa diterapkan hadits Cahaya, Cahayaku atau Akal di atas. Karena memang kita sekarang tidak sedang membahasnya dan, apalagi sepertinya saya dulu sudah pernah menuliskannya. 

Dalil filosofisnya: Sudah sering pula saya jelaskan tentang dalil mengapa Tuhan mesti mencipta satu makhluk dulu, baik di keterangan-keterangan filsafat dan Irfan atau, bahkan di penjelasan tentang akidah. 


Intinya adalah: Kalau Tuhan mencipta dua atau lebih makhluk secara langsung, maka Ia akan menjadi terpetak. Dan keterpetakanNya ini akan membuatNya terbatas dimana kalau Ia menjadi terbatas maka Ia pun akan menjadi makhluk, bukan Tuhan. 



Penjelasannya: 

(1-a-1). Antara sebab dan akibat mesti memiliki kesejenisan (bc tidak asing). Karena itu mani manusia hanya akan menjadi manusia; biji jagung hanya menumbuhkan pohon jagung; api hanya melahirkan panas; es hanya menyebabkan dingin ....dan seterusnya. 

(1-a-2). Kalau Tuhan mencipta dua atau lebih makhluk yang berbeda secara hakikat dan esensi secara langsung, maka masing-masing esensi itu pastilah keluar dari KuasaNya tersendiri. Misalnya mencipta langit dan bumi. Karana kedua makhluk/ esensi ini saling berbeda, dan karena antara sebab dan akibatnya harus memiliki kesejenisannya, maka sudah pasti langit dan bumi tersebut diakibatkan oleh dua KuasaNya, bukan satu KuasaNya. Karena kalau diakibatkan oleh satu KuasaNya, maka salah satu dari keduanya itu sudah pasti tidak diakibatkan oleh akibat yang senafas dengannya. 

Misalnya, kalau bumi yang diakibatkan oleh Kuasa kebumianNya, maka keluarnya langit dari sumber atau Kuasa yang sama membuatnya juga diakibatkan oleh Kuasa Kebumian tersebut. Dan, kalau hal ini terjadi, berarti langit diakibatkan oleh akibat yang asing dan tidak sejenis atau senafas dengannya. Ini berarti, kita telah mengingkari keharusan adanya kesejenisan antara sebab dan akibat. Akibatnya, sama saja dengan kita mengatakan bahwa telur ayam telah menetaskan anak harimau atau ikan paus atau manusia atau pohon jagung. 

Tambahan penjelasan: Dari semacam penjelasan di atas itulah yang kemudian muncul teori yang sangat kesohor di filsafat yang mengatakan: “Satu hanya melahirkan satu”, atau “Satu hanya akan diakibatkan dari satu”. 

Sudah tentu satu disini adalah satu yang hakiki, bukan yang mengandungi rangkapan seperti mani dan seterusnya. Karena kelau mengandungi rangkapan seperti mani tersebut, maka ia juga akan mengakibatkan banyak (tidak satu), baik banyak yang dalam rangkapan atau bisa saja banyak yang terurai atau yang cerai berai. 

Simpulan penjelasan tentang makhluk Akal: 

Dengan penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa Akal-akal ini, khususnya Akal satu, tidak hanya dicipta sebagai makhluk pertama sebagai makhuk pertama saja dan makhluk-makhluk lainnya juga akan diciptakanNya secara langsung seperti dia setelah menciptanya. Karena kalau hal ini terjadi, maka kita harus mengingkari keharusan adanya kesenyawaan dan kesejenisan antara sebab dan akibat sebagaimana maklum. Akan tetapi ia (Akal-pertama), dan siapapun yang dicipta mendahului yang lainnya (tentu yang ada dalam satu garis, seperti mani yang telah menjadi kita, bukan mani yang telah menjadi kakek tetangga dengan diri kita yang lahir setelahnya), maka ia adalah sebab perantara baginya. Inilah makna mendahului dalam filsafat. Yakni menjadi sebab bagi keberadaan wujud berikutnya. 

Dengan demikian, maka satu-satunya makhluk Tuhan hanyalah Akal-pertama tersebut. Dan yang lainnya diciptakanNya melaluinya secara berurut dan beruntun. Jadi, dari Akal- pertama akan tercipta Akal-dua, dari Akal-dua tercipta Akal-tiga ...dan seterusnya sampai kepada Akal-akhir yang juga disebut ‘Arsy ini. Lalu dari Akal-akhir muncul makhluk Barzakh sebagaimana yang akan dijelaskan di bawah ini. 

Tambahan simpulan: 

Karena Akal-pertama atau Akal-satu itu adalah makhluk yang telah diberikanNya kesempurnaan akan munculnya makhluk-makhluk berikutannya secara beruntun dan tertib, dan juga yang akan terus saling terikat disebabkan sistem sebab-akibat itu (lihat penjelasan lebih lanjut di makhluk Golongan ke dua alias Barzakh), maka perkataan bahwa Tuhan hanya mencipta Akal-pertama secara langsung itu, sama dengan mengatakan bahwa Tuhan mencipta alam ini dengan sekali ciptaan. Atau dapat dikatakan bahwa ketika Tuhan mencipta Akal-pertama, maka berarti Ia telah mencipta semua alam dengan segala susunannya, keterikannya dan kepengaturannya itu. Karena itulah, maka Akal-satu juga dikenal dengan Alam-Jaami’, Alam-Lengkap dan Alam-sempurna. Ia satu makhluk, tapi karena ia adalah sebab, pengikat dan pengatur bagi semua wujud yang berada di bawahnya (langsung dan tidak langsung), maka ia adalah hakikat semesta itu sendiri. Terlebih ketika ditambahkan kaidah lain yg (yang) mengatakan bahwaakibat itu tidak akan pernah berpisah dari sebabnya. 

(1-b). Golongan ke dua adalah Makhluk Barzakh. Hakikat Barzakh ini adalah non materi mutlak dalam arti kedua (yaitu yang zat dirinya non materi dan kerja-kerjanya tidak memerlukan kepada materi. lawan dari ruh –seperti ruh manusia- yang zat dirinya non materi tapi dalam kerja-kerjanya memerlukan materi –non materi tidak mutlak). Yaitu wujud non materi dalam arti tidak memiliki material atau matter, akan tetapi memiliki sifat-sifatnya. Hakikatnya persis seperti api, apel, singa, pohon, ....dan seterusnya yang ada dalam benak dan ide/khayal kita atau yang kita lihat dalam mimpi. Jadi, walaupun ia hakikat non materi, akan tetapi tidak terlalu bersih darinya. Karena itu ia memiliki warna, bentuk, rasa ..dan seterusnya. Walhasil memiliki semua sifat materi selain matter dan bendawiahnya. 

Karena itulah Barzakh ini juga disebut dengan Alam-Khayal (bukan khayalan manusia) disamping disebut dengan Alam-ide, Alam-mitsaal, tuhan-species-materi, kitab qada’ dan qadar, ..dan seterusnya. 

Keberadaan Barzakh ini terwujud dari Akal-akhir. Saya tidak akan ceritakan adanya perbedaan beberapa filosof tentang hakikat Barzakh ini dari sisi hubungannya dengan Akal-akhir. Saya hanya mau membahas yang umum saja tentang asalnya, yaitu bahwa dia berasal dari Akal-akhir. Dan ia juga yang nantinya akan melahirkan Alam Materi sebagai susun akhir dari Tata Wujud Makhluk atau Gradasi Makhluk ini. 

Wujud Barzakh ini, selain terikat dengan Tuhan sebagai pencipta aslinya, ia juga terikat dengan sebab-sebab perantara di atasnya dan, tentu saja ia juga terikat dengan bagian- bagiannya walaupun belum berupa bagian-bagian material dan hanya berupa sifat-sifat materi saja. Akan tetapi, karena ia memiliki bagian-bagian itu, maka ia sudah mulai terikat kepada bagian-bagian dirinya dimana hal ini tidak ada pada makhluk Akal. 

Dalam al-Qur'an, ia disebut dengan alam malaikat, malakut atau malaikat pengatur semesta (mudabbiraati amran) seperti dalam QS: 79: 5: 


فَالْمُدَبِّرَاتِ أَمْرًا



“Demi (malaikat-malaikat) yang mengatur segala urusan-urusan –dunia.” 

Tambahan keterangan penamaan: 

Di atas telah dikatakan bahwa Akal-akhir dikatakan juga sebagai ’Arsy Allah atau Singgasana Allah. dalam QS: 10: 3, Allah berfirman

إِنّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالَْرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّام ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُالَْمْرَ


“Sesungguhnya Tuhan kalian adalah Allah yang telah mencipta langit dan bumi dalam enam hari, kemudian Ia duduk di atas Singgasana –‘Arsy- mengatur semua urusan.” 

Manusia, dengan akal yang diberikanNya, dapat mengerti kaidah-kaidah gamblang keberadaan yang, biasanya dibahas dalam suatu ilmu yang dikenal dengan Filsafat. Maka ia mengerti susunan tiga alam tersebut (Akal, Barzakh dan Materi). Di lain pihak Tuhan juga memberikan penjelasan untuk membantu yang tidak biasa berfikir filsafati, dengan penjelasan-penjelasan ayatNya di atas itu. Karena itulah dapat disimpulkan bahwa Akal- akhir itu adalah ‘Arsy, karena setingkat di bawahnya terdapat Barzakh sebagai Pengatur Alam Materi (dunia). 

Kata Ayatullah Jawadi Omuliy, Allah swt telah mengumpamakan PengaturanNya dengan para pengatur negara yang disebut raja yang duduk di kursi singgasananya dan mengatur negara/rakyatnya dimana dalam pengaturannya itu jelas tidak langsung, akan tetapi dengan memerintahkan menteri-menterinya. Allah juga, sesuai dengan ayat-ayat di atas, duduk (menguasai, bukan duduk material) di atas (maqom dan bukan tempat materi) ‘Arsy untuk memberikan instruksi-instruksiNya kepada para malaikat mudabbir tersebut (mudabbiraati amran). 

Tambahan penjelasan tentang pengaturan: 

Pengaturan dalam wujud semesta, tidak sama dengan pengaturan sosial manusia. Karena pengaturan dalam sosial manusia, satu sama lain sama-sama mandiri dari sisi wujud, tapi terikat hanya dari sisi sosial dan kesepakatan. Karena itu, presiden, tidak mengakibatkan ada dan wujud rakyatnya. Akan tetapi karena dalam kesepakatan ia telah dipilih oleh rakyatnya untuk mengatur mereka, maka ia mengatur mereka. 

Akan tetapi dalam kepengaturan wujud atau eksistensi, dimulai sejak awal wujud atau keberadaan yang akan diaturnya itu. Jadi, yang akan diaturnya itu adalah akibatnya sendiri. Artinya suatu wujud yang terlahir dari dirinya atas aturan Tuhannya. Dengan kata yang lebih gamblang, bahwa wujud pengatur itu adalah hakikat sebab wujud dan keberadaan bagi yang akan diaturnya tersebut. 

Keberadaan atau wujud, kalau tidak memiliki keterikatan sebab akibat, seperti pohon kelapa di depan rumah dengan pohon jagung yang ada di kebun, maka keduanya akan saling asing dan tidak berhubungan. Karena itu tidak bisa saling terikat dan apalagi mengatur secara wujud, bukan sosial. Begitu pula antara satu makhluk dengan makhluk lainnya. Karena itu, maka bagaimana mungkin bisa saling berhubungan secara wujud dan mengaturnya? 

Karena itulah, karena keterikatan wujud itu, hanya dengan dan hanya dalam, sistem sebab- akibat, maka sebuah wujud hanya akan terikat dengan sebabnya. Dan karena keterikatan kepada sebabnya itulah maka apapun yang terjadi padanya, hanya melalui pengaturan sebabnya, baik dari awal keberadaannya sampai kepada kesinambungan wujudnya. 

Akan tetapi, karena sebab yang juga akibat itu sebenarnya juga tergantung kepada sebabnya sejak dari awal wujudnya sampai kepada kesinambungannya dan seluruh aktifitasnya, dan karena sebab hakiki yang tidak bersebab itu hanyalah Allah, maka Dia- lah penyebab dan pengatur hakiki itu. Dan yang lainnya hanyalah sebab dan pengatur perantara. 

Karena itulah, kadang Tuhan mengatakan: “Aku Mencipta dan menurunkan hujan, ...”, tapi kadang mengatakan: “Kami Mencipta dan menurunkan hujan.” 

Artinya, ketika Tuhan mengatakan “Aku” maka Ia ingin mengatakan bahwa pencipta dan penyebab serta pengatur hakiki itu adalah Dia. Tapi ketika mengatakan “Kami”, maka Tuhan ingin mengatakan bahwa penciptaan kita dan pengaturannya itu tidak langsung. Artinya memakai perantara atau wasilah. 

Karena itulah dalam sistem doa dan berhubungan denganNya, sistem ini juga ada. Yakni sistem wasilah dan perantara ini, dan bahkan Tuhan sangat menekankan tentangnya. Karena itu dalam QS: 5: 35, Ia berfirman: 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ

“Wahai orang-orang yang beriman, berperantaraanlah kalian untuk mendekatiNya!” 

Artinya, kalau dalam Tatanan Wujud Ciptaan, wujud yang ada di derajat lebih bawah menjadi ada/wujud karena wujud yang berada di derajat yang labih atas darinya, maka dalam mendekatiNya juga demikian. Yang berada di derajat iman dan ketakawaan yang lebih rendah “wajib” bertawassul dan berperantara dengan orang yang iman dan taqwanya lebih tinggi darinya. 

(1-c). Golongan ke tiga (akhir) adalah Alam-materi. Hakikatnya adalah keberadaan yang memiliki matter atau bendawiah serta sifat-sifatnya. Yaitu alam yang terhampar di hadapan kita ini dimana kita termasuk di dalamnya. 

Ciri khusus materi adalah memiliki panjang, lebar dan tebal alias volume (isi) dan, tentu saja waktu (volume gerak). 

Kalau keberadaan non materi mutlak (Akal dan Barzakh) adalah wujud yang hanya memiliki kebaikan mutlak, artinya tidak memiliki keburukan apapun, akan tetapi kalau Alam Materi sebaliknya. Karena ia juga memiliki keburukan. Akan tetapi keburukannya lebih sedikit dari kebaikannya. Karena itulah maka ia dikenal dengan keburukan di dalam al-Qur'an (seperti): “....dari keburukan apa-apa yang telah Ia cipta”), dan dikenal dengan efek samping di dalam filsafat. 

Efek samping ini tidak bisa dihilangkan karena derajat wujud materi memang tidak bisa lepas darinya. Hakikat dan esensi Alam Materi, adalah suatu hakikat yang terikat dengan ruang (baca: volume/isi) dan waktu disamping keterikatan-keterikatan yang lain. Dan karena hakikatnya yang demikian itulah maka ia memiliki banyak kekurangan dimana kekurangannya itu yang dikatakan efek samping. Misalnya, manusia yang hakikatnya adalah suatu wujud yang bernafas dengan paru-paru, maka ia sudah pasti tidak akan bisa bernafas di dalam air. Jadi, kalau kekurangannya ini harus ditiadakan, maka sama halnya dengan tidak mencipta Alam Materi sama sekali. Karena yang tidak terikat dengan volume (panjang, lebar dan tebal) dan waktu hanyalah wujud-wujud non materi (Akal dan Barzakh). 

Dan sudah tentu kalau Tuhan tidak menciptakannya, sudah pasti Ia akan terbatas. Karena Ia akan menjadi kikir, bakhil, zhalim, tidak mengetahui (jahil), tidak bijaksana .... dan seterusnya. Hal itu karena Ia telah meninggalkan kebaikan yang banyak disebabkan keburukan yang sedikit. Ini berarti kezhaliman dan ketidak bijakan yang nyata. Mengapa demikian? Karena kalau Tuhan meninggalkan 90 % kebaikan supaya terhindar dari 10 % keburukan, maka sama halnya Ia telah melakukan keburukan 90 % demi melakukan kebaikan 10 %. Karena meninggalkan kebaikan sama dengan melakukan keburukan. Begitu pula sebaliknya. 

Karena itulah, maka Alam Materi yang penuh dengan batasan ini, dan mengandungi keburukan yang pada hakikatnya adalah efek samping, mesti dicipta. Hal itu karena ke- Bijakan, ke-Murahan, ke-Maha Kasih, ke-Maha PandaianNya ...dan seterusnya. Jadi, tidak benar kalau ada orang berkata, mengapa Tuhan mencipta alam atau mencipta aku yang tidak memintanya??!!! 

(2). Derajat Alam atau Makhluk Barzakh 

Makhluk Barzak ini dikatakan Barzakh atau “Antara”, karena ia menempati posisi tengah antara Alam Non Materi Mutlak (Akal) dan Materi Mutlak. Mirip dengan alam kubur yang disebut Barzakh (Antara kehidupan dunia dan akhirat). 

Dalam filsafat, telah dibuktikan bahwa Makhluk Barzakh ini adalah Asal dari Alam Materi ini. Karena itu ia disebut juga “Tanah Asal” atau “Negeri Asal” atau “Tanah Air” yang dimaksudkan dalam hadits yang berbunyi: 

“Cinta tanah air/asal adalah bagian dari iman.” 

Dengan demikian, maka esensi atau spesies apapun yang ada di dunia materi ini, sudah pasti berasal dari Barzakh. Karena itu pulalah ia disebut juga dengan “Alam Mitsal” (alam contoh dari semua spesies materi). 

Kita melihat di dunia materi ini milyaran spesies makhluk, dari atom sampai ke manusia sebagai makhluk materi yang paling afdhal. Makhluk Materi ini, diadakan dan diatur oleh Makhluk Barzakh sebagai Pengatur atau Mudabbiraat-nya. 

Akan tetapi, karena Makhluk Barzakh ini adalah wujud non materi mutlak dan merupkan satu wujud global-mencakup (bukan global pahaman), dan karena Alam Materi adalah materi mutlak dan satu wujud yang banyak (individu), maka ia memerlukan kepada perantara dan barzakh lagi. Barzakh ke dua inilah yang dikenal dengan Ruh, Jiwa dan semacamnya. Karena itulah pada setiap wujud atau setiap spesies, diletakkannya wujud Non Materi Tidak Mutlak Dengan Makna Ke Dua (zat dirinya non materi akan tetapi dalam kerja-kerjanya memerlukan kepada materi atau Non Materi Individu (syakhshi atau tasyakhkhush). 

Dengan penjelasan di atas, maka dapat dipahami bahwa tidak ada satu wujud materipun kecuali ia memiliki ruh yang mengatur jalannya gerak dan apapun proses yang menyangkut dirinya, walau hanya gerakan putaran-putaran atomnya. 

Ruh yang ada di Alam Materi ini memiliki 4 tingkatan: Ruh Tambang; Ruh Nabati; Ruh Hewani dan Ruh Akli (akal manusia). Terkadang, satu materi hanya memiliki satu tingkatan Ruh saja, seperti benda-benda yang nampak mati yang hanya memiliki Ruh-tambang. Akan tetapi ada yang memiliki dua tingkatan ruh, seperti Ruh Nabati yang sudah pasti juga memiliki Ruh-Tambang. Hal itu karena tidak ada Nabati apapun yang tidak memiliki badaniahnya atau matternya atau materialnya yang perlu kepada pengaturan seperti putaran-putaran atomnya. Dan ada juga yang memilki tiga tingkatan (yaitu binatang atau hewani) dan bahkan ada yang memiliki empat tingkatan, yaitu manusia. Tingkatan-tingkatan ruh itu, kalau ada dalam satu materi (spesies), biasanya disebut dengan Quwwah atau Daya. 

(3). Hakikat Surga-Neraka 

Surga-neraka ini, merupakan ajaran agama langit yang dibawa oleh para nabi dan rasul. Surga- neraka ini, juga merupakan akibat atau hasil dari buah perbuatan manusia. Sudah tentu, sebab tunggalnya adalah karena manusia memiliki daya ruh yang dikatakan dengan akal dan pikiran. 

Karena surga-neraka merupakan akibat dari wujudnya akal, dan akal ini hanya dimiliki oleh manusia, maka sudah tentu kesurgaan surga dan kenerakaan neraka diukur dari sesuai tidaknya kedua makhluk itu (surga-neraka) dengan manusia dan akalnya. Artinya, surga yang merupakan kenikmatan, adalah kenikmatan diukur dari manusia. Begitu pula neraka yang merupakan tempat siksa. Makanan segar dan enak, merupakan salah satu kenikmatan surga. Padahal ia merupakan makanan yang tidak enak bagi wujud lain yang bernama bakteri. Tikus yang merupakan makanan enak bagi ular, tidak akan ditemui di dalam kenikmatan surga. 

Dan karena surga-neraka ini berada di jalan balik manusia menuju Tuhan (dengan mati dan kiamat), maka sudah tentu ia berada di tingkatan yang lebih tinggi dari Alam Materi dan, sudah tentu keduanya berada di Alam Barzakh atau Makhluk Barzakh. Karena itu keduanya merupakan kenikmatan dan siksa yang jauh melebihi kenikmatan dan siksa yang ada di Alam Materi. Hal itu, karena Barzakh adalah sebab bagi Alam Materi. 

Dengan kata yang lebih ilmiah dalam pandangan filsafat, dapat dikatakan bahwa tuhan-tuhan spesies atau malaikat-malaikat pengatur dari spesies-spesies yang ada di Alam Materi inilah yang dikatakan sebagai surga-neraka dan “Negeri Balik” atau “Tempat Balik” atau “Negeri Asal”. Surganya, adalah malaikat-malaikat spesies dari spesies apa saja yang sesuai dengan akal dan manusia, sedang Nerakanya, adalah asal spesies-spesies yang tidak sesuai, seperti api, duri, ular, babi, anjing ...dan seterusnya. 

Di dunia materi ini, hal-hal yang tidak sesuai dengan akal dan manusia itu, tetap diperlukan oleh manusia sebagai bekal hidupnya, baik langsung, seperti api, atau tidak langsung, seperti ular. Tapi di kehidupan setelah mati, maka yang tidak sesuai dengan akal dan manusia itu, terlebih sebabnya dan asalnya dimana kedudukannya pasti lebih tinggi dan kuat, maka akan semakin lebih menyiksanya. 

Dan karena hal-hal yang tidak sesuai dengan akal dan manusia itu adalah wujud-wujud yang tidak berkesesuaian dengan akal manusia, maka sudah tentu derajatnya dibawah wujud-wujud yang sesuai dengan akal manusia. Karena itu, Surga berada di atas Neraka. Artinya, Surga lebih dekat kepada Allah sebagai sumber segala keindahan dan kesempurnaan, sedang Neraka sebaliknya. 

Tapi kalau dilihat dari Alam Materi yang berada dibawah keduanya (surga-neraka), maka Neraka berada setahap di atas wujud Materi, sementara Surga berada di atas derajat Neraka. 

Akal, sebegitu hebatnya, hingga dapat menerima percikan Cahaya-cahayaNya hingga banyak mengetahui rahasia alam ini dengan akalnya dalam bentuk akal-gamblang atau dalil-gamblang. 

Dan Allahpun merestuinya serta membimbing yang lainnya yang tidak terlalu senang berfikir keras, dengan ayat-ayatNya, seperti, QS: 7: 176, dikala Tuhan mensifat orang-orang sesat yang sudah tentu ahli neraka. Yakni yang masuk ke Neraka karena tidak mau dinaikkan ke Surga. Dan penyebabnya, karena mereka tidak mau naik dan bahkan memilih untuk tetap bertahan di bumi/ materi. Akhirnya, karena mereka yang bertahan di bumi ini harus mati, maka tidak ada jalan lain kecuali mereka masuk ke dalam Neraka yang berada diantara Surga dan Bumi (Alam Materi) tersebut: 



وَلَو شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الَْرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَل الْكَلْبِ




“Dan kalau Kami menghendaki, maka Kami angkat –derajatnya- dengannya –ayat-ayat- akan tetapi ia mengekalkan dirinya ke dunia (memilih dunia) dan mengikuti hawa nafsunya, maka ia seperti anjing ....” 

Begitu pula Tuhan berfirman: 

ثم الجحيم صلوه ثم في سلسلة ذرعها سبعون ذراعا فاسلكوه

“Kemudian masukkanlah ia ke dalam Jahim –neraka. Kemudian ikatlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta!” (surat Al-Haaqah, 31-32) 

Nabi tercinta saww bersabda: 

لو أن حلقة واحدة من السلسلة التي طولها سبعون ذراعا، وضعت على الدنيا لذابت الدنيا من حرها

“Kalau saja satu mata rantainya saja dari rantai yang panjangnya 70 hasta –yang ada di neraka itu- diletakkan di dunia, maka dunia ini akan melebur/meleleh karena panasnya.” (Bihaaru al-Anwaar, 8: 280.) 

Nabi saww diutus Tuhan untuk menyelamatkan manusia. Baik manusia ini adalah filosof atau orang biasa. Karena itulah, hakikat-hakikat filosofis disampaikannya dalam bentuk kalimat- kalimat sederhana karena tujuannya adalah supaya manusia mudah memahaminya dan mudah mengimani dan menjalaninya hingga mencapai keselamatan dan terangkat ke derajat yang layak. Yaitu Surga kenikmatan dan, yang terpenting, maqam keridhaan Tuhan. 

Dan sudah tentu maqam Surga dan keridhaan ini, adalah maqam yang sesuai dengan akal manusia. Karena itu, hal-hal yang jauh dari nilai-nilai akal argumentatif gamblang, akan jauh pula dari maqam tersebut. Dan bahkan sebaliknya, ia adalah kedudukan yang cocok untuk menempati maqam Neraka. Oleh sebab itulah, gunakanlah akal itu untuk memahami segala hal terutama Tuhan dan agamaNya, walau mungkin tetap bisa dikatakan relatif, akan tetapi jalan tersebut adalah jalan paling selamat menuju Surga dan keridhaanNya. 

Tambahan: 


Karena Alam Materi adalah wujud paling rendah, maka penyintanya adalah orang-orang yang lebih cocok untuk masuk ke Neraka. Karena ia harus meninggalkan Materi ketika mati, akan tetapi ruhnya tidak bisa naik ke Surga karena sejak ia masih hidup di dunia tidak mau mengangkat martabatnya. 

Sementara yang tidak menyintainya, lebih cocok untuk masuk ke Surga. Karena dari sejak hidupnya, ia tidak menyintainya dan tidak menyukai yang bersifat kebumian dan kematerialan. Manusia seperti ini lebih suka kepada kebenaran akal dan agama serta ke-Maha BenaranNya. 

Neraka, sudah tentu memiliki derajat-derajat yang tidak terhingga karena penyinta dunia materi ini juga memiliki berbagai tingkatan yang tidak terhingga (hiperbolik) pula. Sedang Surgapun juga seperti Neraka. Memiliki derajat-derajat yang juga bisa dikatakan tidak terhingga. Dimulai dari satu derajat di atas Neraka, sampai kepada martabat dan maqam menjelang ‘Arsy atau Akal- akhir, atau bahkan maqam di atas semua itu dimana dikenal dengan Surga Muqarrabun, atau kenikmatan makhluk-makhluk Akal tersebut. 

(4). Langit dan Tingkatannya 

Akal manusia hanya bisa menjabarkan bahwa Neraka dan Surga itu memiliki Tingkatan-tingkatan. Hal itu disebabkan oleh kenyataan bahwa setiap manusia memiliki karakternya tersendiri yang terbentuk dari perbuatan-perbuatannya dimana satu sama lain pasti berbeda. Dan disebabkan pula oleh kenyataan akan kembalinya manusia ke arah sebabnya dengan karakter-karakternya itu. Karena itulah manusia datang dari wathan atau Negeri asalnya yang bernama Barzakh dalam keadaan bersih dari pengaruh kebaikan dan keburukan perbuatannya, dan akan kembali kepadanya dengan masing-masing perbuatannya. Jadi, kembali ke Barzakh dan dengan amalan- amalan dan karakter-karakter yang saling beda itulah yang menjadi salah satu bukti dari keberadaan tingkatan Surga dan Neraka tersebut. 

Dan Tuhan serta NabiNya saww, memberikan gambaran secara global tentang Tingkatan- tingkatan tersebut. Misalnya dengan mengatakan bahwa langit itu ada tujuh tingkat. Misalnya dalam QS: 23: 86: 

قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

“Katakan: ‘Siapa Tuhan ketujuh langit dan Tuhan ‘Arsy –singgasana- yang agung itu?” 

Di ayat ini nampak jelas bahwa ‘Arsy itu di atas ketujuh langit. Sebagaimana juga telah dijelaskan oleh Nabi saww dalam peristiwa mi’raj dengan sabdanya: 

حملت على جناح جبرئيل حتى انتهيت إلى السماء السابعة فجاوزت سدرة المنتهى عندها جنة المأوى حتى 
...........تعلقت بساق العرش فنوديت من ساق العرش: إني أناالله لا


“Aku dibawa di atas sayap Jibril as sampai ke langit ke tujuh, lalu kulewati Sidratu al-Muntahaa yang terdapat surga Ma’waa, hingga pada akhirnya aku sampai di kaki ’Arsy, kemudian aku diseru: Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada Tuhan kecuali Aku ...” (Tafsir al-Miizaan, tafsir surat Isra’). 



Secara global Tujuh Langit itu bisa dibagi kepada dua bagian: 

(4-a). Bagian Pertama, adalah Langit Pertama yang biasa disebut dengan Langit Dunia atau Langit Alam Materi. Langit ini bisa dipahami sebagai akhir Alam Materi atau batas akhir darinya. Allah berfirman: 

إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ

“Sesungguhnya Kami hiasi Langit Dunia, dengan keindahan bintang gemintang.” (QS: 37: 6) 

(4-b). Bagian ke dua, adalah langit ke dua sampai langit ke tujuh. Disini hampir dapat dipastikan bahwa yang dimaksudkan adalah Alam Non Materi. Karena dalam hadits Isra’ Mi’raj, Nabi saww bertemu dengan nabi Isa as dan Yahya di langit ke dua ini (sebagaimana nanti akan dijelaskan di kronologis Isra’ Mi’raj insyaAllah). 

Dan karena Allah berfirman dalam QS: 53: 14-15: 

عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى * عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى

“Di Sidratu al-Muntahaa * Di dalamnya terdapat Surga Ma’wa.” 

Dan juga berfirman di QS: 51: 22: 


وفي السماء رزقكم وما توعدون



“Dan di langitlah rejeki kalian dan apa-apa yang telah dijanjikan kepada kalian –surga” 

Sementara dalam kronologis Isra’ Mi’raj (sebagaimana yang akan dijelaskan di bawah nanti) dinyatakan bahwa Sidratu al-Muntaha itu setelah langit ke tujuh, maka dapat dipastikan bahwa Surga itu adalah Wujud Non Materi dan, sudah tentu Barzakhi, karena masih di bawah ‘Arsy. Dan batasan akhir surga itulah yang dikatakan dengan Sidratu al-Muntahaa (sebagaimana akan jelas di kronologis Isra’ Mi’raj nanti). 

(5). Kronologis Isra’ Mi’raj 

Peristiwa isra’ Mi’raj ini merupakan kejadian yang tidak bisa diingkari karena terurai dalam al- Qur'an dan Hadits-hadits yang mutawatir, baik di Syi’ah atau di Sunni. Dalam Tafsir al-Mizaan, karya Allaamah Thaba Thabai ra telah diriwayatkan hadits yang panjang tentang Isra’ Mi’raj ini. Karena menerjemahkan secara detail tidak diperlukan untuk bahasan kita ini, karena bahasan kita ini hanya ingin mengetahui apakah Nabi saww telah melakukan Isra’ Mi’raj dengan badan atau hanya dengan ruh atau dengan dua-duanya atau ada perincian lain, maka yang perlu sekali di terjemahkan adalah kronologisnya, bukan detail-detail kejadian dan apa-apa saja yang telah dilihat Nabi saww dalam peristiwa tersebut. Karena itu ringkasan kronoligisnya sebagai berikut: 

(5-1). Datangnya malaikat Jibril as kepada Nabi saww yang ditemani dengan malaikat Miikaaiil as dan Israafiil as dengan membawa Buraq. 

(5-2). Isra’nya Nabi saww (perjalanan malam) bersama malaikat Jibril as dari Makkah ke Bait Lahm (tempat lahirnya nabi Isa as) dan melakukan shalat dua rokaat. Dalam riwayat yang lain, ke Madinah dulu dimana setelah Nabi saww melakukan shalat dua rokaat sesuai perintahNya, diberitahu bahwa tempat tersebut adalah Madinah yang akan dihijrahi di kemudian hari. Sudah tentu dalam perjalanan beliau itu, beliau banyak melihat hal-hal yang memiliki makna serta takwilan-takwilan. Begitu pula pada perjalanan-perjalanan berikutnya. Akan tetapi saya hindari, supaya catatan ini tidak terlalu panjang. 

(5-3). Isra’nya Nabi saww dari Bait Lahm ke Masjidu al-Aqshaa di Palestina dan melakukan shalat dengan para nabi dengan imam shalatnya beliau sendiri. 

(5-4). Mi’raj Nabi saww dari Masjidu al-Aqshaa ke langit dunia. Di perjalanan ke Langit Dunia ini, beliau banyak menyaksikan sesuatu yang memiliki makna dan takwilannya. 

Di Langit Pertama ini beliau saww melihat Neraka. Dengan pendekatan yang lalu, dapat ditafsirkan bahwa Neraka yang Non Materi ini berada di akhir-akhir Langit Dunia Materi, atau di Awal-awal Langit ke dua. 

Di Langit Pertama ini juga beliau saww melihat nabi Adam as. Karena nabi Adam as adalah di alam Barzakh yang non materi dan karena langit dunia itu dihiasai dengan bintang- bintang, maka dapat dipahami bahwa peristiwa penyaksian tersebut terjadi di penghujung 

Langit Pertama atau di Awal-awal Langit ke dua. Atau bisa juga dimaknai sebagai batinnya langit pertama. Akan tetapi tafsiran pertama itu lebih cocok. 

(5-5). Meneruskan Mi’raj ke Langit ke dua dimana bertemu dengan nabi Isa as dan Yahya as. 

(5-6). Meneruskan perjalan Mi’raj beliau saww ke Langit ke tiga dimana beliau saww bertemu dengan nabi Yusuf as. 

(5-7). Meneruskan Mi’raj ke Langit ke empat dimana beliau saww bertemu dengan nabi Idriis as. 

(5-8). Meneruskan Mi’raj ke Langit ke lima dimana beliau saww bertemu dengan nabi Harun as. 

(5-9). Meneruskan Mi’raj ke Langit ke enam dimana beliau saww bertemu dengan nabi Musa as. 

(5-10). Meneruskan Mi’raj ke langit ke tujuh dimana beliau saww bertemu dengan nabi Ibarahim as. 

(5-11). Meneruskan Mi’raj sampai ke Baitu al-Ma’muurdan melakukan shalat. 

(5-12). Menerruskan Mi’raj sampai ke Kautsar (telaga di surga). 

(5-13). Meneruskan Mi’raj hingga memasuki surga. 

Perlu diketahui bahwa kronologis di atas itu berdasarkan pada lahiriah riwayatnya yang, kemungkinan besar memang tidak ingin mendetailkan semuanya karena tidak dianggap perlu. Karena itu, bisa saja Ruh-ruh nabi yang ditemui oleh Nabi saww itu menunjukkan derajat- derajat surga mereka, atau bisa saja dalam penyambutan mereka terhadap Nabi saww. Bisa saja Ruh para Nabi saww itu memang belum masuk ke surga dengan sebenar-benarnya karena kiamat dan hisab atau hari perhitungan, sebagai syaratnya masuk surga secara hakiki, belum tiba. 

Untuk masalah Baitu al-Ma’muur terdapat banyak riwayat. Diantaranya mengatakan suatu tempat di Langit Dunia, ada juga yang megatakan di Langit ke Empat. Akan tetapi di hadits Isra’ Mi’raj di atas (yang saya ringkas dalam bentuk kronologis itu) nampak bahwa Baitu al-Ma’muur itu setelah Langit ke tujuh. 

Perbedaan itu bisa disebabkan kesalahan penukilan. Intinya, bisa menguatkan perkiraan ke dua di atas (bahwa) Langit ke dua sampai dengan Langit ke tujuh itu, merupakan tingkatan barzakh atau tengah antara dunia dan surga sesungguhnya). Dengan demikian, maka surga itu sangat mungkin setelah Langit ke tujuh. 

Apapun itu, apakah Surga itu di Langit ke dua, atau setelah Langit ke tujuh, maka tetap merupakan Wujud Non Materi Barzakhi. 

Akan tetapi tidak bisa juga menafikan kemungkinan lain yang mengatakan bahwa surga itu memang sejak dari Langit ke dua, karena adanya riwayat-riwayat yang menerangkan bahwa nabi Ibrahim as, di Surga, bersama anak-anak kaum mukminin yang mati masih kecil. 

Jalan paling bijaksana, adalah bahwa mereka di surga dalam artian belum seutuhnya. Hal itu karena surga seutuhnya itu hanya akan dimasuki oleh manusia setelah kiamat tiba dan selesai hisab di padang Makhsyar kelak telah selesai dilakukan. Jadi, dari satu sisi mereka tidak di surga, tapi dari sisi lainnya mereka di dalam surga. 

(5-14). Meneruskan Mi’raj sampai ke Sidratu al-Muntahaa. Yakni akhir Surga dan Awal ‘Arsy yang disebut dalam hadits sebagai Kaki ‘Arsy. Nabi saww bersabda: 

وانتهيت إلى سدرة المنتهي ............. فكنت منهاكما قال اهلل تعالى “ قاب قوسين أو أدنى” فناداني 

“.... dan aku berhenti di Sidratu al-Muntaha. ..... maka aku kala itu seperti yang dikatakan Tuhan: ‘Sedekat dua busur atau lebih dekat lagi –dengan Tuhan.’.” 

(5-15). Mendapat perintah shalat 50 kali. Lalu dengan tawassulnya nabi Musa as kepada nabi Muhammad saww untuk kaum mukminin yang merupakan umat Nabi saww, dan dengan diterimanya tawassul itu oleh Nabi saww, maka pada akhirnya Nabi saww mensyafaati kita (kaum muslimin) hingga meminta keringanan kepada Allah swt. 

Pada permintaan pertama itu diturunkan 10 shalat. Lalu peristiwa itu terulang lagi, hingga akhirnya hanya tinggal sepuluh shalat saja. Lalu setelah itu permohonan keringanan itu terulang lagi dan akhirnya diturunkan lagi hingga yang tersisa hanya lima shalat. Sudah tentu dengan pahala yang 50 shalat, karena Tuhan dalam QS: 6: 160, berfirman: 

“Barang siapa berbuat kebaikan, maka ia akan mendapatkan sepuluh kali lipatnya.” 

Rincian dan filsafat tentang tawar menawar shalat ini, mesti dibahas dalam topik tersendiri yang, sepertinya saya sudah pernah menjelaskan dan menuliskannya. 

Hasil Kesimpulannya: 

(1). Dengan berbagai mukaddimah dan keterangan di atas itu, dapat disimpulkan bahwa Isra’ Nabi saww dilakukan dengan Ruh dan Badan beliau saww. Begitu pula Mi’raj beliau yang ke Langit Pertama atau Langit Dunia. 

(2). Sedang Mi’raj beliau saww dimulai dari Langit ke dua, atau akhir Langit pertama, ke seterusnya, dan dilakukan beliau dengan Ruh saja. Akan tetapi bukan berarti lepas dari badan. Melainkan persis dengan perjalanan ruhani manusia yang menjalani hidup taqwa dan irfan yang tinggi atau perjalanan ruhani orang mukmin sejati yang melakukan shalat dengan khusyu’ karena disebutkan dalam hadits bahwa shalat itu mi’rajnya mukmin. 

Perjalanan ruhani ini dapat diyakini keruhaniahannya karena yang didatangi, seperti para nabi as dan Neraka serta Surga, adalah wujud-wujud non materi sebagaimana maklum. Karena itulah perjalanan badani Nabi saww hanya berakhir di akhir Dunia Materi ini. Dan selanjutnya perjalanannya diteruskan dengan ruhani. 

Artinya, ruhani Nabi saww yang Daya Tambang, Nabati dan Hewaninya, tetap mengurusi perputaran badaniah beliau, sementara Daya Akalnya, terus melesat sampai ke Sidratu al- Muntahaa tersebut, tanpa adanya saling ganggu antara Ruh beliau yang Daya Akal dengan Ruh beliau yang Daya di bawahnya itu. Persis seperti ketika Nabi saww melakukan shalat di dunia ini, dimana Ruh Daya Tambang, Nabati dan Hewaninya tetap mengatur mobilitas badannya, sementara Ruh bagian Daya Akalnya melesat ke Sidratu al-Muntahaa. 

Dan ingat, karena Ruh manusia itu satu dan non materi, maka Daya-daya tadi tidak dalam bentuk bagian-bagian dan petakan-petakan. Akan tetapi ia benar-benar berupa satu wujud yang non materi dan tak berbagi, namun dapat mengatur dirinya baik di tingkatan badaniah dan akliahnya secara rapi dan teratur tanpa adanya saling ganggu. Tentu saja, tarik menarik di antara Daya-daya itu tetap ada, manakala manusia belum menempati posisi Fana’ atau setidaknya belum menempati maqam Mati Sebelum Mati. 

(3). Sedang pendapat yang mengatakan bahwa sejak dari Isra’nya saja sudah dilakukan Nabi saww dengan ruh saja, maka hal ini tidak perlu banyak ditanggapi. Karena Isra’ Mi’raj ini termasuk dalam katagori Mu’jizat dimana perlu kepada perjalanan badani. Karena perjalanan ruhani bukanlah mu’jizat yang dapat mencengangkan pada Kuasa Tuhan dan Kebenaran Nabi saww. 

Catatan: 

(1). Terdapat perbedaan dalam waktu terjadinya Isra’ Mi’raj ini. Yang dikuatkan di madzahab Syi’ah adalah tanggal 17 Ramadhan. 

(2). Dan di Sunni lebih menguatkan tanggal 27 Rajab. 
Di Syi’ah, kejadian Isra’ Mi’raj ini terjadi sebanyak dua kali (setidaknya). 

Wassalam. 

Ali Al Hussain and 37 others like this. 

Saleh Aljufri:

اللهم صلي على محمد المصطفى وعلي المرتضى وفاطمة الزهراء والحسن والحسين واهل بيتهم اجمعين 

والحجه القائم -عج-سالم اهلل عليهم اجمعين... 

Bulan Bintang Merah: ini penjelasan paling cerdas ihwal peristiwa itu. sayang sekali bila terhapus. bisakah diulang ke dalam inbox saya ? terimakasih. 

Young Mesa: Salam.... izin nge-save ya ust..afwan. 

Bulan Bintang Merah: iya, mau saya save jadi tulisan indah, dan akan saya kirim via email ke teman teman. gimana caranya ? sebarkan ilmunya dong.... 

Sinar Agama: Salam dan trim atas semua jempol dan komentnya: 

Bulan Bintang Merah: ditunggu di inbox... 

Sinar Agama: Bulan: Tolong usahakan ambil sendiri dulu yah .. karena saya sudah teler dengan penulisannya, jadi bantulah aku dengan mengambilnya sendiri. Tapi kalau nanti ternyata kesulitan, bilang saja mungkin kubantu. afwan 

Dharma N TP: (Ustadz, ijin share, copy, save, dll .... syukron :)) 

Sutan Ferdian: Ijin re-share, Ustadz. Sinar. Terimakasih. 

Sugianto Sahaja: banyak Begitu penjelasannya. 

Sinar Agama: salam dan trim sekali lagi atas jempol dan koment-komentnya. Tulisanku asal untuk kebaikan dan tidak untuk bisnis, gratis untuk dipakai dengan cara apa saja, asal tetap dengan nama sinar agama ini. Karena takut ada pertanyaan dari pembaca, maka biar mereka bertanya kepada alfakir ini. 

Sinar Agama: Bintang: Kan tinggal save saja untuk mengambil catatan ini? Kenapa harus di inbox? 

Eri Medan: Ana ijin copas dan tag ya ustadz, syukran salam wa rahmah. 

Sinar Agama: Eri: ok, silahkan 

Sinar Agama: wa’alaikum salam wr wb 

Arly Aprinaldo Aziz: Assalamu’alaikum, ustadz lagi tolong dong bantu ngambl teks nya,.terima- kasih uztadz. Wassalamu’alaikum. 

Syair Pengembara: ustadz sinar agama, bisakah menjelaskan pengertian “ mati sebelum mati ?” 

Ali Al Hussain: Terima kasih. Sangat bermanfaat. 

Weni Alatas: Syukron ustadz, sangat bermanfaat. 

Sinar Agama: Arly, coba dulu ambil sendiri ya.... karena sudah sangat sibuk ini dan itu nih ... nanti kalau masih tidak bisa, maka bisa hubungi lagi aku. Kan tinggal save saja bukan? 

Sinar Agama: Syair: Mati natural adalah tidak adanya apapun ikhtiar pada manusia. Dari sejak perbuatan menarik nafas sampai pada aktifitas yang besar, seperti mencari nafkah, ibadah dan jihad. Tapi mati ikhtiari, adalah membunuh ikhtiar berbuat buruk dengan pedang ikhtiar berbuat baik/taat. Dan, begitu seterusnya sampai pada tingkatan yang lumayan tinggi hingga seperti orang mati. Yakni tidak cinta apapun dunia ini, baik yang buruknya atau yang halalnya. Inilah maqam yang diperintahkan oleh Nabi saww dalam haditsnya: “Matilah kalian sebelum mati!” Atau dalam hadits lain yang berkata: “Orang mukmin itu dalam sehari -setidaknya- mati 70 kali.” 

Nah, kalau kita latihannya dalam sehari mati 70 kali, maka tidak terlalu lama kita akan mati ikhtiari dimana sudah tentu mendahului mati naturali. 

Sinar Agama: Kasih dan Senja: Ok, sama-sama. 

Syair Pengembara: apakah bisa diartikan bahwa mati 70 kali dalam sehari, sama dengan kita membunuh 70 kali keinginan terhadap dunia ? atau tidak memanjangkan angan angan ?, mohon bimbingannya ustadz. 

Sinar Agama: Syair: Benar demikian: Pertama yang dibunuh adalah kebodohan tentang hukum- hukum Tuhan, karena itu harus belajar fikih supaya tahu mana yang wajib dan mana yang haram/ dosa. Begitu pula membunuh kebodohan tentang akidah. Setelah itu membunuh dosa-dosa. Lalu setelah itu membunuh kesukaan kita pada dunia ini dan seterusnya seperti yang sudah dijelaskan di kajian-kajian irfan (lihat catatan-catatan wahdtul wujud dll-nya). 

Syair Pengembara: ustadz, mohon penjelasannya mengapa sholat itu mi’rojnya mukmin, bukan muslim ?. 

Sinar Agama: Syair: Karena kalau memang khusyu’, maka ia akan melanglangi yang dilanglangi Nabi saww, walau dalam bentuk yang lebih rendah dilihat dari sisi rincian dan kejelasannya. Artinya yang sudah shalatnya khusyu’ akan sampai pada perjumpaan denganNya (tapi jelas tidak dalam bentuk bayangan dan apalagi bentuk dan kebendaan). 

Herry Yuli Sunarno: salam...terimakasih ustadz...sudah saya baca namun masih perlu diulang saya bacanya...pusink gue ustadz kl sudah bcr pusing saya ustadz kalau sudah bicara alam non materi...oke ustadz syukron....semoga antum senantiasa bersama syafaat muhammad dan keluarga muhammad...ilahi amin. Allahumma shalli ala muhammad wa aali muhammad.... 

Mujiburrahman Psy: Saya ijin nge-save, ustadz. syukron. 

Brandal Loka Jaya: ngaji fiqih bisanya cumak tau haram halalnya ja.......kalau leh tau haram, halal bisa di lihat dri apa........??????? 

Karbala: ijin copas. 

Khommar Rudin: Allah humma shalli alaa muhammad wa aali muhammad. 

June 12, 2012 at 5:34 pm



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ