Minggu, 12 Agustus 2018

Kedudukan Fantastis Imam, Bag: 5-c (Bahwa imam memegang pemerintahan langit dan bumi)



by Sinar Agama (Notes) on Thursday, September 30, 2010 at 7:09 am

Melanjutkan jawaban terhadap permasalahan yang dibawa Abd Bagis, yaitu poin (d) tentang:

IMAM MEMEGANG PEMERINTAHAN LANGIT DAN BUMI

15. Doa tanpa shalawat pada Rasul saww dan Ahlubait as, akan menjadi tertutup dan dengan shalawat, akan menjadi terkabul (Kanzu al-‘Ummal 1:173; Shawa’iqu al-Muhriqoh 88; Faidhu al-Qodir 5:19; Thabrani di tafsir Kabirnya; Baihaqi di Syu’abi al-Imannya; dan lain-lain). 

Shalawat pada Nabi saww harus menyertakan Keluarga beliau saww yang suci/Aali (Bukhari di kitab Da’awaat, bab shalawat atas Nabi saww; dan segudang lainnya). 

Bahkan Shalat lima kali (dalam 3 waktu) menjadi batal tanpa shalawat pada Aali/keluarga suci Nabi saww. (Muslim, kitab al-shalat, bab shalawat atas Nabi saww setelah tasyahhud; Turmudzi 2:212; al-Nisai 1:190; Ibnu Maajah 65; Tafsir Thabari 22:31; Baihaqi 2:379; Sunan al-Daaruqudni 136; Dzakhairu al-‘Uqba 19; al-Shawa’iqu al-Muhriqoh 88; Tafsir Fakhru al-Rozi kala menafsiri QS: 42:23; ...dst sampai tidak terhitung jumlahnya dari kitab-kitab hadits dan tafsir). 

16. Ahlulbait adalah keluarga yang disucikan, bukan sekedar keluarga. Dan mereka itu adalah Ali as, Fathimah as, Hasan as dan Husain as sesuai dengan ayat yang berbunyi +/-: 

“Sesungguhnya Allah hanya ingin menghindarkan dari kalian Ahlulbait/keluarga-Nabi segala ke- kejian/dosa dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” 

Sesuai dengan tafsir-tafsir dan riwayat-riwayat Sunni seperti: Shahih Muslim, kitab Fadhaaiu al-Shahaabah, bab Fadhaailu Ahlu al-bait 2:367; Shahih Turmudzi hadits ke 3258, 3875; Musnad Ahmad 1:330; Mustadrak 3:133,146, 147, 158; al-Mu’jamu al-Shaghiir 1:65,135; 

Syawaahidu al-Tanziil 2:92 hadits ke 637, 638...sampai 60 hadits; Tafsir Thabari 22:5,7,8; Tafsir al-Duuru al-Mantsur 5: 198; Tafsir al-Kasysyaaf 1:193; Ahkamu al-Qur'an karya Ibnu ‘Arabi 2:166; Tafsir Qurthubi 14: 182; Tafsir Ibnu Katsir 3: 483, 484, 485; dan segudang lainnya. 

Tentu saja, ke 9 imam lainnya adalah Ahlulbait yang makshum, karena Nabi saww bersabda setelah aku ada 12 imam yang semuanya dari Quraisy (Bukhari hadits ke: 7222-7223; Shahih uslim: 3393-3394; dll dari hampir seluruh kitab-kitab hadits dan tafsir Sunni) sementara di Qur'an melarang kita taat (mutlak) pada yang memiliki dosa (QS: 76:24 ). Lihat keterangan selanjutnya di catatanku yang berjudul “Konsep Imamah/Khilafah Dalam Islam (Syi’ah)”. 

17. Ahlulbait di atas, juga sesuai dengan pengakuan ‘Aisah istri Nabi saww. (Shahih Muslim 2:368; yang bersyarah Nawawi, 15:194; Syawahidu al-Tanziil 2:33 dengan 9 riwayat; Mustadrak 3:147; al-Duuru al-Mantsur 5:198; dll). Dan sesuai dengan pengakuan Ummu Salamah, istri Nabi saww yang lain (Shahih Turmudzi hadits ke 3258, 3875, 3963; Syawahidu al-Tanzil 2:24, hadits ke 659, 706, ..sampai 33 hadits; Tafsir Ibnu Katsir 3:484, 485; Usdu al-Ghobah 2:12, 3:413; Dzakhoiru al-‘Uqba 21, 22; Tafsir Thabari 22:7-8; Tafsir al-Duuru al-Mantsur 5:198; dll). 

Ahlulbait bukan istri-istri Nabi saww. (Shahih Muslim 2:362/7:123/15:181 yang syarah Nawawi; Shawaiqu al-Muhriqoh 148; Faraidu al-Simthain 2:250; ‘Abaqotu al-Anwar 1:26,104,242, 261, 267). 

18. Rasul saww bersabda +/-: 

”Aku perang dengan yang memerangi kalian (Ahlulbait) dan damai bagi yang damai pada kalian” (Shahih Turmudzi 2:319; Mustadrak 3: 149; Usdu al-Ghobah 3: 11, 5:523; Kanzu al-‘Ummal 6:216 menukil dari Ibnu Habban 7: 102 dan menukil dari Ibnu Syaibah, Turmudzi, Ibnu Maajah, Thabrani, Hakim dll; Dzakhairu al-‘Uqba 25; Musnad Ahmad bin Hambal 2:442; Tafsir al-Duuru al-Mantsur dalam menafsiri ayat penghindaran dari dosa di atas, yakni ayat tathhir; dan lain-lain). 

19. Ahlulbait yang suci itu dijadikan sebagai penjelas al-Qur'an oleh junjungan kita Nabi Muhammad saww dengan sabdanya yang semakna dengan ini +/-: 

“Kutinggalkan dua perkara yang berat pada kalian yang, kalau kalian pegangi tidak akan pernah sesat setelah aku. Yang pertama kitabullah, dan yang ke dua ‘Itrahku Ahlu Baitku (bc: keluarga suciku, sesuai ayat di atas)”. 

Malahan ada yang sampai-sampai Nabi saww mewanti-wanti umat dengan lanjutan sabdanya +/-: 

“…. Kuingatkan kalian pada keluargaku, kuingatakan kalian pada keluargaku, kuingatkan kalian pada keluargaku”, seperti yang terdapat di Shahih Muslim 2:362. Atau dengan kelanjutan sabdanya yang lain di tempat lain: 

" …dan keduanya itu (Kitab dan Ahlulbait) tidak akan pernah saling berpisah sampai mereka mendatangiku nanti di al-Haudh/Telaga (di surga). Nantikanlah bagaimana kalian akan menyim- pang dari aku melalui keduanya itu”. Hadits Tsiqlain (dua yang berat) ini diulang-ulang Nabi saww di berbagai kesempatan dan tempat. Ibnu Hajar mengatakan: 

“Hadits-hadits ini memiliki jalur/sanad/perawi/thuruq yang banyak yang telah diriwayatkan oleh lebih dari 20 shahabat (sebenarnya keseluruhannya di Sunni ada 35 sahabat, jadi lebih dari kelipatan 3 mutawatir). Di sebagian sanad mengatakan bahwa Nabi saww mengatakannya di Haji Wada’, sebagian yang lain di Madinah diwaktu sakitnya beliau dimana waktu itu kamar beliau telah dipenuhi para shahabat, sebagian lagi di Ghadiru al-Khum, sebagian lagi di Mimbar setelah pulang dari Thaif. Dan semua itu tidak masalah sama sekali karena tidak mustahil Nabi saww mengulang-ngulangnya di berbagai tempat karena perhatiannya pada pentingnya keduanya (Qur'an dan Ahlulbait).” (al-Shawaaiq al-Muhriqoh hal 89 cet al- Maimaniyyah Mesir, dan hal 148 cet al-Muhammadiyyah). 

Hadits-hadits Qur'an dan Ahlulbait ini diriwayatkan di Shahih Muslim 2:362; Shahih Turmudzi 2:308; Musnad Ahmad 3:17, 26,..; Tafsir Ibnu Katsir 4:113; Tafsir Khozin 1:4; Tafsir al-Durru al-Mantsuur 6:7, 306; Usdu al-Ghaabah 2:12; Mustadrak 3: 148;.....dst sampai-sampai saya sendiri kelelahan menghitung jumlah bukunya setelah saya hitung sampai pada kitab ke 70-an, sampai-sampai ke kitab-kitab kamus Arab hadits ini juga dinukil seperti kamus Lisanu a-‘Arab 13:93; Taju al-‘Arus 7:245; al-Qomus 3:342. Saya juga pernah hitung-hitung jumlah haditsnya sampai melebihi 240-an yang tersebar di berbagai kitab-kitab Sunni yang terjangkau saya, belum lagi yang tidak terjangkau. 

20. Malaikat mengucap Ta’ziah pada Ahlulbait kala Nabi saww wafat (Mustadrak 3:57; al-Ishabah 2:129 dan dikatakan di dalamnya bahwa Baihaqi juga meriwayatkan hal ini). 

21. Diriwayatkan bahwa Nabi saww bersabda (dan yang semakna dengan ini) +/-: 

22. (a) Dari Abu Said al-Khudri bahwa Nabi saww mendatangi Fathimah as dan bersabda: 

“Sesungguhnya aku dan kamu (Fathimah as) dan yang tidur ini (Ali as) dan mereka berdua (Hasan as dan Husain as) sungguh-sugguh dalam satu tempat/maqam/derajat di hari kiamat.” 

(Mustadrak 3:137; Musnad Ahmad bin Hambal 1:101; Usdu al-Ghabah 5:523; Abu Daud 1:26; 

Kanzu al-‘Ummal 7:101; al-Riyadhu al-Nadhrah 2:208;). 

(b) “Yang pertama kali masuk surga adalah aku, kamu (Ali as), Fathimah, Hasan dan Husain” 

(Mustadrak 3:151; Dzakhoiru al-‘Uqba 123; Tafsir al-Kasysyaf dalam menafsir QS: 42:23; Nuru al-Abshar 100; Kanzu al-‘Ummal 6:218; al-Riyadhu al-Nadhrah 2:211; dll). 

23. Rasul saww bersabda +/-: 

(a) “Sesungguhnya umat ini akan mengkhianatimu (Ali as) setelah aku dan engkau hidup dalam agamaku dan berperang sesuai ajaranku. Siapa mencintaimu berarti mencitaiku dan siapa yang membencimu berarti membenciku. Sungguh ini (menunjuk ke jenggot Ali as) akan tersemir dari ini (menunjuk ke kepala imam Ali as, yakni jenggotnya akan terlumuri darah dari kepalanya di waktu syahid).” 

Hadits ini dan yang semakna ada di: Mustadrak 3:142; Tarikh Baghdaad 11:216; Kanzu al- ‘Ummaal 6:73; Majma’ 9:138; dll dimana mereka-mereka ini menshahihkan hadits tersebut dan hadits-hadits sebelumnya. 

(b) “Ya Ali sungguh kamu akan ditimpa bencana setelah aku, maka jangan bunuh mereka!” 

(Kunuuzu al-Haqaaiq karya al-Manawi 188, maksudnya jangan perangi mereka di awal-awal wafatnya Nabi saww sebelum Islam kuat secara fisik). 

(c) “... Lalu Rasulullah saww menangis. Rasul saww ditanya: Apa yang telah membuatmu menangis ya Rasulullah? Rasul saww menjawab: ‘Kedengkian-kedengkian berada di hati orang-orang yang tidak dikeluarkannya kepadamu (Ali) kecuali setelah aku (wafat)....’.” 

(Tarikh Baghdaad: 12:398; Kanzu al-‘Ummaal 6:408; al-Riyaadhu al-Nadhrah 2:210; Mustadrak 3:139; al-Majma’ 9:118). 

24. (a) Dikatakan dalam al-Shawaaiqu al-Muhriqah 80 bahwa Imam Ali as pada malam hari yang di shubuhnya beliau tertebas (syahid), sering keluar rumah dan melihat ke langit sambil berkata : 

“Demi Allah aku tidak bohong dan tidak dibohongi bahwasannya malam ini adalah malam yang dijanjikan untukku“. 

Dan al-Shawaiq meneruskan tulisannya dengan mengatakan bahwa ketika imam Ali as telah syahid dikubur pada malam hari (bc: kuburnya disembunyikan) supaya tidak digali lagi oleh kaum Khawarij.

(b)Rasul saww, para nabi dan malaikat mendatangi imam Ali as kala kepalanya tertebas pedang beracunnya Abdurrahman bin Muljam (Usdu al-Ghabah 4:38).

(c) Batu-batu di Baitu al-Muqoddas/Iliya, Suriah bahkan di dunia mengeluarkan darah kental kala diangkat, pada hari syahidnya imam Ali as (Mustadrak 3:113, 144; Thabari dalam al- Riyaadhu al-Nadhrahnya 2:247; al-Shawaaiqu al-Muhriqah 116).

25. Rasul saww bersabda +/-:

(a) “Engkau (Ali) dan syi’ahmu (pengikutmu) mendatangiku di telaga (di akhirat).”

Hadits ini dan yang semacamnya ada di: al-Majma’ dari Thabari: 9:131; Kunuuzu al-Haqaaiq 188; al-Istii’aab, 2:457; Mustadrak 3:136; Tarikh Baghdaad 12:289; al-Shawaaiqu al-Muhriqah 66;).

(b) “Engkau (Ali) dan syi’ahmu di surga.”

Hadits ini dan yang semacamnya ada di: Hilyatu al-Auliyaa’ 4:329; Tarikh Baghdaad 12:289, 358; Majma’ 9:173 dari Abu Hurairah; al-Shawaaiqu al-Muhriqah 96; al-Riyaadhu al-Nadhrah karya Thabari 2:209; Kanzu al-‘Ummaal 2:218; al-Muntakhab min Shehhatu al-Sittah 257;...dst.

(c) “Mereka adalah kamu dan syi’ahmu” dalam menjelaskan khairu al-bariyyah (paling bagusnya manusia, QS: 98:7). (Syawahidu al-Tanzil 2:356-366 hadits ke: 1125 – 1149; al-Shawaaiqu al- Muhriqah 96; Tafsir al-Durru al-Mantsuur 6:379; Tafsir Thabari 30:146; dll).

26. Kata-kata Syi’ah Ali as (Pengikut Ali as) yang keluar dari lisan suci Rasul saww dan yang mengabarkan tentang barbagai hal, seperti paling afdhalnya manusia, masuk surga, diridhai, yang menang ...dst kurang lebih sampai mencapai 200-an kata di kitab-kitab yang tersebar di Ahlussunnah yang menerangkan sekitar ayat atau kata yang berbunyi “Khairu al-Bariyyah”, “al-Faaizuun”, “Radhiallah ‘Anhum”, yakni dari yang terjangkau saya. Diantaranya, Tafsir al- Durru al-Mantsur; Tafsir al-Muharriru al-Wajiz; Tafsir al-Alusiy; Tafsir Thabari; Tafsir Haqqu; Tafsir Ruhu al-Ma’ani; Tafsir Fathhu al-Qodir; Bashairu al-Tamyiz; al-Shawaiqu al-Muhriqoh; al-Muntaqa; Nazhmu Durari al-Simthain; Yanabi’u al-Mawaddah; Syarhu Ushuli I’tiqodi Ahli al-Sunnati wa al-Jama’ati; Fadhailu al-Shahabah karya Ibnu Hambal; Mukhtasharu Minhaji al- Sunnati; Ushul wa Tarikhu al-Firaq; al-Mu’jamu al-Ausath karya Thabrani; al-Mu’jamu al-Kabir karya Thabrani; Jami’u al-Hadits; Jam’u al-Jawaami’; Kanzu al-‘Ummal; al-Sunnah karya Abdullah bin ahmad; al-Syari’ah karya al-Ajiriy; Fadhailu al-Shahabah karya Ahmad bin Hambal; Majma’u al-Zawahid; Mausu’atu Athrafi al-Hadits; Mausu’atu al-Takhrij; Usdu al-Ghabah; Tarikh Thabari; Tarikh Baghdad; Tarikh Demesyqiy; Mizanu al-I’tidal; Taju al-‘Arus; Lisanu al-‘Arab; dll).

Kesimpulan:

1. Nabi saww dan Ahlulbait yang suci –Hdh Fathimah as n 12 imam Makshum as- ada dalam satu maqam dan paling afdhalnya makhluk.

2. Afdhal sama dengan lebih tinggi dan dekat di sisi Allah secara hakiki.

3. Yang lebih tinggi/dekat, menjadi perantara Tuhan bagi yang lebih rendah/jauh.

4. Perantara, yakni dalam segalanya termasuk pengaturan.

5. Terbuktilah bahwa mereka mengatur dengan perintahNya


Catatan Sebelumnya:


اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ


Kedudukan Fantastis Imam, Bag: 5-b (Bahwa imam memegang pemerintahan langit dan bumi)



by Sinar Agama (Notes) on Wednesday, September 15, 2010 at 8:32 pm

Melanjutkan jawaban terhadap permasalahan yang dibawa Abd Bagis, yaitu poin (d) tentang:

IMAM MEMEGANG PEMERINTAHAN LANGIT DAN BUMI

Jawaban-2-a Untuk Poin (e)

Sebenarnya, setelah melewati jawaban-1 (e), sudah dapat diketahui bahwa para imam/khalifah memegang pemerintahan langit dan bumi, sekalipun mereka tidak punya ikhtiar apapun kecuali hanya sebagai perantara Allah mengatur para malaikat yang mengatur alam ini. Dan sekalipun mereka harus hidup sebagaimana mestinya sebagai seorang manusia yang memiliki taklif. 

Dalam banyak ayat dan riwayat telah mengisyaratkan kepada ketinggian derajat mereka di sisi Allah, tapi banyak muslimin hanya memahaminya sebagai semacam pangkat kesepakatan sosial- politik seperti presiden, bukan sebagaimana pangkat hakiki. Padahal, pangkat yang diberikan Allah kepada hambanya adalah hakiki. Oleh karena itulah mereka menafsir al-Mashir dalam Qur'an selalu sebagai “tempat kembali” (QS:2:126; 2:285), bukan “menjadi”. 

Padahal, makna “menjadi” lebih dekat dengan makna “kembali”. Oleh karenanya makna dari “Wa ilaihi al-Mashiir” adalah “Dan kepada Dia-lah menjadi”. Yakni kepada Allah-lah menjadi, bukan tempat kembali seperti kembalinya manusia ke kota aslinya dimana ia tidak menjadi kota tsb. Tentu saja, karena Allah mengatakan “kepada”-Nya-lah, menjadi, maka tidak akan pernah menjadi Allah, walau bagaimanapun. Karena “menjadi kepadaNya” jauh beda dengan “menjadiNya”. Yang jelas bahwa semua maqam itu bukan diduduki manusia, tapi manusia telah menjadi maqam- maqam tsb. 

Berikut ini saya akan nukilkan ayat-ayat atau riwayat-riwayat yang ada dalam Sunni saja yang melukiskan pangkat-pangkat dan derajat-derajat itu supaya saudara-saudara Sunni tidak meng- klaim bahwa hal seperti itu hanya ada di Syi’ah. Tentu saja penukilan itu hanya sebagian kecil dari yang ada di berbagai bidang dan maqam. Dan insyaaAllah pembahasan (e) ini akan diakhiri dengan bahasan filosofisis di jawaban-3. Nukilan-nukilan naql tsb adalah: 

1. Allah berfirman “Kami tidak mengutusmu kecuali rahmat bagi sekalian alam” (QS: 21:107). Sekalian alam di sini sudah pasti dunia-akhirat dan dari sebelum nabi Adam as sampai hari kiamat dan akhirat. Rahmat di sini sudah tentu bukan hanya seperti hujan, karena hujan juga mendapat rahmat dari Nabi saww. Bukan pula hanya seperti syariat karena sebelum Nabi saww tidak dibimbing beliau secara langsung, dan syariat sebelum beliau berbeda dengan syariat beliau kecuali dalam tauhid dan beberapa ajarannya sekalipun agama mereka juga bagian dari alam ini yang juga mendpt rahmat dari beliau saww. Tentu juga tidak hanya seperti surga karena surga juga mendapat rahmat dari keberadaannya. Begitu seterusnya. Apapun yang kita sebut sebgai rahmat, dia juga mendapat rahmat dari Allah melalui Nabi saww. Sebenarnya, hal itu adalah pengaturannya atas semuanya. Ringkasnya, beliaulah khalifah tertinggi Allah hingga para khalifatullah yang lain juga dalam pengaturannya. 

2. Firman-firman Allah tentang Isra’-Mi’raj Nabi saww dan semua riwayat yang telah memenuhi semua kitab-kitab tafsir dan hadits di Ahlussunnah, yang menerangkan bahwa beliau melewati maqam nabi-nabi Ulu al-‘Azm (Nabi yang dituruni Syari’at, nabi Muhammad saww, Isa as, Musa as, Ibrahim as dan Nuh as) dan ayahnya sendiri Adam as, sampai pada Sidratu al-Muntahaa, sampai tidak mampunya malaikat Jibril as untuk mengantar Nabi saww hingga kalau selangkah kecil saja maju akan terbakar, sampai pada menerima perintah shalat secara langsung dari Allah tanpa perantaraan Jibril as karena sudah tidak bisa ikut, ...dst, semua itu menandakan kelebih tinggian Nabi saww dari semua malaikat dan para nabi sendiri. Dan sekali lagi, ketinggian ini, bukan ketinggian majazi atau pangkat kesepakatan seperti presiden, tapi pangkat hakiki yang diakibatkan oleh perjalanan spiritual/ruhani seorang Muhammad saww. Oleh karenanya ketika Nabi saww menjadi lebih dekatnya makhluk kepada Allah, berarti semua makhluk yang lebih jauh atau di bawahnya berada dalam pengawasan dan pengaturannya, dan dia akan menjadi paling tingginya secara hakiki maqam khalifatullah itu. 

Jadi, semua rahmat yang turun kepada yang dibawahnya akan melalui beliau saww. Inilah makna paling tinggi dan paling dekat dengan Allah. 

3. Dengan penjelasan (2) di atas, maka tidak heran kalau dalam shahih Turmudzi 2:282 dari Abu Hurairah dan yang mirip dengannya di Mustadrak 2:600 dari Ibnu Sariyah, diriwayatkan dari Nabi saww bahwa kenabian nabi Muhammad telah diwajibkan dikala nabi Adam as masih antara ruh dan jasad, atau masih berupa tanah. Atau dalam Kanzu al-‘Ummal 6:108, telah meriwayatkan dari Nabi saww +/-: 

“Aku adalah penghulu semua rasul ketika diutus, mendahului mereka ketika masuk (bc: surga, Allahu A’lam), yang memberi kabar gembira ketika mereka putus asa, imam mereka ketika mereka sujud, lebih dekat dari mereka pada hari perkumpulan, aku berbicara dan Dia (Tuhan) membenarkanku, aku memberi syafaat maka Dia mensyafaatiku, aku meminta maka Dia memberiku”. 

4. Hidayah Rasul saww adalah paling bagusnya hidayah sebagaimana yang diriwayatkan dalam kitab-kitab hadits seperti Muslim dalam Kitab al-Jum ah, Bab Takhfifi al-Shalat wa al-Jum’ah, dll-nya. Semua ini juga menunjukkan kelebihan Nabi saww dari para khlifatullah yang lain. 

5. Shahih Muslim juga bahkan telah membuat sub judul atau bab dalam shahihnya, Kitab al- Fadhail, dengan judul bab “Tafdhiilu Nabiyyinaa ‘Alaa Jamii’i al-Khalaaiq”, yakni bab “Kelebihan Nabi kita dari semua makhluk” dimana diantara riwayatnya adalah, Nabi saww bersabda +/-: 

“Aku penghulu manusia di akhirat”. 

Ini juga menunjukkan kelebihan Nabi saww dari khalifah-khalifah yang lain dari para nabi dan imam. 

6. Muslim juga, dalam shahihnya, kitab al-Masajid, hadits ke tujuh, meriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi saww: “Aku dilebihkan dari semua nabi dengan 6 perkara; Aku diberi Jawaamii’u al-Kalim (semua Kalamullaah), .....”. Ini juga menunjukkan kelebihan beliau saww dari semua nabi as. 

7. Di Mustadrak 2:547 dan yang lainnya, diriwayatkan dari Abu Hurairah dan lainnya, bahwa Nabi saww bersabda +/-: 

”Penghulu para nabi itu ada lima dan aku penghulu dari yang lima”. 

8. Dalam banyak sekali tafsir-tafsir yang mengatakan bahwa salah satu makna dari Kalimat yang diberikan kepada nabi Adam as hingga beliau diampuni Allah swt setelah bertawassul dengan Kalimat itu, adalah kalimat “Muhammad”, hingga ketika nabi Adam as bedoa +/-: 

”Demi Muhammad ampuni aku”, Allah mengampuninya. Lihat tafsir-tafsir: Al-Tsa’labiy, Haqqiy, Al-Lubaab, Al-Qurthubiy, Al-Tsa’alibiy, Al-Alusiy, Ithfisy-‘ibaghiy, Al-samarqandi, Al-duuru al- mantsur, dll. 

9. Pengakuan nabi Adam as bahwa nabi Muhammad saww paling afdhalnya makhluk Allah swt. 

Dalam tafsir al-Durru al-Mantsur diriwayatkan bahwa ketika nabi Adam as berdoa dengan doa tadi (Aku bermohon ampunan padaMu demi Muhammad), Allah berfirman +/-: 

“Siapa Muhammad itu?” 

Nabi Adam as menjawab: 

“Ketika Engkau cipta aku, aku melihat ke langit dan kulihat di ‘Arsy tertulis ‘La ilaha illallah Muhammdan Rasulullah’, maka dari itu aku mengerti bahwa tidak ada makhluk yang lebih afdhal darinya hingga Engkau letakkan namanya bersama NamaMu”. 

10. Nabi Muhammad saww sebagai sebab diciptakannya nabi Adam as (tentu saja dengan segenap keturuannya dan para nabi dan alam ini karena Allah berfirman “Dialah yang mencipta untuk kalian semua yang di bumi ....” QS: 2:29). Dalam tafsir al-Duuru al-Mantsur di atas dalam menjawab nabi Adam as Allah berfirman: 

“Wahai Adam, dia –Muhammad- adalah akhir para nabi dari keturunanmu, andaikan bukan karena dia, maka Aku tidak menciptamu.” 

11. Imam Ali as sebagai diri Rasul saww. Allah berfirman +/-: 

" ... maka katakan pada mereka mari kita ajak anak kami/kamu dan wanita-wanita kami/kamu dan diri kami/kamu lalu kita bermubahalah agar laknat Allah menimpa orang-orang yang bohong”. (QS:3:61). 

Tidak ada mufassir yang tidak tahu bahwa Nabi saww mengajak imam Ali as. Padahal dalam ayat itu dinyatakan “diri kami” yang semua penafsir dan orang yang bisa bahasa Arab mengerti bahwa “diri kami/anfusana” adalah “Diri Pembicara” atau “Mutakallim”. Dengan ini dapat dipastikan bahwa diri imam Ali as adalah diri Rasul saww. Lihat semua tafsir Sunni; Shahih Muslim, kitab Fadhailu al-shahabah, bab Min Fadhaaili ‘Ali; Shahih Turmudzi 2:166; dll). 

12. Dalam Bukhari bab ‘Kaifa Yaktub’ dan dalam bab ‘Umratu al-Qadhaa’; Shahih Turmudzi 2:297; Abu Daud 3:111; Sunan Baihaqi 8:5; Sunan al-Nasai dalam Khoshoisnya 5; Musnad Ahmad 1:98; Turmudzi 2:297; Mustadrak 3:120; dll diriwayatkan bahwa Nabi saww bersabda +/-: 

“Ali dari aku dan aku dari Ali ” atau “ Kamu (Ali) dari aku dan aku dari kamu ”.

Dalam al-Riyaadhu al-Nadhrah 2:164 telah diriwayatkan dari Nabi saww +/-: 

“Aku dan Ali adalah satu cahaya selama 4 ribu tahun sebelum diciptakannya Adam as, dan ketika Allah mencipta Adam as maka cahaya itu dibagi menjadi dua bagian, satu bagian adalah aku dan yang lainnya adalah Ali”. 

Pengarangnya juga mengatakan bahwa hadits ini juga dikeluarkan juga oleh Ahmad bin Hanbal dalam al-Manaaqibnya. Lihat juga Mizaanu al-I’tidaal karya al-Dzahabi 1:235. 

Dalam Majma’ karya al-Haitsami diriwayatkan dari Rasul saww +/-: 

“ ...Ali dari aku dan aku dari dia, dia dicipta dari tanahku ...”. 

Dalam Tarikh Baghdad juga diriwayatkan dari Rasul saww +/-: 

“Aku, Harun, Yahya dan Ali dicipta dari satu tanah”. 

Dan dalam Hilyatu al-Auliyaa’ diriwayatkan dari Rasul saww +/-: 

“Barang siapa yang ingin hidup seperti hidupku, mati seperti matiku dan bertempat tinggal di surga ‘Adn yang ditanam oleh Tuhanku, maka hendaknya ia berwilayah/berimam pada Ali setelahku dan berimam pada penggantinya dan mengikuti para imam setelahku, karena mereka adalah ‘Itrahku, dicipta dari tanahku dan diberi rizki kepahaman dan ilmu....”. 

Rasul saww bersabda +/-: 

“Ya Ali, orang-orang dicipta dari pohon yang beraneka ragam sedang aku dan kamu dari satu pohon yang sama”. (Mustdarak 2:241; Kanzu al-‘Ummal 6: 154). 

Atau sabda beliau saww +/-: 

“Aku adalah Pohonnya, Fathimah cabangnya, Ali benihnya, Hasan dan Husain buahnya, syi’ah- syi’ah kami adalah daunnya. Pangkal pohonnya di surga ‘Adn.” (Mustadrak 3:160; Dzakhairu al-‘Uqba 16). 

13. Nabi saww bersabda bahwa: 

(a) Ali as paling afdhlanya makhluk. (Shahih Turmudzi 2:299; Nasai dalam Khashaaishnya, 5; Usdu al-Ghaabah 4:30; al-Dzakhaair 61; Mustadrak 3:130; Hilyatu al-Auliyaa’ 6:339; Taariikh al-Baghdaadi 3:171; Kanzu al-‘Ummaal 6:406; Dzakhaairu al-‘Uqbaa 61; dll). 

(b) Marah Ali as marah Nabi saww begitu pula sebaliknya . Yang dicintai Ali as dicintai Nabi saww dan Allah swt, begitu pula yang bermusuhan dengannya. (Mustadrak 3:128,130; Tarikh Baghdadi 4:40/13:32; al-Nasai dalam Khashoishnya 28; al-Riyaadhu al-Nadhrah 2:166; Kanzu al-‘Ummaal 6:157; dll). 

(c) Yang mengejek Ali mengejek Allah. (Mustadrak 1:121; Musnad Ahmad 6:323; al-Nasai dalam Khashaaishnya 24; Kanzu al-‘Ummaal 6:405; Dzakhaairu al-‘Uqbaa 66; dll). 

(d) Yang mengganggu Ali as mengganggu Nabi saww. (Mustadrak 3:122; Musnad Ahmad 3:483; Usdu al-Ghobah 4:113; al-Ishabah 4:304 dan berkata bahwa Bukhari juga manukil dalam Tarikhnya; dll). 

(e) Yang menjauh dari Ali as menjauh dari Nabi saww. (Mustadrak 3:123; Mizaanu al- I’tidaal 1:146; Thabari dalam al-Riyaadhu al-Nadhrahnya 2:167; Kanzu al-‘Ummaal 6:156; Thabrani dari Ibnu ‘Umar 156; dll).

(f) Ali as tahu semua ilmu dan hikmah Nabi saww sebagai pintu Hikmah dan Ilmu beliau saww (Shahih Turmudzi 2:299; Mustadrak 3:126; Taariikh Baghdaadi 4:348, 7:172, 11:38,49, 11:204; Kanzu al-‘Ummaal 6:401; Hilyatu al-Auliyaa’ 1:64; Thabari dalam al- Riyaadh al-Nadrahnya 2:200; Usdu al-Ghaabah 4:22; Tahdziibu al-Tahdziib 6:320, 7:427; Faidhu al-Qodiir 3:46; al-Shawaaiq 73; Syawaahidu al-Tanziil karya al-Haskalaani 1:334; Taariikhu al-Khulafaa’ karya al-Suyuuthii 170; al-Miizaan karya al-Dzhabii 1:415; al-Jamii’u al-Shaghiir 1:93; dll, sampai-sampai ada buku tersendiri yang dikarang ulama Sunni bernama al-Maghribi tentang keshahihan hadits ini dalam bukunya “Fathu al-Mulki al- ‘Ali bishehhati Haditsi Babi Madinati al-‘Ilmi Li-‘Ali”; dll). 

14. Nabi Adam as bertawassul dengan imam Ali as dan Ahlulbait yang lain as. Dalam tafsir al- Durru al-Mantsur karya al-Suyuuthi ketika menerangkan ayat “Kemudian Adam mendapat beberapa Kalimat dari Tuhannya, maka (dengannya, penerjemah) Allah menerima taubatnya” (QS: 2:37). 

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: Aku bertanya kepada Rasul saww tentang “beberapa kalimat” dari Tuhannya itu hingga ia diterima taubatnya. Rasul saww bersabda: 

“Dia (Adam as) meminta: ‘Demi Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain hendaknya Engkau terima taubatku’, lalu Allah menerima taubatnya.” 

Dan dalam Kanzu al-‘Ummaal 1:234 diriwayatkan dari Nabi saww bahwa Kalimat-kalimat itu adalah: 

“Berkata (Jibril as kepada Adam as): Hendaknya kamu pegangi kalimat-kalmat ini niscaya Allah akan menerima taubatmu dan mengampuni dosamu. Katakanlah: Ya Allah aku memohon padaMu demi Muhammad dan Keluarga (Aali) Muhammad, Maha Suci Engkau, tiada tuhan selain DiriMu, aku telah berbuat kejelekan dan aku telah menganiaya diriku, maka berikanlah taubatMu, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat, ...... Itulah kalimat-kalimat yang diberikan kepada nabi Adam as.” (Lihat juga di: Manaaqib Ali karya al-Maghaazilii al-Syaafi’ii 63; Yanaabi’u al- Mawaddah 97 dan 239; Kanzu al-‘Ummaal 1:234; Muntakhab Kanzu al-‘Ummaal 1:419; dll.) 

16 people like this.

Muhammad Amran: Syukron ustad.. 

Sinar Agama: Maaf signalku/sinyalku lagi kurang bagus. Untuk mas Eby_A: Terimakasih telah mempercayaiku untuk curhat. Saya tidak akan bisa memberi solusi sepenuhnya karena hal itu diperlukan data-data lengkap tentang kebimbangan yang dimaksud. Kalau mslh yang dihadapi itu masalah-masalah keyakinan, maka semua yang berbeda-beda itu diadu argumentasikan dalam akal. Lalu dipilih yang lebih kuat dalilnya. Setelah itu diajukan kepada yang dianggap mampu untuk melihat benar dan kuatnya tsb. 

Dalam masalah keyakinan dan agama, suara yang harus didengar adalah dalilnya, bukan lain- lain dari pada itu. Kalau masalah yang dihadapi itu adalah tentang kehidupan, maka diperjelas dulu dalam diri duduk masalahnya dan seluruh dalilnya. Setelah itu mencari orang yang dianggap tahu dalam masalah itu dan menambah info-info dengan menanyakan bidang-bidang tersebut. Setelah dianggap cukup, maka perbandingkan lagi dalam diri dan bisa diambil keputusan dengan Bismillaah. 

Yang harus diingat, setiap melakukan debat dalam diri, dalam hal apapun, tidak boleh cenderung pada yang disukai. Jadi, diskusinya betul-betul harus seru dan saling menjatuhkan dan tidak boleh ada rasa kasihan. Karena hal tersebut akan lebih mengarahkan kita pada kebenaran, dan cara terdekat pada hidayah. Inilah yang dikatakan ikhlas dalam berfikir itu. Yang terakhir, dan ini disertai beribu maaf, mungkin perlu koreksi akhlak-akhlak kita, dan kalau terdapat dosa, maka harus segera taubat dan menghentikannya. Tapi walau begitu, adu dalil dalam diri harus tetap dilakukan. 

Sinar Agama: Salam juga untuk mas K_K, terimakasih sekali atas doanya, dan terimakasih sekali atas perhatiannya sehingga merasa dekat dengan al-fakir. Saya memang punya teman, namanya qomaruddin, anak UNEM Makassar, apakah antum orang tersebut?

Dian Damayanti: Bib, terimakasih banyak atas tag-tagnya, juga dengan pencerahan-pencerahan- nya yang sangat mendalam, afwan. 

Komar Komarudin: Bukan akhi... anak asli Jambi, tapi kedua orang tua ana asli Bugis Bone tulen, catatan antum tentang bagaimana eksitensi dan peran Imam Mahdi sungguh sangat memberikan cahaya yang begitu terang untuk alfakir, sepertinya antum menguasai betul masalah ini, tidak hanya keluasan ilmu antum dalam memahaminya akan tetapi kedalaman ilmun antum juga miliki, ana teringat dengan guru ana yang pernah memberikan materi ini dalam majlis ta’lim, maupun dari diskusi sehari-hari selama ana pernah bergaul denganya, ini tidak jauh beda dengan cara mengupasnya dan nyaris sama, dan sampai sekarang-pun tulisan beliau saya simpan dengan rapi, bukunya berjudul = IMAM MAHDI MENURUT AHLUSUNNAH WALJAMAAH, Terbitan yayasan Mullah Shadra, Jakarta, cetakan 1 juli tahun 2000, mungkin antum pernah membacannya dan memilikinya sebagai refrensinya.?...........

Sinar Agama: Komar, benar, saya memiliki ratusan jilid buku tentang imam Mahdi as, dan salah satunya buku yang antum sebut itu. Referensi di rumah saya sekitar 90.000 jilid, Syi’ah-Sunnah, tapi yang paling penting adalah ilmu alatnya, bahasa arab, logika, filsafat, irfan, fikih berdalil, ushulfikih, rijal, tafsir ...dst. Kalau ilmu-ilmu alat ini tidak dikuasai, maka buku-buku yang kelas berat akan tinggal pajangan saja. Semoga, beliau dan penguasa-penguasa ilmu berat lainnya, yang dapat menyentuh nafas agamanya, yang mengerti keinginan Tuhannya dengan argumen- gamblang, selalu dijagaNya dan ditingkatkanNya, amin. 

Dan jangan lupa mas K_K juga ikut membantu dengan dukungan (bc:menerima/menolak dengan dalil) dan do’a untuk orang-orang seperti beliau, dan saya juga, sekalipun tidak ada apa-apaku dibanding mereka. Dan kita akan menjadi teman di fb ini dengan segala keikhlasan dan saling diskusi dengan tak kenal ampun dalam ajukan argumen. Semoga tanganku nan kotor ini dapat kiranya disambut dengan baik oleh antum dan teman-teman lainnya di fb ini. 

Sinar Agama: Untuk mas Eby kok nggak ada komentarnya ya...maaf kalau jauh dari mengena. 

Sinar Agama: Dan untuk mbak Dian, you well come, silahkan aja kalau mau komentar, tanya atau mempermasalahkannya untuk diskusi dan mencari ilmu yang dapat dipetahankan dengan argumentasi-gamblang. 

Sinar Agama: Mas Amran, tolong baca catatanku di Anggelia itu dan renungi, nanti baru ditanyain lagi apa-apa yang perlu ditanya atau didebatkan. Antum tinggal masuk di akunku dan cari komentarku terhadapnya Ingat, tak boleh menyerah.

Komar Komarudin: Sukron,, akhi... Atas penerimaan antum, dan ana sepakat disiplin Ilmu yang paling penting adalah ilmu alatnya, bahasa arab, logika, filsafat, irfan, fikih berdalil, ana sedang berikthiar sambil memohon pertolongan Allah SWT memulai belajar pelan-pelan yang saya mampu dengan sisa umur-ku, dan saya bersyukur mendapatkan teman belajar walaupun di dunia maya, mohon doanya.... 

Komar Komarudin: Kalau ada kesempatan, mohon ditag setiap pemikiran yang antum sampai- kan. Mungkin ana bisa menyerap penyampaian antum, dan sekali-sekali alfakir akan coba adu argument dengan antum, mohon dibimbing kalau ada yang salah dalam berdalil ana, sebab kalau ilmu tidak diuji dalam diskusi-diskusi akan sulit dikatakan benar, jangan-jangan selama ini yang kita anggap benar ternyata salah hanya karena ego kita tidak membuka diri, sementara guru yang terbaik adalah cermin dihadapan kita, yaitu cermin yang mempunyai otoritas, kapasitas disiplin keilmuan yang telah diakui kealimannya. 

Komar Komarudin: Jujur akhi... Bulan ini adalah bulan duka buat ana. Karena setelah yang pertama (beliaulah yang berjasa buat diri ana dala memberikan fondasi tentang ilmu-ilmu agama khusunya ahlul bait, doaku untuknya selalu) guru ana pergi memperdalam Ilmunya di Iran untuk menyelesaikan pelajarannya dan sampai saat ini belum kembali dan ana tidak tau sampai kapan selesainya, ditambah lagi guru ana yang kedua penganti beliau selama di Iran, yang selama ini memberikan pencerahan dalam kajian tafsir dan lain-lain, juga akan meninggalkan ana. Beliau rencana akan belajar Di najaf (Irak) karena gurunya sudah lama memanggilnya. Dan bulan ini terkabulkan doanya sehingga dapat memenuhi panggilannya. Kasusnya sama yaitu akan menyelesaikan studinya kalau dalam disiplin ilmu haujah tradisional dinamakan “Bahshul khouert”, kedua-duanya sangat konsen, perhatian dan haus akan Ilmu agama (Ahlul-bait). 

Mereka adalah guru yang sangat ana cintai dan begitu berarti dalam hidup-KU dan ana bersyukur kepada Allah SWT dengan Luthupnya bisa kenal denan mereka dan pernah belajar dengannya sekalipun belajarnya tidak sama sebagaimana mereka belajar di sana. .... Eh..eh Afwan ana kok jadi curhat ama antum, sekali lagi ana berlindung Pada Allah SWT semoga ini tidak dipandang sebagai Riya.. ana yang hina ini, tapi hanya karena semata menyampaikan karunia, nikmat yang Allah SWT berikan yang sudah sepatutnya di syukuri... Amin.

Sinar Agama: Allah berfirman +/-: 

“Beritakanlah nikmat-nikmat yang telah diberikatn padamu”

Saya senang mendengarnya. 

Dan senang mendapat kepercayaan curhat antum yang menyentuh juga hatiku. Semoga kedua guru antum bisa mendapatkan nafas Islam, bukan informasi/ilmu belaka, amin, hingga menghidupkan masyarakat Indonesia, baik menghidupkan jiwa mereka sendiri, keluarga dan masyarakat Indonesia pada umumnya, amin. Silahkan masukkan pertanyaan atau apa saja, kalau ada, ke akun ana, jangan di status ini, supaya lebih terlihat. 

Oh iya, tentang ilmu Islam itu ada 3 hal, alatnya (belajarnya harus dengan guru), referensinya dan ruh/nafasnya.





اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Sabtu, 11 Agustus 2018

Kedudukan Fantastis Imam, Bag: 5-a (Bahwa imam memegang pemerintahan langit dan bumi)




by Sinar Agama (Notes) on Sunday, September 12, 2010 at 8:27 pm


Melanjutkan permasalahan yang dibawa Abd Bagis, yaitu poin (d) tentang:

IMAM MEMEGANG PEMERINTAHAN LANGIT DAN BUMI

Setelah kita bahas masalah (a), (b), (c) dan (d), maka tibalah saatnya, dengan ijin Allah, kita bahas yang terakhir dari yang dibawa Abb Bagis, yaitu masalah (e): Bahwa imam memegang pemerintahan langit dan bumi.

Jawaban-1 Untuk Poin (e): 

Dalam QS: 2:30, Allah berfirman: ”Dan ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku akan membuat/mengangkat khalifah di bumi’. Para malaikat berkata: ‘Apakah Engkau akan menjadikan sesiapa manusia) yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan saling menumpahkan darah? Sementara kami selalu bertasbih dengan memujaMu dan mensucikanMu’. Berkata (Tuhan): ‘Sesungguhnya Aku tahu apa-apa yang kalian tidak tahu’ ”. Perhatikanlah dialog antara Tuhan dan para malaikat ini. Dan coba renungi ilustrasi berikut ini:

Ketika seorang ayah yang punya Pabrik Mobil dan 1000 hektar kebun kopi mau meninggal, ia memanggil dua anaknya yang lulusan pertanian dan ekonomi. Sementara anaknya yang satu lagi tidak dipanggilnya karena masih umur 3 tahun. Sang ayah berkata pada keduanya: “Anak-anakku ayah akan segera meninggalkan kalian. Kalau nanti ayah sudah pergi, kuserahkan kepengurusan pabrik mobil dan perkebunan pada adik bungsu kalian”. Kedua anaknya terkejut dan saling pandang. Mereka merasa bahwa pernyataan akhir ayah mereka ini sangat tidak bijak. Tapi, karena keduanya adalah anak-anak yang selalu taat pada orang tuanya dan juga tidak ingin membuatnya sedih di hari terakhir hidupnya ini, maka ketidaksetujuan mereka diutarakan dengan bahasa yang sangat halus. Mereka berkata:


“Ayah,,,,mengapa ayah serahkan pabrik mobil dan perkebunan itu pada adik kami yang masih kecil dan suka membuat kerusakan di rumah (yufsidu fi al-bait: seperti pecah-pecahin komputer dll) sementara kami lulusan ekonomi dan perkebunan?”. 



Kalau kita lihat ilustrasi ini, akan sangat mudah bagi kita memahami maksud kedua kakak tsb.

Yakni bahwasannya si bungsu tidak cocok untuk urus pabrik mobil dan perkebunan, karena masih membuat kerusakan dan bahwasannya mereka berdua lebih cocok karena lulusan ekonomi dan pertanian. 

Para malaikat dalam ayat itu tidak beda dengan ilustrasi tsb. Yakni mereka, sebagai makhluk yang selalu taat pada Tuhan yang, dalam hal ini tidak setuju dan menganggap diri mereka lebih layak, mereka merasa harus mengutarakan pendapatnya dengan bahasa yang sopan dan tawadhu. Oleh karena itu mereka mengatakan kata-kata dalam ayat di atas: “ ....sementara kami selalu bertasbih kepadaMu dan mensucikanMu”, yang maknanya adalah: 

“Mengapa Engkau akan jadikan khalifahMu dari jenis manusia yang akan membuat kerusakan dan pertumpahan darah, sementara kami selalu memujaMu dan mensucikanMu (bc: menyanjungMu dengan menyanjung perintah-perintahMu)? Jadi kamilah yang lebih layak dari manusia untuk menjadi khalifahMu”. 

Setelah kita sama-sama mengerti maksud ayat itu, bahwasannya malaikat mengusulkan diri mereka untuk jadi khalifah Tuhan, masalahnya sekarang adalah, para malaikat itu sudah memiliki tugas-tugas penting dalam semua urusan. Mulai dari mengurusi penciptaan paling kecilnya makhluk sampai pada paling besarnya; Peniupan/pencabutan ruhnya; Hujan/tidaknya; Masing- masing rejekinya; Suka/dukanya; Sukses/gagalnya; Menjaga wahyu Tuhan, lauhu al-mahfuzh, ‘Arsy, surga, neraka dst. Pendek kata mereka adalah pengatur segala urusan langit dan bumi dengan ijin/perintah Allah. Allah berfirman: “ ..dan (demi) pengatur-pengatur segala urusan“ (QS: 79:5). Tafsir-tafsir Jalalain, Thabari, Fakhru al-Razi dll, mengatakan bahwa para pengatur itu adalah para malaikat. Malah dalam tafsir Qurthubi dan Fakhru al-Razi, dll, dikatakan bahwa jumhur bersepakat bahwa mudabbir itu adalah para malaikat yang mengatur segala urusan langit-bumi. Begitu pula kalau dilihat di terjemahan DEPAG. 

Pertanyaannya sekarang adalah: Mengapa para malaikat masih menginginkan posisi khilafatullah ini? Padahal mereka sudah memiliki semua posisi hebat sejak di dunia ini sampai nanti di akhirat? Bagi yang tidak terlalu terhijabi, pasti akan mengatakan bahwa, karena posisi khilafah ini lebih tinggi dari semua posisi malaikat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa khalifah Tuhan memiliki posisi lebih tinggi dari semua posisi malaikat dimana karenanyalah manusia layak disujudi semua malaikat (QS: 79:30). 

Sementara tinggi dalam hakikat, tidak seperti dalam kesepakatan sosial dalam kehidupan kita. Karena dalam hakikat, artinya, yang di bawah harus tunduk pada kendali yang di atas. Sujud malaikat adalah tunduk, karena mereka non materi, tidak punya dahi dan tidak terikat dengan badan hingga sujud seperti kita manusia. Karena itulah berarti khalifah Tuhan, secara tidak langsung, mengatur semesta ini dengan ijin, pengangkatan dan perintah Allah. 

Dan karena itu pulalah maka semua malaikat tiap malam lailatu al-qadr selalu turun dengan membawa segala urusan (min kulli amr), untuk dilaporkan pada khalifatullah ini. Karena mereka tidak mungkin meninggalkan pos masing-masing di langit dan bumi atau di arsy dan lauhu al- mhfuzh ...dst hanya untuk jalan-jalan ke bumi, melihat maksiat yang meraja lela ini. Apalagi melihat teroris wahhabi yang lagi ngeledakin pasar-pasar dan mesjid-mesjid, atau lagi gorokin tenggorokan Sunni-Syi’ah dengan bangga dan divideokan serta di sebar kemana-mana, atau membakar Sunni-Syi’ah hidup-hidup kaya Khalid bin Walid ketika diutus Abu Bakar ke kabilah Bani Sulaim yang membakar hidup-hidup beberapa orang di depan umum (Thabaqaatu al-Kubra: 7:396). Tentu tidak bukan? 

Jadi, mereka para malaikat itu, datang ke bumi dengan segala urusan-urusan itu (min kulli amrin), yakni tugas-tugas mereka, adalah untuk melaporkan masing-masing tugas mereka ke wakil-Tuhan atau Khalifatullah yang bertempat tinggal di bumi ini. Karenanya saya dulu pernah mengingatkan teman-teman Syi’ah bahwa tahun baru amal-amal kita itu adalah malam lailatu al-qadr, bukan nisfu Sya’ban (mentrasfer pendapat ayatullah Jawadi Omuli hf). Yakni sebagian malaikat yang mengurusi seluk beluk manusia, membawa pengetahuannya yang diberi Tuhan yang ditadbirkan/ diaturkan dengan buku-amal-setahun itu. Yakni pengetahuan tentang segala peristiwa yang akan terjadi pada masing-masing manusia yang sesuai dengan ikhtiarnya sendiri-sendiri yang telah diketahui Tuhan sebelum terjadi. 

Malaikat yang diberitahu Tuhan dengan pengetahuan maqam pertama (bc: maqam qada dan qadar atau yamhullah ma yasya’ wayutsbit, yakni sebelum ke-dua sebagai maqam persetujuan akhir Tuhan di Lauhu al-mahfuuzh) itu, membawa pengetahuan-pengetahuan mereka (catatan-catatan ilmu Ilahiyyah) tersebut kepada Khalifatullah (wakil Allah) untuk diperiksa dan disepakati sebelum kemudian dilaksanakan oleh para malaikat-malaikat tsb. 

Para khalifatullah (pada masing-masing jaman hanya ada satu khalifah) di samping memeriksa urusan-urusan lain dari malaikat-malaikat lain yang mengurusi segala macam masalah alam semesta ini, juga memeriksa ilmu/buku tentang manusia yang dibawa para malaikat yang mengurusi seluk beluk manusia ini. Setelah melihatnya, maka khalifah ini, dengan perintah Allah, menghapus/yamhuu (bc: tidak mengijinkan terjadi) dan menetapkan/yutsbit (bc: mengijinkan terjadi). Mereka ini, para khalifah ini, tidak lain seperti malaikat-malaikat itu sendiri yang hanya menjalankan perintah-perintahNya. Mereka tidak pernah ber-ide, mandiri, mempertanyakan atau apalagi melanggar perintah-perintahNya. Jadi, pengaturan Allah terhadap semesta ini, pertama melalui KhalifahNya, kemudian ke para malaikat-malaikat sebelum kemudian pelaksanaannya. 

Maka itu, jadi lucu di hadapan orang Syi’ah manakala imam/khalifah tidak memiliki sifat-sifat ke- khilafahan ini, yakni penguasaan alam ini. Sudah tentu, mereka para khalifah itu (baik nabi, rasul atau imam) tidak akan melakukan apapun dari karamat, mukjizat dan semacamnya, kecuali kalau sudah diperintah oleh Allah swt, sekalipun mereka, seperti Rasul saww yang dilempari batu di Thaif, nabi Yahya as yang digergaji, imam Husain as cucu Rasul saww yang dipenggal lehernya oleh Syimr tentara Yazid bin Mu’awiyah sebelum kemudian kepalanya itu diarak dari Karbala- Iraq, sampai Syam/Suriah dan mulutnya yang sering dicium Nabi itu diotak-atik oleh Yazid pakai tongkatnya. 

Dari penjelasan-penjelasan ini dapat dipahami bahwa para nabi/rasul/imam/khalifatullah memiliki dua dimensi kehidupan. Kehidupan pertama sebagai manusia yang punya segala macam taklif dan melakukannya dengan penuh keikhtiaran, pengorbanan seperti lelah, sakit dan syahid; Dan yang ke-dua sebagai khalifatullah yang tidak punya ikhtiar kecuali dalam memohon untuk mensyafaati dan semacamnya dimana maqam ke dua ini tidak dicapainya kecuali dengan ketaatan dan kemakshuman sebagaimana akan dijelaskan di Jawaban-2, in syaa-a Allah.

Kesimpulan

1. Khalifatullah adalah pangkat yang diingini oleh semua malaikat. 

2. Khalifatullah disujudi semua malaikat. 

3. Sujud para malaikat berarti taat, karena mereka non materi dan Tuhan bukan lagi sedang mewisuda nabi Adam as sebagai khalifah pertama.

4. Khalifatullah adalah pangkat yang lebih tinggi dari semua malaikat, karena disujudi dan diingini mereka. 

5. Para malaikat adalah pengatur semesta dengan ijin dan perintah Allah. 

6. Khalifatullah adalah khalifahNya dalam mengurusi semesta dengan mengatur malaikat. 

7. Khalifatullah bukan berarti manusia secara umum yang, hanya mengurusi cangkul-mencang- kul bumi dan membangunnya. Tapi pengatur semesta yang termasuk malaikat, tapi bertempat tinggal di bumi. 

8. Qada dan qadar bagi manusia adalah ilmu Tuhan tentang seluk beluk ikhtiar dan akibat dari perbuatan manusia, jadi bukan Determinis atau Jabariah. 

9. Penetapan dan penghapusanNya, bukan juga membatasi ikhtiar dan perbuatan manusia, tapi karena disesuaikan dengan ikhtiar dan perbuatan orang lain dan semacamnya. Misalnya, ada orang yang ingin membunuh Fulan, tapi karena Fulan ini selalu berikhtiar waspada dan berdoa serta masih lebih maslahat untuk hidup sesuai dengan ikhtiar/doanya itu, maka Tuhan tidak mengijnkan orang pertama membunuhnya. 

Tolong teman-teman Syi’ah pelajari dengan teliti hal ini supaya tidak kembali lagi ke taqdir ala agama Hindu yang meyakini bahwa seluruh nasib kita manusia sudah ditentukanNya. Lagi pula sangat sedikit yang tahu rahasia qada/qadr & aplikasinya ini, yaitu yang kembali pada ilmu Allah tsb. Baik kembali ke derajat ilmu pastiNya (lauhu al-mahfuzh, yang mengetahui akhir kejadiannya) yang diketahui malaikat-malaikat tinggi, atau kembali ke derajat yang diketahui malaikat-malaikat di bawahnya, yaitu ilmu-ilmu yang belum pasti karena bersyarat. Tunggulah jawaban-2 untuk masalah (e) ini dan tolong doanya. 

Alia Yaman and 17 others like this.

Dian Damayanti: 2 jmpol just for u..! 

Sinar Agama: Terimakasih atas semua jempoltum (jempol antum), semoga Tuhan mengganjarnya, kalau senang dan mau, tolong copy catatan tsb supaya tidak hilang dan bisa dibaca-baca, karena catatan berikutnya mungkin berkaitan dengannya, terimakasih dan afwan. 

Syarifah Hana A. Fathiman: Ijin share ya...Syukran.... 

Sinar Agama: tafadhdhaliy, u well come(.) 

Faisol Farid: Syukron atas limpahan ilmunya. 

Sinar Agama: Afwan, you well come, syukur kalau mau. 

Ad’ Ia Anakotta: Afwan ustadz mau tanya tapi sebelumnya terimakasih sudah ditag. Untuk jawaban (z);.. Malaikat-malaikat tinggi dan seterusnya.., kemali pada malaikat-malaikat rendah dan seterusnya.., apakah yang dimaksudkan di atas adalah tingktan ilmu yang dimiliki para malaikat!? 

Sedangkan yang saya tau bahwa semua malaikat memiliki tugas yang sama yaitu memuja dan memuji Allah SWT ditambah dengan tugas lainnya dan merupakan makhluk yang patuh. 

Apakah para malaikat yang memiliki tingkatan tinggi tersebut secara khusus diajar oleh khalifah, karena yang saya ketahui Khalifah mampu mengajarkan sesuatu kepada malaikat. Mohon penjelasannya. Makasih ustadz.

Rido Al’ Wahid: Posisi kekhalifahan Allah adah posisi tertinggi yang diberikan Allah kepada makhluknya, khalifah itu memiliki wewenang dan pengethuan dan dapat menyentuh ’lauh al mahfuz’ (di sini terdapat ilmu Allah) yang tidak dapat di raih oleh para malaikat, makanya khalifah ini juga disebut dengan kitab yang nyata.. Sehingga jika kita bertanya tentang ilmu mereka, semuanya berasal dari-Nya, dan mereka yang menginformasikan kepada malaikat.. 

Dalam alam penciptaan para khalifah Allah ini berada dalam posisi ciptaan tertinggi, dan ciptaan Allah paling sempurna terdapat ada pada diri Rasul saww. Mohon dikoreksi jika salah.. Afwan. 

Zainab Naynawaa: Afwan ana nimbrung di luar pembahasan... ustad tolong komentarin status mas Bande tentang roko... sebab di situ ada salah satu komentar yang bawa-bawa hukum... sebab dalam hal ini bukan hak ana... ana mohon penjelasan antum.. syukron sebelumnya...

Sinar Agama: Ad’: Senang dengan pertanyaanmu. Yang dimaksud malaikat tinggi itu adalah dari sisi wujudnya yang otomatis ke segala halnya seperti ilmu dll. Allah ketika melihat iblis tidak sujud pada ayah kita QS:38:75, Dia berfirman +/-: 

”....apakah engkau menyombongkan diri atau engkau termasuk yang ’aliin/tinggi”. 

Jadi, di ayat ini ada isyarat pada adanya malaikat lain yang tidak setara dengan malaikat-malaikat yang biasa kita kenal dan mungkin tidak diperintahkan sujud kepada nabi Adam as. 

Kalau anti/anta mengerti peristilahan filsafat, maka malaikat tinggi itu disbt Akal (bukan akal manusia), dan malaikat dibawahnya itu dan sebagainya wujud-wujud Barzakh/antara, yakni antara malaikat tinggi dan alam materi. Kalau dalam irfan, yang tinggi dsbt Jabaruut, yang tengah disbt Malakut dan materi disbt Nasut. Materi tentu diatur malaikat Barzakh, dan Barzakh diatur Akal yang berada di derajat plg akhir karena Akal ini juga berderajat, ada yang blg 10 derajat, ada yang mengatakan tidak bisa diketahui jumlahnya kecuali oleh Allah sendiri seperti pendapat Mulla Shadra ra. 

Jadi, ada tiga alam/ciptaan dalam ciptaan Tuhan, Akal, Barzakh dan Materi. Yang pertama mendahului yang ke dua dan juga berfungsi sebagai perantara Tuhan untuk pewujudan pencip- taannya dan begitu pula untuk tingkatan yang lebih rendah seterusnya. Makanya, tingkatan yang ke Ke dua, yakni Barzakh itu, dikatakan olehNya sebagai Mudabbirati Amran, yakni pengatur alam-segala urusan, yakni urusan-urusan alam materi QS :79:5. Dan mereka inilah yang turun di malam lailatul-qadr dengan membawa seluruh/segala urusan untuk masa setahun ke depan itu, untuk dilaporkan pada khalifah Tuhan yang sekarang adalah imam Mahdi as. 

Ciptaan Akal, berentet dari Akal-satu, Akal-dua ...dst sampai Akal-akhir yang, juga disebut dengan Lauhu al-Mahfuzh atau ’Arsy Allah atau Singgasana Allah. Kenapa? Karena Allah, melalui Akal-akhir itulah memerintah para malaikat-pengatur segala urusan materi untuk mengatur alam materi. Malaikat tengah/barzakh ini disebut pula tingkatan Qada dan Qadar, atau tingkatan ”penulisan dan penghapusan”. Tapi harus baca catatanku itu supaya tidak terjebak ke dalam kepercayaan determinis atau jabariah, yakni ”nasib baik-buruk dari Allah”. 

Kamu lebih bagus copy semua keterangan dan catatan itu lalu baca dan renungi lagi kemudian tanyakan yang tidak tahu atau debat/diskusikan yang tidak disetujui, kalau mau.

Sinar Agama: Untuk Mas Rido, senang dengan tanggapannya, merasa ilmu yang puluhan tahun kugali ini bisa disalurkan perlahan tapi pasti, ya Allah bantulah si dina ini dan semua orang yang mencintaiMu dengan ilmu dan aplikasi. Mas Rido, dengan jawaban ana pada Ad’ saya rasa sudah dapat dipahami bahwa Lauhu al-mahfuzh itu adalah malaikat tinggi atau Akal yang paling rendah diantara para malaikat tinggi atau Akal itu. Jadi, derajat kesempurnaan itu masih terus berlanjut sampai pada Akal-satu yang, juga disebut Nur-Muhammad yang, biasa dikenal dalam hadits- hadits yang, diingkari oleh penentang Barzanji yang dibawa-bawa wahhabi itu. 

Ketika Jabir bertanya pada Rasul saww tentang apa yang dicipta Tuhan pertama kalinya, Nabi saww menjawab: 

”Nura nabiyyika yaa Jabir” “Nur nabimu ini wahai Jabir.” 

Wahhabi-wahhabi yang materialis yang tidak mengimani aktifitas non materi di alam ini, mana bisa memahami hal seperti ini?

Muhammad Amran: Ass. Wr. Wb. 

Salam kenal ustadz sinar. Aku mau bertanya mengenai “ketetapan” Tuhan akan seluruh aktifitas semesta, terkhusus pada pemilihan khalifah/Imam di muka bumi. Dikatakan bahwa, sesuatu itu tidak terlepas dari ketetapan Allah, seperti usaha manusia dalam mendapatkan kedudukan tertinggi tersebut. Saya bingung memilah antara ikhtiar manusia dengan keinginan atau penetapan sang wujud mutlak. Makasih sebelumnya. Kalau bikin catatan, tolong sertakan juga namaku ustad.

Sinar Agama: M.A., terimakasih atas salam kenalnya wahaiiiii mas Amran. Kalau antum sekali saja, just sekali saja baca perlahan catatan ini maka akan didapat jawaban dari pertanyaan antum. 

Ringkasnya: Ketetapan Tuhan akan amal manusia adalah bahwa manusia berbuat sesuai dengan ikhtiarnya, walaupun akan saling bergesekan dengan ikhtiar-ikhtiar lainnya. Oleh karena itulah maka manusia disuruh buat masyarakat yang baik dengan amar makruf dan nahi mungkar, supaya tidak terlalu terjadi gesekan-gesekan sesama ikhtiar. 

Nah, ketetapan Tuhan atas khalifah ini sebenarnya berpijak pada ikhtiar itu. Yakni Allah menetap- kan bahwa khalifah/imam harus makshum dengan ikhtiarnya sendiri dari sejak kecil (perhatikan syarat pengqabulan doa nabi Ibrahim as sewaktu meminta supaya keturunannya dijadikan imam, Allah berfirman ”bukan dari yang aniaya” bukan dari yang pernah dosa). Tentu saja yang didukung dengan syarat-syarat lain yang timbul dari sosial ikhtiar itu sendiri, seperti dari keluarga yang baik (yang timbul dari ikhtiar ayah dan keluarganya) supaya tidak orang lain melecehkannya, seperti tidak cacat (juga bisa timbul dari ikhtiar ayahnya dalam cara tidur dengan istrinya atau ikhtiar ibunya sewaktu menjaga kandungannya dan lain-lain) supaya orang lain tidak lari dan melecehkannya dan semacamnya. 

Nah, karena imam itu harus makshum sesuai dengan ayat di atas tentang doa nabi Ibrahim as itu (QS: 2:124), maka masalahnya sekarang siapa yang tahu bahwa seseorang itu sudah mencapai derajat makshum secara ikhtiar dari sisi ilmu dan amal? Tentu saja jawabannya Yang Maha Tahu Ghaib. Kan ghitu? Nah, ini nah dihapus yang ke tiga, karena hanya Dia yang tahu ghaib itu secara langsung, maka Dia seyogyanya memberitahu NabiNya supaya tahu ghaib juga secara tidak langsung. Mengapa harus/seyogyanya memberitahu nabiNya? Karena kalau tidak diberitahukan kepadanya, terus bagaimana kita bisa tahu mana imam kita? Karena itulah imam itu tidak bisa dipemilukan, karena kita-kita tidak tahu siapa-siapa yang makshum secara langsung, dan akan tahu kalau diberitahu Tuhan dengan ayat-ayatNya atau nabiNya. 

Dengan demikian maka imam itu sudah seyogyanya dipilih Allah itu sendiri yang, kemudian diistilahkan dengan ”Penentua) atau Ketetapan”. Artinya tidak bisa dipemilukan, bukan berarti ketetapan yang berlawanan dengan ikhtiar itu. Karena ketetapan ini berlandaskan pada ikhtiar dalam pemenuhan syarat-syarat keimamahannya, bukan ditentukan dengan paksa siapa-siapa yang akan jadi imam tanpa memperhatikan ilmu-amal secara ikhtiarnya. 

Dan karena setelah Nabi saww yang diketahui Allah makshum yang memenuhi syarat-syarat tadi hanya 12 orang, maka imam dalam Islam hanya 12 orang. Makanya kalau sebelum Islam menguasai dunia mereka sudah mau habis, karena mati atau syahid (yang kenyataannya 11 orang syahid semua), maka yang ke 12 dipertahankan. Karena kalau tidak, yakni kalau tidak dipertahankan, maka beliau juga akan dibunuh dan janji Tuhan yang akan menolong menjayakan Islam tidak akan tercapai (QS: 21:105). Atau kalau belum lahir, maka nantinya akan lahir dari orang yang tidak makshum, terus mau berguru ke siapa supaya bisa sampai makshum? Kan tidak mungkin? Jadi, Tuhan menggunakan ke-Kuasa-anNya memanjangkan umurnya, seperti telah memanjangkan nabi Nuh as, shahibulkahfi, nabi Isa as, nabi Khidr as dll.

Muhammad Amran: Makasih ustad atas jawabannya. Sampai di situ aku sudah sedikit mema- haminya. Cuman maksud dari pertanyaan saya ustadz adalah ; usaha, ikhtiar seorang hamba (ciptaan) semuanya tidak terlepas dari ketetapanNya. Seperti, ikhtiar manusia dalam berproses untuk menjadi makshum. Nah, proses tersebut adalah ketetapan Tuhan, dan apapun hasil dari proses tersebut merupakan ketetapan atau kehendakNya. Ibaratnya, apapun yang dilakukan manusia, baik itu berupa ikhtiar, itu seolah-olah karena ketetapan atau kehendak sang maha berkehendak yang pada dasarnya merupakan determinis mutlak. Mungkin pertanyaan saya ini lebih pada pembahasan ontologis ustad. Mohon pencerahannya.. 

Basuki Busrah: Salam bagimu yang sedikit goib bagiku semoga Allah menjaga antum. Saya tidak paham dengan kata arsy dan lauh mahfuzh dalam kalimat ”...meninggalkan pos masing-masing di langit dan bumi atau di arsy dan lauh al-mhfuzh..”. . mohon pencerahannya guru. 

Ibrohim Abd Shidiq: Salam ustadz,, terimakasih atas tag nya. Ijin copy ustad dari 1 -5 ini...

Sinar Agama: Mas Amran, Ikhtiar itu lawan dari ketetapan. Kalau ditetapkan, terus apa arti ikhtiar? Ikhtiar itu adalah bisa memilih “yang ini” atau “yang itu”. Sedang ketetapan adalah sudah ditentukan “yang ini”. Jadi, ketetapan kontradiktif dengan ikhtiar. Antum boleh mengatakan bahwa ke-ikhtiaran manusia adalah ketetapan Tuhan. Ini benar. Karena yg ditetapkan ke-ikhtiarannya, bukan masing-masing ikhtiarnya. Namun demikian, krn perbuatan manusia itu adalah akibat manusia sementara manusia adalah akibat/makhluk Tuhan, maka semua perbuatan manusia itu juga makhlukNya. Tapi Dia tidak bertanggung jawab, karena sebab akhir sebelum perbuatan manusia itu adalah ikhtiar manusia ini. Dan karena makna ikhtiar adalah bs memilih yang ini atau yang itu, maka manusialah yg harus bertanggung jawab. Antum baca catatan aslinya, semua sudah dijelasin.

Sinar Agama: Mas Basuki Busrah salam juga dan terimakasih doanya dan semoga juga begitu terhadap antum, amin. Allah mencipta makhluk secara langsung itu hanya sekali, yaitu Akal-pertama. Alasannya, karena kalau Tuhan mencipta dua saja, maka Tuhan akan jadi terbatas. Karena antara sebab-akibat, mestilah memiliki konotasi atau kemiripan. Tidak mungkin es menyebabkan terbakarnya kertas. Tidak mungkin biji padi menunaskan pohon jagung, atau menetaskan ular dsb. Nah, kalau begitu, maka kalau ada dua makhluk berbeda menjadi akibat langsung Tuhan, maka dalam Tuhan akan ada dua Kuasa yang berbeda, katakanlah tanah dan api yang, akan menyebakan adanya Kuasa untuk mencipta tanah, dan untuk mencipta api yang pasti keduanya ini berlainan karena keharusan adanya kemiripan sebab dengan akibatnya itu. Nah, kalau Tuhan punya dua Kuasa yang berbeda, berarti akan saling membatasi. Dan kumpulan keterbatasan, hasilnya juga keterbatasan. Dengan demikian Kuasa Tuhan akan menjadi terbatas. Ini tidak mungkin. Ini baru dua makhluk, trus bagaimana kalau milyaran makhluk? Maka sudah tentu semakin banyak rangkapan KuasaNya yang, pasti akan membuatNya semakin terbatas. Dengan demikian, maka sebenarnya yang dicipta langsung olehNya hanya satu yang, karenanya terhindar dari keterangkapan. 

Dari Akal-satu itulah Allah mencipta makhluk berikutnya yang diistilahkan dalam filsafat sebagai Akal-dua, Akal-tiga, dan begitu seterusnya sampai ke Akal-terakhir. Akal-pertama disebut dalam hadits sebagai Nur-Muhammad dll. Akal-satu s/d Akal-terakhir di Qur'an disebut malaikat ’Aaliin atau ”yang tinggi”. Dari Akal-terakhir itu Allah mencipta malaikat-malaikat pengatur alam materi yang disebut barzakh/antara. Dan dari malaikat pengatur segala urusan itulah Allah mencipta alam materi ini. 

Nah, Akal-akal itu adalah wujud-wujud non materi yang tidak memiliki semua sifat materi (dan karenanya jauh lebih tinggi dari materi karena tidak memiliki rangkapan yang membuatnya membutuhkan setiap rangkapannya itu). Malaikat Tengah/barzakh adalah wujud-wujud non materi yang tidak memiliki isi/volume materi tapi memiliki sifat-sifat materi seperti rasa, warna, bentuk yang bukan isi, ...dst. Barzakh ini persis seperti mimpi-mimpi kita atau bayangan-bayangan kita tentang rasa-rasa dan warna-warna yang ada dalam pikiran kita, dimana di pikiran kita, semua sifat-sifat materi itu ada, tapi bendawiyahnya atau isi/volumenya tidak ada. Seperti kalau kita bermimpi melihat sapi atau pohon, atau membayangkan keduanya. 

Sedang materi adalah yang memiliki volume/isi dan serta sifat-sifatnya. Jadi, ada tiga alam. Yang di atas adalah sebab bagi yang di bawahnya dan yang dibawahnya akibat dari yang diatasnya. Dan karena setiap akibat tidak bisa melepaskan diri dari sebabnya, maka semua yang di bawah ada di bawah kontrol yang di atasnya (atas-bawah bukan tempat, tapi posisi dan maqam). Dan karena akibatnya akibat, akibat pula bagi sebabnya, maka Penyebab hakiki hanyalah Allah. 

Sampai di sini saya belum menjawab pertanyaan antum. Sekarang baru jawabannya: 

Tuhan, sebagaimana tidak mencipta langsung kecuali satu makhluk, juga tidak mengurusi langsung makhluk-makhlukNya, karena akan membuatnya secara otomatis terangkap. Karena Tuhan itu Satu yang tidak memiliki rangkapan sedikitpun, karena rangkapan tanda keterbatasan. Jadi, Allah mencipta rentetan perantara-perantara yang disebut tengah-tengahNya dari yang paling tidak memiliki rangkapan, yakni Akal-akal itu, sampai kepada yang sedikit memilikinya seperti malaikat barzakh itu, baru sampai kepada materi yang merupakan lautan rangkapan. Nah, karena manusia adalah termasuk alam materi, dan karena Tuhan sedang berdialog dengan manusia, maka kata- kata seperti pemerintahan, memberi rejeki, meberi hidayah ....dst adalah sesuai dengan bahasa manusia yang materi. 

Sekarang, masalahnya, bagaimana cara Tuhan memerintah langit dan bumi dan seisinya? Tuhan mengatakan dari ’Arsy atau ”SinggasanaNya”. Bagaimana kita memahami ’ArsyNya ini? Sudah tentu kita maknai dulu apa arti ’Arsy itu dalam bahasa manusia yang, tidak lain adalah ”Kursi Pemerintahan” itu sendiri, yakni ”Singgasana”. Terus apa fungsi singgasana itu dalam komunitas manusia? Tidak lain adalah untuk seorang raja yang duduk di atasnya, lalu memerintah materi- materinya yang mana menteri-menteri itulah nantinya yang akan memerintah/memimpin rakyatnya. Jadi, raja memerintah langsung pada menteri dan tidak pada rakyat, lalu menteri yang memerintah langsung rakyatnya. 

Dan karena Allah mengatakan bahwa malaikat-malaikat selain yang tinggi/’aaliin itu adalah pengatur segala urusan QS:79:5, yang akan turun ke bumi di malam lailatulqadr dengan membawa segala urusannya itu, maka berarti Tuhan menyamakan para malaikat itu dengan para menteri di tatanan pemerintahan manusia. Dan karena maqam yang lebih tinggi sedikit dari Barzakh itu adalah Akal-terakhir, maka ’Arsy itu berarti Akal-akhir tsb. Jadi, ’Arsy atau Singgasana itu maksudnya adalah Akal-terakhir itu. Ini jawaban untuk pertanyaan ke satu. 

Terus, mengapa ’Arsy itu dinamakan Lauhu al-Mahfuuzh? 

Jawab: Dengan penjelasan di atas yang panjang lebar itu, dapat dipahami bahwa Akal-akal itu tidak memiliki rangkapan dan sebaliknya malaikat barzakh atau pengatur semesta alam itu. Ketika Barzakh memiliki rangkapan dan liku-liku, apalgi sebagai pengatur iku-liku dunia, maka di dlamnya pasti juga memiliki semacam liku-liku itu walaupun lebih sederhana. 

Tapi bagaimanapun kebrliku-likuan itu ada di sana, karena merekalah yang mengontrol liku-liku alam materi ini secara langsung. Dan karena jadi dan tidak jadi, lurus lalu bengkok, berdosa dan taubat, ...dst bagian dari liku-liku alam ini yang di atur mereka itu, maka berarti di sana juga ada perubahan-perubahan, karena mereka kontrol langsung dari perubahan-perubahan di materi ini. Oleh karena itulah maka mereka bisa disebut dengan kitab qada’ dan qadar dimana ada penulisan dan penghapusan (QS:13:39). Ingat, semua ini harus ditafsirkan secara benar, yakni dikembalikan pada ilmu Tuhan karena Dia tahu sebelum terjadi dan karena Dia adalah sebab dari semua wujud. Lihat catatan aslinya. 

Akan tetapi sebaliknya dengan Akal-akal yang non materi mutlak dan tidak memiliki rangkapan itu. Di sana, semua hal yang akan terjadi di bawah diaturnya secara tidak berkerangkapan. Jadi, dalam Akal itu tidak ada dimensi-dimensi dan tidak ada yang namanya liku-liku. Tapi karena mereka sebab bagi yang dibawahnya, semua yang terjadi dan yang akan terjadi diketahuinya secara tidak berperangkapan itu. Dengan demikian, semua yang akan terjadi di alam materi dan seluruh liku-likunya, sekalipun daun yang jatuh dari pohonya, sudah diketahui oleh Akal secara tidak berperangkapan dan tidak berliku-likuan. Jadi, tahu semua rangkapan dan liku-liku dalam ketenangan dan tanpa liku-likuan. Dengan demikian maka Akal layak disebut sebagai Kitab yang Terjaga dari perubahan-perubahan dan liku-liku. 

Kitab terjaga itulah yang dikatakan ”Lauhu al-mahfuzh”. Jadi, Akal terakhir inilah yang disebut lauhu al-mahfuzh yang di dalamnya tertulis apa saja yang akan terjadi secara tidak berperangkapan dan tidak berliku-likuan itu. Tapi ingat, dengan penjelasan yg banyak selama ini, dipahami bahwa kepenulisan akan rincian perbuatan manusia, bukan perbuatannya saja, tapi perbuatan yang dilakuakan dengan ikhtiar yang akan dipilih manusia. Jadi) ketertulisan apa saja di lauhu al-mahfuzh, tidak menandakan determinis atau jabariah atau penentuan takdir-baik buruk dari Tuahn. Tidak, sekali-kali tidak.

Sinar Agama: Jadi, malaikat Barzakh juga disebut kitab qada dan qadar, dan malaikat Akal-terakhir juga disebut dengan kitab Lauhu al-mahfuzh. Sedang turunnya malaikat yang saya katakan meninggalkan pos masing-masing di ’Arsy atau lauhu al-mahfuzh itu adalah perkataan yang semacam semata-mata ingin membahasankannya secara awam. Karena lauhu la-mahfuuzh itu adalah malaikat itu sendiri. 

Nah, turunnya mereka sangat mungkin adalah yang hanya Barzakh saja, yakni yang ngatur alam materi ini, karena harus melaporkan kepada khalifatullah tentang semua pekerjaannya kepadanya. Kalau tidak untuk lapor, buat apa para malaikat membawa segala urusan-urusan itu? Dan mengapa hanya manusia yang bisa jadi khalifah dan bukan malaikat? Akan terjawab nanti di dijawaban akhir dari isykalan-isykalan wahhabi ini. Yakni jawaban-3 untuk (e). Doakan supaya segera selesai. Di sana nanti kita akan lihat rahasia keharusan manusia yang bisa jadi khalifah itu dan bukan lainnya sekalipun malaikat, dan mengapa malaikat sampai menginginkan makam ini. 

Sinar Agama: Hati Kecil, dan yang lainnya, siapa saja, boleh meng-copy dan menyebarkan tulisan- tulisan saya di fb, baik dalam bentuk fb atau tulisan di atas kertas, tapi jangan mengeditnya, karena takut berubah maknanya. Namanya tetap Sinar Agama. Dan kalau ada yang dianggap salah atau salah tulis, jangan keburu-buru merubahnya, tapi kabari dulu saya, nanti saya yang akan mengoreksinya, inysaAllah.

Rido Al’ Wahid: Menyambng dari jawaban untuk Amran, jadi ikhtiar manusia untuk menjadi makshum ini sejalan dengan apa yang diinginkan oleh Allah ya, yang jadi pertanyaannya adalah apakah ikhtiar ini terlaksana di alam materi ataukah pada alam yang lebih tinggi, karena jika di alam materi apakah mungkin Rasul memberitakan nama-nama para makshumin tersebut, sedangkan mereka belum berikhtiar bahkan belum hadir di alam materi ini? 

Rido Al’ Wahid: Dan juga jika para makshumin ini telah terpilh di alam malakut, berarti pengangkatn mereka di alam materi ini adalah sebuah ketetapan yang dihasilkan di alam yang lbih tinggi?

Sinar Agama: Mas Rido, terimakasih nyambungnya. Ikhtiar manusia sudah pasti terjadi di alam materi ini. Tapi karena alam yang lebih tinggi itu adalah sebab wujudnya, maka semua yang akan terjadi di bawah ada dalam pengetahuan dan pengawasannya. Begitu pula dengan ilmu Tuhan. Nah, ikhtiar kemakshuman ini akan terjadi setelah terciptanya pelaku-ikhtiari tsb di kemudian, namun sudah diketahui sebelumnya oleh yang di atas karena mereka adalah sebabnya, begitu pula denganNya. Nah, ilmu Tuhan itulah yang dengan perantaraan makhluk-makhluk Akal, dan Barzakh yang diberitakan ke Rasul saww, dan Rasul saww ke kita-kita sebagai umatnya. 

Kan sudah sering diulang-ulang bahwa lauhu al-mahfuuzh itu tempatnya segala hal tanpa perliku- likuan, karena ketidakrangkapannya tsb. Nah, semua sudah diketahui sebelum terjadi bahkan sebelum tercipta (diketahui, bukan ditentukan). Tapi ingat, pengetahuan ini tidak menjabr atau mendeterminiskannya, karena yang ditulis adalah lengkap, misalnya “si fulan akan jatuh pada hari dan jam tertentu karena dia berikhtiar naik motor dalam keadaan ngantuk dan ini dan itu....dst.” Jadi, yang ditulis bukan hanya jatuhnya, tapi lengkap dengan ikhtiar yang akan dipilihnya. 

Kalau mau memakai bahasa ilmu Kalam, bukan filsafat, begini: Allah Maha Tahu segalanya,    nah, pengetahuan Tuhan tentang orang makshum ikhtiari dan yang akan terjadi itulah yang diberitakan kepada Rasul saww supaya disampaikan ke umatnya sebagai penerus jalan lurus yang tidak tersesat sedikitpun. Karena kalau tidak diumumkan kepada manusia, maka   manusia atau umat Nabi saww tidak akan mampu mengetahuinya, karena Makshum ilmu-amal adalah makshum lahir batin yang tidak mungkin diketahui oleh manusia lain. 

Rido Al’ Wahid: Kher.. paham ana syukrn ustadz, ana masih punya beberapa pertanyaan lain di luar pembahasan ini, entar ana tanya lewat inbox saja deh.. 

Basuki Busrah: Syukron katsiran guru...(mode on masih menyimak). 

Sinar Agama: You well come semuanya, kalau memang minat print aja dan pelajari lagi sambil direnungi, terutama catatan-catatanku supaya puluhan tahun menuntut ilmu ini bisa dbagi-bagi. Tapi tidak boleh taklid dalam kayakinan, jadi kalau tidak paham ditanya, dan kalau tidak setuju didebat/didiskusikan 

Muhammad Amran: Terima kasi ustad. Kalau buat catatan, tolong sertakan juga namaku di tag. Salam.. 

Muhammad Amran: Ustad Rido. Kalau pertanyaannya enggak begitu bersifat pribadi. Ditanya di sini aja, biar kita juga bisa tau jawabannya ustad. Hehe.. Bagi-bagi keberkahanlah. Ckckck.

Sinar Agama: Walhasil jiwa ini sudah kuberikan pada antum-antum semua, penyukaku atau pembenciku. Jadikanlah argument-argument gamblang sebagai ganti identitasku, supaya murni keilmuan dan dijauhkan dari pengaruh lingkungan/sosial. Jadikanlah aku dampratanmu kalau kesal, dan aku akan menjadi air penyejuk gelisahmu. Jadikanlah aku tempat bermanja dalam ilmu dan aku akan berusaha memanjakanmu dengan dalil-dalil dan bahasa yang sangat mudah, kalau aku mampu membantu. Jadikanlah aku obyek doa-doa baikmu dikala kalian kesal atau ridha padaku, karena yang papa ini tidak memiliki apa-apa selain dosa-dosa dan banyaknya ketidaktahuan. 

Ah....umurku semakin bertambah dan tanganku semakin pendek, pikiranku semakin lemah sementara taqwaku semakin menipis. Ah...betapa inginnya aku bersama kalian, bersama kalian, bersama kalian, menyajikan minuman-minuman dan sajian-sajian ringan sambil menari halus menapaki gunung akuis, egois dan kesombongan, tuk menaklukkannya dan meletakkannya di bawah kaki kotor kita, hingga kita bisa terbang ringan menyujudiNya dan kekal dalam kedinaan aktualis yg abadi (bc:dunia-akhirat), bukan puitis dan sementara (bc: dunia saja untuk mendapatkan kemulian di sisiNya di akhirat). 

Oh maaf aku telah menuruti kata hati dan sejenak tidak mampu menahan getarannya. Pintaku, kalau memang sudah senang dengan catatan-catatanku, pelajarilah dengan baik dan pahamilah sampai ke maksud batinnya, hingga akan terasa manis dan secara otomatis akan membuat langkah kita ringan menuju taqwa yang, kalau bisa bahkan tanpa pamrih. Dengan pamrih (surga) juga sudah bagus. Jadi, tolonglah diri kita sendiri dengan tidak hanya menanggapi segala hal di dunia ini dengan hura-hura ilmu dan kebijakan, tapi jadikanlah penggerak ketaqwaan, karena ilmu untuk taqwa, dan taqwa untuk surga atau bagi sebagian untukNya semata. 

Basuki Busrah: Terima kasih atas pencerahannya.... 

Sinar Agama: B_B: You well come. 


Catatan Lanjutan dan Sebelumnya:



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ