Rabu, 19 September 2018

Karbala Dalam Tinjauan Sosial, Filsafat dan Irfan


Seri tanya jawab Muhammad Dudi Hari Saputra dengan Sinar Agama

by Sinar Agama on Tuesday, January 8, 2013 at 4:16 pm



Muhammad Dudi Hari Saputra mengirim ke Sinar Agama: 19-11-2012, Salam ustadz. Sekiranya ustadz berkenan untuk menjelaskan peristiwa karbala dari perspektif filsafat, irfan dan sosial ustadz. Syukron wa afwan. 


Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaannya: 

Kalau hanya secara ringkas mungkin bisa dikatakan sebagai berikut: 

1- Kalau dilihat dari sisi sosial: 

Setelah imam makshum as tidak diikuti para shahabat-shahabat Nabi saww dan mereka memilih jalan lain, maka sudah tentu mereka, sengaja atau tidak, banyak melakukan perubahan-perubahan dalam Islam. Pembakaran hadits-hadits yang ditulis di jaman Nabi saww oleh Abu Bakar, penolakan terhadap keterangan-keterangan ayat yang ditulis imam Ali as, berbagai peperangan dan puluhan ribu korban berjatuhan, pengharaman mut’ah dalam haji dan dalam kawin, pembuatan taraweh, menambahi adzan (al-shalaatu khairun mina al- naum), pengkafiran tidak menyetorkan zakat ke pusat pemerintahan walau disetor ke yang memerlukan, penghalalan darah, pengkarifan, pemurtadan,........dan seterusnya...., dimana umat yang baikpun terdiam karena takut, maka akhirnya setelah beberapa puluh tahun dari wafatnya Nabi saww, masyarakat sudah benar-benar menjadi masyarakat yang lain. 

Bayangin saja, puluhan tahun Mu’awiyyah mewajibkan pelaknatan terhadap imam Ali as dan keluarganya di mimbar-mimbar shalat jum’at sudah jadi biasa di masyarakat Suriah. 

Walhasill, pendek kata, maka Islam yang ditegakkan Nabi saww sudah punah selain lahiriah shalat, puasa dan haji dan semacamnya. Karena itulah imam Husain as berkata: 

“Seandainya agama nabi Muhammad tidak bisa tegak kecuali dengan terbunuhnnya aku, maka wahai pedang-pedang, ambillah aku!”. 

Tidak tegak ini bukan maksudnya dengan pemerintahan, karena kalau pemerintahan, maka sudah pasti pemerintahan makshum yaitu dengan kepemimpinan beliau as sendiri. Tapi ketika beliau as mengatakan “kecuali dengan terbunuhnya aku”, maka sudah pasti tegaknya Islam yang dimaksudkan adalah “Pengembalian kehidupan masyarakat kepada kehidupan yang dibangun Rasul saww sekalipun mungkin tidak dibawah kepemimpinan makshum”. 

Memang, kepemimpinan makshum ini, sangat menentukan jalannya kehidupan itu, akan tetapi, kalaulah hal itu tidak terjangkau, maka setidaknya masyarakat secara mayoritas berjalan di atas Islam yang sebenarnya. 

Bayangin, ketika masyarakat taat pada khalifah yang pemabok seperti Yazid, maka jelas sudah terlalu jauh dari tatanan yang diinginkan Nabi saww. Di Indonesia saja, jangankan muslim koruptor, orang kafir juga bisa dipilih oleh muslim untuk jadi pemimpinnya. Nah, ini kan sudah jauh dari kehidupan yang dibangun Nabi saww di atas Qur'an dan hadits-hadits beliau saww. 

Dari sisi lain, masyarakat sudah takut kepada pemerintahan kala itu. Jadi, yang tadinya terpaksa menerima perubahan-perubahan itu, lama-lama menjadi biasa. 

Itulah mengapa umat seperti itu harus dihentak keras supaya terbangun dari kehidupannya yang sudah jauh dari Islam itu. 

Nah, penghentakan itu adalah dengan terbunuhnya beliau as dengan seluruh keluarganya dan shahabat-shahabatnya yang setia yang hanya sekitar 50 orang atau 73 orang. 

Rincian penghentakan itu dengan: 

• Terbunuhnya beliau as sendiri yang merupakan cucu Nabi saww dan Ahlulbait yang makshum. 

• Kekejaman yang terjadi pada diri beliau as, seperti dikepung tanpa air dan dikeroyok sampai sekitar 35.000 tentara. Dipancung kepalanya dan diarak sampai ke Suriah dan mulutnya dipermainkan oleh Yazid dengan tongkatnya di depan ribuan orang di pesta kemenangannya itu. 

• Terbunuhnya seluruh cucu-cucu Nabi saww yang menyertai beliau as yang berjumlah sekitar 23 orang dimana kepalanya juga dipancung dan diarak di atas tombak sampai ke Suriah. 

• Terbunuhnya Ali Ashghar yang belum setahun umurnya dengan panah di depan umum. 

• Dirantainya cucu-cucu Nabi saww yang wanita setelah itu dalam tawanan dan diarak ke Suriah dari Iraq. 

• Syahidnya hdh Ruqayyah yang baru 3 th dengan merangkuli kepala ayah beliau as. 

• ...............dan seterusnya. 

Kenapa menghentak? Karena masyarakat tidak semulia imam Husain as hingga menyayangi darahnya ketimbang darah imam Husain as. Karena itulah, para penyair mengatakan “Ya Husan as, darahku tidak lebih merah dari darahmu.” Begitu pula keganasan itu akan membangkitkan hati masyarakat yang tertidur itu. Begitu pula dengan dipanahnya hdh Ali Ashghar yang masih sekitar berumur 9 bulan. Karena Islam tidak mengajarkan dan tidak membolehkan hal itu. Jadi, walau Yazid beralasan dengan alasan apapun seperti ayahnya, misalnya demi mengatur masyarakat supaya dalam aman dan damai...dan seterusnya... tetap tidak bisa diterima. Karena anak kecil yang masih menyusui tidak akan membahayakan siapa-siapa. Begitu pula dengan dirantainya cucu-cucu Nabi saww oleh para umatnya sendiri, semua itu akan membuat marah dan bangkitanya umat dari tidur lelapnya itu. 

Ini tinjauan kecil dan sangat ringkas dari sisi sosial perjuangan Karbala. Intinya, ingin membangkitkan masyarakat dari tidurnya, yaitu yang sudah jauh dari Islam Nabi saww, agar bangun dan kembali ke Islam Nabi saww. 

2- Kalau tinjauan filsafatnya: 

Tuhan itu Maha Suci. Karena itu, tidak mungkin dapat bersentuhan denganNya kecuali kesucian. Shalat, puasa, haji, wudhu, iman, Islam....dan seterusnya...adalah suatu lahiriah yang tidak menjamin seseorang menjadi suci dan bersentuhan denganNya atau dekat denganNya. 

Ajaran-ajaran Islam, baik Qur'an-nya, haditsnya, tauhidnya dan ibadah-ibadahnya, adalah suatu ajaran YANG BISA MENGANTAR KEPADA KESUCIAN, akan tetapi TIDAK MESTI MENGANTAR KEPADA KESUCIAN. 

Jadi, ajaran-ajaran itu HANYA BISA MENGANTAR, tidak bukan pasti mengantar. Mengapa? Karena ia adalah ajaran. Siapan yang lahir batinnya menerimanya, maka akan suci dan siapa- siapa yang tidak menerimanya dengan benar, tidak akan mendapatkan kesucian itu walau, bagi yang udzur akan mendapatkan maaf dan pengampunan. 

Jadi, kesucian itu, hanya bisa didapat dari ajaran Islam yang suci, yakni benar dan diamalkan dengan benar. Karena itulah Tuhan di QS: 56: 79: 

لَ يَمَسُّهُ إِلَّ الْمُطَهَّرُونََ

“Tidak dapat menyentuhnya -Qur'an- kecuali orang-orang yang suci (dari dosa).” 

Dari sisi lain, penciptaan manusia, tidak lain untuk menjadi suci itu seperti yang difirmankan di QS: 51: 56: 


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالِْنْسَ إِلَّ لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidak Kucipta jin dan manusia, kecuali untuk menjadi abdiKu”. 

Ketika Tuhan Maha Tidak Terbatas dimana berarti tidak perlu apapun, maka tujuan ke- abdi-an jin dan manusia itu, sudah tentu untuk diri jin dan manusia itu sendiri, bukan untuk DiriNya. 

Artinya, pengabdian dan penghambaan itu, yakni menaati Tuhan dalam segala bidang kehidupan, yakni menjadikan hukum-hukumNya pedoman dalam segala bidang kehidupan, akan membuat manusia suci dari segala kekotoran dan maksiat. Dengan demikianlah maka manusia itu bisa mendekati Yang Maha Suci. 

Tuhan memang dekat dengan siapapun, tapi KuasaNya, bukan ridha dan keSucianNya. Nah, ketika manusia taat, maka ia layak untuk dekat dengan Ridha dan SuciNya. 

Ketika filsafat membahas esensi sesuatu, dari mana, dimana dan untuk apa, dan ketika diterapkan kepada manusia setelah Nabi saww sampai ke imam Husain as, maka sudah tentu tidak ada jalan lain untuk mensucikan manusia itu kecuali dengan mengembalikan mereka kepada Islam yang murni. 

Itulah mengapa walau imam Husain as terbunuh, tetap menang karena sudah berhasil menghentakkan umat dimana hingga kini ajaran murni itu tetap bertahan walau, masih ditutupi di sana sini oleh musuh-musuhnya. 

3- Kalau dari sisi irfan: 

Ketika wujud dan ada itu hanya satu dan Tuhan, maka selainNya tidak lain hanyalah esensi- esensi dan bukan eksistensi. Jadi, semuanya tidak lain hanyalah wajahNya, namaNya, bayangNya...dan seterusnya. 

Dan ketika hanya Tuhan yang Ada, maka apa yang bisa disayangi dari diri kita hingga merasa berat dan takut untuk mempertahankan keAda-anNya???!!! 

Ketika manusia menentang agamaNya, maka ia bukan saja merasa ada tapi malah merasa menjadi Tuhan. Karena itulah Tuhan mengatakan di QS: 25: 43: 


أَرَأَيْتَمَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ

“Tidakkah kamu lihat orang-orang yang menjadikan dirinya (keinginannya) sebagai tuhannya??”. 

Jadi, hentakan Karbala itu, bagi para arif, adalah pembelaan untuk wujud dan ada, karena dengan hentakan itu, diharapkan bahwa manusia tidak menghargai lagi dirinya yang tak ada itu dan kembali untuk membela si Yang Ada tersebut. 

Semua tulisan di atas itu, tidak mewakili apa-apa dari perjuangan imam Husain as. Tulisan itu teramat sedikit dan teramat kebodohan dibanding hakikat perjuangan beliau as. Tapi karena beliau as sendiri yang mengajarkan kita tidak putus asa dan tetap berfikir, maka semampunya saja kujawab pertanyaan antum. 

Wassalam.


اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ


Tidak ada komentar:

Posting Komentar